Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi pesta sepak bola terbesar sekaligus mesin ekonomi global dengan perputaran uang mencapai sekitar Rp 1.300 triliun.
09 Jun 2026 10:00 WIB · Olahraga
AFP
Ketika Piala Dunia FIFA 2026 bergulir, perhatian dunia tak hanya tertuju pada laga di lapangan hijau. Di balik gegap gempita ajang itu akan terjadi pergerakan manusia, uang, dan aktivitas ekonomi dalam skala besar yang jarang berlangsung dalam satu momentum secara bersamaan.
Jutaan orang diperkirakan bepergian lintas negara untuk menyaksikan langsung laga-laga sepak bola. Hotel akan dipenuhi wisatawan, maskapai penerbangan sibuk, restoran dan pusat hiburan ramai, sementara kota-kota tuan rumah berubah menjadi pusat keramaian global selama lebih dari sebulan.
Bagi tiga negara tuan rumah, yaitu Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, turnamen ini bukan sekadar hajatan olahraga. Piala Dunia 2026 telah berkembang menjadi momentum ekonomi sekaligus panggung untuk menunjukkan pengaruh dan daya tarik tiap-tiap negara itu di mata dunia.
Edisi 2026 memang berbeda daripada sebelumnya. Untuk pertama kali, Piala Dunia diikuti 48 negara dengan total 104 laga di 16 kota tuan rumah. Skalanya jauh lebih besar dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya.
FIFA memperkirakan sekitar 6,52 juta penonton akan datang langsung ke stadion. Sekitar 40 persen di antaranya merupakan wisatawan internasional. Mereka bukan hanya membeli tiket laga, melainkan juga menginap di hotel, makan di restoran, menggunakan transportasi, berbelanja, dan mengunjungi berbagai pusat hiburan.
Dalam laporan FIFA World Cup 2026 Socioeconomic Impact Analysis yang disusun FIFA bersama Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Goaleconomy, dan OpenEconomics, turnamen ini diproyeksikan menghasilkan perputaran ekonomi global hingga 80,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.300 triliun.
Dari angka itu, sekitar 30,5 miliar dolar AS diperkirakan berputar di AS. Sisanya menyebar ke Kanada, Meksiko, serta sejumlah negara lainnya melalui perdagangan, perjalanan internasional, konsumsi, dan aktivitas bisnis terkait olahraga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/eff1a4aaf80521bcf83d4f055c96843a-Toronto_Stadium_WCup_Soccer_138777264.jpg)
Piala Dunia kini memang sudah jauh melampaui sekadar ajang sepak bola. Ia telah berubah menjadi mesin bisnis global yang menghubungkan industri media, pariwisata, hiburan, transportasi, hingga perdagangan internasional.
Dikutip dari situs resmi FIFA, penjualan tiket Piala Dunia FIFA 2026 telah memecahkan rekor dengan lebih dari 150 juta permintaan dari lebih 200 negara. Akibat antusiasme yang masif, FIFA terus merilis tiket tambahan.
Kisaran harga tiket Piala Dunia 2026 bervariasi, antara 60 dolar AS hingga 10.990 dolar AS (berkisar Rp 950.000-Rp 178 juta) per lembar, bergantung pada kategori dan tahapan kompetisi. Harga tiket untuk laga bergengsi, seperti final, bahkan menembus angka hingga ratusan juta rupiah.
Perputaran uang tidak lagi hanya berasal dari penjualan tiket laga. Hak siar, sponsor global, pemasaran digital, penjualan merchandise, hingga industri perjalanan menjadi sumber pendapatan yang tak kalah besar.
FIFA memperkirakan total belanja terkait turnamen mencapai 13,9 miliar dolar AS. Menariknya, lebih dari separuhnya atau sekitar 7,5 miliar dolar AS berasal dari sektor pariwisata. Maka, sektor jasa diprediksi menjadi yang paling menikmati dari turnamen ini.
Tingkat okupansi hotel di sejumlah kota tuan rumah diperkirakan melonjak tajam. Jasa penerbangan, layanan perjalanan digital, transportasi darat, restoran, pusat hiburan, hingga sektor ritel, diproyeksikan mengalami kenaikan permintaan selama turnamen itu berlangsung.
Efeknya juga terasa pada pasar tenaga kerja. FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 menciptakan lebih dari 820.000 pekerjaan penuh waktu secara global. Sektor akomodasi disebut menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, disusul transportasi udara dan layanan teknis. Dampaknya terhadap produk domestik bruto (PDB) global pun diperkirakan mendekati 41 miliar dolar AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/4b04b8b94da9d25a2df4847924f38c0c-WCup_Miami_Ball_Art_Trail_Soccer_138787096.jpg)
Namun, seperti hampir semua ajang olahraga besar, proyeksi ekonomi fantastis itu memunculkan pertanyaan, siapa sebenarnya yang paling menikmati keuntungan?
Lembaga investasi asal Perancis, CPRAM, dalam laporan bertajuk World Cup 2026: The Economic Match, mengingatkan dampak ekonomi Piala Dunia sering kali tidak sebesar yang dipromosikan dalam proposal pencalonan tuan rumah.
Menurut CPRAM, ajang olahraga besar memang dapat mendorong konsumsi dan aktivitas ekonomi jangka pendek. Akan tetapi, dampak makroekonominya terhadap negara besar sering kali relatif kecil.
Sebagai contoh, FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 dapat menambah PDB Amerika Serikat 17,2 miliar dolar AS. Namun, CPRAM mencatat angka tersebut bahkan masih kurang dari 0,1 persen total ekonomi Amerika Serikat.
Bagi negara dengan ekonomi sebesar AS, Piala Dunia kemungkinan lebih terasa sebagai lonjakan konsumsi jangka pendek, alih-alih penggerak perubahan ekonomi besar-besaran. Apalagi, berbeda dengan gelaran sebelumnya di Brasil pada 2014 atau Qatar pada 2022, AS tidak perlu membangun banyak stadion baru. Infrastruktur olahraga, transportasi, dan logistik di negara itu sebagian besar sudah tersedia.
Karena itu, dampak ekonomi Piala Dunia 2026 diperkirakan lebih banyak terkonsentrasi pada sektor jasa dan pariwisata ketimbang pembangunan infrastruktur baru.
FIFA mencoba menghitung dampak sosial ekonomi Piala Dunia lewat pendekatan Social Return on Investment (SROI). Hasilnya, setiap 1 dolar AS investasi diperkirakan menghasilkan manfaat sosial 3,64 dolar AS. Manfaat sosial bersih selama lima tahun diperkirakan 6 miliar dolar AS setelah dikurangi biaya investasi awal. Sebagian besar berasal dari sektor pariwisata, olahraga, dan hiburan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/1e63db39c8add3488c4d8f296528ca10-WCup_Climate_Heat_Alcohol_Soccer_138789106.jpg)
Meski demikian, tidak semua ekonom sepakat dengan hitungan optimistis tersebut. Dalam artikelnya di majalah bisnis Forbes, jurnalis olahraga dan ekonomi Clemente Lisi menyoroti bagaimana kota-kota tuan rumah justru sering kali menghadapi beban biaya besar.
Pemerintah daerah harus menanggung biaya keamanan, transportasi publik, logistik, hingga dukungan infrastruktur. Sementara sebagian besar sumber pendapatan utama, seperti hak siar, sponsor global, tiket, dan merchandise, tetap dikuasai FIFA. ”Pemda menanggung risiko finansial, sementara FIFA menikmati sebagian besar keuntungan ekonominya,” tulis Lisi.
Kritik semacam ini bukan hal baru. Banyak studi ekonomi menunjukkan manfaat mega-event olahraga sering kali terlalu dibesar-besarkan. Sebagian pengeluaran wisatawan, misalnya, sebenarnya hanya menggantikan aktivitas wisata normal yang memang tetap akan terjadi meski tanpa turnamen.
Selain itu, keuntungan ekonomi biasanya hanya terkonsentrasi di sektor tertentu, seperti hotel, restoran, hiburan, dan transportasi. Sebaliknya, biaya publik menyebar luas melalui subsidi, pengamanan, dan dukungan infrastruktur.
Tekanan biaya bahkan mulai terasa sebelum turnamen dimulai. Otoritas transportasi New Jersey, misalnya, telah menaikkan tarif perjalanan kereta menuju arena final Piala Dunia di Stadion MetLife, yaitu menjadi 150 dolar AS dari tarif normal sekitar 12,9 dolar AS. Hal itu dilakukan guna menutup tambahan biaya operasional dan keamanan.
Namun, kota-kota dan negara tetap berlomba menjadi tuan rumah Piala Dunia. Alasannya tidak semata soal uang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/a169581369cb0e94489bb68e1f02963e-FBL_WC_2026_INA_138744005.jpg)
Dalam ekonomi modern, ajang olahraga besar juga menjadi alat diplomasi ekonomi dan promosi global. Negara-negara memanfaatkan Piala Dunia untuk membangun citra, menarik investasi, memperkuat sektor pariwisata, dan meningkatkan pengaruh internasional.
Qatar menggunakan Piala Dunia 2022 untuk memperkuat posisinya sebagai pusat bisnis dan diplomasi Timur Tengah. Sementara Amerika Serikat memanfaatkan edisi 2026 untuk menegaskan kembali posisinya sebagai pusat industri hiburan dan olahraga dunia.
Bahkan, CPRAM menilai Piala Dunia 2026 secara simbolik mempertemukan negara-negara yang berada di jalur perdagangan strategis dunia. Panama dengan Terusan Panama, Mesir dengan Terusan Suez, hingga Turki dengan Selat Bosphorus, turut menjadi peserta.
Karena itu, Piala Dunia hari ini bukan lagi sekadar kompetisi olahraga. Ia juga menjadi cermin bagaimana sepak bola bersinggungan dengan perdagangan, investasi, pariwisata, dan geopolitik global.
Pada akhirnya, dampak ekonomi Piala Dunia memang tidak pernah sesederhana hitungan untung-rugi tiket pertandingan. Ada manfaat yang sulit diukur secara langsung, mulai dari promosi internasional, peningkatan citra kota, hingga efek psikologis terhadap masyarakat.
Pengalaman menunjukkan manfaat ekonomi dari ajang olahraga besar, seperti Piala Dunia, tidaklah datang secara otomatis. Tanpa tata kelola yang transparan, perhitungan biaya yang realistis, dan strategi jangka panjang yang matang, pesta olahraga bisa berubah menjadi beban fiskal yang mahal.
Di balik sorak-sorai jutaan penonton dan kemegahan stadion Piala Dunia 2026, sesungguhnya terdapat pertandingan lain yang juga sedang berlangsung antartiga negara tuan rumah, yaitu perebutan porsi wisatawan, investasi, pengaruh ekonomi, dan perhatian dunia.
Penulis:
Dimas Waraditya NugrahaEditor:
Yulvianus Harjono, Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Retma Wati