Krisis di Kuba perlahan menghilangkan bantuan pemerintah berupa barang yang disubsidi.
04 Mei 2026 12:30 WIB · Internasional
AP/Ramon Espinosa
Pada tahun 1960-an, pemimpin revolusioner Fidel Castro mengeluarkan kebijakan berupa buku jatah yang dia beri nama libreta. Buku ini memuat daftar atau jatah bantuan dari pemerintah untuk hidup sehari-hari penduduk Kuba.
Buku ini menawarkan barang-barang bersubsidi besar-besaran, mulai dari susu hingga ikan dan bahkan rokok. Warga Kuba tahu bahwa toko kelontong yang ditugaskan kepada mereka akan dipasok dengan semua yang mereka butuhkan pada tanggal satu setiap bulan. Pada tanggal itu, penduduk akan menyerbu toko kelontong untuk berbelanja barang-barang bersubsidi.
Namun, situasinya kini jauh berbeda. Lazaro Cuesta, pria berusia 56 tahun, Sabtu (2/5/2026), berdiri dalam antrean untuk menerima jatah harian berupa dua roti kecil untuk dirinya dan istrinya. Setelah mendapatkan jatah hariannya, ia lantas bercerita, ”Dulu beratnya 80 gram dan harganya 5 sen (Kuba). Sekarang beratnya 40 gram dan harganya 75 sen dan kualitasnya lebih buruk,” jelasnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/eccde2b8-7a53-4e0e-bbe4-503316edfb0a.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/b67ee865-6317-4bd8-b5c5-13b25d3154d7.jpg)
Seorang pedagang Jose Luis Amate Lopez juga menuturkan keadaan yang hampir sama. Sudah dua minggu toko kelontong kecil miliknya tidak ada pembeli. Rak-rak yang dulunya penuh dengan barang dagangan kini hampir kosong. Tidak ada barang dagangan yang bisa ditawarkan kepada 5.000 pelanggan yang biasanya bergantung pada toko milik negara tersebut untuk mendapatkan makanan bersubsidi.
Daftar jatah makanan atau daftar barang yang disubsidi terus menyusut sejak bantuan Soviet anjlok pada 1990-an. Kuba dilanda kelaparan. Barang-barang seperti roti, susu, telur, dan ayam susah didapat di pasaran. Kalaupun ada, harganya tidak lagi terjangkau oleh masyarakat.
Meskipun demikian, banyak warga Kuba yang hidup pada masa itu mengatakan bahwa situasi saat ini lebih buruk.
Amate Lopez mengenang bahwa toko kelontong yang ia kelola beberapa dekade lalu begitu penuh sehingga situasinya hampir tidak memungkinkan untuk berjalan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/7d7d9604-8b40-4d62-aaf2-bf3b4e96f9ff.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/ee775243-988c-4b7f-aefc-7ec1e808ad75.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/f228bf09-e866-4c93-bf06-0c3fc980a913.jpg)
Kini ruangan itu kosong dengan poster-poster tua berdebu yang merinci harga dan jumlah hampir dua lusin barang yang itu pun sudah tidak tersedia lagi, termasuk yogurt, pasta, dan sabun batangan. Dua lemari pendingin yang dulunya penuh dengan daging dan ayam kini hanya berfungsi untuk menjaga botol air jualannya tetap dingin.
Pada bulan April, satu-satunya barang yang tersedia untuk dijual hanyalah beras, gula, dan kacang garbanzo yang sudah dibelah. Ulang tahun ke-15 bagi remaja Kuba dulu adalah sebuah hal yang penting dan menyenangkan. Mereka biasanya akan menerima kue dan beberapa peti bir dari negara. Sekarang mereka hanya mendapatkan 3 kilogram daging sapi giling.
Bahkan, Pemerintah Kuba baru-baru ini memilih untuk merayakan ulang tahun ke-65 warganya dengan memberi sarden, sebatang sabun, dan sebungkus tisu toilet. Buku jatah pemerintah atau libreta yang dulunya menyediakan makanan sehat dan mencukupi kebutuhan pangan keluarga selama sebulan kini semakin menipis. Yang artinya semakin sedikit daftar barang disubsidi oleh pemerintah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/8b747e1d-9905-495f-99a2-2827a8ad9161.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/792f0a30-36bf-46e7-9579-1b3726ebbf13.jpg)
”Mereka sudah tidak punya uang lagi untuk melakukannya,” kata William LeoGrande, seorang profesor di American University, yang telah mengikuti perkembangan Kuba selama bertahun-tahun. Pemerintah Kuba kini mencoba beralih memberikan subsidi kepada orang yang membutuhkan, bukan barang.
Hal itu akan membebaskan dana untuk mengimpor bahan bakar, obat-obatan, dan barang lainnya. Namun, banyak warga Kuba masih bergantung pada buku jatah mereka, sementara krisis di pulau itu semakin memburuk. Pemadaman listrik dan blokade Amerika Serikat membuat negara ini makin terpuruk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/f3012b21-e550-446d-bdce-74b1f02e8a15.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/44998b35-2603-4198-90e4-bc1053cbf6e2.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/04/4e66d030-3404-40e2-8dad-8d7f200e453d.jpg)
Para komedian Kuba telah memarodikan buku jatah makanan, menciptakan karakter bernama Panfilo yang terkenal dengan slogan sindiran berbunyi: ”Letakkan buku catatan itu di kuburan karena sudah siap untuk dikuburkan”. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji