Manuver Cantik Presiden Lee Jae Myung

Lee menavigasi dengan elok relasi Korsel-Jepang-AS. Ia mengantongi bekal untuk bernegosiasi secara lebih berimbang dengan Washington.

26 Agt 2025 07:03 WIB · Tajuk Rencana

Oleh Redaksi

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung tampaknya tidak mau ”terbelenggu” oleh sejarah buruk Korea-Jepang pada era Perang Dunia II.

Menepis kekhawatiran sejumlah pihak bahwa kemenangannya dalam pemilu berdampak buruk pada hubungan Jepang-Korsel, Lee justru mengunjungi Tokyo. Bahkan, ia melawat ke Jepang sebelum bertamu ke Washington. Lee menemui Perdana Menteri Shigeru Ishiba sebelum bertemu dan berdialog dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Yoshimasa Hayashi, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, mengatakan, kunjungan Lee membantu mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil. Kedua negara bisa bekerja sama menghadapi tantangan internasional dengan memanfaatkan diplomasi ulang-alik dari pertemuan puncak rutin (Kompas.id, 23/8/2025).

South Korean President Lee Jae Myung, left, and Japan's Prime Minister Shigeru Ishiba shake hands as they head to the summit talk at the prime minister's office in Tokyo, Saturday, Aug. 23, 2025. (Kyodo News via AP)

Tulisan bertajuk ”Hadapi AS, Korsel Merajut Lagi Persahabatan dengan Jepang” seakan mengingatkan pada pertemuan puncak trilateral Korsel, Jepang, dan China di Seoul pada 27 Mei 2024. Kala itu, Presiden Korsel Yoon Suk Yeol menjamu Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan Perdana Menteri China Li Qiang.

Pertemuan tersebut memantik perhatian publik lantaran relasi tiga negara bertetangga itu kerap diwarnai kecurigaan, sejarah masa lalu yang kelam, dan persaingan. Namun, dihadapkan pada tarikan geopolitik global, ketiga negara menilai pentingnya menjalin kembali komunikasi.

Di satu sisi, dibayangi perang dagang AS-China, Beijing perlu membangun dan memperkuat relasi ekonomi dengan Korsel dan Jepang. Di sisi lain, Korsel dan Jepang ”membutuhkan” China untuk meredakan ambisi nuklir Korea Utara.

Para pemimpin ketiga negara menyadari bahwa ada situasi saling tergantung dan saling membutuhkan. Saat itu, Li Qiang mengatakan, jangan sampai isu politik mengganggu relasi perdagangan dan pertumbuhan ekonomi antarnegara.

South Korean President Lee Jae Myung (center-L) meets with Japan’s Prime Minister Shigeru Ishiba (R) in Tokyo on August 23, 2025. (Photo by KIM KYUNG-HOON / POOL / AFP)

Kembali pada kunjungan Lee ke Jepang, pemimpin Korsel tersebut tampaknya ingin menegaskan bahwa Tokyo adalah bagian utama dari fokus dan kebijakan luar negerinya. Lee memberi perhatian serius pada relasi pragmatis di kawasan sebagai penyeimbang hubungan Seoul-Washington.

Kedua negara memiliki peluang untuk menghidupkan lagi perundingan perdagangan bebas Korsel-Jepang. Selain itu, ada pula ruang untuk Korsel dalam Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).

Tentu kedua negara tidak bisa begitu saja mengabaikan AS. Bagaimanapun, dalam sejumlah sektor, baik perdagangan maupun keamanan, Jepang dan Korsel masih membutuhkan Washington. Namun, dengan membangun kesepahaman sebagai sesama negara di kawasan, posisi tawar Korsel dan Jepang atas tekanan AS pun menguat.

Lee tampaknya tengah menavigasi dengan cantik relasi Korsel-Jepang-AS. Ia telah mengantongi bekal untuk bernegosiasi secara lebih berimbang dengan Washington.

President Donald Trump, center right, speaks during a meet with South Korean President Lee Jae Myung, center left, as Secretary of State Marco Rubio, from right, and Vice President JD Vance listen, in the Oval Office of the White House, Monday, Aug. 25, 2025, in Washington. (AP Photo/Alex Brandon)


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan