ALUTSISTA

Membedah Kemampuan HELIOS, Senjata Laser AS Penghancur ”Drone” Iran

Serangan ”drone” Iran menembus pertahanan AS- Israel. Sistem pertahanan udara tak selalu ampuh. AS pun menggunakan senjata laser HELIOS untuk menembak ”drone” Iran.

18 Mar 2026 12:00 WIB · Internasional

Commander, Task Force 71/Destroy

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Selain rudal balistik, drone Shahed menjadi senjata utama Iran membalas serangan Amerika Serikat dan Israel. Drone ini dirancang untuk meledak saat mengenai sasaran. AS mengandalkan senjata laser Helios untuk menghancurkan serangan drone itu.

AS dan Israel kewalahan menghadapi serangan drone Iran. Serangan dilakukan secara bertubi-tubi sehingga sulit diantisipasi sistem pertahanan udara. Beberapa drone Iran pun menghantam lokasi strategis di Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah.

Perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 tersebut terbukti sangat mahal. Biayanya ditaksir mencapai 1 miliar dolar AS atau hampir Rp 17 triliun per hari. Saat ini perang telah memasuki hari ke-18. Itu artinya biayanya tembus hingga Rp 280 triliun.

Efektivitas biaya penggunaan senjata sangat menentukan dalam perang. Iran banyak menggunakan drone Shahed-136. Harganya sekitar 20.000-50.000 dolar AS atau Rp 425 juta hingga Rp 850 juta.

Infografik Drone Shahed-136 Iran

Sementara AS menggunakan rudal pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) untuk menangkal serangan drone dan ridal balistik Iran. Namun, biayanya relatif mahal. Rudal Patriot dihargai 3-4 juta dolar AS atau setara dengan Rp 50 miliar hingga Rp 68 miliar. Perbandingan harga senjata ini jelas tidak menguntungkan bagi AS dalam pembiayaan perang.

Oleh sebab itu, AS membutuhkan senjata yang lebih efisien untuk menangkal serangan drone Iran. Senjata itu adalah High Energy Laser with Integrated Optical-dazzler and Surveillance atau HELIOS yang dirancang oleh perusahaan pertahanan dan kedirgantaraan di AS, Lockheed Martin. Penggunaan senjata laser ini diklaim dapat menurunkan biaya secara signifikan untuk menembak jatuh drone Iran.

Dilansir dari Euronews, Senin (16/3/2026), pelan lalu, kapal Angkatan Laut AS, USS Preble, menggunakan HELIOS untuk menembak beberapa drone Iran. Namun, tidak disebutkan berapa jumlah drone yang ditembak jatuh.

”AS sekarang mengerahkan teknologi yang akan membalikkan keadaan dengan menurunkan biaya menembak jatuh drone dari beberapa juta (dolar AS) menjadi hanya beberapa sen,” tulis laporan itu.

Infografik Senjata Laser Helios.

HELIOS merupakan senjata laser berenergi tinggi 60 kilowatt yang dirancang untuk mencegat drone tempur, pesawat terbang, dan rudal. Dalam mitologi Yunani, Helios adalah dewa Matahari.

Sejauh ini, USS Preble menjadi satu-satunya kapal yang dilengkapi dengan HELIOS. Kapal tersebut ditempatkan di lepas pantai Iran. Senjata laser itu dikembangkan sejak 2018 dan telah melalui serangkaian uji coba, termasuk pada Februari 2026.

HELIOS dapat menyerang target dengan intensitas energi rendah untuk menyilaukan. Hal ini membingungkan sistem panduan dan memaksa pesawat, rudal, atau drone jatuh. Sementara serangan intensitas energi tinggi dapat menghancurkan target dengan memanaskannya secara berlebihan.

Dilansir dari situs web Lockheed Martin, HELIOS bukan sekadar laser, melainkan sistem senjata terpadu. Kemampuan multisistemnya mencakup penghalau intelijen, pengawasan, dan pengintaian jarak jauh. Senjata ini dirancang untuk operasi militer di laut. Lockheed Martin mendapatkan kontrak senilai 150 juta dolar AS (sekitar Rp 2,55 triliun) untuk membangun dua purwarupa senjata itu.

Quote

HELIOS dapat menyerang target dengan intensitas energi rendah untuk menyilaukan. Hal ini membingungkan sistem panduan dan memaksa pesawat, rudal, atau ”drone” jatuh. Sementara serangan intensitas energi tinggi dapat menghancurkan target dengan memanaskannya secara berlebihan.

”Ketelitian rekayasa sistem, integrasi dan pengujian sistem yang kuat, serta pemanfaatan teknologi yang matang merupakan landasan keberhasilan program HELIOS dan memungkinkan pengiriman kemampuan tempur tepat waktu serta pengurangan risiko yang signifikan untuk sistem di masa mendatang,” ujar Direktur Pengembangan Bisnis Lockheed Martin, Joe Ottaviano.

Impian puluhan tahun

Gagasan penggunaan senjata laser dalam perang bukanlah hal baru dalam dunia militer. Para pemimpin militer AS telah mengimpikan senjata ini sejak puluhan tahun lalu. Senjata yang dapat mengenai target dengan kecepatan cahaya dan tidak pernah kehabisan amunisi.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, senjata laser dapat melakukan pekerjaan rudal pencegat Patriot dengan biaya yang jauh lebih murah. ”Teknologi laser yang kita miliki sekarang luar biasa,” katanya dilansir dari The New York Times.

IN FLIGHT - MARCH 15: U.S. President Donald Trump speaks to members of the media onboard Air Force One on March 15, 2026 while en route to Joint Base Andrews, Maryland from West Palm Beach Florida. President Trump returned to Washington D.C. on Sunday following a weekend trip to Florida.   Nathan Howard/Getty Images/AFP (Photo by Nathan Howard / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Senjata laser dianggap sebagai cara paling efektif untuk melawan serangan drone dan rudal. Biayanya diperkirakan hanya sekitar 3,5 dolar AS atau sekitar Rp 60.000 per tembakan. Meskipun murah, tembakan laser berenergi tinggi dapat membakar drone di udara.

”Laser berenergi tinggi memusatkan pancaran cahaya pada titik lemah drone sehingga membakar komponennya, seperti obor dari jarak jauh,” kata Direktur Eksekutif Directed Energy Professional Society David Stoudt.

Bukan hanya AS yang mengembangkan senjata laser. Israel juga telah bereksperimen dengan senjata ini. Namun, versi terbaru dari senjata bernama Iron Beam itu belum siap digunakan untuk perang sekarang.

Pada Desember 2025, kontraktor pertahanan Australia, Electro Optic Systems, mencapai kesepakatan untuk menyediakan laser 100 kilowatt ke Korea Selatan. Sementara China meluncurkan laser 180 kilowatt miliknya sendiri, LY-1, di atas kapal pada September tahun lalu.

Kelemahan

Akan tetapi, senjata laser juga memiliki kelemahan. Pengoperasiannya rentan terganggu oleh faktor lingkungan, seperti hujan, asap, debu, awan, kabut, dan gangguan atmosfer lainnya yang menyebarkan sinar.

Salah satu pendiri nLight, perusahaan yang memproduksi laser untuk keperluan militer dan industri, Scott Keeney, mengatakan, teknologi laser telah mengalami kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kecanggihan teknologi ini tidak boleh terlalu dibesar-besarkan.

Pasukan keamanan Israel menggunakan laser di pusat kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki Israel, menyusul protes untuk mendukung demonstrasi Palestina di Yerusalem timur yang dicaplok Israel, Minggu (25/4/2021). AFP/Hazem BADER 25-04-2021

”Teknologi ini sedang digunakan dan akan digunakan di banyak aplikasi. Namun, laser bukanlah solusi di setiap lingkungan setiap saat,” ucapnya.

Kelembaban dapat membengkokkan sinar cahaya dengan cara yang tidak terduga. Kabut mampu menghentikan sinar laser mencapai targetnya. Percikan air laut dan pasir juga bisa merusak komponen optik yang sangat sensitif sehingga membuatnya sulit digunakan atau diperbaiki dengan cepat di lapangan.

Di balik kecanggihannya, senjata laser juga berpotensi menimbulkan malapetaka bagi kehidupan sipil. Faktor cuaca sangat rentan membelokkan target tembakan laser sehingga mengalihkan sasaran sehingga sangat berbahaya bagi masyarakat sipil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase