Mencari Celah di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis

Persaingan bulu tangkis (secara umum) merata di semua nomor pada 2025. Indonesia pun mencari celah untuk mewujudkan target meraih satu gelar juara dunia.

22 Agt 2025 11:55 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Seusai Olimpiade Paris 2024, hampir setiap negara membangun kembali kekuatan bulu tangkis masing-masing. Kejuaraan Dunia 2025 di Adidas Arena, Paris, Perancis, tempat para atlet berebut medali Olimpiade setahun lalu, menjadi kejuaraan individu mayor pertama untuk mengukur perkembangan kekuatan pada setahun pertama setelah Paris 2024.

Di tengah munculnya atlet muda yang akan menjadi andalan masa depan, banyak negara yang masih mengandalkan kekuatan lama. Maka, secara umum, persaingan bulu tangkis level atas menjelang Kejuaraan Dunia, 25-31 Agustus, bisa dikatakan merata.

Persaingan tunggal putra tak akan diikuti peraih emas Paris 2024 yang juga juara dunia 2017 dan 2022, Viktor Axelsen. Atlet Denmark ini masih menjalani pemulihan cedera tulang belakang setelah operasi.

Kejuaraan Dunia 2023 di Kopenhagen, Denmark, sebenarnya telah melahirkan atlet muda menjadi juara, yaitu Kunlavut Vitidsarn (Thailand) saat berusia 22 tahun. Setahun berikutnya, tiga kali juara dunia yunior itu menambah daftar prestasi dengan meraih perak di Paris 2024.

Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-PUTRI *** Local Caption *** Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-PUTRI
Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-PUTRA *** Local Caption *** Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-PUTRA

Namun, performanya pada 2025 tak begitu stabil. Dia menjuarai tiga ajang secara beruntun pada pertengahan tahun, yaitu Kejuaraan Asia, Thailand Terbuka, dan Singapura Terbuka, tetapi tersingkir pada babak pertama Jepang Terbuka dan China Terbuka, dua turnamen terakhir sebelum Kejuaraan Dunia.

Ketika performa Vitidsarn naik-turun dan tak ada atlet yang mendominasi persaingan, Shi Yu Qi berpeluang menjadi juara dunia tunggal putra asal China setelah Chen Long pada 2015. Atlet berusia 29 tahun ini tampil lebih baik dibandingkan para pesaing yang lebih muda dengan meraih empat gelar, tiga di antaranya dari level Super 1000, yaitu Malaysia Terbuka, All England, dan China Terbuka.

Meskipun telah 10 tahun bersaing di turnamen BWF, dua kali mengantarkan China menjuarai Piala Thomas dan empat kali Piala Sudirman, Shi belum memiliki gelar besar dari ajang individu. Hasil terbaiknya adalah saat menjadi finalis Kejuaraan Dunia 2018 di negaranya sendiri.

Persaingan tunggal putri didominasi atlet Korea Selatan, An Se-young. Juara dunia 2023 dan peraih emas Paris 2024 itu bisa meneruskan perolehan gelar dari ajang mayor jika juara lagi di Adidas Arena.

Tunggal putri nomor satu dunia itu mempunyai lima gelar dari tujuh turnamen Super 1000 dan 750 yang telah berlangsung pada tahun ini. Tiga gelar didapat dari level Super 1000, yaitu Malaysia Terbuka, All England, dan Indonesia Terbuka.

Pebulu tangkis Korea Selatan, An Se-young, merayakan kemenangannya atas pemain China, Wang Zhiyi, pada final tunggal putri Jepang Terbuka 2025 di Tokyo, Minggu (20/7/2025).

Statistik kemenangannya pada 2025 menjadi yang terbaik, bahkan jika dibandingkan dengan atlet dari sektor lain, yaitu 40 kali menang dengan hanya dua kali kalah (95,2 persen kemenangan). Dua kekalahan itu terjadi pada perempat final Singapura Terbuka dari Chen Yu Fei (China) dan saat mengundurkan diri karena cedera pada gim kedua semifinal China Terbuka, melawan atlet China lainnya, Wang Zhi Yi.

Chen pulalah yang bisa menjadi salah satu pengganjal jalan An meski hanya berstatus unggulan keempat. Persentase kemenangan Chen, 89,3 persen, berada di atas dua yuniornya yang menjadi unggulan kedua dan ketiga, Wang dan Han Yue.

Persaingan pada nomor ganda lebih terbuka dibandingkan tunggal. Ganda campuran pada empat turnamen Super 1000 dijuarai pasangan berbeda, yaitu Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran yang menjuarai Malaysia Terbuka, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui (All England), Thom Gicquel/Delphine Delrue (Indonesia Terbuka), dan Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (China Terbuka).

Pasangan muda Liu Sheng Shu/Tan Ning bisa menambah dominasi China di sektor ganda putri dalam debut di Kejuaraan Dunia. Atlet berusia 21 tahun dan 22 tahun itu menggebrak persaingan ganda putri dunia melalui permainan speed and power yang menghasilkan 15 gelar juara BWF World Tour sejak 2023.

Di Paris 2024, mereka hanya kalah dari senior senegara, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, di final. Selain sesama pemain China, lima kekalahan Liu/Tan pada 2025 hanya dialami dari pemain Jepang, salah satunya Nami Matsuyama/Chiharu Shida di semifinal All England.

Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-Ganda Putri *** Local Caption *** Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-Ganda Putri
Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-Ganda Putra *** Local Caption *** Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-Ganda Putra
Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-Ganda Campuran *** Local Caption *** Infografik-Prestasi Unggulan Empat Besar dan Atlet Indonesia-Ganda Campuran

Di antara semua nomor, ganda putra menjadi sektor dengan persaingan paling merata, tak hanya pada turnamen BWF 2025, tetapi juga pada hampir setiap Kejuaraan Dunia. Sejak 2017, sektor ini melahirkan juara dunia berbeda pada setiap penyelenggaraan.

Di Paris, Seo Seung-jae/Kim Won-ho (Korea Selatan) menjadi favorit juara berkat empat gelar juara, tiga di antaranya dari Super 1000. Kecepatan Seo dalam membaca permainan lawan ditambah dengan kemampuan dan kecerdikannya mengontrol permainan menjadikan atlet berusia 27 tahun itu menjadi salah satu pemain ganda terbaik dunia.

Seo/Kim unggul head to head atas tujuh dari sembilan pasangan peringkat 10 besar dunia lainnya. Meski demikian, catatan tersebut bukan berarti mereka tak punya pesaing. Pasangan ranking kedua dunia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, memperlihatkan bahwa mereka belum habis meski tersingkir pada dua turnamen beruntun di Eropa, Orleans Masters dan All England, Maret.

Sejak didampingi mantan pelatih Indonesia, Herry Iman Pierngadi, Chia/Soh bangkit dengan tiga kali juara dari empat final beruntun. Mereka pun mencapai final China Terbuka, turnamen terakhir sebelum Kejuaraan Dunia, sebelum kalah dari pasangan dadakan Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

Chia/Soh juga memiliki catatan apik pada ajang besar, di antaranya meraih perunggu dalam dua Olimpiade secara beruntun, Tokyo 2020 dan Paris 2024. Mereka juga menjadi juara dunia pertama asal Malaysia ketika tampil di Tokyo, Jepang, pada 2022.

Posisi Indonesia

Berdasarkan statistik BWF World Tour 2025, sulit rasanya melihat atlet Indonesia berdiri di podium tertinggi pada hari terakhir persaingan di Adidas Arena. Dari 18 turnamen Super 300 hingga 1000 yang telah berlangsung, Indonesia hanya meraih empat gelar juara, jauh di bawah China dengan 24 gelar, Korea Selatan (16), dan Thailand (12).

Fajar/Fikri akhirnya menjadi penyelamat Indonesia dengan menjuarai turnamen Super 1000 di China Terbuka. Sebelum turnamen ini digelar pada 22-27 Juli, Indonesia hanya mempunya dua gelar dari level Super 300. Alwi Farhan menambahnya saat meraih gelar pertama BWF World Tour dari Makau Terbuka Super 300.

Kalaulah ada celah bagi Indonesia untuk membawa gelar juara dunia, peluang itu ada pada ganda putra, tetapi bukan dari Fajar/Fikri yang mengejutkan pasangan top dunia di China Terbuka. Mereka mengalahkan Seo/Kim, Liang Wei Keng/Wang Chang, dan Chia/Soh untuk berdiri di podium tertinggi.

Ganda putra Indonesia diwakili tiga pasangan yang lolos karena memenuhi syarat ranking, per 29 April, yang digunakan BWF sebagai patokan untuk mengundang peserta. Mereka adalah Fajar/Muhammad Rian Ardianto, Sabar Karyama Gutama/Mohamamd Reza Pahlevi Isfahani, dan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana.

Dari lima sektor, hanya pelatih ganda putra pelatnas Antonius Budi Ariantho yang menyebut target juara. Ini sejalan dengan target satu gelar dari PP PBSI seperti dikatakan Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Eng Hian.

Target itu bisa terwujud jika pemain Indonesia bisa memanfaatkan persaingan sangat terbuka di ganda putra. Kemampuan pasangan ranking 20 besar dunia berbeda tipis jika tak bisa dikatakan sama. Mereka bisa saling mengalahkan dalam laga ketat.

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto melepaskan smes keras saat bertanding di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (7/6/2025). Ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto gagal ke final setelah dikalahkan ganda Korea unggulan kelima Kim Won Ho/Seo Seung Jae dari 18-21, 21-19, 21-23 dalam turnamen Kapal Api Indonesia Terbuka 2025.

Fajar/Rian, Sabar/Reza, dan Leo/Bagas pun bisa ikut ambil bagian mengambil kesempatan tersebut. Statistik pertemuan mereka dengan tiga unggulan teratas, Seo/Kim, Chia/Soh, dan Goh Sze Fei/Nur Izuddin, berbeda tipis. Hanya satu yang mencolok, yaitu kekalahan beruntun Fajar/Rian dari Goh/Izuddin pada tiga pertemuan terakhir walaupun secara umum unggul 8-4.

Meski demikian, rekam jejak tiga ganda putra Indonesia selama 2025 tetap bisa membuat khawatir. Fajar/Rian menjadi bagian dari empat unggulan teratas di Paris, tetapi mereka akan tampil tanpa bekal gelar juara dari delapan turnamen. Ini berbeda dengan Seo/Kim yang menjuarai lima turnamen, Chia/Soh dengan tiga gelar juara, dan Goh/Izuddin yang menjuarai India Terbuka.

Dengan usia 30 tahun dan 29 tahun, Fajar/Rian pun perlahan tertinggal dalam faktor kecepatan dan kekuatan dari pesaing yang umumnya lebih muda. Sementara mereka belum punya formula yang tepat seperti ketika Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mengubah cara main karena kalah tenaga dan kecepatan dari lawan. Memasuki usia 30 tahun, Hendra/Ahsan mengandalkan kecerdikan dan akurasi dalam penempatan pukulan tanpa harus mengumbar tenaga.

Dalam perjalanan yang tak terlalu mulus pada tahun ke-11 duet mereka, Fajar/Rian tetap bertekad meraih hasil lebih baik dari pencapaian tertinggi sebelumnya di Kejuaraan Dunia, yaitu semifinal pada 2019 dan 2022. Apalagi, mereka bisa dikatakan berada di ujung karier sebagai pasangan.

Jumlah Gelar Juara Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis
Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis

Selain Fajar/Rian, target juara ganda putra seperti disebutkan Antonius bisa diharapkan dari Leo/Bagas. Final yang mereka capai di All England memunculkan ekspektasi tinggi dari pelatih dan PBSI. Ini pun disadari Leo/Bagas.

Akan tetapi, sejak Leo pulih dari cedera lutut yang membuatnya absen di Piala Sudirman, Mei, performa Leo/Bagas belum kembali seperti ketika mereka tampil cepat dan solid di All England.

Quote

Kami tidak boleh kendur sejak awal. Tidak boleh lengah pada setiap pertandingan.

Saat bermain di Singapura, Indonesia, Jepang, dan China Terbuka, Leo belum bisa menjalankan peran sebagai pengatur serangan dengan baik. Dia dibantu Bagas untuk bermain di bagian depan lapangan. Leo pun berharap bisa menjalankan perannya dengan lebih baik saat menjalani debut di Kejuaraan Dunia bersama Bagas.

Leo dan Bagas memiliki pengalaman bermain di Kejuaraan Dunia bersama pasangan sebelumnya. Leo tampil bersama Daniel Marthin dengan hasil babak ketiga pada 2023. Adapun Bagas/Fikri kalah pada babak kedua 2022 dan mencapai perempat final 2023. Maka, Leo/Bagas seharusnya tak asing dengan atmosfer Kejuaraan Dunia.

Namun, dengan performa yang tak memuaskan dalam empat turnamen terakhir (tiga kali kalah pada babak pertama), Leo/Bagas harus tancap gas sejak pertandingan pertama. Sebagai bagian dari 16 unggulan, mereka akan mulai bertanding sejak babak kedua, melawan Eloi Adam/Leo Rossi (Perancis) atau Rory Easton/Alex Green (Inggris).

”Kami tidak boleh kendur sejak awal. Tidak boleh lengah pada setiap pertandingan. Apalagi, pada babak ketiga bisa bertemu Seo/Kim. Kami ingin membuktikan bahwa Leo/Bagas bisa mengalahkan mereka,” tutur Leo.

Pemain ganda putra Indonesia, M. Reza Pahlevi Isfahani, yang berpasangan dengan Sabar Karyaman Gutama, berusaha mengembalikan kok ke arah pasangan Korea Selatan, Seo Seung-jae/Kim Won-ho pada babak final Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Pasangan Sabar/Reza takluk dalam tiga gim, 21-18, 19-21, dan 12-21.

Perjalanan Sabar/Reza juga tak begitu mulus pada tahun ini. Mereka bisa menembus semifinal All England dan final Indonesia Terbuka yang berlevel Super 1000, tetapi kalah pada dua babak awal pada turnamen lain.

Setelah mencapai final Indonesia Terbuka, misalnya, ganda putra ranking kedelapan dunia itu tersingkir pada babak pertama Jepang Terbuka dan babak kedua China Terbuka. Setelah itu, mereka memiliki kesempatan menjuarai Makau Terbuka Super 300, tetapi kalah di final.

Performa dalam tiga turnamen beruntun itulah yang dijadikan bahan evaluasi dan perbaikan bersama pelatih mereka, Hendra, dalam latihan di Gideon Badminton Academy, Jakarta, dan Daddies Arena, Tangerang Selatan.

”Kami menjalani latihan ekstra di semua faktor. Kami juga mendapat masukan dari Koh Hendra bahwa yang menjadi juara dunia biasanya pemain yang bisa tampil tanpa beban dan lebih berani saat di lapangan,” kata Sabar.

Sikap mental yang membawa Hendra/Ahsan menjadi juara dunia pada 2013, 2015, dan 2019 itu akan coba diterapkan Sabar/Reza. Setelah bye pada babak pertama, mereka bisa mendapat lawan berat di babak kedua jika bertemu Rasmus Kjaer/Frederik Soegaard. Pasangan Denmark itu dua kali mengalahkan Chia/Soh dari empat pertemuan pada tahun ini.

Skuat Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2025

”Nothing to lose”

Berjuang semaksimal mungkin dengan diiringi pola pikir nothing to lose bisa menjadi bekal utama pemain sektor lain ketika kesulitan mengimbangi prestasi atlet top dunia. Di tunggal putra, Jonatan Christie belum bisa mewujudkan tekad untuk berprestasi sejak berlatih di luar pelatnas, Juni. Setelah mencapai semifinal India Terbuka dan final Indonesia Masters, pada Januari, Jonatan hanya sekali melewati babak kedua dari enam kejuaraan, yaitu saat mencapai perempat final Kejuaraan Asia.

Anthony Sinisuka Ginting memiliki motivasi besar untuk comeback setelah absen enam bulan karena cedera bahu kanan. Namun, masih banyak penyesuaian yang harus dicapainya setelah kalah pada babak pertama Jepang dan China Terbuka. 

Pebulu tangkis tunggal putra Indonsia Alwi Farhan

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
14-08-2025

Wakil lainnya, Alwi Farhan, masih terlalu cepat untuk diberi tanggung jawab mendapat medali karena akan menjalani Kejuaraan Dunia pertama. Alwi mengingat kembali saat debut dalam Kejuaraan Dunia Yunior 2022 di Spanyol. Dia menjadi unggulan kedua dan mendapat bye di babak pertama, tetapi tersingkir pada babak kedua. Berdasarkan pengalaman tersebut, Alwi akan berusaha mengontrol antusiasmenya agar bisa fokus pada pertandingan.

Berdasarkan kondisi tersebut, pelatih tunggal putra pelatnas Indra Widjaja tak menetapkan target tinggi pada Anthony dan Alwi. Indra ingin Anthony tampil lebih baik dibandingkan saat bermain di Jepang dan China Terbuka sebagai bekal untuk menjalani BWF Tour berikutnya. Adapun Alwi diharapkan semakin bisa mengontrol emosi seperti yang dia terapkan di Makau Terbuka hingga menjadi juara.

”Alwi sangat energik, tetapi dia harus bisa mengontrol faktor tersebut agar tak mengganggu performa di lapangan. Kami selalu berdiskusi tentang itu dan dia bisa menerima dengan baik,” ucap Indra.

Selain Alwi dan Sabar/Reza, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu juga akan menjalani debut di Kejuaraan Dunia. Pelatih ganda campuran Rionny Mainaky menargetkan final, meski sebenarnya target tersebut terlalu tinggi untuk Jafar/Felisha yang baru menjalani tahun pertama persaingan BWF World Tour.

Pasangan ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, berlatih di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (14/8/2025). Jafar/Felisha merupakan satu dari 12 wakil Indonesia yang akan berlaga pada Kejuaran Dunia 2025 di Paris, 25-31 Agustus.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
14-08-2025

Jafar/Felisha menjuarai Taiwan Terbuka Super 300, mencapai perempat final Singapura Terbuka Super 750, dan semifinal China Terbuka Super 1000 sebagai pencapaian tertinggi pada setiap level. Mereka bisa menyaingi pasangan top dunia, tetapi konsistensi dalam turnamen Super 750 dan 1000 belum benar-benar teruji karena masih minim pengalaman.

Seusai China Terbuka, Jafar/Felisha mengatakan bahwa mereka harus meningkatkan konsistensi kualitas permainan untuk menyamai performa ganda campuran peringkat empat besar, terutama pasangan China dan Thailand.

Pada nomor tunggal putri, Gregoria Mariska Tunjung masih dalam perjalanan mewujudkan keinginan kembali ke performa terbaik di tengah gangguan vertigo yang membuatnya absen bertanding tiga bulan. Putri Kusuma Wardani harus meruntuhkan tembok yang berkali-kali menjadi penghalang saat melawan empat pemain peringkat teratas. Dia bisa memberikan perlawanan ketat kepada An Se-young, Wang Zhi Yi, Han Yue, dan Chen Yu Fei, tetapi masih kalah pada gim ketiga.

Tunggal putri Indonsia Putri Kusuma Wardani, berlatih di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (14/8/2025). Putri KW merupakan satu dari 12 wakil Indonesia yang akan berlaga pada Kejuaran Dunia 2025 di Paris, 25-31 Agustus.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
14-08-2025

”Saya kurang konsisten dalam memilih pukulan pada poin-poin akhir saat melawan pemain top, padahal saya bisa mengimbangi mereka hingga 15 poin. Fokus saya masih turun-naik dibandingkan mereka yang bisa konsisten sejak poin pertama hingga terakhir,” ujar Putri yang bermain di Kejuaraan Dunia untuk ketiga kali.

Adapun di ganda putri, sulit untuk melihat kembali wakil Indonesia berdiri di podium seperti ketika Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti mencapai final Kejuaraan Dunia 2023. Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi tak berkembang sejak berpasangan pada 2021. Adapun Fadia/Lanny Tria Mayasari masih kesulitan mengalahkan pasangan papan atas dari China, Jepang, dan Korea Selatan meski bisa memberi perlawanan alot selama tiga gim.

Maka, target satu gelar juara di tengah keringnya prestasi Indonesia pada 2025 adalah target yang sangat realistis dan menantang. Target itu bisa terwujud jika atlet bisa memanfaatkan celah, meski tipis.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul