PIALA DUNIA

”Mea Culpa” Kiamat Sepak Bola Italia

Sepak bola Italia kini tak lagi punya ”harga diri” setelah tiga kali gagal beruntun ke Piala Dunia. Celakanya, tak ada ”mea culpa” untuk menghentikan bencana itu.

02 Apr 2026 15:25 WIB · Olahraga

AP/LA PRESSE/FABIO FERRARI

Oleh Yulvianus Harjono

Satu atau dua kali gagal lolos ke Piala Dunia FIFA adalah aib dan kemunduran bagi negara dengan tradisi sepak bola kuat seperti Italia. Namun, kalau sudah tiga kali beruntun gagal, itu artinya adalah kiamat. Celakanya, nyaris tak ada yang mau bertanggung jawab atas ”bencana” yang diderita empat kali juara Piala Dunia itu.

Sepak bola Italia, yang sangat digandrungi dan disegani, terutama di era 1990-an, kini tidak lagi punya harga diri. Untuk pertama kalinya, tim yang pernah juara, bahkan sebanyak empat kali seperti Italia, gagal tampil di Piala Dunia untuk tiga kali beruntun.

Lebih memalukannya, Italia gagal memanfaatkan tambahan kuota untuk Eropa, yaitu tiga slot, menyusul ekspansi dari 32 menjadi 48 tim peserta di Piala Dunia 2026. ”Saya masih tak percaya. Ini (kegagalan lolos Piala Dunia) adalah tragedi, hal yang memalukan. Itu hal terburuk yang pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Italia,” ujar Fabio Capello, pelatih legendaris asal Italia, dikutip LLSN.

Pernyataan Capello itu sangat mewakili kekecewaan dan kemarahan publik Italia saat ini. Italia menjadi satu-satunya negara di peringkat 19 besar dunia yang tidak akan bermain di babak utama Piala Dunia 2026. Pada laga playoff kualifikasi Piala Dunia 2026, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB lalu, tim peringkat ke-12 dunia itu disingkirkan Bosnia-Herzegovina, tim peringkat ke-65.

Padahal, Italia pernah dikenal sebagai kiblat sepak bola, yaitu ketika Liga Serie A menjadi liga terbaik dunia pada era 1990-an dengan kehadiran barisan pemain terbaik sejagat seperti Ruud Gullit, Van Basten, Marco van Basten, dan Ronaldo Luiz da Lima. Italia juga dikenal sebagai produsen pelatih-pelatih terbaik sejagat.

Italy players react during a penalty shootout during the World Cup qualifying playoff final soccer match between Bosnia and Italy in Zenica, Bosnia, Tuesday, March 31, 2026. (AP Photo/Armin Durgut)

Meskipun Italia bakal kembali absen, setidaknya ada tiga pelatih asal negara itu yang akan berpartisipasi di Piala Dunia 2026 nanti. Mereka adalah Carlo Ancelotti (tim Brasil), Fabio Cannavaro (Uzbekistan), dan Vincenzo Montella (Turki). Jadi, negara itu sebetulnya tidak kekurangan stok pelatih berbakat.

”Kita harus membangun ulang kembali dari nol dan memikirkan bagaimana caranya untuk menciptakan ulang kondisi untuk meningkatkan kualitas pemain muda,” ujar Gianfranco Zola, mantan pemain timnas Italia, menyoroti masalah pembinaan pesepak bola di Italia.

Persoalan pembinaan pemain memang menjadi masalah laten di Italia saat ini. Nyaris tak ada bintang berkelas dunia yang menghuni skuad Italia saat ini, kecuali kiper Gianluigi Donnaruma dan bek sayap Federico Dimarco. Hal yang lebih mengkhawatirkan terlihat di lini depan. Barisan penyerang mereka adalah para pemain ”buangan”, seperti Moise Kean (klub Fiorentina) dan Mateo Retegui (Al-Qadsiah).

Quote

Italia salah satu negara terhebat di sepak bola. Namun, di akademi sepak bola, tak ada yang dibangun dan tak ada yang memikirkannya.

Kualitas medioker itu terlihat jelas di diri Kean, mantan pemain Juventus, saat mendapatkan peluang emas membobol gawang Bosnia-Herzegovina, tempo hari. Tinggal berhadapan dengan kiper dan tak terkejar bek-bek lawan, ia justru menendang bola ke angkasa, alih-alih ke gawang. Padahal, belum lama, Italia pernah punya barisan penyerang flamboyan, seperti Alessandro Del Piero, Francesco Totti, dan Luca Toni.

Karma Bastoni

Lalu, di lini pertahanan, Italia kini menjadi bahan olok-olokan menyusul kecerobohan bek tengah Alessandro Bastoni yang dikartu merah akibat menjatuhkan pemain Bosnia dalam situasi serangan balik. Momen itulah yang dinilai membalikkan takdir Italia. Pelatih Italia Gennaro Gattuso lantas mengorbankan serangan dengan menarik keluar Retegui untuk digantikan bek tengah pengganti, Federico Gatti.

Referee Clement Turpin shows a red card to Italy's Alessandro Bastoni (21) during the World Cup qualifying playoff final soccer match between Bosnia and Italy in Zenica, Bosnia, Tuesday, March 31, 2026. .  (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Gattuso, yang naif, ingin mempertahankan keunggulan 1-0 melalui gol Moise Kean pada menit ke-15. Padahal, timnas Italia di era Gattuso terkenal sangatlah buruk dengan kualitas pertahanannya. Gawang Italia telah kebobolan total 10 gol dari 8 laga yang dijalani bersama Gattuso. Padahal, dahulu, Italia dikenal dengan pertahanan tangguhnya. Soliditas itulah yang membuat mereka menjadi juara Piala Dunia 2006 dan juara Piala Eropa 2020.

Bastoni pun menjadi salah satu pihak yang paling disorot dan menjadi kambing hitam. Jauh sebelum laga itu digelar, banyak suporter Italia yang meminta pemain Inter Milan itu dicoret dari skuad Italia. Persoalannya adalah nonteknis. Sebagian publik Italia belumlah memaafkan Bastoni yang dinilai bertindak licik dan tak etis saat Inter Milan melawan Juventus di laga Liga Italia, Februari lalu.

Pada saat itu, Bastoni berpura-pura jatuh dan kesakitan saat dihentikan bek sayap Juve, Pierre Kalulu. Tindakan manipulatif itu membuat Kalulu dikartu merah. Celakanya, Bastoni tampak kegirangan bak menjadi juara dunia saat wasit mengusir keluar Kalulu. Meskipun meminta maaf, dua hari berselang, Bastoni terus dicibir penonton hampir di mana pun setiap kali ia tampil bersama Inter.

Sejumlah orang menyebut kegagalan Italia adalah karma dari Bastoni. Namun, masalahnya bukan hanya di sana. Secara umum, kualitas sepak bola Italia memang terus menurun jauh. Liga mereka, Serie A, kehilangan kualitas dan tidak lagi menjadi kawah candradimuka para pemain lokal Italia.

Klub-klub Serie A, yang pendapatannya terus merosot dalam dua dekade terakhir, memilih mendatangkan barisan bintang senja asing yang direkrut gratis, seperti Luka Modric dan Kevin De Bruyne, alih-alih mengorbitkan talenta lokal. Tidak heran, daya saing klub Italia terus merosot, dibuktikan dengan tidak adanya juara dari negara itu di Liga Champions Eropa dalam 16 tahun terakhir.  

Nilai transfer musim dingin Liga Italia dalam lima musim terakhir.

Terpuruk di Liga Champions

Klub-klub besar negara itu, seperti Juventus, Inter Milan, Napoli, dan AC Milan, bahkan tak lolos atau absen di babak gugur Liga Champions musim ini. Hal yang tidak kalah mirisnya, mengacu data Football Italia, tercatat hanya satu pemain aktif Italia di Serie A yang pernah bermain di Piala Dunia, yaitu Matteo Darmian (Inter Milan) yang tampil di edisi 2014.

”Italia salah satu negara terhebat di sepak bola. Namun, di akademi sepak bola, tak ada yang dibangun dan tak ada yang memikirkannya,” ujar Emiliano Viviano, mantan kiper timnas Italia, menyoroti masalah regenerasi talenta sepak bola di Italia.

Kegagalan tampil di Piala Dunia edisi Amerika Serikat, Kanada, dan Mesiko lebih buruk dari ”Tragedi Superga” pada 1949 yang merenggut nyawa sejumlah pemain klub Torino yang saat itu menjadi tulang punggung skuad ”Gli Azzurri”. Menyusul tragedi itu, Italia gagal lolos ke Piala Dunia 1958. Itulah satu-satunya edisi Piala Dunia yang tidak diikuti Italia di abad ke-20.

Kegagalan di era modern saat ini lebih sistemik dan kompleks, antara lain, karena kegagalan reformasi akademi dan pengelolaan liga Italia. Sayangnya, tak ada yang berani bertanggung jawab alias mea culpa. Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Gabriele Gravina, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, menolak mundur. Padahal, sudah dua kali beruntun Italia gagal lolos di era kepemimpinannya, yaitu sebelumnya pada edisi 2022.

Tak heran, kantor FIGC di Roma dilempari telur oleh suporter Italia yang muak dengan kepemimpinannya. Menteri Olahraga Italia Andrea Abodi bahkan terang-terangan berkata, FIGC butuh kepemimpinan baru. Claudio Lotito, Presiden Lazio, bahkan menggunakan jalur politik, yaitu lewat Senat Italia, untuk mendesak mundurnya Gravina.

Italy's goalkeeper #01 Gianluigi Donnarumma reacts after being defeated during the FIFA World Cup 2026 European qualification final football match between Bosnia-Herzegovina and Italy at the Bilino-Polje stadium in Zenica on March 31, 2026. (Photo by Elvis BARUKCIC / AFP)

Namun, Gravina bergeming. Alih-alih mundur, ia berkata akan mempertahankan Gattuso sebagai pelatih. Ia tampak ingin kembali mengulangi kesalahannya setelah kegagalan lolos di Piala Dunia 2022. Saat itu, ia tetap mempertahankan Roberto Mancini sebagai pelatih karena mempertimbangkan keberhasilan menjuarai Piala Eropa 2020 yang digelar pada 2021. Sang pelatih akhirnya mundur pada 2023.

Tanpa kesediaan Gravina untuk mundur, sepak bola Italia berpotensi tersandera. Jika unsur politik dan tekanan pemerintah terlalu dominan dalam proses reformasi itu, sepak bola Italia bisa dibekukan. Hal itu pernah dialami Indonesia yang dihukum FIFA menyusul intervensi Pemerintah RI ke PSSI pada 2015 silam.

Di lain pihak, jika status quo terus bertahan, sulit mengharapkan perubahan berarti. Apalagi, Gattuso juga menolak bersikap ksatria dengan mundur seusai kegagalannya. Ia hanya minta maaf ke publik dan menolak membahas soal masa depan jabatannya.

Tanpa sikap ksatria, layaknya gladitor di era Romawi, sulit mengharapkan sepak bola Italia bakal segera bangkit. ”Seluruh yang terlibat dalam sepak bola Italia harus melakukan mea culpa karena apa yang kita lihat dalam 12 tahun terakhir dengan pengecualian di Piala Eropa 2020,” ujar Franco Baresi, legenda timnas Italia.         

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto