Megawati Hangestri menilai, bukan hanya dirinya yang bermain tidak bagus pada gim terakhir babak reguler. Dia menyinggung soal kolektivitas tim.
04 Mar 2026 07:23 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Bola voli bukanlah olahraga individu, melainkan olahraga beregu yang membutuhkan kolektivitas tim guna mencapai kemenangan. Megawati Hangestri Pertiwi menyoroti aspek tersebut sebagai salah satu bahan evaluasi Jakarta Pertamina Enduro menjelang final four Proliga 2026.
Jakarta Pertamina Enduro menjadi satu dari empat tim yang melaju ke babak empat besar. Fase ini akan dihelat dalam tiga seri, diawali di Surabaya, Jawa Timur, pada 3-5 April 2026. Setelah itu, dilanjutkan di Semarang, Jawa Tengah, 10-12 April, dan Surakarta, 17-19 April.
Sebulan jelang final four, Jakarta Pertamina Enduro telah memulai persiapan. Megawati dan kawan-kawan mengevaluasi penampilan pada babak reguler agar performa lebih baik saat bertarung di babak empat besar.
Megawati menekankan tentang kolektivitas tim ketika ditanya terkait penampilannya secara individu pada akhir putaran reguler. Performa Megawati bersama Jakarta Pertamina Enduro menjadi sorotan karena dinilai tidak segemilang putaran pertama hingga awal putaran kedua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/2445e1c5b4f0edabf4f4df3129eaf09d-DSC09080_2.JPG)
Saat Jakarta Pertamina Enduro kalah dari Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia pada laga terakhir babak reguler, pekan lalu, misalnya, Megawati hanya menyumbang empat poin. Dalam kekalahan 0-3 (20-25. 20-25, 17-25) itu, torehan Megawati di bawah dua pemain asing, Iana Shcherban dengan 13 poin dan Wilma Salas dengan 12 poin.
“Kita sebenarnya tidak bisa hanya concern sama satu orang. Misal aku dibilang bermain jelek, tidak bisa dibilang jelek juga (secara keseluruhan), karena kita main tim,” kata Megawati sebelum berlatih di GOR Pertamina, Simprug, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurut Megawati, hal tersebut juga berlaku ketika hanya ada satu pemain yang menunjukkan performa bagus. Satu pemain tampil bagus tidak menjamin performa yang sama ditunjukkan tim karena peran pemain-pemain lain juga tetap menentukan.
Apabila hanya ada satu pemain yang menunjukkan penampilan apik, skema yang diinginkan tidak bisa berjalan jika rekan setimnya gagal menunjukkan performa serupa. Begitu juga ketika ada hanya satu pemain gagal menunjukkan performa terbaiknya, belum tentu penampilan tim keseluruhan juga akan buruk.
Idealnya, kata Megawati, saat ada satu pemain tidak bisa bermain bagus, maka rekan setimnya bisa menutupi performa kurang maksimal itu. “Jadi, kalau menurut saya pribadi, karena kami kemarin di gim terakhir dianggap tidak bermain bagus, ya mungkin bukan saya saja. Mungkin kami semuanya juga kurang di gim kemarin,” ujar Megawati.
Untuk itu, Megawati menekankan pentingnya kolektivitas tim. Sebab, dalam olahraga beregu seperti bola voli, tim tidak hanya bisa mengandalkan hanya satu pemain tertentu untuk mendongkrak performa.
Di sisi lain, kendati sumbangan poinnya minim, Megawati sebenarnya masih menjadi tulang punggung tim bersama Shcherban dan Salas. Dalam daftar pencetak poin terbanyak hingga pekan keenam, satu pekan sebelum akhir putaran reguler, pemain yang dijuluki “Megatron” oleh para penggemar ini bahkan masih menjadi satu-satunya pemain lokal yang bertengger di sana.
Megawati menempati posisi ke-8 dengan total 173 poin, 150 di antaranya berasal dari serangan. Sementara itu, Salas berada pada peringkat keempat dengan 191 poin dan Shcherban pada posisi keenam dengan 188 poin.
Torehan Megawati itu menunjukkan bahwa dia mampu bersaing dengan pemain asing di Proliga. Level permainannya pun bukan lagi berada di antara sesama pemain lokal.
Maka, tak heran jika Pelatih Jakarta Pertamina Enduro, Bulent Karslioglu, berupaya untuk memproteksi kapten timnas boal voli putri Indonesia di SEA Games Thailand 2025 ini. Apalagi, kondisi Megawati belum fit sepenuhnya karena cedera di lututnya kembali kambuh.
Saat rekan setimnya berlatih demi persiapan final four, Megawati hanya berada di pinggir lapangan untuk menjalani penguatan pada kakinya. “Megawati cedera, orang-orang harus tahu situasinya. Namun, perlahan kami jalankan perawatan. Kami berusaha melindungi dia karena dia adalah pemain penting bagi kami,” kata Bulent.
“Lagipula, kami tidak punya satu Megawati lainnya untuk jadi pengganti,” tutur pelatih asal Turki ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/425a7c9efbb615cd81fe5774185c8037-cropped_image.jpg)
Chef de Mission Jakarta Pertamina Enduro, Werry Prayogi, mengatakan, peran Megawati di tim tidak hanya membantu mencetak poin dan meraih kemenangan. Menurut Werry, Megawati juga jadi sosok senior yang bisa memberi arahan dan menginspirasi para pemain lain, terutama pemain-pemain muda di tim.
Jakarta Pertamina Enduro yang kerap disingkat JPE ini bukanlah klub yang asing bagi Megawati. Pada 2015, Megawati yang baru berusia 16 tahun debut di Proliga bersama JPE, yang saat itu memakai nama Jakarta Pertamina Energi. Megawati bergabung juga pada musim 2016, 2017, 2019, 2022, dan 2023.
Setelah dua musim berkarier di Liga Korea bersama Red Sparks, bermain di Proliga bersama Jakarta BIN dan Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia, Megawati memutuskan kembali ke klub pertamanya itu pada musim ini. Dia membawa ambisi besar untuk merengkuh gelar pertama bersama.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar Alexey