Pengalaman Alonso, Amorim, dan Motta memperlihatkan melatih klub besar bukanlah pilihan realistis bagi pelatih muda. Kesuksesan Arteta jadi secuil anomali.
24 Jan 2026 12:56 WIB · Olahraga
AFP
Tren sejumlah klub besar Eropa yang mengangkat pelatih muda terbukti tidak berjalan mulus. Ide segar dari Xabi Alonso, Ruben Amorim, dan Thiago Motta kalah oleh kebutuhan berprestasi secara instan. Pemecatan yang menimpa ketiganya memberi setitik noda pada rekam jejak karier masing-masing. Melatih klub besar di usia yang relatif muda ternyata bukanlah pilihan bijak.
Senyum merekah terus menghiasi wajah Alonso seusai menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun sebagai pelatih Real Madrid tahun lalu. Sepanjang konferensi pers perkenalannya, Alonso tidak henti-hentinya tersenyum. Ia baru saja meraih pekerjaan yang diidam-idamkan sejumlah pelatih berpengalaman Eropa. Sulit mempercayai Alonso yang baru berusia 43 tahun mendapat kepercayaan menangani klub besar di dunia.
Tidak biasanya Real menaruh kepercayaan kepada pelatih muda. Alonso pun masuk dalam catatan sejarah sebagai salah satu manajer termuda Real. Ia sendiri menyebut kesempatan menangani Real sebagai hal yang bersejarah dan sangat sulit diulangi pada waktu-waktu mendatang.
”Ini adalah hari yang emosional. Jenis hari yang akan Anda ingat karena hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Saya merasakan kebanggaan, tanggung jawab, kegembiraan, dan energi yang luar biasa untuk kembali ke tempat yang saya rasa seperti rumah. Saya ingin memulai babak baru ini,” kata Alonso pada Mei 2025.
Setelah 225 hari berlalu, gairah serta optimisme Alonso berubah menjadi kekecewaan. Kekalahan dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol mengakhiri kebersamaan Alonso dengan Real. Itulah puncak dari drama yang berlangsung berbulan-bulan sebelumnya. Secara hasil, Alonso tidaklah buruk dengan memenangkan 24 dari 34 pertandingan. Real pun masih berpeluang di Liga Champions Eropa, Piala Raja Spanyol, dan Liga Spanyol.
Namun, performa Real di bawah Alonso sangat tidak menjanjikan ketika melawan tim-tim besar. Kinerja Alonso belum terbukti menyusul kekalahan dari Atletico Madrid dan Barcelona. Hal yang lebih buruk, ide-idenya kurang mendapat sambutan bagus dari sejumlah pemain senior Real.
Apa yang menimpa Alonso juga dialami Ruben Amorim di Manchester United. Sesama pelatih muda, mereka membawa ide yang terbukti sukses diterapkan di klub lama. ”Sebagai pelatih, Anda harus memilih satu cara atau cara lain. Saya selalu memilih 100 persen cara kami. Saya memilih untuk sedikit mengambil risiko. Saya sangat percaya pada cara bermain kami, mereka pun akan percaya,” kata Amorim penuh keyakinan.
Hanya saja formasi tiga bek yang melambungkan Amorim di Sporting Lisbon ternyata tidak berjalan dengan mulus di MU. Alonso yang sangat mengutamakan sistem alih-alih mengandalkan kreativitas pemain pun mendapat tentangan. Mereka dengan cepat menyadari bahwa menerapkan formula sama di klub besar adalah tantangan yang berbeda.
Ada semacam kultur lama yang telanjur tumbuh di klub besar. Para pemain di sana punya ego yang berbeda dengan klub semenjana. Membela klub besar adalah pencapaian yang tidak sembarangan sehingga mereka kerap mengecilkan pelatih muda dengan rekam jejak pengalaman yang belum cukup panjang. Amorim, Alonso, dan Motta kesulitan mengaplikasikan idenya karena para pemain tidak memberi rasa hormat kepada mereka.
Tidak dimungkiri pengalaman melatih turut jadi faktor bagi pemain untuk memandang pelatih mereka. Pelatih mendapatkan rasa hormat seiring bertambahnya pengalaman dan prestasi yang mampu mereka raih setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia kepelatihan. Prestasi Alonso hanya sebatas pada kancah domestik di Jerman. Demikian pula Amorim yang sepenuhnya berkecimpung di Liga Portugal, sedangkan Motta bahkan belum sempat mempersembahkan trofi apa pun untuk Bologna.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/d94fb23c81f3bd178161b4914fdb61eb-wires_photo_2026_01_05T183315.080.jpg)
Pada titik ini, pilihan para pelatih muda untuk langsung naik tingkat menangani klub besar terasa keliru. Ide segar mereka kalah oleh kebutuhan klub untuk meraih hasil positif sesegera mungkin. Klub besar punya kebiasaan yang tidak terbantahkan, yakni bahwa hasil adalah segalanya.
Jika bukan, tidak mungkin Cesc Fabregas (Como) atau Fabian Hurzeler (Brighton and Hove Albion) bisa bertahan cukup lama. Penyebabnya adalah mereka berada pada ekosistem yang tepat. Como dan Brighton bukan termasuk klub besar dengan suporter menuntut sehingga menanti hasil dari proses sangat diterima di sana.
”Hasil sangatlah penting. Itu sangat krusial. Namun, di Como, ada perkembangan nyata di balik layar, dengan jalur yang dimulai dua tahun lalu dan bergerak sangat cepat,” kata Fabregas dikutip dari Football Italia.
Anomali tertuju pada Mikel Arteta yang kini mengubah Arsenal menjadi tim yang solid. Namun, perlu diingat, mantan asisten Pep Guardiola itu punya keistimewaan berupa kepercayaan dari manajemen Arsenal. Sama seperti para pelatih muda lainnya, Arteta pun mengalami masa sulit pada awalnya.
Bahkan, ketika para suporter mulai meneriakkan ”Arteta keluar” setelah kesulitan yang dialami pelatih asal Spanyol itu di musim-musim awalnya, para pemilik klub tetap mendukungnya. Terlebih lagi, Arteta mampu meyakinkan penambahan staf pelatih dan perekrutan pemain yang dia butuhkan tanpa campur tangan berarti dari pihak lain di internal klub. Dukungan luar biasa seperti ini jarang ditemukan di klub papan atas mana pun. Itulah sebabnya kasus seperti Arteta belum pernah terlihat di klub besar lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/11/d52b28c602441682c2d700ded710e460-wires_photo_8_.jpg)
Saat Arteta bersinar, Alonso, Amorim, dan Motta telah menodai riwayat kepelatihan mereka dengan pemecatan. Pelatih muda mana pun pasti berharap dapat terus melatih di level tertinggi.
Kini setelah dipecat, mereka melihat mimpi-mimpinya berpotensi ternoda karena masa kerja pertamanya dengan tim besar berakhir gagal total. Hingga kini, ketiganya belum mendapatkan klub baru meski sejumlah klub besar kembali menyatakan ketertarikan.
Alonso, misalnya, kencang dikaitkan dengan Liverpool. Hanya saja, ada baiknya Alonso menimbang dengan matang keputusannya kembali melatih klub besar. Dia perlu meriset lebih dalam karakter dan filosofi klub jika tidak ingin pengalaman dipecat terulang. Satu kali dipecat klub besar barangkali bisa dimaklumi. Akan tetapi, jika itu terjadi dua kali, kecil kemungkinan akan ada klub besar kembali tertarik kepadanya.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra