Kerja sama Xabi Alonso dengan Real Madrid berakhir hanya dalam delapan bulan. Sejak awal, Madrid memang tidak membutuhkan karakter pelatih seperti Alonso.
13 Jan 2026 07:59 WIB · Olahraga
AP
MADRID, SENIN — Kerja sama singkat antara Xabi Alonso dan Real Madrid membuktikan satu hal. Madrid dengan skuad bertabur megabintang memang tidak cocok dipimpin pelatih yang menuntut kolektivitas, sistem kompleks, dan disiplin tinggi seperti Alonso. Madrid sudah membuat kesalahan sejak perekrutan.
Madrid mengumumkan, Alonso resmi hengkang dari klub dengan kesepakatan bersama pada Senin (12/1/2026). Kabar perpisahan diumumkan hanya sehari setelah Madrid takluk dari tim rival abadi Barcelona, 2-3, dalam final Piala Super Spanyol.
Alonso pun hanya berhasil bertahan di Madrid selama delapan bulan. ”Xabi akan selalu memiliki kasih sayang dan kekaguman dari semua penggemar karena dia adalah legenda Madrid dan selalu mewakili nilai-nilai klub ini. Madrid akan selalu jadi rumahnya,” tulis klub lewat pernyataan resmi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/13/a83466166e52b925f7aad9529225948c-wires_photo_2026_01_13T033343.787.jpg)
Peran Alonso akan digantikan sementara oleh Alvaro Arbeloa, pelatih tim cadangan Madrid atau Castilla. Arbeloa, mantan pemain ”El Real”, baru sekitar setengah tahun memimpin Castilla. Meskipun begitu, dia sudah terlibat dalam pembinaan usia muda klub sejak 2020. Namanya dihormati oleh para petinggi klub.
Kepergian Alonso terasa cukup mengejutkan. Walaupun dikatakan klub sebagai keputusan bersama, menurut Marca, sang pelatih tidak pernah berniat meninggalkan posisinya. Pihak klub mengontaknya terlebih dulu, lalu menyodorkan opsi untuk hengkang. Pertimbangan utama klub adalah tren hasil kurang baik dan keharmonisan ruang ganti.
Terbukti, pelatih asal Spanyol itu masih terdengar optimistis seusai kalah dari Barca. ”Kami harus melupakan hasil ini segera. Itu adalah kompetisi yang paling tidak penting dari semua kompetisi yang kami ikuti. Kami harus menatap ke depan, berusaha memulihkan pemain (cedera), mengembalikan moral tim, dan terus maju,” ujarnya.
Hanya saja, para petinggi Madrid agaknya melihat hasil itu sebagai sinyal perubahan. Setelah separuh musim di bawah Alonso, prestasi Kylian Mbappe dan rekan-rekan terbilang stagnan. Mereka tertinggal empat poin dari Barca di Liga Spanyol dan hanya menempati peringkat ketujuh babak grup Liga Champions.
Masalah yang lebih krusial adalah isu ruang ganti. Setelah final kemarin, Alonso sempat meminta para pemain tetap di lapangan untuk memberi penghormatan kepada tim juara. Namun, Mbappe justru menginstruksikan sebaliknya kepada rekan-rekannya. Para pemain lain lebih menuruti perkataan Mbappe.
Menurut The Athletic, sempat terjadi ketegangan antara Alonso dan beberapa pemain utama Madrid sebelumnya. Mereka, salah satunya Vinicius Junior, kurang senang dengan berbagai perubahan krusial dalam manajemen tim di bawah kepemimpinan Alonso. Itu yang kemudian membuat Vinicius enggan membahas perpanjangan kontrak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/13/f8b6978429f6266363a2cc9086aa4c09-wires_photo_2026_01_13T033433.807.jpg)
Alonso datang ke Madrid dengan status salah satu pelatih muda tersukses di Eropa. Pria 44 tahun itu memperlihatkan kepiawaiannya sebagai ahli taktik selama tiga musim di klub Jerman, Bayer Leverkusen. Alonso sangat detail dalam urusan taktik. Dia ingin timnya menyerang dan bertahan sebagai kesatuan, membuat sistem otomatis yang bisa diisi siapa pun.
Sistem itu berbeda bagai bumi dan langit dengan pelatih Madrid sebelumnya, Carlo Ancelotti. Di bawah Ancelotti, para pemain El Real lebih banyak diberikan kebebasan bergerak. Nama-nama pemain megabintang, seperti Vinicius, pun bersinar karena diberikan banyak ruang improvisasi dan tidak dibebankan banyak tugas bertahan.
Tabrakan antara sistem manajemen Alonso dan ego pemain megabintang sebenarnya sudah terendus sejak Piala Dunia Antarklub, pertengahan tahun lalu. Sang pelatih sempat mengkritik masalah disiplin anak asuhnya dalam bertahan. ”Kami harus bertahan dengan 11 pemain. Vini, (Jude) Bellingham, Mbappe harus membantu untuk menekan,” kata Alonso.
Terapi kejut ala Alonso sempat bekerja pada awalnya. Madrid sempat memenangi 10 dari 11 pertandingan awal liga domestik, termasuk atas Barca. Mereka sempat kokoh di puncak klasemen, sampai akhirnya isu ruang ganti muncul karena beberapa figur penting mulai merasa tidak nyaman dengan perubahan tersebut.
Alhasil, Madrid perlahan kehilangan ritme. Mereka dibayangi tren buruk sepanjang November hingga Desember, hanya menang tiga kali dari sembilan laga di seluruh kompetisi. Madrid pun kehilangan posisi puncak liga seiring Barca yang mulai menemukan konsistensi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/d4cf5e6a-d0f2-4c92-a311-4543c77ca2ea_jpg.jpg)
Mbappe langsung mengunggah pesan perpisahan untuk Alonso hanya beberapa jam setelah pengumuman dari klub. ”Memang singkat, tetapi merupakan suatu kehormatan bermain di bawah arahan Anda dan belajar dari Anda. Terima kasih telah memberi saya kepercayaan diri sejak hari pertama,” tulisnya lewat Instagram.
Dalam dua dekade terakhir, ada dua nama pelatih yang paling sukses menukangi Madrid. Mereka adalah Ancelotti dan Zinedine Zidane. Uniknya, mereka sama-sama tidak memiliki sistem kompleks dan lebih memberikan kebebasan berekspresi kepada setiap pemain. Rumus itu tampaknya bukan sekadar kebetulan. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra