TAJUK RENCANA

Membenahi Program MBG

Sudah setahun berjalan, program Makan Bergizi Gratis belum sepenuhnya mulus. Perlu sejumlah pembenahan agar tujuan  program ini tercapai.

07 Mar 2026 05:05 WIB · Tajuk Rencana

Kompas/Supriyanto

Oleh REDAKSI

Beragam permasalahan masih muncul dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari tata kelola, masalah pemenuhan gizi penerima manfaat, hingga penerimaan terhadap MBG. Program ini sudah menjangkau sekitar 61 juta penerima manfaat, tetapi penerimaan kemanfaatannya belum menyeluruh.

Banyak siswa mendapatkan manfaat dari MBG, tetapi ada juga yang kurang merasakan manfaatnya. Tak sedikit orangtua siswa maupun guru mengeluhkan menu MBG, terutama yang diberikan pada masa libur sekolah dan masa puasa Ramadhan ini karena berupa bahan pangan mentah hingga makanan ultraproses (ultraprocessed food/UPF).

Hal itu antara lain tecermin dari pemberitaan-pemberitaan di media massa dan juga informasi-informasi yang viral di media sosial selama ini. Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta hasil penelitian Pusat Kajian Sosiologi (Labsosio) Universitas Indonesia (UI) yang dilakukan secara terpisah dan dipublikasikan baru-baru ini (Kompas, 6/3/2026) pun mengonfirmasi hal tersebut.

Riset BRIN pada 2025 terhadap 855 responden di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa program MBG telah melebihi kualitas layanan yang diharapkan penerima manfaat. Namun, jumlah porsi yang diberikan dinilai masih kurang.

Hasil penelitian UI terhadap 1.267 responden di 30 sekolah di 6 kabupaten/kota di 3 provinsi juga menunjukkan kemanfaatan program MBG, tetapi belum menyeluruh. Sebagian siswa merasakan manfaat program MBG. Namun, ada juga siswa yang kurang bahkan tidak mendapatkan manfaat karena tidak menghabiskan bahkan tidak mau makan menu MBG yang disajikan karena berbagai alasan.

Murid menerima makanan program Makan Bergizi Gratis di SD Negeri Kokap, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, DI Yogyakarta, Kamis (8/1/2026).
Siswa menikmati menu Makan Bergizi Gratis di SMKN 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026). Kepala Badan Gizi Nasional  Dadan Hindayana mengatakan, jumlah penerima manfaat MBG telah mencapai 55,1 juta orang di seluruh Indonesia. Pencapaian tersebut diraih setelah program ini berjalan satu tahun. Sebanyak 4.535 dapur atau SPPG dari sekitar 19.000 dapur telah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi. BGN pun menargetkan pada tahun ini 82,9 juta penerima manfaat program MBG dapat tercapai.

Hasil kedua penelitian tersebut merupakan fakta yang ada dalam pelaksanaan program MBG selama ini. Temuan ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan program yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui perbaikan gizi ini. Para peneliti juga telah memberikan rekomendasi apa saja yang perlu dibenahi agar program ini lebih berkualitas dan tepat sasaran.

Tentu keberhasilan program ini tak cukup sekadar mencapai target jumlah penerima manfaat, tetapi juga kualitas layanan sehingga tujuan program ini tercapai. Adanya siswa yang tidak menghabiskan, bahkan tidak mau makan, menu MBG yang disajikan menjadi tantangan untuk menyajikan  menu  sesuai selera siswa, tetapi tetap memenuhi kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang mereka.

Variasi menu dan kualitas rasa, dengan tetap memperhitungkan kualitas kandungan gizi dalam menu MBG, akan menentukan tingkat penerimaan program ini pada penerima manfaat. Ini juga menjadi tantangan tersendiri dalam pembagian MBG di masa libur sekolah dan pada masa puasa Ramadhan kali ini. Meski lebih praktis, pembagian makanan mentah belum tentu tepat, apalagi makanan ultraproses.  

Petugas membagikan kelapa muda utuh sebagai salah satu menu MBG kepada siswa SDN 001 Muara Badak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Kamis (5/2/2026).
Siswa memperlihatkan paket makanan bergizi gratis pada bulan Ramadhan di SDN 15 Slipi, Jakarta, Kamis (26/2/2026). Pembagian MBG secara serempak pada bulan Ramadhan mulai dilakukan sejak 23 Februari 2026. Di SDN 15 Slipi, menu MBG dibagikan dua kali dalam seminggu, yakni menu untuk hari Senin, Selasa, dan Rabu diberikan pada hari Senin, sedangkan untuk menu hari Kamis dan Jumat, menu MBG diberikan kepada siswa pada hari Kamis. MBG yang diberikan pada bulan Ramadhan ini berbentuk paket makanan kemasan siap makan.

Pelibatan sekolah dan orangtua untuk memberikan edukasi soal makanan sehat dan bergizi sesuai tumbuh kembang anak sangat penting untuk kesuksesan program ini. Bagaimanapun kebiasaan makan anak dimulai dari keluarga, sementara sekolah yang menjadi rumah kedua bagi anak merupakan arena pelaksanaan program MBG.

Sistem pengawasan juga perlu dibenahi. Kasus keracunan menu MBG dan  temuan menu MBG tidak layak konsumsi yang berulang menunjukkan masih ada masalah dalam sistem pengawasan. Dengan jangkauan penerima manfaat yang meluas, ditargetkan hingga 82,9 juta pada pertengahan tahun ini, pembenahan program MBG sangat urgen agar tepat sasaran dan tidak hanya menjadi pemborosan anggaran.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto