Masih ada pekerjaan rumah bagi tim U-17 Indonesia jelang Piala Dunia U-17 2025. Tiket dua laga awal Indonesia di Qatar 2025 sudah tidak tersedia.
29 Okt 2025 14:50 WIB · Olahraga
PSSI
JAKARTA, KOMPAS — Hanya tinggal hitungan hari, tim U-17 Indonesia akan tampil di panggung sepak bola remaja termegah, Piala Dunia U-17 2025. Meskipun dibayangi potensi besar setelah mampu bersaing di pentas Asia, skuad ”Garuda Muda” dihadang masalah yang berpotensi menghalangi kesempatan lolos ke fase gugur.
Empat pertandingan uji coba yang membentang dalam dua bulan terakhir di Sofia, Bulgaria, dan Dubai, Uni Emirat Arab, menunjukkan sisi ofensif anak asuhan Nova Arianto masih jauh dari ideal. Menghadapi lawan-lawan yang seimbang, seperti CSKA Sofia U-17, Makedonia Utara U-17, Paraguay U-17, dan Pantai Gading U-17, Indonesia secara akumulasi hanya hasilkan dua gol.
Satu gol tercipta kontra CSKA Sofia yang berakhir remis 1-1, 10 September lalu, kemudian satu gol lainnya tercipta saat tumbang 1-2 dari Paraguay, 25 Oktober kemarin. Pada dua gim lainnya, menghadapi Makedonia Utara dan Pantai Gading, Zahaby Gholy dan kawan-kawan gagal menjaringkan bola ke gawang lawan.
Kondisi itu tentu akan menyulitkan Indonesia untuk bersaing dengan tiga tim di Grup H Piala Dunia U-17 2025, yaitu Zambia, Brasil, dan Honduras. Ada kesempatan pula bagi delapan tim peringkat terbaik dari 12 grup melaju ke babak 32 besar. Demi menyabet tiket ke fase gugur, Garuda Muda tidak hanya berusaha meraih poin, tetapi koleksi poin juga perlu dibarengi dengan jumlah gol yang baik.
Menurut aturan tiebreakers  Piala Dunia U-17 2025, perhitungan peringkat ketiga terbaik ketika beberapa tim berpoin sama ialah dengan melihat selisih gol, lalu baru jumlah gol yang dicetak.
Indonesia di Qatar harus lebih baik dibandingkan tiga gim di fase grup edisi 2023 ketika menjadi tuan rumah. Pada tiga laga di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, tim asuhan Bima Sakti masing-masing hanya mencetak satu gol per laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/02/bad7c9871352d128a00699d748e7cf13-WhatsApp_Image_2025_04_02_at_16.19.13.jpeg)
Dengan hanya koleksi dua poin, Indonesia menghuni peringkat terakhir—keenam—pada ranking peringkat ketiga terbaik dari enam grup. Tak hanya poin, Garuda Muda kala itu juga paling inferior dalam urusan mencetak gol dibandingkan empat tim peringkat ketiga yang melaju ke fase gugur, seperti Iran, Jepang, Uzbekistan, dan Venezuela.
Evandra Florasta, gelandang Indonesia, mengatakan, persiapan matang telah dilakukan tim sejak dipastikan lolos ke Piala Dunia U-17 2025 melalui Piala Asia U-17 2025, April lalu. Jika dirunut dari persiapan tim dibentuk, tim U-17 Indonesia sudah hampir satu tahun dipersiapkan oleh Nova, eks asisten pelatih timnas Indonesia era Shin Tae-yong.
”Kami sudah bersiap dalam waktu lama bersama pelatih Nova. Target utama kami adalah melaju dari fase grup,” kata Evandra, yang mencetak tiga gol di Piala Asia U-17 2025, dilansir laman FIFA.
Dari 21 nama yang didaftarkan Nova untuk Piala Dunia U-17 2025, urusan mencetak gol terlihat menjadi tugas kolektif tim. Nova mempertahankan empat pemain andalan di Piala Asia U-17, yaitu Gholy, Mierza Firjatullah, Fadly Alberto, dan Fandi Ahmad. Nova hanya menambah satu penyerang, yaitu Dimas Adi Prasetyo.
Pada Piala Asia U-17, Evandra ditopang Gholy dan Fadly yang menghasilkan masing-masing dua gol di Piala Asia U-17 2025. Tiga pemain itu yang mencatatkan nama di papan skor pada perhelatan Arab Saudi 2025.
”Secara pribadi, saya ingin membantu Indonesia menghadirkan kesan yang besar dalam partisipasi kami di Piala Dunia,” kata Evandra, pemain Bhayangkara Presisi itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/14/041ad2c126f3b621018a30cb6442d4cd-IMG_0044.jpeg)
Fokus utama Nova adalah menghadirkan lebih banyak opsi dan pemain serbabisa dari lini belakang. Terdapat tiga pemain diaspora di pos pemain belakang, yaitu Matthew Baker, Lucas Lee, dan Eizar Tanjung.
Ketiga pemain itu bisa menjadi opsi Nova untuk menghadirkan gol melalui bola mati, terutama sepak pojok dan tendangan bebas tidak langsung. Potensi memanfaatkan bola mati bisa menjadi alternatif gol Garuda Muda untuk menghadapi tiga tim di Grup H. Secara postur, tinggi pemain-pemain Indonesia U-17 setara dengan tiga lawan di fase penyisihan.
Sementara itu, dua laga awal Indonesia di Piala Dunia U-17 2025 mendapatkan minat besar di Qatar. Tiket kelas ”Prime Pass” Indonesia kontra Zambia, Selasa (4/11/2025), sudah tidak tersedia di laman dan aplikasi Road to Qatar yang menjadi platform daring untuk pembelian tiket. Harga tiket laga itu adalah 30 riyal Qatar (Rp 137.000).
Keterangan tidak tersedia atau unavailable juga tersaji untuk gim Indonesia menghadapi Brasil. Tiket laga itu juga seharga 30 riyal Qatar. Dua laga awal Garuda Muda di Piala Dunia U-17 2025 berlangsung di Lapangan 7 Zona Aspire di kota Al Rayyan, Qatar.
Adapun untuk ”Day Pass” laga pamungkas Indonesia di fase grup masih tersedia. Harga tiket untuk laga itu adalah 20 riyal Qatar (Rp 91.300).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/02/f39574af424434c7214fb84c9fed42ef-WhatsApp_Image_2025_04_02_at_16.19.13_2.jpeg)
Terdapat delapan lapangan di Zona Aspire yang akan menggelar laga penyisihan hingga semifinal. Total, 103 laga digelar di delapan lapangan Zona Aspire. Lapangan di Zona Aspire bisa menampung 1.000 hingga 2.000 penonton yang tersebar di delapan lapangan.
Satu partai puncak bakal diselenggarakan di Stadion Internasional Khalifa yang masih berada di satu kompleks Zona Aspire. Arena itu adalah stadion sepak bola pertama Qatar yang menjadi saksi penyelenggaraan Piala Asia 1988, Asian Games 2006, Piala Asia 2011, Piala Dunia 2022, dan Piala Asia 2023.
”Kami akan memberikan pengalaman baru dan unik bagi setiap penonton, pengunjung, dan tamu undangan di Piala Dunia U-17 2025. Kami berharap turnamen tahun ini bisa menjadi tolak ukur bagi turnamen usia dini lainnya di seluruh dunia,” ujar CEO Panitia Penyelenggara Lokal Turnamen Sepak Bola Qatar 2025 Jassim Al Jassim dalam wawancara virtual dengan Kompas, 22 Oktober lalu.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari