Dari empat tim debutan di Piala Dunia 2026, adakah yang berpeluang melaju jauh dan mencatatkan sejarah lainnya?
12 Jun 2026 07:00 WIB · Olahraga
AFP,/ANP,/Koen van Weel
Tim nasional Uzbekistan, Jordania, Tanjung Verde, dan Curacao bersiap menorehkan tinta emas bagi negara masing-masing saat tampil perdana pada Piala Dunia 2026. Namun, akankah mereka hanya sebatas penggembira pesta atau malah sanggup membalikkan praduga?
Euforia merayakan tiket lolos ke pentas tertinggi sepak bola dunia telah lama usai di setiap negara tersebut. Kini, saatnya keempat tim itu menatap laga demi laga babak penyisihan grup di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Curacao yang tergabung di Grup E akan tampil paling awal dari keempatnya. Tak tanggung-tanggung, debutan dari Kepulauan Karibia itu akan langsung menghadapi tim raksasa Jerman pada Senin (15/6/2026), pukul 00.00 WIB, di Houston Stadium, AS.
Selanjutnya, masih pada hari yang sama, giliran Tanjung Verde melawan tim elite lainnya, yakni Spanyol. Kedua tim itu bakal melakoni laga Grup H pada pukul 23.00 WIB di Atlanta Stadium, AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/649042fa-1f89-47cf-b3d1-db4713c2a9d5_jpg.jpg)
Berselang dua hari kemudian, Rabu (17/6/2026), pukul 11.00 WIB, Jordania dijadwalkan bentrok dengan Austria dalam partai Grup J. Kedua tim itu bertanding di San Francisco Bay Area Stadium, AS.
Terakhir, Uzbekistan mengawali langkah melawan Kolombia pada Kamis (18/6/2026), pukul 09.00 WIB dalam penyisihan Grup K. Pertandingan tersebut digelar di stadion legendaris Meksiko, yakni Mexico City Stadium atau Stadion Azteca.
Lantas, bagaimana kans tim-tim debutan itu mengarungi turnamen sepak bola terakbar ini?
Jika menilik laman daftar peringkat FIFA per 11 Juni 2026, Uzbekistan menempati posisi tertinggi dari keempatnya, yakni di ranking ke-50. Selanjutnya, berturut-turut Jordania (63), Tanjung Verde (67), dan Curacao (82).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/27/b85e2663-6228-4b07-a0c8-b52b20af8dd1.jpg)
Namun, dari peta persaingan di tiap-tiap grup, Uzbekistan juga berada di ”kolam” paling berat. Selain berhadapan dengan ”kuda hitam” Amerika Latin, Kolombia, mereka juga bertemu tim kuat Afrika, Republik Demokratik (RD) Kongo.
Tak cukup di situ, tantangan terbesar ”Serigala Putih” adalah tim unggulan teratas grup sekaligus salah satu favorit juara Piala Dunia 2026, yakni Portugal. Opta Power Rating bahkan menempatkan Grup K sebagai grup terkuat kedua dari 12 grup Piala Dunia 2026 dengan poin rata-rata 81,0.
Masih berpegangan data serupa dari Opta, nasib Jordania tak lebih beruntung. Grup J yang ditempati negara Timur Tengah itu bersama Argentina, Austria, dan Aljazair menduduki peringkat ketiga grup terkuat dengan poin rata-rata 80,5.
Meskipun tergabung dalam grup yang relatif tak segahar Uzbekistan dan Jordania, tantangan bagi Curacao dan Tanjung Verde tidak kalah berat. Apalagi, pengalaman mereka tampil di turnamen besar masih minim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/96b6ea877f6e91c7ebb3b8353a4d49f7-FBL_WC2026_CUW_TRAINING_138548148.jpg)
Selain Jerman, Curacao mesti menghadapi dua tim penghuni Grup E lainnya, yakni Ekuador dan Pantai Gading. Ekuador tengah berada di pucuk performa yang disebut-sebut sebagai generasi emas tim Amerika Latin itu, sedangkan Pantai Gading membawa reputasi solid sebagai juara Piala Afrika 2023.
Adapun Tanjung Verde berkutat dengan Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi, di Grup H. Tiga lawan skuad berjuluk ”Hiu Biru” tersebut tentu bukanlah ringan.
Namun, peserta turnamen yang kini melebar jadi 48 negara bisa membawa berkah tersendiri bagi keempat tim debutan itu. Banyaknya jumlah kontestan membuat selain juara dan runner-up grup, tim peringkat ketiga terbaik dari setiap grup bisa memboyong tiket ke Babak 32 Besar.
Melalui celah baru tersebut, peluang tim debutan melewati fase penyisihan grup pun terbuka. Artinya, mereka hanya perlu mencuri satu kemenangan guna membidik tiket sebagai peringkat ketiga terbaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/6230953bf4c3ad3403978d1c305c14e5-20260610_H01_ADI_Piala_Dunia_mumed.png)
Di atas kertas, Uzbekistan, misalnya, bisa memaksimalkan kesempatan itu saat menghadapi RD Kongo. Sementara Jordania bukan mustahil mampu menggulingkan Aljazair. Adapun Curacao berharap menjungkalkan Pantai Gading dan Tanjung Verde mengincar tiga poin dari Arab Saudi.
Dari keempat laga krusial itu, Uzbekistan dan Tanjung Verde memiliki peluang menang lebih besar. Kedua lawan yang mereka hadapi kualitasnya tak terpaut jauh dan sama sekali belum pernah bertemu dalam ajang apa pun.
Kisah ”Cinderella” itu pernah dituliskan Senegal saat menjadi debutan pada Piala Dunia 2002.
Akan tetapi, satu kemenangan bisa saja belum cukup untuk mengantarkan lolos dari persaingan grup. Alasannya, hanya akan ada delapan tim peringkat ketiga terbaik dari 12 grup yang bisa melaju ke 32 Besar.
Jika dua atau lebih tim memiliki poin sama, FIFA menetapkan selisih gol dan kemudian jumlah gol memasukkan sebagai aspek penentu lolosnya tim. Artinya, keempat tim debutan wajib menjaga kesucian gawang mereka dari gempuran tim-tim unggulan di setiap grup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/2f0964e872a1d1aab834815d9c3692a8-20260611_ARS_Negera_Peserta_piala_dunia_2026_2_mumed.png)
Syukur-syukur, keempat tim itu bisa memaksakan hasil imbang saat berjumpa tim-tim unggulan itu sehingga membuka peluang langsung lolos setidaknya sebagai peringkat kedua grup. Sejarah membuktikan hal tersebut bukanlah utopia.
Kisah ”Cinderella” itu pernah dituliskan Senegal saat menjadi debutan pada Piala Dunia 2002. Kala itu, skuad ”Singa Teranga” tampil beringas dalam penyisihan Grup A, membalikkan semua prediksi.
Pada laga pembuka, Senegal membungkam juara bertahan saat itu, Perancis, dengan skor 1-0. Dua tim setingkat di atas mereka pun diimbangi, yakni Denmark dan Uruguay. Senegal kemudian melesat hingga perempat final sebelum dihentikan Turki lewat drama gol emas.
Pencapaian tim debutan paling fantastis ditorehkan Kroasia pada Piala Dunia 1998. Meskipun secara historis merupakan negara pecahan Yugoslavia, tim kuat langganan Piala Dunia, Kroasia pada awal turnamen kala itu dianggap sebagai tim medioker.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/18/774aabc5-f019-458e-a263-551e55ab6b9f_jpg.jpg)
Namun, skuad ”Vatreni” mematahkan segala keraguan dan menembus hingga semifinal sebelum dijegal tim tuan rumah sekaligus yang kemudian menjadi juara, Perancis. Kroasia lantas menyandang peringkat ketiga Piala Dunia seusai mengalahkan Belanda.
Keempat tim debutan Piala Dunia 2026 pun telah meneguhkan tekad untuk tak sekadar menjadi penggembira dalam ajang ini. Willy Semedo, penyerang sayap Tanjung Verde, mengakui, lolos ke fase gugur merupakan misi berat bagi timnya. Namun, hal itu bukanlah kemustahilan.
”Kami tidak pergi ke sana (AS) hanya untuk berlibur. Kami pergi ke Piala Dunia untuk melakukan sesuatu yang istimewa bagi negara kami, untuk membuat mereka bangga kepada kami dan untuk memastikan lolos ke babak gugur,” ucap Semedo (Kompas.id, 10/6/2026).
Sementara Dick Advocaat, Pelatih Curacao, mengatakan, timnya telah membuktikan diri sulit dikalahkan. Akan tetapi, lawan-lawan di Grup E tentu berbeda kualitasnya. ”Kami tahu ini akan sangat sulit, tetapi tidak ada yang tidak mungkin,” ujarnya dikutip Reuters.
Adakah adagium ”bola itu bundar” menggelinding bersama tim-tim debutan di Piala Dunia kali ini? Kita nantikan bersama nanti.…
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji