Memantau Status Gizi Anak Sekolah sebagai Bagian dari Program MBG

Sukses tidaknya MBG antara lain dinilai dari perubahan angka status gizi anak sekolah, sebelum dan sesudah mendapat MBG.

18 Mar 2025 08:00 WIB · Opini

Oleh Soekirman

Berbagai ulasan di media tentang pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kebanyakan masih di sekitar komposisi menu, nilai gizi, dan keamanan makanan (food safety). Demikian juga tentang makanan yang disajikan, apakah sudah bernilai gizi sesuai kebutuhan, seimbang‚ beragam, dan rasa sesuai selera anak. Beberapa waktu yang lalu, ada yang melaporkan tentang adanya masalah keamanan makanan. Mudah-mudahan masalah tersebut sudah tertangani dengan baik.

Peraturan Menteri Kesehatan No 41 Tahun 2014 Bab II tentang Prinsip Empat Pilar Pedoman Gizi Seimbang tidak hanya mengatur soal berimbang dan beragamnya makanan, tetapi juga mengingatkan perlunya memperhatikan empat hal penting lainnya agar makanan benar sehat, yaitu:

1. Biasakan mengonsumsi makanan aneka ragam dan seimbang (sesuai kebutuhan tubuh)

2. Membiasakan perilaku hidup bersih ( untuk diri, makanan, dan lingkungan)

3. Membiasakan hidup aktif bergerak (dan olahraga)

4. Menjaga berat badan normal atau ideal.

Pilar keempat merupakan status gizi sebagai dampak dari tiga pilar sebelumnya. Semua program gizi, termasuk MBG, dampaknya dinilai dengan beberapa indikator, antara lain indikator pendidikan dan kesehatan, terutama status gizi yang diukur dengan suatu indeks berikut ini.

Suasana pembagian makanan program Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Slipi 15 Jakarta Barat, Senin (10/3/2025). Menu Makan Bergizi Gratis mengalami penyesuaian selama bulan Ramadhan. Para siswa yang biasa menerima menu berupa nasi, lauk, sayuran, dan buah, kini disesuaikan menjadi biskuit, telur rebus, susu, kurma, dan buah, untuk berbuka puasa. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 10-03-2025

Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh (IMT), di banyak referensi internasional dikenal sebagai Body Mass Index (BMI), ialah suatu nilai kesehatan fisik yang menggambarkan status gizi seseorang. Apakah seseorang dinilai berberat badan normal, gemuk, gemuk sekali, atau kurus, dan kurus sekali.

Indeks ini dikenal pada abad ke-19. Ditemukan oleh Adolphe Quetelet, ahli statistik, matematika, dan astronomi dari Belgia, tahun 1830. Dia adalah orang pertama yang mengumpulkan data tinggi dan berat badan banyak orang. Kemudian, secara statistik dihitung berapa rata-rata tinggi dan berat badan manusia di suatu negara atau benua. Dengan angka-angka itu digambarkan status gizi seseorang, atau sekelompok orang, atau masyarakat, dan dikaitkan dengan beberapa indikator ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Sebagai contoh, masyarakat yang rata-rata anak bertubuh pendek dan kurus atau stunting kebanyakan berasal dari masyarakat miskin.

Untuk mengukur status gizi, Quetelet membuat suatu rumus yang disebutnya sebagai ”Quetelet Index”, yang dikenal sebagai Indeks Massa Tubuh (IMT), sebagai berikut:

IMT = berat badan (kg) /tinggi badan (meter) kuadrat

Hasilnya dalam angka 10-28, yang perinciannya terkait dengan faktor etnik. Penduduk Asia Selatan mempunyai nilai IMT yang sedikit lebih rendah dari IMT orang Barat karena struktur tubuh dan tebal lemak tubuh juga berbeda. Karena itu, klasifikasi internasional IMT gemuk dan kurus menggunakan kriteria WHO, dan klasifikasi untuk regional dan nasional ditentukan oleh negara masing-masing. Untuk Indonesia digunakan klasifikasi IMT menurut Kementerian Kesehatan tahun 2018 sebagai berikut:

Kurus: 17,0-18,4; Normal/Ideal: 18,5-25,0; Gemuk: 25,1-27,0; Gemuk Sekali > 27,0 (Kemenkes, 2018).

Ketua Komisi II DPRD Nunukan Andi Fajrul Syam menginspeksi dapur tempat memasak program makan bergizi gratis di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Senin (20/1/2025).

Mengukur dengan IMT

Di bawah ini disajikan contoh tiga negara yang sudah menyelenggarakan Program Makan Sekolah (PMS) dan mengukur dampaknya dengan status gizi rata-rata anak sekolah, yaitu Jepang, Brasil, dan India.

Jepang menyelenggarakan School Lunch Program (SLP) sejak tahun 1954 pada saat Pemerintah Jepang mengeluarkan Undang-Undang Makan di Sekolah.

Riset gizi nasional Jepang pada tahun 2006-20015 memonitor dan mengevaluasi SLP dengan IMT. Waktu itu obesitas sudah menjadi masalah di Jepang. Dari riset gizi itu ternyata nilai IMT rata rata di Jepang sudah menurun. Berarti, SLP di Jepang sudah berhasil menunjukkan penurunan angka obesitas anak sekolah. Dengan demikian, waktu itu Jepang sudah termasuk negara maju dengan angka obesitas yang rendah pada anak sekolah (Impact of the School lunch program on overweight and obesity among junior high school nation wide in Japan, J.PH, Oxf, 2018).

Quote

IMT tidak untuk keperluan klinis bersifat perorangan, tetapi untuk kesehatan masyarakat.

Di Brasil, dalam publikasi berjudul ”From Food for All to Health for All: Exploring Brazil’s school feeding success”, dinyatakan bahwa program School Feeding di Brasil, yang dikenal dengan PNAE, adalah program terbesar kedua di dunia setelah India. Program ini melayani 40 juta pelajar di lebih dari 160.000 sekolah di 5.570 daerah di Brasil (WFP, 24/2/2021).

Program PNAE di Brasil mulai tahun 1955. Tujuan awalnya menurunkan angka kelaparan dan kurang gizi dengan IMT rendah, seperti halnya di negara berkembang lain. Ternyata, setelah angka kurang gizi menurun sebagai dampak dari PNAE, di Brasil terjadi transisi pola hidup yang menuju arah ke gizi lebih. Masalah gizi berubah dari gizi kurang (malanutrisi) ke arah gizi lebih dengan masalah obesitasnya (Popkin, 2021, The Nutrititon Transtition and Obesity in Developing World).

PNAE mengubah kebijakan program gizinya untuk mengatasi masalah gizi kurang menjadi untuk menurunkan angka obesitas yang mulai jadi masalah kesehatan masyarakat di Brasil. Sejak itu, PNAE dikenal sebagai program yang sukses menurunkan angka obesitas di Brasil (Preventive Medicine Vol 150, Sep 2).

Adapun di India, data dari Indian Council of Medical Research (ICMR) (2023) menyatakan bahwa 56,4 persen penyakit di India terutama karena nilai gizi makanan yang tidak sehat. Hal tersebut terutama karena meningkatnya konsumsi makanan olahan, ditambah dengan meningkatnya konsumsi gula dan lemak. Sejak saat itu India sudah memasuki krisis obesitas.

Siswa membuka menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di SD Negeri Sinduadi Timur, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (17/1/2025).

Program Mid Day Meal (MDM) di India awalnya bertujuan untuk mengatasi masalah anak kurang gizi (malanutrisi) dengan nilai IMT rendah (anak kurus dan tengkes). Dalam perkembangannya, India saat ini menghadapi masalah gizi ganda, obesitas dan tengkes, seperti halnya banyak negara berkembang lainnya.

Anak-anak yang makan siang di sekolah mempunyai nilai IMT/BMI rendah dibandingkan dengan yang tidak mengikuti program MDM. Hal ini berarti program MDM di India dinilai kalorinya tidak berlebihan, sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, MDM berdampak positif pada upaya penurunan angka obesitas.

Data lain dari MDM India menunjukkan adanya dampak intergenerasi melalui siswa putri. Tinggi rata-rata anak-anak dari ibu yang waktu mudanya bersekolah dengan MDM ternyata lebih tinggi daripada anak-anak dari ibu yang sekolah tidak dengan MDM. MDM pada rata-rata tinggi badan pelajar putri di sekolah dengan MDM dan tanpa MDM. Anak yang dilahirkan oleh ibu yang semasa sekolah menjalani MDM ternyata memiliki tinggi badan menurut umur lebih tinggi daripada anak-anak dari ibu yang sekolah tanpa MDM (Raveenthiranathan, 2019, Nutrition guidelines and standards for school meals, FAO Rome, 2019).

Sebagai kesimpulan, dari contoh di Jepang, Brasil, dan India, sepertinya sejak awal program sudah memperhitungkan kaitannya dengan status gizi anak. Saya belum mendengar atau membaca apakah MBG dimulai dengan mengumpulkan data IMT sebagai data dasar sebelum MBG dimulai. Kemudian disusul dengan pemantauan IMT berkala, setiap 6 bulan atau 12 bulan sekali. Dengan demikian, sejak awal MBG dimulai, sudah diketahui posisi status gizi anak sekolah di Indonesia. Berapa persen normal, kurus, dan gemuk. Bahkan, mungkin diketahui sejak awal ada sekolah dengan banyak murid yang gemuk.

Seperti contoh di tiga negara di atas, sukses tidaknya MBG antara lain akan dinilai dari perubahan angka status gizi anak sekolah dari sebelum dan sesudah mendapat MBG. Karena itu, saya menduga Badan Gizi Nasional (BGN) sudah merencanakan kegiatan pengumpulan IMT. Apakah pengukuran IMT akan dimulai secara random atau cara lainnya, tentunya para pakar statistik BGN yang akan menentukan. Mungkin ada yang mengira kalau melaksanakan IMT akan menambah biaya yang memberatkan program. Terutama di musim penghematan program saat ini.

Menurut saya, pengukuran IMT cukup mudah dan murah. Hanya memerlukan dua jenis alat, timbangan injak dan pengukur tinggi badan. Keduanya memiliki banyak pilihan harga, dari yang canggih sampai yang sederhana tetapi tetap efektif. Pengukuran berat dan tinggi badan dapat dilakukan oleh guru sekolah dengan sedikit latihan. Dengan adanya Center of Excellence MBG di IPB University, berbagai masalah teknis perencanaan dan pelaksanaan pengukuran IMT dapat diatasi.

Sebagai catatan, kemungkinan sesudah membaca tulisan ini ada yang berkomentar bahwa IMT tidak cocok untuk mengukur kegemukan karena IMT untuk mengukur lemak tubuh bukan otot. Jawabnya, IMT tidak untuk keperluan klinis bersifat perorangan, tetapi untuk kesehatan masyarakat.

Soekirman, Ketua Pembina, Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI)


Kerabat Kerja

Penulis:

Soekirman
 | 

Editor:

Neli Triana, Johanes Waskita Utama