Megawati menegaskan, PDI-P akan jadi penyeimbang kritis di pemerintahan Prabowo. Ia minta kader hindari kepentingan pribadi dan peka terhadap isu global.
02 Agt 2025 19:30 WIB · Politik & Hukum
NUSA DUA, KOMPAS — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa partainya akan menjadi penyeimbang dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. PDI-P akan menjadi mendukung kebijakan pemerintah yang prorakyat, tetapi bersikap kritis serta tegas terhadap setiap penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila dan amanat penderitaan rakyat.
Megawati dalam penutupan Kongres VI PDI-P di Bali Nusa Dua Convention Center, Sabtu (2/8/2025), menyoroti salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi dalam demokrasi Indonesia. Ia mengatakan, dalam sistem pemerintahan presidensial seperti yang dianut Indonesia tidak dikenal istilah oposisi dan koalisi seperti dalam sistem parlementer.
”Demokrasi Indonesia bukanlah demokrasi blok-blokan kekuasaan, melainkan demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat dan konstitusi. Konstitusi itu yang paling tinggi,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/02/fe016fb28809931379c2e40e4525a655-antarafoto_kongres_ke_6_pdi_perjuangan_1754121730.jpg)
Oleh karena itu, Megawati menegaskan bahwa PDI-P tidak akan mengambil posisi sebagai oposisi, tetapi juga tidak sekadar membangun koalisi kekuasaan. Sebaliknya, partai akan berperan sebagai penyeimbang konstitusional yang kritis terhadap kebijakan pemerintah.
”Kita adalah partai ideologis, yang berdiri di atas kebenaran, berpihak kepada rakyat, dan bersikap tegas sebagai penyeimbang demi menjaga arah pembangunan nasional tetap berada pada rel konstitusi dan kepentingan rakyat banyak,” kata Megawati.
PDI-P, lanjut Megawati, akan mendukung kebijakan Presiden Prabowo yang prorakyat. Namun, partainya juga akan bersikap kritis dan tegas terhadap setiap penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila, keadilan sosial, dan hukum yang berkeadilan.
Kita adalah partai ideologis, yang berdiri di atas kebenaran, berpihak kepada rakyat, dan bersikap tegas sebagai penyeimbang demi menjaga arah pembangunan nasional tetap berada pada rel konstitusi dan kepentingan rakyat banyak.
Presiden ke-5 RI ini mengingatkan bahwa keberpihakan partai tidak ditentukan oleh posisi di dalam atau luar pemerintahan, tetapi pada kebenaran dan moralitas politik yang diajarkan oleh pendiri bangsa, Sukarno. ”PDI Perjuangan akan terus menjadi pelopor perjuangan rakyat,” ujarnya.
Dalam pidato politiknya, Megawati turut menyinggung pentingnya kehadiran kader partai di tengah rakyat dalam setiap kerja politik. Menurut dia, loyalitas sejati seorang kader tidak diukur dari kepiawaian berbicara, tetapi dari kesediaan untuk turun langsung menyatu dengan rakyat.
”Saya tidak butuh kader yang hanya pandai beretorika. Saya butuh kader yang rela turun ke bawah, ke akar rumput,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/02/92189c24a277a715ea02136afd64b6d1-antarafoto_kongres_ke_6_pdi_perjuangan_1754121713.jpg)
Ia mengingatkan agar partai tidak dijadikan alat untuk meraih kekuasaan atau kekayaan pribadi. ”Selalu jalankan instruksi saya dengan penuh kesetiaan. Kalau tidak siap, lebih baik mundur secara kesatria. Jangan jadikan partai ini arena untuk terus-menerus mencari kekuasaan dan kekayaan pribadi,” ujarnya.
Megawati juga mengingatkan para kadernya terhadap kondisi kawasan Timur Tengah yang menurut dia patut diwaspadai. Sebab, hal itu berpotensi berdampak pada Indonesia, terutama dalam aspek ekonomi.
”Tadi saya panggil Pak Zuhairi. Saya tanya bagaimana keadaan di Timur Tengah. Dia mengatakan bahwa keadaannya tidak begitu baik. Yang saya amati terus adalah situasi antara Iran yang seolah-olah mau digempur oleh Israel,” ujarnya.
Megawati menyatakan kekhawatirannya jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu akibat konflik. ”Kekhawatiran saya yang paling besar adalah kalau Selat Hormuz itu sampai ditutup. Nah, hal-hal seperti ini jangan kalian pikir pendek. Ibu ini ngapain, sih, ngomongin urusan luar negeri,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/10/16/648ec8e7-0f05-41de-8a10-b3974f011155.png)
Ia mengingatkan bahwa isu-isu global semacam itu bisa langsung berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. Ia mengajak seluruh kader PDI-P untuk terus belajar, memahami peta global, dan tidak bersikap apatis terhadap isu-isu internasional yang bisa berdampak pada stabilitas nasional.
”Kita mesti lihat, adakah dampaknya kepada Indonesia? Sangat. Karena kalau Selat Hormuz ditutup, itu yang saya khawatirkan. Kita bisa kena dampaknya apa? Harga minyak bisa naik. Ini harus betul-betul dipelajari. Orang partai harus tahu dan paham,” katanya menegaskan.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra