Hari-hari ini, waktu menjadi bagian krusial dalam perang Iran dan AS-Israel. Baik Iran maupun AS sama-sama mengklaim waktu ada di pihak mereka.
27 Apr 2026 07:30 WIB · Internasional
AP/Austin American-Statesman/Mikala Comp
Delapan pekan berlalu sejak serangan pertama Amerika Serikat-Israel dijatuhkan atas Iran, 28 Februari 2026. Gencatan senjata telah tercapai, bahkan diperpanjang sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Namun, harapan damai terus tersamar. Keputusan Presiden AS Donald Trump membatalkan keberangkatan delegasi AS ke Pakistan jadi penyebabnya. Trump mengumumkan itu setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Islamabad pada Sabtu (25/4/2026).
Padahal, pada hari-hari ini, waktu menjadi bagian krusial dalam perang Iran dan AS-Israel. Dunia terus memantau dan menanti, kapan perang di Iran akan berakhir. Krisis global yang timbul akibat perang semakin mendera ketahanan warga planet ini. Perang nun jauh dari rumah mereka sudah berdampak pada hidup sehari-hari.
Baik Iran maupun AS sama-sama mengklaim waktu ada di pihak mereka: Iran melalui blokade Selat Hormuz dan AS lewat blokade pelabuhan Iran. Melalui berbagai aksi dan ancaman, Presiden Trump berusaha mengakhiri perang dengan Iran secepat mungkin. Jam terus berdetak di domestik AS karena pemilihan paruh waktu semakin dekat dan harga bahan bakar merangkak naik.
Namun, Iran tampaknya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan AS. Para pengamat menilai, kepemimpinan Iran percaya bahwa pemerintahan Trump dan publik AS tidak punya keberanian untuk membiarkan perang berkepanjangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/25/4191464e89a8ddc9b8b66e175d211909-Pakistan_Iran_US_1_.jpg)
Menurut Daniel Byman, profesor di School of Foreign Service Georgetown University, Teheran yakin AS akan mundur seiring meningkatnya biaya ekonomi dan politik. ”Bagi Iran, konflik ini bersifat eksistensial, sementara bagi sebagian besar warga AS, lebih baik konflik ini berakhir dan dilupakan, dengan harapan harga bensin akan segera turun,” tulis Byman dalam artikel untuk Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, dikutip NBC News.
Dilansir Al Jazeera, Jumat (24/4/2026), mantan Duta Besar AS untuk Bahrain Adam Ereli berpendapat, Iran mungkin akan bertahan lebih lama dari blokade AS di pelabuhannya. Teheran telah akrab dengan berbagai sanksi. Iran juga punya jalan alternatif untuk menyimpan atau menjual minyaknya. Tekanan Iran di Selat Hormuz bisa berlangsung lebih lama daripada kesabaran Trump dan dukungan publik AS.
Namun, Trump membantah dirinya berada di bawah tekanan waktu untuk mengakhiri perang. ”Harap diperhatikan, saya mungkin orang yang paling tidak tertekan yang pernah berada di posisi ini. Saya punya banyak waktu, tetapi Iran tidak. Waktu terus berjalan!” tulisnya dalam unggahan di Truth Social.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/24/b5f8d5e3be63cba2fd9eb6526545996f-Lebanon_Israel_Talks_137734323.jpg)
Memanfaatkan gencatan senjata yang sudah diperpanjang, Trump bertaruh blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan memaksa Teheran membuat konsesi dan membuka kembali Selat Hormuz. Ia telah memperpanjang tenggat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran setidaknya lima kali.
Namun, Iran menganggap blokade AS atas pelabuhannya sebagai pelanggaran gencatan senjata. Iran pun membalas dengan menyerang kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Dunia pun waswas, akankah gencatan senjata bertahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
Ulasan The Economist, 16 April, menyebutkan, catatan sejarah menunjukkan, gencatan senjata sering kali dilanggar pihak bertikai dengan cerdik tanpa sepenuhnya kembali ke perang habis-habisan. Argumen Valerie Sticher dari Center for Security Studies, gencatan senjata sering kali menjadi ”bentuk tawar-menawar strategis” yang digunakan untuk merumuskan kembali syarat-syarat konflik.
The Economist mengumpulkan statistik dari basis data Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) tentang 12.333 peristiwa kekerasan dalam periode 60 hari pada sembilan gencatan senjata yang dicapai di Timur Tengah dan negara-negara sekitarnya setelah tahun 2020. Meskipun gencatan senjata mengurangi pertempuran, tidak satu pun yang menghasilkan penghentian kekerasan secara total.
AS disebut memperpanjang gencatan senjata saat ini untuk memberikan lebih banyak waktu bagi perundingan. Namun, baik Iran maupun AS sama-sama menyatakan kesiapan mereka untuk kembali berperang. Trump dinilai ”membeli waktu” melalui gencatan senjata ini. Sementara Israel bakal senang jika perang berlanjut. Adapun Iran tampaknya lebih memilih perang daripada kesepakatan yang buruk.
Sebagaimana prinsip tit for tat dalam hubungan internasional, serangan satu pihak akan dibalas serangan oleh pihak lain. Jika Trump memutuskan kembali berperang, demikian pula Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/23/ed6d83e5-7fb8-42f0-b9b3-01778ab6b38a.jpg)
Terlebih Iran punya sederet pengalaman buruk dengan AS yang membuat kepemimpinan negara itu tidak bisa memercayai Washington. Sebagaimana dilansir Foreign Affairs edisi 26 Maret 2026, selama beberapa dekade Iran menghadapi rezim sanksi yang sebagian besar dijatuhkan AS. Sanksi itu memutus akses ke pasar keuangan internasional, membekukan aset, menekan pendapatan minyak, dan mengecualikan Iran dari sistem perdagangan global.
Sebelum perang terbaru pecah, Iran menghabiskan 35 tahun mempelajari cara berperang dan bertahan saat melawan musuh yang jauh lebih kuat. Tujuannya bukan untuk mengalahkan AS atau Israel, melainkan menunjukkan kepada mereka betapa besar biaya untuk menghadapi Iran dari segi militer, ekonomi, dan politik.
Fokus Iran saat ini ”hanyalah” bertahan cukup lama, selama yang diperlukan untuk membuat keinginan AS dan Israel melanjutkan perang menjadi surut.
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji