Foto Marsinah dan Soeharto diletakkan berdampingan pada penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara.
10 Nov 2025 11:54 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025) pagi. Kesepuluh tokoh itu memiliki latar belakang beragam, mulai dari mantan presiden, tokoh agama dan pendidikan, hingga aktivis buruh.
Penganugerahan gelar pahlawan nasional dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, Ketua MPR Ahmad Muzani, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dan Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin. Selain itu, hadir pula keluarga mendiang tokoh yang mendapatkan gelar pahlawan serta para gubernur dari daerah asal mereka.
Foto para tokoh yang diangkat menjadi pahlawan diletakkan berdampingan di Istana Negara. Foto Marsinah, Presiden ke-2 RI Soeharto, dan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid diletakkan berjajar di baris paling depan.
Dalam Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang dibacakan dalam penganugerahan gelar itu terdapat sepuluh tokoh yang terpilih. Mereka adalah Mochtar Kusumaatmadja, Rahma El Yunusiyyah, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, dan Sultan Muhammad Salahuddin. Selain itu, ada pula Syaikhona Muhammad Khalil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah, termasuk Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar HM Soeharto, dan Marsinah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/10/f5a199bbcef89d774d8d7227578c79c4-IMG_5348.jpeg)
Keppres itu juga menyebutkan peran setiap tokoh yang menjadi pertimbangan penganugerahan gelar pahlawan. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang juga Presiden ke-4 RI, misalnya, merupakan tokoh asal Jawa Timur yang menjadi pahlawan di bidang perjuangan politik dan pendidikan Islam. Gus Dur disebut sebagai tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
Soeharto, yang menjabat sebagai Presiden ke-2 RI, disebut sebagai pahlawan bidang perjuangan yang menonjol sejak masa kemerdekaan. Sebagai wakil komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Yogyakarta, ia memimpin pelucutan senjata tentara Jepang, di Kota Baru, Yogyakarta, 1945.
Marsinah disebut sebagai simbol keberanian, moral, dan perjuangan hak asasi manusia dari kalangan rakyat biasa.
Marsinah, tokoh buruh dari Jawa Timur, menjadi pahlawan di bidang perjuangan sosial dan kemanusian. Marsinah disebut sebagai simbol keberanian, moral, dan perjuangan hak asasi manusia dari kalangan rakyat biasa. Marsinah yang lahir di Desa Ngunjo, Nganjuk, Jawa Timur, tumbuh dalam keluarga petani miskin yang menanamkan nilai kerja dan keadilan sosial.
Selain itu, ada pula Mochtar Kusumaatmadja, tokoh dari Jawa Barat yang menjadi pahlawan di bidang perjuangan hukum dan politik. Riwayat perjuangan Mochtar Kusumaatmadja yang paling menonjol adalah gagasannya mengenai konsep negara kepulauan yang digunakan oleh Djuanda Kartawijaya dalam mendeklarasikan Djuanda tahun 1953.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/10/79450e01b00324efda609b720801f255-IMG_5368.jpeg)
Tokoh lainnya adalah Rahmah El Yunusiyyah dari Provinsi Sumatera Barat. Ia menjadi pahlawan bidang perjuangan pendidikan Islam. Rahmah merupakan ulama, pendidik, dan pejuang kemerdekaan yang dedikasinya paling menonjol dalam memelopori pendidikan perempuan Islam di Indonesia.
Tokoh lain yang diangkat menjadi pahlawan nasional adalah Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dari Provinsi Jawa Tengah. Sarwo Edhie yang juga ayah mertua Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dinobatkan sebagai pahlawan di bidang bersenjata. Perjuangan militernya dimulai dengan menjabat komandan kompi dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) selama periode perang kemerdekaan tahun 1945 hingga 1949.
Sultan Muhammad Salahuddin dari Provinsi Nusa Tenggara Barat juga menjadi pahlawan nasional, khususnya dalam bidang perjuangan pendidikan dan diplomasi. Sultan Muhammad Salahuddin berperan besar di bidang pendidikan dengan mendirikan HIS di Rabah 1921 dan Sekolah Kejuruan Wanita 1922, sekolah agama dan umum di tahun yang sama.
Tokoh Jawa Timur, Syaikhona Muhammad Kholil, ditetapkan menjadi pahlawan nasional bidang perjuangan pendidikan Islam. Syaikhona Muhammad Kholil merupakan ulama karismatik yang menempuh jalur pendidikan kultural, sosial, dan agama.
Selain itu, Tuan Rondahaim Saragih dari Sumatera Utara juga menjadi pahlawan nasional bidang perjuangan bersenjata. Ia dikenal sebagai ”Napoleon dari Batak” mengingat di bawah kepemimpinan Tuan Rondahaim Saragih, Pasukan Dayak di Simalungun mencatatkan riwayat perjuangan menonjol melawan kolonialisme Belanda dengan fokus pada pertahanan kemerdekaan. Kemenangan signifikan terutama terjadi setelah pertempuran Dolok Merawan dan Dolok Sagala.
Terakhir, Presiden menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Zainal Abidin Syah dari Maluku Utara. Zainal Abidin Syah yang merupakan Sultan ke-37 Kesultanan Tidore memimpin pada periode 1946-1967 menjadi pahlawan di bidang perjuangan politik.
Presiden menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Zainal Abidin Syah dari Maluku Utara.
Saat memimpin peserta acara untuk mengheningkan cipta, Presiden mengatakan, jasa para pahlawan penting untuk dikenang karena mereka telah berkorban untuk kemerdekaan, kedaulatan, dan kehormatan bangsa. Selain itu, mereka juga telah memberikan segalanya agar rakyat bisa hidup merdeka dan hidup di dalam alam yang sejahtera.
Sebelumnya, para tokoh yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional telah melewati proses penilaian yang dilakukan Kementerian Sosial serta Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Sebelum diputuskan 10 tokoh yang mendapatkan gelar tersebut, ada 49 tokoh yang diusulkan dari sejumlah daerah. Seluruhnya disebut memenuhi syarat, tetapi ada beberapa orang yang menjadi prioritas untuk diangkat sebagai pahlawan tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/13/44276cc0b5ccaf03cadeb7b2f584d361-f5739982_1d53_400c_81db_663cd77ebfda.jpeg)
Seusai rapat terbatas di kediaman Presiden Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta, Minggu (9/11/2025) malam, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sudah menyebutkan bahwa akan ada 10 tokoh yang mendapatkan gelar pahlawan nasional. Soeharto yang menjadi kontroversi pun bakal ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional.
”Sekali lagi, sebagaimana kemarin juga kami sampaikan, itu, kan, bagian dari bagaimana kita menghormati para pendahulu, terutama para pemimpin kita, yang apa pun sudah pasti memiliki jasa yang luar biasa terhadap bangsa dan negara,” kata Prasetyo.
Penulis:
Kurnia Yunita Rahayu, Nino Citra AnugrahantoEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto