Brasil sadar, mereka bukan tim unggulan. Namun, misi mereka tetap sama dalam 24 tahun terakhir: meraih bintang keenam Piala Dunia. Ujian pertamanya melewati Maroko.
12 Jun 2026 15:21 WIB · Olahraga
AP Photo/Eraldo Peres
NEW JERSEY, JUMAT — Aura joga bonito tidak lagi kental dalam permainan Brasil, tetapi masih ada semburat pesona sepak bola indah mereka pada diri Vinicius Junior dan Raphinha. Dua penyerang sayap itu akan menjadi motor serangan Brasil untuk menembus pertahanan solid Maroko dalam laga pertama Grup C Piala Dunia 2026, Minggu (14/6/2026) mulai pukul 05.00 WIB.
Brasil diunggulkan, tetapi titik lemah mereka di posisi bek sayap rawan dikoyak oleh dua pemain Maroko, Brahim Diaz dan Achraf Hakimi. Lini pertahanan Brasil menjadi sorotan utama karena ada lubang besar di posisi bek sayap.
Cederanya bek kanan Wesley Franca menambah pekerjaan rumah Carlo Ancelotti sehingga pelatih asal Italia itu memanggil gelandang Ederson untuk melapis. Sisi kiri pertahanan Brasil juga menjadi lampu kuning karena pilihannya pemain yang sudah tidak muda lagi, bek berusia 35 tahun Alex Sandro atau Douglas Santos (32).
Sandro ataupun Santos akan bertemu dengan penyerap sayap kanan dan bek kanan Maroko yang agresif, Brahim Diaz dan Achraf Hakimi. Duet pemain Real Madrid dan Paris Saint-Germain itu akan menguras energi bek-bek tua Brasil.
Situasi paling berbahaya adalah saat Hakimi melakukan overlap dan Diaz menukik ke sisi dalam untuk membuka ruang serta memecah konsentrasi. Jika bek kiri Sandro ataupun Santos terlambat dalam transisi, Brasil akan dalam bahaya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/15/ef6f18bb-9ea9-48bb-b194-5d1e8063deee.jpg)
Kondisi itulah yang menjadi pekerjaan besar Ancelotti untuk menciptakan keseimbangan. Mengandalkan lapisan terakhir duet bek tengah Marquinhos dan Gabriel Magalhaes tidak akan cukup. Itulah mengapa ada tugas tambahan pada Vinicius Juior di sayap kiri dan Raphinha di kanan untuk membantu bertahan saat kehilangan bola.
Mereka menjadi filter pertama dengan melakukan counter-pressing. Filter pertama itu memberikan waktu bagi dua gelandang double pivot, Casemiro dan Bruno Guimaraes, untuk melapis sisi lebar pertahanan ataupun menciptakan formasi sementara lima bek untuk melindungi gawang yang dikawal Alisson Becker.
”Adanya keraguan terhadap tim adalah hal yang bagus karena hal itu pernah terjadi pada kesempatan lain di masa lalu,” ujar Alisson terkait status Brasil yang bukan unggulan juara.
”Tim saat ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan tim-tim sebelumnya. Periode terakhir itu sangat sulit bagi semua pemain karena berbagai alasan. Yang terpenting adalah bagaimana perasaan kita sekarang dan kami berharap itu akan menghasilkan hasil yang baik melawan Maroko,” ucap kiper Liverpool itu dalam konferensi pers di markas tim Brasil di New Jersey.
Status tim bukan unggulan sudah menjadi menu rutin Ancelotti dalam karier panjangnya sebagai pelatih klub. Oleh karena itu, dia memiliki segudang pengalaman untuk mengoptimalkan para pemain yang terkesan biasa-biasa saja ataupun pemain yang sudah tidak muda lagi untuk bermain efektif dan efisien.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/42bfea93e89c3f8871dec501cd90fa4b-WCup_Brazil_Soccer_138760416.jpg)
Dia membuktikan itu di Real Madrid dengan Luka Modric dan Toni Kroos serta saat memimpin AC Milan mengalahkan Manchester United 3-0 dalam laga kedua semifinal Liga Champions 2007.
Dia menempatkan Gennaro Gattuso dan Clarence Seedorf untuk melindungi Andrea Pirlo, membebaskan Kaka menjelajah, serta menginstruksikan full-back Marek Jankulovski dan Massimo Oddo untuk membantu seragan hanya pada saat momen yang benar-benar tepat.
”Kami ingin bersaing dengan lawan, mencoba melakukan yang terbaik, bekerja keras, semua orang tahu apa harapan Brasil. Semua orang tahu bahwa tidak ada tim favorit. Ada beberapa tim kuat dan saya pikir Brasil dapat bersaing dengan siapa pun,” ucap Ancelotti kemudian.
Ancelotti tahu betul bagaimana menciptakan harmoni permainan dengan potensi pemain yang dia miliki. Saat melawan Maroko, pelatih yang baru saja merayakan ulang tahun ke-67 pada 10 Juni lalu itu jelas tidak akan mereplika permainan pasif Milan saat melawan MU. Brasil bisa dipastikan akan mengambil inisiatif, berusaha mengendalikan permainan, tetapi kedisiplinan dalam transisi bertahan tetap menjadi titik penekanan.
Sejak Ancelotti datang, atmosfernya berubah. Dia memiliki kehadiran yang kuat dan tidak fokus pada isu-isu kontroversial.
Dia mengawinkan kedalaman taktik sepak bola Eropa yang berpegang teguh pada sistem permainan dengan karakter tradisional Brasil yang atraktif, ekspresif, dan kaya improvisasi. Namun, dalam filosofi hibrida Don Carlo ini, warna joga bonito berada dalam koridor skema permainan yang terstruktur ala Eropa. Ruang improvisasi masih terbuka bagi Vinicius dan Raphinha, tetapi kedisiplinan bertahan merupakan harga mati.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/f9ae62335129e3d988d1b2e6c9e268cd-000_B4QR629.jpg)
Pendekatan Ancelotti yang cenderung memodifikasi sistem—bukan merombak—dan gaya kepemimpinannya yang tenang itulah yang membuat atmosfer tim adem. Sejak kehadirannya pada Mei 2025, dia menebar ketenangan dan optimisme ke dalam skuad Brasil yang sedang dalam situasi sulit. Para pemain termotivasi untuk memberikan yang terbaik, tanpa memedulikan status mereka yang bukan unggulan di Piala Dunia kali ini.
”Sejak Ancelotti datang, atmosfernya berubah. Dia memiliki kehadiran yang kuat dan tidak fokus pada isu-isu kontroversial,” ujar Alisson.
Brasil memang tidak sekuat era Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, dan Marcos Cafu yang mengangkat trofi Piala Dunia di Yokohama 24 tahun lalu, tetapi mereka masih memiliki pemain serang brilian, Vinicius Junior dan Raphinha. Bagi Raphinha, dirinya lebih matang dan memahami apa yang perlu diakukan untuk membantu tim mencapai target besar.
”Saya pikir saya merasakan tekanan lebih besar pada 2022 karena saya masih kurang dewasa. Saya masih cukup baru di tim nasional dan baru saja tiba di Barcelona. Saya belum sepenuhnya merasa nyaman di skuad Brasil. Sekarang, saya merasa jauh lebih siap,” ujar Raphinha.
Dia juga menyadari bahwa pasca-Neymar, saat ini dirinya menjadi tumpuan utama lini serang bersama Vinicius. Dia merasakan tekanan, tetapi itulah yang memotivasi dirinya untuk terus berjuang menjadi lebih baik dan membantu Brasil meraih bintang keenam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/a2244d4bef82590fa837da4929ebef98-20260612_H14_ADI_Brasil_Maroko_mumed.png)
”Kami adalah satu-satunya negara yang telah memenangi lima Piala Dunia. Anda tidak bisa bermain di turnamen seperti ini jika Anda tidak siap menghadapi tekanan. Kami sangat percaya diri. Kami telah mengalami kekecewaan selama bertahun-tahun karena kami memiliki tim yang mampu menang, tetapi tidak berhasil. Tidak seorang pun dari kami menginginkan lebih banyak kekecewaan,” ucap pemain Bracelona itu.
Raphinha dan Vinicius akan menjadi ancaman besar pertahanan Maroko yang baru saja kehilangan bek tengah Nayef Aguerd menjelang laga pertama mereka. Aguerd menjadi salah satu kunci langkah Maroko mencapai semifinal Piala Dunia 2022 dengan menahan Spanyol 0-0 hingga perpanjangan waktu berakhir di babak 16 besar.
Posisi bek Marseille itu digantikan oleh Marwane Saadane. Cedera ini menempatkan Chadi Riad dan Issa Diop sebagai pilihan utama bek tengah.
Selain Aguerd, Maroko juga kehilangan pemain sayap Abde Ezzalzouli yang juga keluar dari daftar pemain karena cedera. Pemain klub Real Betis itu memiliki kecepatan, kemampuan dribel, dan krusial dalam membangun serangan dari sisi kiri. Posisinya kini digantikan Amine Sbai.
”Sepak bola terkadang bisa kejam. Terima kasih atas apa yang telah kalian berikan kepada tim sejak hari pertama. Kami akan terus berjuang untuk kalian. Kami mencintai kalian," tulis Hakimi di media sosial terkait cedera Aguerd dan Ezzalzouli.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/e72b2d136dbd6fa329d12a88bb1129b8-FBL_WC_2026_MAR_138751693.jpg)
Meskipun kehilangan dua pemain penting, Pelatih Maroko Mohamed Ouahbi menegaskan dirinya memiliki para pemain yang bisa bersaing di level tinggi dengan tim-tim kuat seperti Brasil.
”Kami menghormati Brasil, tetapi sepak bola ditentukan di lapangan. Kami akan melakukan semua yang mungkin untuk membuat para penggemar Maroko yang mendukung kami di mana pun merasa senang dan untuk menghormati sepak bola Maroko dengan semangat juang yang tinggi,” ujar Ouahbi kepada Goal.
”Kami telah menjalankan pemusatan latihan intensif di mana kami fokus pada semua aspek fisik, taktik, serta mental. Para pemain sekarang sepenuhnya siap untuk pertandingan besar ini, semua orang menyadari pentingnya laga pembukaan Piala Dunia,” ucap Ouahbi.
”Kami memiliki kelompok pemain level atas yang solid dan mampu bersaing dengan tim nasional terbaik. Kami menghadapi Brasil dengan mentalitas juara dan rasa hormat penuh kepada lawan kami,” ujar Ouahbi melanjutkan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Agung SetyahadiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati