Emiten Konglomerat Masuk Orbit Morgan Stanley, Investor Asing Ramaikan Pasar Modal Nasional

Lonjakan likuiditas saham-saham konglomerat di dalam negeri 12 bulan terakhir mendongkrak pasar modal domestik.

08 Agt 2025 16:33 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Perusahaan layanan keuangan global Morgan Stanley Capital International (MSCI) memasukkan beberapa perusahaan tercatat di bursa Indonesia milik para konglomerat dalam daftar indeks saham global per Agustus 2025. Hal ini meniupkan angin segar pada pergerakan Indeks Saham Harga Gabungan karena daftar tersebut berpotensi menarik dana investor asing ke pasar modal domestik.

MSCI pada Kamis (7/8/2025) mengumumkan hasil tinjauan indeks saham mereka yang akan efektif berlaku pada 27 Agustus 2025. Beberapa emiten pemilik saham publik masuk dalam daftar MSCI Global Standard Indexes dan MSCI Small Cap Indexes.

Dua emiten yang masuk dalam MSCI Global Standard Indexes adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

PT Dian Swastatika Sentosa adalah perusahaan bidang pertambangan, energi baru dan terbarukan, teknologi, dan bahan kimia milik Sinarmas. PT Petrindo Jaya Kreasi adalah perusahaan induk tambang mineral dan energi milik Prajogo Pangestu.

Sementara itu, emiten yang sahamnya ikut dimiliki pengusaha Garibaldi Thohir alias Boy Thohir, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), terdepak dari indeks utama tersebut dan pindah ke kategori MSCI Small Cap Indexes.

Foto bersama jajaran direksi PT Raharja Energi Cepu Tbk dengan Bursa Efek Indonesia usai acara peresmian pencatatan saham perdana perseroan dengan kode RATU di Jakarta, Rabu (8/1/2024).

Dalam MSCI Small Cap Indexes, enam emiten domestik masuk daftar. Sementara dua emiten domestik lainnya keluar daftar. Emiten induk dari perusahaan tambang ADRO, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), masuk dalam satu daftar.

Selain itu, ada perusahaan milik grup MNC, PT MNC Land Tbk (KPIG); perusahaan tambang yang juga terafiliasi Prajogo, PT Petrosea Tbk (PTRO); serta perusahaan migas yang baru melantai di bursa tahun ini, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Sementara itu, dua saham yang sebelumnya berada dalam daftar itu harus terdepak. Keduanya adalah PT Merdeka Battery Minerals Tbk (MBMA) dan PT Panin Financial Tbk (PNLF).

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi kepada Kompas, Jumat (8/8/2025), menjelaskan, perubahan ini terjadi karena penilaian MSCI berdasarkan pertimbangan kapitalisasi pasar, likuiditas, freefloat, dan rata-rata nilai transaksi dalam 12 bulan terakhir.

”Faktor fundamental memiliki porsi minimal bagi MSCI untuk memasukkan atau mengeluarkan suatu saham dari indeksnya,” katanya.

Pergerakan indeks terpantau di layar monitor di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/5/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir pekan berada di zona hijau. IHSG naik 0,94 persen atau 66,36 poin ke level 7.106,53

Analis pasar saham Infovesta, Arjun Ajwani, menilai, dengan pertimbangan tersebut, tidak heran jika CUAN dan DSSA yang harga sahamnya meningkat signifikan beberapa waktu belakangan bisa terdorong masuk.

Saham CUAN dalam 12 bulan terakhir tercatat telah melonjak 103 persen ke harga Rp 1.500 per lembar. Saham DSSA juga melonjak hingga 147 persen dalam setahun terakhir ke harga Rp 78.600 per lembar.

”Kalau kapitalisasi sebuah saham yang likuid, seperti CUAN dan DSSA, meningkat pesat dalam jangka waktu pendek atau menengah tertentu, wajar kalau mereka dapat kesempatan memasuk indeks tersebut,” ujarnya saat dihubungi terpisah.

Sebaliknya, penurunan nilai kapitalisasi pasar atau likuiditas (nilai transaksi dan volume yang diperdagangkan) dalam periode jangka pendek menjadi alasan indeks MSCI tidak lagi menampung emiten seperti MBMA dan PNLF.

Grafik pergerakan harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) setahun terakhir hingga Jumat (8/8/2025).

Dengan masuknya saham-saham baru ke dalam indeks MSCI, permintaan beli investor pun tidak terbendung. Harga saham DSSA, misalnya, pada Jumat (8/8/2025) melonjak 20 persen atau sekitar 13.000 poin.

Kapitalisasi pasar DSSA kini berada di posisi lebih dari Rp 500 triliun. Dengan demikian, DSSA masuk dalam urutan delapan emiten dengan nilai kapitalisasi pasar tertinggi di pasar modal Indonesia.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, berpendapat, penilaian indeks MSCI terhadap saham-saham dalam negeri telah diprediksi jauh-jauh hari. Sebelumnya, MSCI mengubah kebijakan yang membuat saham berkapitalisasi besar di Indonesia lebih mudah terdaftar di indeks mereka.

Langkah ini memberi pengaruh besar pada pergerakan transaksi saham hingga nilai IHSG. Rully bahkan menghitung, perubahan kebijakan itu berkontribusi pada kenaikan IHSG sebesar 300-400 poin, yang kini sudah mencapai level 7.500.

”Masuknya saham DSSA dan CUAN sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Kemungkinan akan ada peningkatan transaksi saham-saham tersebut walaupun tidak akan langsung berpengaruh lagi pada IHSG saat ini,” katanya.

Pada hari yang sama, MSCI mengeluarkan pengumuman terbarunya, pasar saham pada Kamis (7/8/2025) mencatatkan pembelian bersih (net buy) investor asing senilai Rp 666 miliar. Nilai ini melampaui catatan pergerakan dana asing sepekan terakhir dengan pembelian bersih senilai Rp 559 miliar. Sejak awal 2025, nilai penjualan bersih investor asing mencapai Rp 61 triliun.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti