Megawati Blak-blakan soal PDI-P Babak Belur di Pemilu hingga Kader yang Bermain Dua Kaki

Di tengah kondisi babak belur, Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri menyebut yang menolong partainya hingga tetap bisa memenangi Pileg 2024 adalah rakyat.

09 Mei 2025 06:05 WIB · Politik & Hukum

Oleh Willy Medi Christian Nababan

JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P Megawati Soekarnoputri mengkritik keras kinerja kadernya saat Pemilu 2024. PDI-P disebutnya menghadapi kondisi babak belur dan kritis. Meski demikian, partai masih bisa meraih suara terbanyak di pemilihan legislatif karena loyalitas dan kepercayaan rakyat.

Hal itu diungkapkan Megawati saat berpidato di hadapan kadernya dalam acara Penganugerahan Trisakti Tourism Award (Desa Wisata) 2025 di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis (8/5/2025) malam. Presiden ke-5 RI itu berpidato panjang lebar soal kondisi partai, negara, hingga kemiskinan yang masih menggerogoti rakyat.

”Coba pikirkan, ya, kemarin waktu pemilu, saya gak pernah ngomong, kan. Tapi sekarang saya sentil aja dikit. Why? Eh, setelah babak belur kayak begitu. Babak belur apa enggak?” ujar Megawati yang serentak dijawab ”babak belur” oleh kadernya.

Putri Proklamator Kemerdekaan RI Soekarno itu mempertanyakan performa beberapa pihak di internal partai saat kontestasi politik tersebut. Secara implisit, ia menyinggung adanya kader yang dinilai kurang maksimal atau tidak loyal, yang mengakibatkan target elektoral di daerah tertentu tidak tercapai.

Kader PDI-P berapi-api mendengarkan pidato politik Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri saat Trisakti Tourism Award di Grand Sahid, Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Ganjar Pranowo, calon presiden yang diusung oleh PDI-P di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, menurut Megawati, seharusnya memenangi kontestasi. Namun, ada sejumlah pihak di internal partai yang bermain politik dua kaki. Artinya, pihak tersebut setengah hati memenangkan Ganjar Pranowo. Mendengar ucapan Megawati, Ganjar yang hadir di lokasi hanya tersenyum.

Meskipun demikian, Megawati enggan mengungkapkan siapa pihak yang dimaksudnya. Ia hanya memberi kode bahwa daerah yang seharusnya menjadi lumbung suara PDI-P malah gagal meraih hasil maksimal. ”Yang harusnya jadi, gak jadi,” katanya.

Quote

Coba pikirkan, ya, kemarin waktu pemilu, saya gak pernah ngomong, kan. Tapi, sekarang saya sentil aja dikit. Why? Eh, setelah babak belur kayak begitu. Babak belur apa enggak?.

Ia pun mengingatkan kader-kadernya untuk berterima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia. Sebab, meski babak belur di Pemilu 2024, PDI-P tetap meraih suara terbanyak di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024.

Tetap menang pileg meski performa partai sedang buruk menunjukkan kepercayaan atau loyalitas rakyat masih melekat kepada PDI-P. ”Yang menolong adalah bukan kalian, tapi rakyat. Sepanjang rakyat mencintai kita. Karena saya yakin dan kita solid bergerak, tidak ada yang bisa mengalahkan kita,” kata Megawati.

Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri berpidato saat acara "Trisakti Tourism Award", di Jakarta, Kamis (8/5/2025) malam.

Megawati pun menekankan pentingnya pemimpin dan kader untuk selalu turun ke bawah, menyapa langsung rakyat. Kader-kader yang tak ingin turun ke bawah, menurut dia, lebih baik keluar dari PDI-P. Bahkan, Megawati tak segan-segan mengeluarkannya karena ia memiliki kewenangan tersebut.

Kangen nasi goreng

Selain itu, dalam pidatonya, Megawati juga mengungkapkan jika ada sosok yang kangen dengan masakan nasi goreng miliknya.

Awalnya, Megawati mengungkapkan jika dirinya mendaftar sebagai chef, akan diterima dengan mudah. Sebab, dia mahir memasak. Ia lantas menyinggung adanya sosok penting di negeri ini yang kangen masakannya. Sosok dimaksud adalah Presiden, tetapi ia tak merinci Presiden yang dimaksud.

”Yang masih nanyain terus, tahu enggak siapa? Rahasia, ya. Siapa?” ucap Megawati.

”Presiden bolak-balik nanya kapan aku dibikinin nasi goreng, Mbak, ya? Yo, Presiden siapa, ya? Hehe. Itu senang banget, loh,” tambahnya.

Keakraban diperlihatkan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat Prabowo berkunjung ke kediaman Megawati yang berada di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7/2019).  KOMPAS/RADITYA HELABUMI 24-07-2019

Untuk diketahui, Prabowo Subianto berkunjung ke kediaman Megawati pada akhir Juli 2019. Prabowo yang kala itu belum menjabat Presiden disuguhi nasi goreng masakan Megawati. Dari sana terungkap bahwa Prabowo sudah lama menyukai masakan nasi goreng Megawati.

Desa wisata atasi kemiskinan

Sementara itu, terkait acara Trisakti Tourism Award, Ketua DPP PDI-P Wiryanti Sukamdani menekankan soal pentingnya pengembangan desa wisata sebagai strategi konkret untuk mengentaskan kemiskinan dan menekan angka tengkes (stunting) di Indonesia. Menurut dia, kegiatan berbasis desa wisata bukan hanya soal pariwisata, melainkan juga memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.

”Desa wisata harus menghasilkan produk dan jasa bernilai ekonomi sehingga mampu menekan kemiskinan,” kata Wiryanti.

Dia mencontohkan praktik di desa di Sleman, DI Yogyakarta, di mana warganya berprofesi sebagai petani di pagi hari, kemudian beralih menjadi pemandu wisata edukasi pada siang hari. Contoh lain adalah desa di Buleleng, Bali, yang berhasil menurunkan angka tengkes secara drastis melalui kuliner lokal bergizi dari sumber daya alam desa, dari 11 persen pada 2022 menjadi 6,2 persen pada 2023.

Trisakti Tourism Award

Wiryanti juga menilai desa wisata berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan melalui konsep edu-wisata. Melalui kegiatan ini, wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman berwisata, tetapi juga menambah ilmu dan meningkatkan toleransi antardaerah. Ia pun menegaskan pentingnya mendukung kegiatan studi tur antardaerah.

Mengutip pandangan Proklamator RI Bung Karno, Wiryanti menyatakan bahwa desa adalah benteng pertahanan negara. Oleh karena itu, kemajuan desa akan berdampak pada kemajuan bangsa secara menyeluruh dan kebijakan pembangunan harus dikedepankan pada pemberdayaan desa.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto