Memandang Konklaf, Harapan Tidak Akan Mengecewakan

Dua hari mendatang, pemilihan Paus baru akan digelar. Konsistensi menjaga keberpihakan pada yang terpinggirkan dan moral tegaskan relevansi Vatikan sebagai panduan.

05 Mei 2025 05:00 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

Pekan ini, perhatian dunia akan tertuju ke Vatikan, tepatnya ke Kapel Sistina yang berada di sisi kiri Basilika Santo Petrus. Di kapel itu, pada Rabu (7/5/2025) sore mendatang, sebanyak 133 kardinal akan memulai konklaf, memilih Paus yang baru.

Dengan diiringi lantunan kidung ”Veni Creator Spiritus (Datanglah, Roh Kudus)”, para kardinal dari beragam penjuru dunia itu beriring masuk ke Kapel Sistina. Sebagaimana namanya, konklaf dari frasa bahasa Latin, cum dan clave, mereka ’bersama-sama dikunci’ dalam satu ruangan. Mereka ”diasingkan” dari dunia.

Di kapel itu, mereka berembuk—dalam terang bimbingan Roh Kudus—memilih salah satu di antara mereka untuk menjadi Paus, ”yang pertama di antara yang sederajat”.

”Kampanye tidak ada, apalagi dengan suap, pasti tidak ada,” kata Kardinal Ignatius Suharyo tersenyum. ”Yang ada adalah saling menjajaki pendapat, dengan rembukan. Lewat penegasan bersama, tidak untuk kepentingan apa pun, kecuali untuk Gereja, untuk kebaikan bersama, terlebih untuk kemuliaan Tuhan. Itu cara Roh Kudus bekerja,” kata Kardinal Suharyo saat ditemui di Wisma Keuskupan Agung Jakarta akhir pekan lalu.

This photo handout on May 3, 2025 by The Vatican Media shows the setting up of the Sistine Chapel and installation of the chimney before the start of the conclave on May 7, 2025. (Photo by Handout / VATICAN MEDIA / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / VATICAN MEDIA" - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Acuan

Lebih lanjut Uskup Agung Jakarta itu menjelaskan, proses penegasan bersama itu sejatinya telah dimulai sejak sebelum konklaf digelar. Para kardinal yang telah berada di Roma setiap hari berkumpul. Selain pembicaraan di Dewan Kardinal, selama masa berkabung, Novemdiales, khotbah-khotbah yang disampaikan dalam misa menyiratkan bagaimana Gereja harus hadir di dunia.

”Saya bayangkan, para kardinal memiliki wawasan yang luas tentang Gereja, tentang dunia, berbicara mengenai dunia macam apa yang akan berkembang sekian tahun mendatang. Kemudian, di tengah dunia seperti itu, Gereja macam apa yang harus hadir. Bukan kehadiran tanpa makna, tetapi Gereja yang bermakna, dengan segala macam persoalan yang dihadapi manusia,” kata Kardinal Suharyo.

Merujuk mendiang Paus Fransiskus, Suharyo mengatakan, tindakan, keberpihakan, dan misi yang diemban oleh Paus—bahkan yang revolusioner sekalipun—sejatinya bukan inspirasi pribadi seorang Paus. ”Sudah pernah ditanyakan, kenapa Bapa Suci melakukan hal-hal yang kelihatannya sangat revolusioner. Jawaban beliau, ini semua bukan saya. Saya hanya menjalankan yang diamanatkan Konsili Vatikan II,” kata Kardinal Suharyo mengutip Paus Fransiskus.

Merujuk laman Jesuit.id, Konsili Vatikan II (1962-1965) mengajarkan tentang apa itu Gereja dari tiga perspektif berbeda, yaitu berkenaan dengan Gereja Katolik sendiri, umat Kristiani lain, dan dunia. Secara khusus terkait dengan dunia, terutama dalam Gaudium et Spes, digemakan keinginan Gereja untuk terlibat dengan kehidupan dunia. Keterlibatan itu baik dalam kegembiraan maupun harapan, duka, kesedihan, dan kecemasan orang-orang zaman ini, terutama mereka yang miskin dan menderita.

Menurut Kardinal Suharyo, para kardinal yang terlibat dalam konklaf pun menggunakan perspektif Konsili Vatikan II itu untuk menegaskan pilihan mereka. Berbasis perspektif itu dan pengenalan atas pandangan setiap kardinal terkait apa yang mereka pikirkan dan harapkan tentang Gereja dan Vatikan, setiap kardinal elektor akhirnya menentukan siapa yang mereka pilih menjadi Paus.

Apabila dalam putaran pertama para kardinal belum berhasil memilih Paus lantaran belum ada satu kardinal yang mengantongi dua pertiga dari 133 suara kardinal elektor, konklaf diskors satu hari. Kesempatan itu digunakan para kardinal untuk berdoa, bukan untuk kampanye. Apabila dalam putaran kedua hasilnya serupa, aturan diubah, yaitu dua nama teratas yang bakal dipilih.

”Saya duga ini tidak lama, seperti konklaf yang lalu (2013), hanya dua hari. Saya membayangkan dan saya berharap, hari Minggu sudah ada penobatan dan pelantikan resmi, lalu semua gembira,” kata Kardinal Suharyo.

Keberlanjutan

Dalam kaitannya dengan komunitas internasional, Guru Besar Sejarah Gereja pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Edy Kristianto OFM mengatakan, perspektif Konsili Vatikan II sebagaimana dihidupi oleh Paus Fransiskus akan berlanjut. Edy melihat pilihan Gereja untuk menyuarakan perdamaian, toleransi, keberpihakan pada mereka yang disisihkan, yang tak berdaya serta diabaikan sebagaimana diupayakan mendiang Paus Fransiskus masih tetap menjadi misi utama Gereja untuk dunia.

Sebelumnya, Kardinal Suharyo pun memiliki pandangan serupa. Siapa pun yang bakal terpilih, menurutnya, dia tetap mengambil peran sekaligus melanjutkan langkah pendahulunya. Sikap itu juga terwujud dalam pilihan dan tindakan Paus Fransiskus selama ini.

Pilihan keterlibatan Fransiskus pada migran, seruannya yang tak pernah lelah untuk gencatan senjata dan penghentian perang di Gaza dan Ukraina, sejatinya adalah implementasi dari dokumen pertama Paus Benediktus XVI. Dokumen yang dirilis pada tahun 2005 itu bertajuk ”Deus Carita Est (Allah adalah Kasih)”.

”Bila Paus Benediktus XVI menegaskan tema itu dalam dokumennya, Paus Fransiskus menegaskannya dalam tindakannya, meskipun untuk mewujudkannya sulit, bahkan Paus kerap menemui kegagalan. Hingga kini perang masih terjadi di Gaza, juga Ukraina, yang membuat dia mendapat julukan gembala yang terluka,” kata Kardinal Suharyo.

Meskipun demikian, situasi tersebut tidak akan pernah meruntuhkan upaya Gereja mewujudkan pesan Konsili Vatikan II. Justru ketika dunia dibayangi ketidakpastian dan kecenderungan mementingkan diri sendiri, cita-cita Konsili Vatikan II itu justru kian relevan.

Konklaf kali ini pun pada dasarnya akan mengemban tugas itu, yaitu memilih yang pertama, yang akan mengarahkan sekaligus menjaga relevansi Gereja bagi umat dan dunia.

Tentu tidak mudah. Akan tetapi, sebagaimana pesan Paus Fransiskus saat membuka tahun Yubelium Agung 2025, dunia bisa meyakini bahwa harapan tidak pernah mengecewakan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto