Pemilih Indonesia kini bergerak lintas dimensi. Namun, semua itu tidak bekerja dalam ruang nalar yang steril.
18 Jul 2025 11:00 WIB · Artikel Opini
Pemilu Presiden 2024 bukan sekadar kontestasi elektoral lima tahunan. Ia menjelma menjadi ruang refleksi kolektif, tempat rakyat Indonesia menyuarakan harapan, kecemasan, dan imajinasi politik mereka.
Namun di balik hasil yang tercatat dalam angka, terdapat arus perubahan yang lebih halus, tetapi signifikan: cara rakyat memilih telah berubah.
Penelitian saya dalam disertasi doktoral mencoba menangkap denyut perubahan ini. Saya menyebutnya sebagai eklektisisme perilaku memilih: pendekatan multidimensi yang membaca perilaku pemilih tidak hanya dari sudut rasionalitas ekonomi atau loyalitas identitas, tetapi juga dari getaran emosi, persepsi simbolik, dan suasana batin kolektif.
Temuan utama dari studi ini menunjukkan bahwa pemilih Indonesia kini bergerak lintas dimensi. Mereka mempertimbangkan kondisi ekonomi, identitas sosial, karakter personal kandidat, kampanye digital, serta insentif material. Namun, semua itu tidak bekerja dalam ruang nalar yang steril.
Faktor emosional terbukti sangat menentukan. Kandidat yang mampu menghadirkan kesan ”dekat dan dimengerti” memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan resonansi publik. Di sinilah saya mengembangkan konsep utilitas maksimal—bukan lagi semata soal siapa yang menjanjikan lebih, tetapi siapa yang terasa lebih sesuai di hati rakyat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/29/f6ada5be-5ee0-489b-8a4f-647222cf5fff_jpg.jpg)
Contoh mencolok adalah hadirnya simbol Gemoy, yang dilekatkan publik pada salah satu kandidat. Dalam kerangka teori politik klasik, istilah ini mungkin tak berarti apa-apa.
Namun di tengah budaya digital dan era post-truth, simbol semacam ini menjadi kanal emosional yang kuat. Ia menembus batas logika dan menciptakan keterhubungan afektif.
Dari akumulasi emosi inilah terbentuk apa yang saya sebut sebagai public mood—suasana kebatinan kolektif yang menyatukan persepsi, harapan, dan afeksi terhadap sosok tertentu.
Ketika cukup banyak orang merasakan hal yang sama terhadap seorang kandidat, maka terbentuklah semacam gelombang emosi bersama yang mendorong suara.
Public mood bukanlah opini publik biasa. Ia bukan hasil dari debat kebijakan atau paparan teknokratis semata. Ia muncul dari narasi yang menyentuh, gestur yang membumi, dan simbol yang membekas. Dalam Pilpres 2024, public mood terbukti menjadi kekuatan politik yang melampaui persuasi logika.
Pemilih kini tidak lagi hanya memilih siapa yang paling cerdas menyusun program, tetapi siapa yang paling bisa membuat mereka merasa dimengerti.
Perubahan ini membawa tantangan baru. Strategi kampanye ke depan harus mampu menggabungkan rasionalitas dengan rasa. Pendidikan politik perlu mengakui bahasa emosi rakyat.
Partai politik dan media tak bisa lagi berbicara dari menara gading logika semata—mereka harus hadir di ruang-ruang rasa agar demokrasi tak kehilangan jiwanya.
Ilmu politik Indonesia juga ditantang untuk meluaskan cakrawala analisisnya. Studi perilaku pemilih kini harus mengintegrasikan dimensi afektif, visual, dan simbolik ke dalam kerangka akademik yang sahih. Demokrasi kita membutuhkan akal sehat, tetapi juga perlu ruang untuk suara hati.
Sebagai kontribusi akademik, disertasi ini menawarkan kerangka baru yang menggabungkan pendekatan sosiologis (Columbia School), psikologis (Michigan Model), dan rasionalitas politik (Rational Choice), diperluas dengan konsep bounded rationality serta teori afeksi politik.
Metodologinya menggunakan Model Pilihan Diskrit (Multinomial Logit Model), untuk mengukur probabilitas pemilih dalam memilih salah satu dari tiga pasangan calon, berdasarkan kombinasi variabel demografis, persepsi ekonomi, kampanye digital, hingga logistik politik.
Saya mengusulkan dua konsep utama.
Pertama, utilitas maksimal—yang mencakup keuntungan rasional sekaligus kenyamanan emosional.
Kedua, public mood—yaitu suasana kebatinan kolektif yang muncul dari persepsi bersama terhadap figur politik, termasuk melalui simbol-simbol populer seperti Gemoy.
Keduanya menjadi kunci untuk memahami pola baru perilaku memilih di Indonesia masa kini.
Saya menyusun disertasi ini bukan semata untuk memenuhi tugas akademik. Karya tulis ini adalah hasil refleksi seorang perwira yang pernah menyaksikan konflik, merasakan damai, lalu turun ke jalan-jalan sipil untuk memahami suara rakyat—bukan dari podium, tapi dari tatapan, dialog, dan harapan mereka.
Dalam politik, kekuatan terbesar bukan pada logistik atau manuver elite. Yang paling menentukan adalah bagaimana rakyat merasa dihargai, dirangkul, dan dimengerti.
Itulah makna terdalam dari apa yang kami di dunia militer sebut sebagai: winning the hearts and minds of the people.
Dan mungkin, di situlah letak tantangan demokrasi kita hari ini—bukan karena kehilangan akal, melainkan karena sedang belajar menyeimbangkan nalar dan rasa.
Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, Alumnus Program Doktoral Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung; Menteri Transmigrasi RI
Penulis:
Muhammad Iftitah Sulaiman SuryanagaraEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul