Manchester United Menyulap Bencana Jadi Remontada

Hanya dalam tujuh menit, MU menyelamatkan musim dengan tiga gol yang ”terjatuh” di Old Trafford. MU meminjam istilah ”remontada” yang tidak jadi dipakai Real Madrid.

18 Apr 2025 07:33 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

MANCHESTER, JUMAT — Bukan Manchester United namanya jika memilih jalan mudah untuk menang. Dari unggul, tertinggal, hingga berbalik menang pada menit-menit akhir dijalani tim asuhan Pelatih Ruben Amorim di Stadion Old Trafford. Dari stadion berjuluk ”Teater Impian” itu, tercipta salah satu malam paling ajaib dalam sejarah klub.

Remontada yang terus dibicarakan oleh Real Madrid selama sepekan terakhir tidak terjadi di Stadion Santiago Bernabeu ketika menghadapi Arsenal dalam laga kedua perempat final Liga Champions. Sehari berselang, Jumat (18/4/2025) dini hari WIB, istilah dari bahasa Spanyol yang berarti membalikkan keadaan itu justru direalisasikan oleh MU.

Old Trafford nyaris menjadi saksi remontada dari tim tamu Olympique Lyon. Namun, MU sukses membalikkan keadaan tertinggal 2-4 dengan tiga gol dalam rentang tujuh menit pada pengujung babak kedua tambahan waktu. Tim tuan rumah pun lolos ke semifinal Liga Europa berkat kemenangan 5-4 dan unggul agregat 7-6.

”Pastinya laga yang luar biasa,” kata bek MU, Harry Maguire, yang mencetak gol penentu kemenangan di injury time (120+1). ”Kami bekerja sangat keras untuk mewujudkan itu. Sebenarnya kami mengontrol penuh pada paruh kedua, tetapi mereka tiba-tiba mencetak dua gol entah dari mana,” lanjutnya.

Kemenangan MU terasa begitu ajaib karena muncul tanpa diduga saat momentum sudah berpindah dan moral pemain hancur lebur. Jungkat-jungkit emosi itu terwakili dengan ekspresi penggemar. Mereka tersenyum saat jeda turun minum, gusar ketika laga masuk babak tambahan, dan tenggelam dalam euforia setelah peluit panjang.

Manchester United's English defender #05 Harry Maguire (L) and teammates celebrate with their fans after Maguire scores their fifth goal during the UEFA Europa league quarter-final final, second leg football match between Manchester United and Lyon at Old Trafford stadium in Manchester, north west England, on April 17, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP)
Quote

Saya merasa kasihan kepada orang-orang yang sudah keluar dari stadion saat kami tertinggal 2-4.

Amorim tersenyum begitu lebar, mungkin yang terlebar selama dirinya bekerja untuk ”Setan Merah” dalam enam bulan terakhir. ”Suara di stadion ini adalah yang terbaik yang pernah saya rasakan. Ini adalah suara terbaik di dunia. Saya merasa kasihan kepada orang-orang yang sudah keluar dari stadion saat kami tertinggal 2-4,” ujarnya.

MU sempat unggul 2-0 pada paruh pertama. Lalu, tiba-tiba mereka kehilangan konsentrasi dan kemasukan dua gol. Laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Lyon yang bermain dengan 10 orang akibat kartu kuning kedua Corentin Tolisso pada menit ke-89 justru mampu balik unggul 4-2 lewat gol Rayan Cherki dan Alexandre Lacazette.

Seorang anak kecil tampak menangis di tribune karena mulai putus asa saat perpanjangan waktu tersisa beberapa menit. Tiba-tiba, MU bangkit dengan tiga gol beruntun dari Bruno Fernandes, Kobbie Mainoo, dan Maguire. Gol penalti dari Fernandes yang mengubah kedudukan jadi 3-4 sukses membalikkan momentum tuan rumah.

Paul Scholes, mantan gelandang MU, berkata, hanya butuh satu momen kecil di Old Trafford untuk mengubah segalanya. Dia teringat kebangkitan MU atas Liverpool di Piala FA tahun 1999. Ketika itu, Scholes dan rekan-rekan membalikkan skor 2-1 dengan sepasang gol pada semenit terakhir waktu normal. ”Banyak hal spesial terjadi di sini, hanya butuh satu (gol) dan Anda punya peluang lagi,” ujarnya di TNT Sports.

Pujian patut diberikan untuk Amorim. Sang pelatih mengambil risiko pada sepuluh menit terakhir. Dia memindahkan Maguire dari posisi bek ke penyerang. Presensi fisik bek setinggi 194 sentimeter itu sukses mengintimidasi pemain bertahan lawan. Lyon mulai panik ketika bola masuk ke kotak penalti.

Swiss referee Sandro Scharer shows a red card to Lyon's French midfielder #08 Corentin Tolisso during the UEFA Europa league quarter-final final, second leg football match between Manchester United and Lyon at Old Trafford stadium in Manchester, north west England, on April 17, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP)

Gelandang MU, Casemiro, juga layak diberikan apresiasi. Dia berubah dari mode defensif ke ofensif pada pengujung laga. Hasilnya, dia dilanggar di kotak penalti yang berujung gol ketiga MU. Setelah itu, Casemiro menyumbang dua asis untuk gol Mainoo dan Maguire. ”Setan Merah” seolah mendapat pemain kreatif baru.

Kecerobohan MU

Kiper Andre Onana kembali ke gawang MU setelah membuat dua blunder pada laga pertama. Dia sempat diistirahatkan oleh Amorim dalam pertandingan Liga Inggris pada akhir pekan lalu. Sang pelatih ingin anak asuhnya tersebut kembali bermain dengan kondisi psikologis terbaik.

Keputusan Amorim tepat. Onana bermain cukup baik walaupun kemasukan empat gol. Semua gol dari Lyon tersebut diakibatkan oleh kesalahan pendekatan strategi Amorim dan masalah konsentrasi pertahanan MU. Tuan rumah tidak mengalami kesulitan berarti selama paruh pertama, bisa mendominasi laga.

Masalah baru muncul seusai turun minum. Amorim memainkan strategi lebih bertahan. MU lebih sering bertahan dengan blok rendah dibandingkan dengan menekan tinggi seperti pada awal laga. Hasilnya, Lyon mulai nyaman mengeksploitasi sepertiga akhir lapangan.

Lyon bisa menyeimbangkan kedudukan hanya dalam rentang tujuh menit, ke-71 dan ke-78. MU yang unggul jumlah pemain kembali menekan agresif dalam babak tambahan waktu. Namun, tuan rumah justru dihukum lewat transisi lawan. Serangan balik menghasilkan gol ketiga dari Cherki dan gol keempat yang diawali pelanggaran di kotak penalti.

Menurut Amorim, kesalahan itu memang fatal dan tidak semestinya terjadi. Kemasukan empat gol beruntun, termasuk setelah unggul jumlah pemain, harus diperbaiki. ”Kami tahu kami tampil di bawah standar dan pantas mendapatkan kritik, tetapi kami masih punya waktu untuk membuat hal spesial di musim ini,” pungkasnya.

Manchester United's goalkeeper Andre Onana celebrates during the Europa League quarter final second leg soccer match between Manchester United and Olympique Lyon in Manchester, Britain, Thursday, April 17, 2025. (AP Photo/Jon Super)

Skuad Lyon juga tidak menyangka tim lawan bisa bangkit. Lacazette sempat berlari ke area bangku cadangan timnya setelah mencetak gol penalti. Dia merayakan gol itu dengan meriah bersama para pemain dan pelatih. Mereka seperti merasa keunggulan dua gol dengan sepuluh menit tersisa sudah cukup untuk menang.

Pelatih Kepala Lyon Paulo Fonseca mengatakan, selebrasi itu menjadi salah satu penyebab kekalahan timnya. ”Kami sudah merayakan kemenangan saat seharusnya berpikir soal manajemen laga. Kami kekurangan penggalaman di momen itu. Setelah penalti untuk MU dan skor terpaut satu gol, kami tidak mampu menahan tekanan mereka dari umpan silang,” ujarnya.

MU akan berhadapan dengan wakil Spanyol, Athletic Bilbao, di semifinal. Meskipun terseok-seok untuk lolos, ”Setan Merah” akhirnya masih bisa melanjutkan musim ini dengan harapan. Liga Europa merupakan harapan terakhir MU untuk berprestasi. Itu pula satu-satunya yang bisa membuat mereka tampil di Eropa pada musim depan. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .