Manajer MU Ruben Amorim mengisyaratkan mundur jika timnya tak berbenah. Otokritik tersebut menyerupai langkah Jose Mourinho saat membawa MU menjuarai Liga Europa.
12 Mei 2025 13:56 WIB · Olahraga
MANCHESTER, SENIN — Perjalanan Manchester United di Liga Inggris musim ini hampir dipastikan sebagai yang terburuk dalam 50 tahun terakhir. Manajer MU Ruben Amorim pun merasa malu dan mengisyaratkan ”bendera putih” jika kondisi itu berlanjut.
Ekspresi Amorim seusai kekalahan MU dari West Ham United, 0-2, di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris, Minggu (11/5/2025) malam WIB, mempertegas situasi di klub raksasa itu saat ini. Ia tampak memendam amarah dan kekesalan. ”Sungguh memalukan. Sulit diterima,” ujarnya dengan getir dalam wawancara seusai pertandingan itu seperti dikutip ESPN.
Sempat digadang-gadang menjadi penerus pelatih legendaris Sir Alex Ferguson dan bakal membangkitkan ”Setan Merah” yang mati suri prestasi, Amorim nyatanya juga tak berdaya di MU. Ia mengikuti jejak para pendahulunya, seperti David Moyes, Jose Mourinho, Louis van Gaal, Ole Gunnar Solskjaer, dan Erik tan Haag, yang tampak putus asa untuk mengangkat kembali harkat MU sebagai tim yang disegani di Inggris.
Jika melihat posisi klasemen saat ini, MU saat ini adalah yang terburuk di era Liga Primer, kompetisi sepak bola modern Inggris yang diperkenalkan sejak musim 1992-1993. MU saat ini hanya mengemas 39 poin dari 36 laga sehingga terpuruk di peringkat ke-16 dari 20 tim peserta.
Meskipun dipastikan tak akan terdegradasi, posisi itu menjadi tamparan bagi Amorim dan MU. Mereka hampir pasti bakal finis di luar peringkat ke-12 karena tak mungkin lagi bisa menyalip Crystal Palace di posisi itu dengan dua pekan laga tersisa. Padahal, sepanjang sejarah, MU belum pernah finis di posisi itu atau lebih buruk pada era Liga Primer sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/f93f2a0c-792c-4acc-add2-4aaf366b645d_jpg.jpg)
”Hal yang paling saya takutkan adalah anggapan bahwa itu (kekalahan) adalah biasa, baik-baik saja. Itulah masalah terbesar saat ini. Kami kehilangan kepercayaan bahwa kami klub besar dan adalah akhir dunia jika kami kalah di rumah,” ujar Amorim memberikan otokritik ke timnya.
Seperti disampaikan Amorim, MU hingga kini masih tercatat sebagai klub Inggris tersukses di era Liga Primer dengan koleksi 13 trofi dan 7 runner-up sejak 1992. Seluruh prestasi itu diraih MU di era Ferguson.
Koleksi itu mulai dikejar tetangganya, Manchester City, yang kini mengemas 8 trofi Liga Primer dan 3 kali runner-up. Sebanyak enam trofi di antaranya diraih ”The Citizens” di era Manajer Pep Guardiola.
Kami harus lebih kuat dan berani, musim depan. Jika masih seperti sekarang, lebih baik berikan ruang (posisi manajer) untuk orang lain.
Adapun tim juara saat ini, Liverpool, hanya mengemas dua trofi di era Liga Primer meskipun total koleksi juara mereka di Liga Inggris mencapai 20 piala. Jumlah koleksi trofi Liverpool itu menyamai koleksi MU di seluruh era Liga Inggris sejak 1888 silam.
”Realitasnya adalah Manchester United yang kita kenal, tim yang dulu saya lawan sepanjang karier saya, telah hilang. Mereka bukan lagi raksasa. Hal itu akan berlanjut entah kapan. Saya tidak tahu kapan itu bisa diperbaiki,” ujar Alan Shearer, legenda Newcastle United, dikutip FourFourTwo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/ebd86928-30ca-483a-a1da-2674de292490_jpg.jpg)
Seperti disampaikan Shearer, MU saat ini bisa dikatakan yang terburuk, bahkan dalam lima dekade terakhir. Posisi saat ini di liga mendekati sejarah terkelam mereka, yaitu pada musim 1973-1974. Ketika itu, yaitu pada era Divisi Satu Liga Inggris, MU terdegradasi ke Divisi Dua setelah finis ke-21 dengan koleksi hanya 32 poin.
MU memang hanya butuh setahun untuk promosi dan kembali ke kasta teratas di Inggris. Namun, butuh belasan tahun bagi mereka untuk membangun ulang reputasi sebagai tim besar sebelum akhirnya menjadi juara Liga Primer edisi perdana pada 1993, yaitu di era Ferguson.
Menurut Amorim, timnya tak boleh lama-lama terpuruk. Ia mengultimatum dirinya dan skuadnya untuk bangkit pada musim depan. Jika masih gagal pada awal musim depan, ia pun mengisyaratkan rela mundur.
”Kami harus lebih kuat dan berani, musim depan. Jika masih seperti sekarang, lebih baik berikan ruang (posisi manajer) untuk orang lain,” ujarnya.
Otokritik yang disampaikan Amorim itu mirip yang dilakukan Mourinho, nyaris satu dekade lalu, di Setan Merah. Pada saat itu, ia pernah mengamuk dan terang-terangan mengkritik para pemainnya yang dinilai tidak punya semangat juang. MU gagal bersaing di papan atas Liga Inggris. Mereka hanya finis keenam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/01/26/ee2486ca-5076-4372-a42b-ff4866dd3ff3_jpg.jpg)
Para pemain MU pada saat itu, seperti Jesse Lingard, Henrikh Mkhitaryan, dan Luke Shaw, disebut Mourinho terlalu ”lembek”. ”Kritik adalah bagian dari proses. Kritik membantu kita bertumbuh, mengatasi (hal yang dikritik),” ucapnya memberikan alasan sikapnya ketika itu kepada The Independen.
Menariknya, sayatan dari mulut tajam ala pelatih yang berjuluk ”Si Spesial” itu manjur. MU saat itu lolos ke final Liga Europa 2016-2017 dan menjadi juara seusai mengalahkan Ajax Amsterdam asuhan Peter Bosz dengan skor 2-0. Trofi saat itu menjadi satu-satunya gelar kontinental MU selepas era Ferguson.
Delapan tahun berlalu, MU kembali berkesempatan mengukir sejarah dan meraih trofi Liga Europa untuk kali kedua. Mereka akan menghadapi Tottenham Hotspur pada laga final di San Mames, Bilbao, 21 Mei mendatang.
Sedikit berbeda dibandingkan dengan Mourinho, Amorim enggan mengkritik para pemainnya di publik. Sebaliknya, ia mengambil alih tanggung jawab dari rentetan performa buruk MU. Hal itu ditengarai untuk meredakan konflik di skuad MU yang telah bergejolak seusai dipecatnya Erik ten Haag sebagai manajer pada akhir Oktober.
”Saya tak mau bicara soal pemain. Saya bicara tentang diri sendiri (terkait terpuruknya MU),” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/5510cce1-7935-4016-b8d7-da002226351a_jpg.jpg)
Apa pun itu, dipastikan langkah MU menjuarai Liga Europa tak akan mudah. Spurs, lawan mereka di final nanti, punya motivasi tidak kalah berlipat. Di Liga Inggris, posisi mereka tidak lebih baik dari MU, yaitu tepatnya di peringkat ke-17.
Maka, Liga Europa menjadi satu-satunya harapan Spurs ataupun MU untuk ”menyelamatkan” musim mereka yang buruk. Trofi itu sekaligus menjadi tiket salah satu dari mereka tampil di Liga Champions musim depan sekaligus suntikan dana sekitar 100 juta pound sterling atau setara Rp 2,1 triliun. (BBC)
Penulis:
Yulvianus HarjonoEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .