Amri/Nita menjadi wakil pertama Indonesia yang lolos ke final bulu tangkis Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Mereka menyingkirkan pemain nomor satu dunia di semifinal.
28 Sep 2026 11:53 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
ICHINOMIYA, SENIN — Persiapan intens, kerja keras, dan motivasi tinggi mengantarkan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah ke final ganda campuran bulu tangkis Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Mereka mempunyai peluang berdiri di podium tertinggi, momen yang terjadi 44 tahun lalu untuk ganda campuran Indonesia di Asian Games.
Amri/Nita tancap gas sejak awal hingga akhir pertandingan semifinal saat berhadapan dengan lawan berperingkat teratas dunia di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Ichinomiya, Jepang, Senin (28/9/2026). Mereka menyingkirkan Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (China).
Kemenangan dengan skor 21-12, 21-14 bagai membayar utang Amri/Nita saat mereka kalah dari lawan yang sama pada semifinal Kejuaraan Dunia di New Delhi, India, 22 Agustus. Laga itu menjadi momen terdekat Amri/Nita untuk menang atas Feng/Huang setelah selalu kalah pada empat pertemuan sebelumnya. Mereka membuat match point 20-18 pada gim ketiga, tetapi disalip hingga kalah 22-20, 14-21, dan 20-22.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/28/257301ea495d7b7d87b7692b75689a23-WhatsApp_Image_2026_09_28_at_08.55.04.jpeg)
Momen itu pula yang menjadi modal besar Amri/Nita untuk tampil di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Sejak berpasangan pada Agustus 2024, semifinal Kejuaraan Dunia menjadi hasil terbaik, yang sebelumnya baru bisa mencapai semifinal turnamen BWF Super 500 dan perempat final Super 1000.
Berselang sebulan setelah Kejuaraan Dunia, Amri/Nita berkesempatan lagi bertemu Feng/Huang dengan motivasi lebih besar. Selain momen di New Delhi, mereka membawa inspirasi dari hasil tim bulu tangkis Indonesia di beregu yang mendapat emas beregu putra dan perunggu beregu putri.
Nita, bahkan, menangis saat berkomentar tentang final yang dicapainya. Satu-satunya final yang pernah Amri/Nita jalani adalah final turnamen berlevel rendah, yakni Indonesia Masters Super 100 pada Oktober 2024 dan mereka menjadi juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/28/d825e10e8d19e9914ed31467ba7d1280-WhatsApp_Image_2026_09_28_at_08.55.12.jpeg)
”Sudah lama banget tidak masuk final, dan juga untuk sampai berada di titik ini tidak mudah buat kami berdua. Dengan naik turunnya, awal tahun hasilnya jauh banget dari apa yang kami harapkan, lalu bisa ke final di Asian Games. Rasanya bikin saya lega dan sangat-sangat bersyukur,” tutur Nita.
Amri/Nita menjadi ganda campuran Indonesia pertama yang lolos ke final Asian Games setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Incheon 2014. Saat itu, mereka menjadi andalan ”Merah Putih” untuk juara, tetapi kalah dari Zhang Nan/Zhao Yun Lei (China) di final. Medali emas Indonesia didapat Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/28/f8639700f366d38de16fd289fad60c6c-WhatsApp_Image_2026_09_28_at_08.55.08.jpeg)
Sejak ganda campuran dipertandingkan di Asian Games Bangkom 1966—bulu tangkis menjadi cabang Asian Games sejak Jakarta 1962—Indonesia baru dua kali meraih medali emas ganda campuran. Christian Hadinata/Regina Masli meraih emas di Tehran 1974, lalu saat berpasangan dengan Ivana Lie, Christian juara di New Delhi 1982.
Kini, Amri/Nita mendapat kesempatan menyamai prestasi legenda bulu tangkis Indonesia tersebut jika bisa memenangi tantangan terakhir, yaitu melawan ganda campuran China lainnya, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin. Dengan pasangan ranking kedua dunia ini, Amri/Nita belum pernah berhadapan.
Amri/Nita berduet dan mencapai fase ini setelah melalui perjalanan panjang dan terbilang perlahan. Amri masuk pelatnas pada 2018 dan Nita setahun setelahnya.
Semula, Amri bermain di dua nomor, yaitu ganda putra dan campuran, dan fokus pada ganda campuran sejak 2022. Sebelum berduet dengan Nita, Amri berpasangan dengan Winny Oktavina Kandow, lalu Indah Cahya Sari Jamil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/28/810fc0a0a942d075bb2d47a8ec1b9b44-WhatsApp_Image_2026_09_28_at_08.55.11.jpeg)
Sementara setelah memulai perjalanan di pelatnas dari nomor ganda putri, Nita bermain juga di ganda campuran sejak Oktober 2022. Dia baru fokus di ganda campuran sejak 2023 bersama Adnan Maulana, kemudian berduet dengan Amri mulai Agustus 2024.
Ketika menjadi bagian dari skuad ganda campuran, mereka pernah berada di bawah asuhan pelatih Nova Widianto sebelum dia pindah ke Malaysia pada awal 2023. Seusai bertugas 2,5 tahun di Malaysia, Nova berada di belakang Amri/Nita saat mereka bertanding di Aichi-Nagoya 2026, memberi arahan dan semangat. Sosok yang meneruskan tugas Richard Mainaky untuk memimpin ganda campuran itu kembali ke pelatnas bulu tangkis Cipayung sejak Agustus 2026.
Sejak Nova dikabarkan kembali ke Cipayung, Amri/Nita antusias menantinya. Dalam masa persiapan menuju Kejuaraan Dunia, mereka mengatakan membutuhkan pendampingan Nova untuk memperbaiki dan mengembangkan hal-hal lebih detail.
”Mas Nova tahu pola main ganda campuran dan detailnya seperti apa, dan itu yang dibutuhkan. Misalnya, setelah ini, mukulnya harus seperti apa, dan lain-lain. Itu yang jadi kendala ganda campuran dalam beberapa tahun terakhir,” tutur Nita.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/27/52bb35d9740bc3503f8af6a4f99bd5b9-WhatsApp_Image_2026_09_27_at_10.09.06.jpeg)
Setelah mengalahkan Feng/Huang, Amri juga menceritakan peran Nova meski baru sebulan berlatih bersama peraih perak Olimpiade Beijing 2008 (bersama Liliyana Natsir) itu. Alhamdulillah, pulang dari Kejuaraan Dunia sudah dipegang penuh Coach Nova dan sangat membantu buat kami karena cukup kompleks dari latihannya. Dia juga terus memotivasi kami, mengajarkan mentalitas, dan selalu berpesan tujuan kami di bulu tangkis itu apa,” tutur Amri.
Atlet berusia 27 tahun itu juga menuturkan bahwa dia dan Nita mencurahkan segalanya untuk meraih hasil sebaik mungkin di Asian Games. ”Cukup lega karena event ini, kan, empat tahun sekali dan kami bisa masuk ke final itu sangat luar biasa,” tambah Amri.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto