Bung Karno mengenalkan Pancasila di setiap lawatannya ke luar negeri, tak terkecuali Vatikan. Kini, Megawati tawarkan Pancasila sebagai solusi atas persoalan dunia.
08 Feb 2025 14:17 WIB · Politik & Hukum
Megawati Soekarnoputri tercekat menahan tangis saat bercerita mengenai ayahnya, Presiden pertama RI Soekarno, di hadapan Presiden Scholas Occurrentes Jose Maria del Corral di Vatikan, Selasa (4/2/2025). Presiden ke-5 RI ini meyakini pemikiran-pemikiran ayahnya baik untuk masa depan dunia.
”Terus terang, karena saya menjadi anak Bung Karno, saya sangat mengerti, beliau mengajarkan kepada kami hal-hal yang beliau inginkan, sebenarnya dunia itu harus seperti apa,” ujar Megawati saat berkunjung di kantor pusat Global Scholas Occurrentes di Vatikan.
Dalam pertemuan itu, Jose Maria menyinggung mengenai Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia. Menurut dia, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila juga dianut oleh Scholas Occurrentes yang didirikan oleh Paus Fransiskus.
Megawati merasa terharu karena Pancasila merupakan buah pikiran dari Bung Karno, ayahnya. Ia lantas menceritakan bahwa pemikiran-pemikiran Presiden pertama RI itu sudah melampaui zamannya. Gagasan-gagasan Bung Karno bersifat universal dan bertujuan untuk mewujudkan tatanan dunia yang baik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/05/08f8d2b1-8a86-4d92-af9d-5b254e17a607_jpg.jpg)
Prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab, misalnya, relevan dihadapkan pada situasi yang terjadi saat ini. Dunia kini telah kehilangan hati nurani. Nilai-nilai kemanusiaan kerap diterabas demi kepentingan tertentu.
”Seperti tadi Bapak katakan, manusia sekarang ini telah melupakan hati nurani. Jadi, mereka hanya bisa berpikir tanpa menggunakan hati nurani,” ujar Megawati kepada Jose Maria.
Megawati berada di Roma, Italia, sejak 31 Januari untuk menjalankan sejumlah agenda. Selain bertemu dengan Presiden Scholas Occurrentes di Vatikan, ia juga bertemu dengan anak-anak penyintas perang dalam acara yang digelar oleh Aliansi Unbroken Kids di Roma. Agenda utamanya adalah hadir dan berbicara dalam pertemuan para tokoh dan pemimpin dunia untuk membahas hak-hak anak, World Leaders Summit on Children’s Rights, serta bertemu khusus dengan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus, di Vatikan.
Dalam semua kesempatan itu, satu hal yang selalu dibawa Megawati adalah mengenalkan kembali Pancasila. Ia merasa perlu merawat pemikiran Bung Karno sekaligus melanjutkan upaya untuk mewujudkan cita-cita menciptakan tatanan dunia yang baik. Nilai-nilai dalam Pancasila yang merupakan buah pikiran Bung Karno tidak hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia.
Dalam dua kesempatan bertemu dengan Paus Fransiskus, misalnya, Megawati menyampaikan bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang dapat menjadi inspirasi pedoman untuk menyelesaikan sejumlah persoalan yang dihadapi dunia saat ini.
”Sebetulnya lima sila itu adalah masalah kehidupan, terutama Ketuhanan YME, perikemanusiaan,” katanya seusai bertemu khusus dengan Paus Fransiskus di kediaman Paus di Domus Sancta Marthae, Vatikan, Jumat (7/2/2025).
Pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila juga disampaikan Megawati melalui pidatonya dalam World Leaders Summit on Children’s Rights yang digelar di Istana Kepausan, Vatikan. Di hadapan Paus Fransiskus dan sejumlah pemimpin dunia, seperti mantan Wakil Presiden AS Al Gore dan Ratu Rania dari Jordania, Megawati menawarkan Pancasila sebagai pedoman untuk pendidikan karakter anak-anak di dunia.
”Pancasila bukan hanya dasar negara Indonesia, tetapi juga panduan etika dan moral yang bisa digunakan dalam pendidikan anak-anak di seluruh dunia,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/07/0629d4e0-a0e2-4cd3-81bd-8fd9c5ed4f57_jpg.jpg)
Salah satu modal penting untuk membentuk jati diri anak-anak adalah dengan menanamkan nilai-nilai toleransi, rasa hormat, saling menyayangi, dan gotong royong. Nilai-nilai itu termaktub dalam Pancasila yang merupakan ideologi serta falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia.
Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang dapat menjadi inspirasi pedoman untuk menyelesaikan sejumlah persoalan yang dihadapi dunia saat ini.
Megawati mengingatkan bahwa masa depan dunia berada di tangan anak-anak. Karena itu, anak-anak harus dibekali dengan nilai-nilai kemanusiaan yang kuat. ”Jika kita ingin membangun dunia yang lebih baik, kita harus menanamkan harapan dan impian tanpa batas bagi anak-anak kita,” tambahnya.
Perihal nilai-nilai kemanusiaan ditekankan Megawati mengingat saat ini banyak peristiwa yang menabrak prinsip kemanusiaan, seperti kekerasan dan perang. Perang telah mengakibatkan lebih dari 40 juta anak terpaksa mengungsi dan sekitar 100 juta anak kehilangan tempat tinggal.
Anak-anak, kata Megawati, juga pasti akan menjadi pemimpin masa depan. Mereka akan mengarungi dunia yang lebih kompleks dan majemuk. Mereka harus bisa memimpin dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan. Untuk itu, pendidikan karakter, seperti dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila, perlu diberikan sejak dini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/06/05/ba3fa3cc-e761-416f-a026-f38451fd37a8_jpg.jpg)
Ihwal pentingnya Pancasila bagi kehidupan dunia juga disampaikan Megawati saat berkunjung ke kantor Global Scholas Occurrentes. Ia menyebut bahwa Pancasila merupakan persembahan bagi Indonesia dan dunia agar terbebas dari imperialisme dan kolonialisme.
Pancasila, lanjutnya, digali oleh Bung Karno. Lima sila dalam Pancasila memuat nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, perikemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Kelima nilai itu pula yang disampaikan Bung Karno saat berpidato di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, pada 30 September 1966.
”Nilai-nilai antiimperialisme dan antikolonialisme itu disampaikan dalam pidato Bung Karno yang dikenal dengan ’To Build the World a New’,” ucap Megawati yang datang ke kantor Scholas Occurrentes bersama putra dan putrinya, Mohamad Rizki Pratama serta Puan Maharani; Ketua DPP PDI-P Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah; dan sejumlah petinggi PDI-P lainnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/a4b2da4b-2af5-437a-9bd8-73877b711441_jpg.jpg)
Basarah menyampaikan, Megawati tidak hanya bicara soal Pancasila, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Salah satu contohnya adalah kesediaan Megawati untuk memberikan dukungan pada gerakan-gerakan kemanusiaan, termasuk yang digagas sejumlah filantropi, Aliansi Unbroken Kids. Aliansi ini bergerak untuk membantu para korban dan penyintas perang serta konflik di sejumlah negara.
Paus Fransiskus, kata Megawati, tertarik dan mengapresiasi Pancasila. ”Beliau sangat interested (tertarik) dengan Pancasila, gotong royong, seperti yang saya sampaikan saat summit,” katanya.
Paus khususnya sangat setuju dengan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sebab, saat ini ada perubahan signifikan di dunia terkait dengan perikemanusiaan dan hal itu mengkhawatirkan. ”Harusnya sudah tidak ada lagi perang, tapi perang malah terjadi,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/05/1bd65650-0cd3-47e8-919e-383fbacad9be_jpg.jpg)
Presiden Scholas Occurrentes Jose Maria pun menyatakan ketertarikannya pada nilai-nilai Pancasila. Saat menerima kunjungan Megawati di kantornya, ia menyampaikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sama dengan nilai-nilai yang dianut dan disebarkan oleh organisasi global yang dipimpinnya.
Scholas Occurrentes sampai memutuskan menjadikan Megawati sebagai penasihat organisasi pendidikan global yang didirikan oleh Paus Fransiskus tersebut. Harapannya, nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, gotong royong, dan persatuan dapat tersebar lebih luas lagi.
Apresiasi terhadap Pancasila yang kembali digemakan Megawati saat berkunjung ke Vatikan kali ini mengingatkan kembali pada penghargaan yang diberikan Takhta Suci kepada Bung Karno.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/08/13/PRESIDEN-SOEKARNO52-01_1628864911_jpg.jpg)
Sepanjang 1956 hingga 1964, proklamator Indonesia itu telah tiga kali berkunjung ke Vatikan. Selama itu pula, Bung Karno mendapatkan tiga penghargaan tertinggi Vatikan dari tiga paus yang berbeda.
Medali pertama diberikan oleh Paus Pius XII saat Soekarno melawat ke Vatikan pada 13 Juni 1956. Penghargaan kedua diberikan Paus Yohanes XXIII saat Presiden pertama RI itu melakukan kunjungan kenegaraan ke Vatikan, 14 Mei 1959. Adapun penghargaan ketiga diberikan oleh Paus Paulus VI saat Bung Karno melawat ke Vatikan, 12 Oktober 1964. Bahkan, pada kunjungan ketiga yang kemudian menjadi lawatan terakhirnya ke teritori Takhta Suci itu, Bung Karno dibuatkan prangko khusus oleh Vatikan.
Penghargaan itu tak lepas dari hubungan baik Soekarno dengan Vatikan serta ketertarikan Takhta Suci akan nilai-nilai Pancasila yang dibawa oleh pemimpin yang kerap dipanggil Bung Besar itu. Soekarno dianggap mampu mengayomi umat agama lain, termasuk Katolik, dalam negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/03/508a287a-be68-45aa-a82a-052297022a5d_jpg.jpg)
Putra sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra, dalam sebuah tulisan di Kompas, 5 Juli 2021, menceritakan, dalam kunjungan pertama ke Vatikan tahun 1956, Bung Karno mengenalkan ajudannya, Mayor Korps Komando Angkatan Laut (KKO) Bambang Wijanarko, kepada Paus Pius XII. Bung Karno kemudian menjelaskan bahwa Bambang Wijanarko adalah penganut Katolik.
Paus XII terlihat agak terperanjat karena tidak menyangka ajudan seorang presiden di sebuah negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam mempunyai ajudan beragama Katolik. Bung Karno pun menjelaskan, hal ini dapat terjadi karena Indonesia mempunyai dasar negara Pancasila.
Bung Karno lantas memaparkan bahwa Pancasila tak hanya berisi soal nasionalisme, kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi, tetapi juga ada Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila itu menunjukkan bahwa kebebasan beragama dan toleransi dijamin dan dapat dikembangkan oleh para penganutnya di Indonesia.
Menurut Guntur, Paus Pius XII mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Bung Karno. Tak berapa lama kemudian, dua kardinal datang membawa seperangkat selempang dan tanda jasa. Paus Pius XII lantas menyematkan penghargaan Bintang Tertinggi Vatikan itu kepada Bung Karno.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/06/08/e6fb304d-b6c1-4a91-9a81-4b9edd20f67b_jpg.jpg)
Tiga penghargaan yang diberikan tiga pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia itu menjadi kebanggaan bagi Bung Karno. Penghargaan dari Vatikan itu pun membuat iri kepala negara lain yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Sebab, Bung Karno merupakan presiden dari sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia kala itu.
Kepada Cindy Adams, seperti yang tertulis dalam buku Untold Story Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno menyampaikan, ”Aku orang Islam hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan.”
Soekarno selalu mengenalkan Pancasila di setiap lawatannya ke luar negeri, termasuk Vatikan. Puluhan tahun kemudian, giliran putrinya, Megawati, yang mengenalkan kembali Pancasila dalam sejumlah kunjungannya ke luar negeri, tak terkecuali Vatikan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bersifat universal sehingga diyakini dapat diterapkan oleh segala bangsa. Menjadi penawar bagi persoalan toleransi, kemanusiaan, kebangsaan, dan keadilan yang semakin kompleks saat ini.
Penulis:
Anita Yossihara Dari Roma, ItaliaEditor:
A. Ponco Anggoro