SEPAK BOLA

Meksiko Vs Afrika Selatan: Jejak Nirkalah di Stadion Azteca

Meksiko ingin lanjutkan rekor apik dalam laga Piala Dunia di Stadion Azteca. Afrika Selatan tak pernah kalah pada laga pembuka pentas dunia.

10 Jun 2026 17:43 WIB · Olahraga

AP/Marco Ugarte

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

MEXICO CITY, RABU — Serupa dengan 16 tahun lalu di Piala Dunia 2010, duel Meksiko kontra Afrika Selatan akan kembali tersaji pada laga pembukaan pesta sepak bola terakbar. Dari malam dingin di Stadion Soccer City, Johannesburg, kedua tim kini akan menjadi saksi sejarah baru di Stadion Azteca, Jumat (12/6/2026) pukul 02.00 WIB.

Ketika peluit pertama ditiup oleh wasit asal Brasil, Wilton Pereira Sampaio, Stadion Azteca resmi mengukir sejarah baru. Stadion berkapasitas lebih dari 87.000 tempat duduk itu menjadi arena pertama yang menggelar pertandingan dalam tiga edisi Piala Dunia berbeda, yaitu 1970, 1986, dan 2026.

Berdiri megah di Distrik Santa Úrsula, Mexico City, stadion beton raksasa ini merupakan ”kuil suci” tempat para dewa sepak bola meninggalkan jejak abadi. Di atas rumput Azteca, Pelé membawa Brasil berdansa menuju kejayaan sekaligus merengkuh gelar dunia ketiganya pada Piala Dunia 1970.

Di sana pula tertulis kisah ikonik legenda Argentina, Diego Maradona, pada perempat final Piala Dunia 1986 kontra Inggris. Maradona memahat sejarah lewat gol ”Tangan Tuhan” dan ”Gol Abad Ini” sebelum akhirnya mengangkat trofi juara seusai menaklukkan Jerman Barat di stadion yang sama.

Kini, takdir membawa Azteca kembali ke panggung tertinggi untuk membuka tirai era baru sepak bola modern. Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada bertindak sebagai tuan rumah bersama untuk memulai maraton 104 laga selama 40 hari ke depan.

Bagi tim tuan rumah, melangkah ke lapangan Azteca berarti memanggil kembali kekuatan magis yang telah melindungi mereka selama puluhan tahun. Di hadapan nyaris seratus ribu pendukungnya yang fanatik, Meksiko menjelma menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan setiap kali menjadi tuan rumah.

(FILES) This aerial view shows the Mexico City Stadium, renamed from Azteca Stadium (or Banorte Stadium) for the FIFA World Cup, in Mexico City on May 28, 2026. The World Cup kicks off on June 11 with FIFA betting that the enduring appeal of the greatest footballing show on earth can rise above anger at soaring ticket prices, an uneasy political climate in Donald Trump's America and the shadow of conflict in the Middle East.
A record 48 teams and millions of fans are set to descend on the United States, Canada and Mexico for the first ever World Cup co-hosted by three nations, the largest and most logistically complex edition of the tournament ever staged. The action gets under way at Mexico City's iconic Estadio Azteca on June 11, with co-hosts Mexico taking on South Africa at 3:00 pm local time (1900 GMT), launching a sprawling, nearly six-week-long spectacle that will culminate in the final at New Jersey's 82,500-seat MetLife Stadium on July 19. (Photo by Carl DE SOUZA / AFP)

Pada edisi 1970, keangkeran Azteca dimulai saat Meksiko menahan imbang Uni Soviet tanpa gol di laga pembuka. Setelah itu, mereka mengamuk dengan melumat El Salvador empat gol tanpa balas dan menumbangkan Belgia lewat penalti ikonik Gustavo Peña.

Rentetan hasil impresif tersebut membawa Meksiko melaju ke babak perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hal itu menjadi pembuktian awal bahwa Azteca adalah benteng yang mengerikan bagi tim tamu.

Enam belas tahun berselang, pada Piala Dunia 1986, keajaiban itu kembali terulang dengan intensitas yang lebih membakar semangat. Berada di Grup A, Meksiko mengubah Azteca menjadi lautan suara yang mengintimidasi lawan.

Quote

Bermain di laga pembuka Piala Dunia di Azteca adalah sebuah tanggung jawab suci kepada sejarah.

Mereka membuka turnamen dengan kemenangan emosional 2-1 atas Belgia melalui gol Fernando Quirarte dan Hugo Sánchez. Selanjutnya, ”El Tri” bermain imbang 1-1 melawan Paraguay dan menang tipis 1-0 atas Irak.

Puncak romansa Meksiko di Azteca terjadi pada babak 16 besar saat Manuel Negrete melepaskan tendangan salto spektakuler ke gawang Bulgaria. Meskipun akhirnya kandas di perempat final lewat adu penalti melawan Jerman Barat di Monterrey, Meksiko tidak tersentuh kekalahan dalam waktu normal selama bermain di Azteca.

Catatan nirkalah di Azteca menjadi modal penting Meksiko untuk menyambut Afrika Selatan. Stadion itu memang amat ramah bagi tim nasional dan dua tim lokal, Club América dan Cruz Azul.

Mexico's forward Cesar Huerta controls the ball during a training session ahead of the FIFA 2026 World Cup at Centro de Alto Rendimiento in Mexico City on June 6, 2026. (Photo by Rodrigo Oropeza / AFP)

Dalam 471 laga sepak bola yang membentang selama enam dekade, rekor kemenangan tim tuan rumah di Azteca mencapai 61 persen. Angka tersebut tergolong sangat tinggi untuk level internasional.

Pelatih Meksiko Javier Aguirre menyebut laga pertama ini lebih dari sekadar pertandingan sepak bola biasa. Menariknya, Aguirre juga yang memimpin Meksiko ketika berjumpa Afrika Selatan pada laga pertama Piala Dunia 2010.

”Bermain di laga pembuka Piala Dunia di Azteca adalah sebuah tanggung jawab suci kepada sejarah. Berada di ruang ganti yang sama dengan tempat Pelé dan Diego Maradona mengukir keabadian memberikan getaran yang unik,” ucap Aguirre, Rabu (10/6/2026).

Aguirre menegaskan skuadnya harus mengubah tekanan masif dari tribun menjadi energi yang membakar semangat. Ia siap menjalani Piala Dunia ketiganya sebagai juru taktik Meksiko setelah edisi 2002 dan 2010.

Naskah Hollywood

Bagi Pelatih Afrika Selatan Hugo Broos, laga pembuka di Azteca juga terasa seperti sebuah lingkaran takdir yang emosional. Empat puluh tahun lalu, ia berdiri di rumput Azteca sebagai bek timnas Belgia yang bertarung melawan Meksiko pada pembukaan Piala Dunia 1986.

"Tidak ada orang di Hollywood yang bisa menulis naskah lebih baik dari ini. Saya bermain di pembukaan Piala Dunia dan sekarang, empat dekade kemudian, saya kembali sebagai pelatih," ujar Broos penuh emosi.

Infografik Prediksi Susunan Pemain Meksiko Vs Afrika Selatan

Turnamen musim panas ini akan menjadi akhir dari 56 tahun perjalanan karier sepak bolanya yang panjang. Di usianya yang menginjak 74 tahun, Broos telah memantapkan hati untuk pensiun demi keluarga tercinta.

Namun, ia ingin menuliskan sejarah apik bagi Afrika Selatan sebelum menyudahi kariernya. Sukses membawa "Bafana Bafana" lolos lewat jalur kualifikasi untuk pertama kali sejak 2002 belum membuatnya puas.

"Saya memimpikan sebuah akhir yang indah di mana Afrika Selatan mencapai fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya," tutur Broos.

Broos pun bertekad menjadi pelatih pertama yang memberikan kemenangan bagi Afrika Selatan pada laga pertama Piala Dunia. Alasannya, Bafana Bafana selalu meraih hasil imbang pada laga pembuka edisi 1998, 2002, dan 2010.

Jika menilik rekor pertemuan, bentrokan kedua tim merupakan duel lintas benua yang selalu sengit. Kedua negara tercatat baru bertemu sebanyak empat kali di panggung internasional.

Dari seluruh pertemuan tersebut, Meksiko unggul dengan mengemas dua kemenangan. Sementara Afrika Selatan mengoleksi satu kemenangan dan satu laga sisa berakhir imbang.

Pertemuan perdana terjadi pada Oktober 1993 dalam laga persahabatan di Los Angeles, AS, dimenangi Meksiko dengan skor telak 4-0. Tujuh tahun kemudian, pada ajang US Nike Cup 2000, Meksiko kembali menang dengan skor ketat 4-2.

Seorang penari yang berdandan sebagai Catrina berpose untuk foto sementara para penggemar sepak bola berdiri di sepanjang Jalan Reforma di Kota Meksiko menjelang Piala Dunia FIFA, Sabtu (6/6/2026). 

AP Photo/Moises Castillo *** Local Caption *** A dancer dressed as Catrina poses for photos as soccer fans stand along Reforma Avenue in Mexico City, Saturday, June 6, 2026 ahead of the FIFA World Cup. (AP Photo/Moises Castillo)

Afrika Selatan kemudian membalas dengan menumbangkan Meksiko 2-1 pada babak grup Piala Emas 2005. Kala itu, Bafana Bafana tampil sebagai tim undangan pada turnamen khusus zona CONCACAF itu.

Pertemuan terakhir terjadi di Johannesburg pada 11 Juni 2010 yang berakhir imbang satu-sama di laga pembuka Piala Dunia. Gol spektakuler Siphiwe Tshabalala saat itu dibalas oleh sontekan jarak dekat Rafael Márquez.

Menjelang laga ini, kedua tim datang dengan persiapan matang dan ambisi yang membumbung tinggi. Aguirre telah meramu komposisi skuad Meksiko yang memadukan ketangguhan pertahanan dengan transisi generasi.

Guillermo Ochoa

Di bawah mistar, kiper veteran berusia 40 tahun, Guillermo Ochoa, bersiap mengukir sejarah dengan masuk ke skuad Piala Dunia untuk keenam kalinya secara beruntun. Ia mencetak rekor tersebut beberapa hari lebih cepat dari Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Di sisi lain, Aguirre juga memberikan ruang bagi talenta muda berusia 17 tahun, Gilberto Mora. Gelandang asal tim Meksiko, Tijuana, itu diprediksi menjadi pemain termuda yang pernah membela Meksiko di panggung dunia.

Adapun Afrika Selatan datang ke Meksiko tidak untuk menjadi penonton pesta belaka. Setelah absen sejak 2010, mereka bersemangat menghadapi persaingan di Grup A bersama Meksiko, Republik Ceko, dan Korea Selatan.

Anak-anak bermain sepak bola di samping dinding yang dicat dengan bendera negara-negara peserta Piala Dunia FIFA 2026, di Lyari, sebuah lingkungan di Karachi, Pakistan, Rabu (3/6/2026). 

AP Photo/Ali Raza *** Local Caption *** Children play soccer next to a wall painted with the flags of countries participating in the 2026 FIFA World Cup, in Lyari, a neighbourhood of Karachi, Pakistan, Wednesday, June 3, 2026. (AP Photo/Ali Raza)

Broos sangat optimistis mengenai peluang timnya karena kualitas keempat tim di Grup A terbilang merata. Misi utama mereka adalah menciptakan sejarah baru dengan menembus babak gugur.

Mengandalkan poros kekuatan domestik dari dua klub raksasa, Mamelodi Sundowns dan Orlando Pirates, Afrika Selatan siap memberikan kejutan. Mereka akan dipimpin oleh kiper andalan Ronwen Williams, kreativitas Teboho Mokoena, dan ketajaman Lyle Foster. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim