Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2025 digelar di tempat yang sama dengan Olimpiade Paris 2024. Atlet Indonesia membawa motivasi baru untuk hasil lebih baik.
24 Agt 2025 12:23 WIB · Olahraga
Bagi delapan atlet bulu tangkis Indonesia, Adidas Arena, Paris, Perancis, menjadi tempat yang telah melahirkan memori dalam benak. Mereka membawa kenangan Olimpiade Paris 2024 untuk bersaing dalam Kejuaraan Dunia.
Gregoria Mariska Tunjung, Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Siti Fadia Silva Ramadhanti, dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari memasuki Adidas Arena pada Sabtu (23/8/2025) pagi waktu setempat atau Sabtu sore waktu Indonesia. Pagi itu, mereka menjalani latihan pertama setelah tiba di Paris pada Jumat (22/8/2025) malam.
Sekitar setahun lalu, Gregoria dan kawan-kawan menjadi bagian dari kontingen Indonesia yang tampil dalam Olimpiade Paris 2024. Perebutan medali cabang bulu tangkis berlangsung pada 27 Juli-5 Agustus 2024 di Adidas Arena, tempat yang juga digunakan untuk menyelenggarakan Kejuaraan Dunia 2025 pada 25-31 Agustus.
Dari sembilan atlet dalam lima nomor yang tampil di Olimpiade, lebih banyak yang akhirnya pulang dengan kenangan mengecewakan. Hanya Gregoria yang bisa mendapatkan medali untuk ”Merah Putih”, yaitu perunggu dari tunggal putri.
Gregoria memenangi perebutan medali perunggu tanpa bertanding karena Carolina Marin, yang seharusnya menjadi lawannya, cedera. Marin cedera saat melawan He Bing Jiao di semifinal. Sementara, Gregoria kalah dari An Se-young (Korea Selatan) yang akhirnya mendapat emas setelah mengalahkan He di final.
Dalam perjalanan untuk berdiri di podium, Gregoria memperlihatkan performa dan daya juang tinggi untuk mengalahkan pemain terbaik dari negara masing-masing. Dia mengalahkan Kim Ga-eun (Korsel) pada babak 16 besar lalu Ratchanok Intanon di perempat final.
Di semifinal, Gregoria kalah dari An, tetapi dia memberi perlawanan ketat dalam tiga gim. Gregoria kalah 21-11, 13-21, 16-21.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/14/237b8e98-a720-4c2c-b8a6-be65e7abe9ca_jpg.jpg)
Setahun lebih tiga pekan dari momen terbaik dalam kariernya itu, Gregoria kembali ke Adidas Arena. ”Senang bisa kembali ke sini, kali ini Kejuaraan Dunia. Semoga kenangan baik di Olimpiade bisa menjadi motivasi saya untuk Kejuaraan Dunia,” kata Gregoria dalam video yang diunggah PBSI dalam akun Instagram badminton.ina.
Ketika menjadi satu-satunya tunggal putri Indonesia di Olimpiade, kali ini Gregoria ditemani Putri Kusuma Wardani. Gregoria dijadwalkan menjalani babak pertama melawan Petra Maixnerova (Ceko), Senin (25/8/2025), sementara laga Putri melawan Lo Sin Yan Happy (Hong Kong) berlangsung keesokan harinya.
Jika memenangi tiga babak awal, Gregoria berpeluang mengulang pertemuannya dengan An di Adidas Arena, kali ini di perempat final. Namun, pemain berperingkat ketujuh dunia itu tak ingin terburu-buru berpikir pertandingan lain, selain babak pertama.
Saat dijumpai pada masa latihan di pelatnas bulu tangkis Cipayung, Jakarta Timur, Gregoria menyatakan bahwa dia punya target pribadi, tetapi yang lebih penting baginya adalah bisa bermain dengan nyaman tanpa adanya dampak dari vertigo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/14/01bb0e8030abf0a6678c9eb9f651d44b-20250814TOK33.jpg)
Kondisi yang membuat seseorang pusing dan kehilangan keseimbangan tersebut mengganggunya hingga absen dari kejuaraan selama tiga bulan, termasuk dalam kejuaraan Piala Sudirman, Mei. Gregoria kembali bertanding di Jepang dan China Terbuka, Juli, dengan hasil kalah pada babak pertama dan perempat final.
”Saya berharap bisa bermain lebih baik dibandingkan di Jepang dan China. Semoga bisa bertanding kembali dengan motivasi dan semangat sebelum sakit karena saat sakit, pikiranku seperti ’balapan’, antara ingin cepat sembuh dan ingin cepat bertanding,” tuturnya.
Pelatih tunggal putri, Imam Tohari, mengatakan, kondisi fisik Gregoria sebenarnya fit jika vertigonya tidak kambuh. Lambatnya pergerakan Gregoria saat bermain di Jepang dan China adalah akibat dari absennya atlet berusia 26 tahun tersebut dari turnamen selama tiga bulan.
Perjuangan Gregoria untuk mendapat medali di Paris 2024 didampingi rekan satu tim, yaitu atlet-atlet putra yang tersingkir lebih dulu. Anthony, Jonatan, Fajar, dan Rian memberi dukungan semangat seperti layaknya kakak laki-laki kepada adik perempuan. Namun, berbeda dengan sang adik, Anthony dan kawan-kawan tak ingin tenggelam dalam memori Paris 2024.
Di Adidas Arena setahun lalu, Anthony tersingkir pada fase penyisihan grup karena satu kekalahan dari dua pertandingan. Kekalahan itu dialami dari atlet tuan rumah, Toma Junior Popov, 19-21, 21-17, 15-21. Hasil tersebut membuat Anthony menempati peringkat kedua grup dan gagal memenuhi syarat menjadi juara grup untuk tampil pada babak 16 besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/24/b0e0054f1394119431cb5c92aa11035b-Ginting_Latihan1_WC2025_PBSI_20250823.jpg)
Tak diduga, Popov akan menjadi lawan Anthony pada babak pertama Kejuaraan Dunia yang akan berlangsung pada hari kedua turnamen. ”Pasti terpikir hasil Olimpiade, tetapi saya tidak mau fokus ke sana. Lebih baik saya fokus pada apa yang bisa saya buat dan saya persiapkan untuk pertandingan karena Popov bukan lawan mudah. Namun, ini turnamen baru dan hari yang baru, pasti ada kesempatan baru untuk bisa saya capai,” tutur Anthony.
Kejuaraan Dunia di Paris adalah turnamen keempat Anthony pada 2025. Cedera bahu kanan membuatnya hanya bisa tampil di Malaysia Terbuka pada awal tahun. Setelah itu, Anthony baru bertanding di Jepang dan China Terbuka, Juli.
Peraih perunggu tunggal putra Olimpiade Tokyo 2020 itu menjadi salah satu dari dua wakil tunggal putra Indonesia yang tampil di Olimpiade selain Jonatan, tetapi keduanya tersingkir pada fase grup. Penentu tersingkirnya Jonatan adalah kekalahan dari Lakhsya Sen (India) yang lolos ke fase sistem gugur.
Pemain yang juga tersingkir di penyisihan grup adalah Rinov/Pitha dan Apriyani Rahayu/Fadia. Kecuali Apriyani, mereka kembali ke tempat yang sama dengan motivasi baru. Di Kejuaraan Dunia, Fadia bermain bersama Lanny Tria Mayasari.
”Kembali ke sini, perasaan saya campur aduk. Senang balik lagi setelah hasil kurang baik setahun lalu. Semoga di Kejuaraan Dunia hasilnya lebih baik,” kata Fadia.
Di Olimpiade, Apriyani/Fadia selalu kalah dalam tiga pertandingan di grup berat. Mereka bertanding melawan Pearly Tan/Thinaah Muralitharan (Malaysia), Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Jepang), dan Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (China) yang akhirnya mendapat emas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/24/bf8c9b4a21f56807f4338335a97facfa-LannyFadia_Latihan1_WC2025_PBSI_20250823.jpg)
Rinov/Pitha juga bersaing dengan pasangan China yang akhirnya juara, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, pada penyisihan grup. Selain itu, mereka kalah dari Kim Won-ho/Jeong Na-eun (Korsel) dan Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis).
”Bersyukur dan senang bisa kembali ke sini. Pasti terbayang momen-momen Olimpiade, bagaimana saat itu menjalaninya. Saya mau mengambil sisi-sisi positifnya untuk lebih termotivasi,” ujar Pitha.
Harapan untuk mendapat hasil lebih baik juga disampaikan Fajar. Bersama Rian yang menjalani Olimpiade pertama saat tampil di Paris 2024, Fajar tersingkir di perempat final karena kalah dari Liang Wei Keng/Wang Chang (China). Motivasi mereka berlipat karena Paris 2025 bisa saja menjadi Kejuaraan Dunia terakhir Fajar/Rian sebagai pasangan.
Tekad telah diucapkan, persiapan sekitar sebulan sudah dilakukan. Kini waktunya membuktikan diri untuk mendapat hasil lebih baik di tempat yang sama dengan semangat baru.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan