Insiden terbunuhnya pengemudi ojol, Affan Kurniawan, karena dilindas kendaraan taktis polisi menjadi gambaran kepanikan aparat dalam menanggulangi demonstrasi.
29 Agt 2025 11:52 WIB · Metropolitan
Tewasnya Affan Kurniawan dilindas kendaraan taktis Brimob menggambarkan kepanikan polisi menanggulangi demonstrasi. Investigasi secara menyeluruh sangat dibutuhkan mengusut kasus ini.
Insiden itu terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam. Saat itu, Affan, pengemudi ojek online (ojol), ditabrak dan dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob. Affan tewas.
Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri, Jumat (29/8/2025), mengatakan, pengemudi rantis mengalami dua momen dengan level kesadaran atau mens rea berbeda.
Pertama, keputusan pengemudi rantis sudah tepat saat berusaha menghindar menabrak demonstran berjaket hitam. Hal ini membuktikan pengemudi masih bisa mengendalikan diri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/b3f20acf1876a664214e1271e1e80eb2-20250829YGA06.jpg)
Namun, keputusan itu memicu dampak lainnya. Tabrakan dengan Affan tidak terhindarkan. Saat itu, pengendalian diri pengemudi diuji. Alasannya, hal itu seharusnya bisa dicegah.
Pengemudi, kata Reza, idealnya tidak hanya fokus melihat ke depan. Dia mestinya menyapu pandangan ke banyak titik. Alasannya, saat itu ada pergerakan massa yang besar, acak, dan menyebar.
Terlepas dari itu, setelah tabrakan, pengemudi juga terbilang masih cukup mampu mengendalikan diri. Buktinya, dia lalu menghentikan laju rantis.
Namun, itu hanya sebentar. Tidak lama kemudian, pengemudi memilih tancap gas. Tindakan itu, kata Reza, sebagai bentuk kepanikan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/93485deaf6bee8191269c33371b69843-20250829YGA10.jpg)
Berkaca dari insiden itu, Indra mengatakan, muncul dua mens rea. Saat tabrakan, mens rea pengemudi rantis bisa jadi kelalaian (negligence). Namun, ketika rantis kembali bergerak setelah menabrak, mens rea yang timbul adalah kenekatan.
Reza berharap, kasus ini diusut tuntas. Apalagi mengutip sejumlah riset, polisi sebagai aparat penegak hukum memiliki kecemasan tinggi. Hal itu terutama terjadi ketika mereka menghadapi kerumunan atau ketegangan yang memuncak.
Sebelumnya, Kepala Divisi Propam Polri Inspektur Jenderal Abdul Karim mengatakan, tujuh pelaku tengah diperiksa. Mereka Komisaris C, Ajun Inspektur Dua M, Brigadir Kepala R, Brigadir Satu D, Brigadir Dua M, Bhayangkara Kepala Y, dan Bhayangkara Kepala J. Semuanya ada di dalam rantis yang menabrak Affan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/cd79cdf991be1e7734aa6d5fab82becf-20250829YGA04.jpg)
”Saat ini, tujuh orang tersebut sudah diamankan dan dilakukan pemeriksaan. Untuk kendaraan juga sudah kita amankan, saat ini berada di Satuan Brimob Kwitang,” kata Abdul, Kamis malam.
Abdul mengatakan, peran pelaku masih didalami. ”Yang pasti, ketujuh orang ini berada dalam satu kendaraan. Nanti akan kita update,” ujarnya.
Dalam pemeriksaan ini, ujar Abdul, Propam juga menggandeng Kompolnas. Tujuannya agar proses pemeriksaan berjalan transparan dan obyektif.
Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri menyampaikan permohonan maaf yang mendalam dan dukacita kepada keluarga almarhum Affan.
”Kebetulan tadi saya sudah bertemu ayah korban. Alhamdulillah, beliau bisa menerima kami,” katanya.
Asep menegaskan akan menindak anggota polisi yang bersalah. Prosesnya, katanya, akan dilakukan Divisi Propam sesuai aturan berlaku.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan