Mencari Jalan untuk Mengapresiasi Talenta Terbaik Bangsa

Indonesia memiliki potensi banyak talenta muda berprestasi cemerlang. Namun, apresiasi untuk kelanjutan studi dan karier masih terbatas.

26 Mei 2025 09:41 WIB · Dikbud

Oleh Ester Lince Napitupulu

Sebanyak 275.000 anak-anak berprestasi dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi terdata dalam Sistem Informasi Manajemen Talenta atau SIMT yang dikembangkan pemerintah. Namun, pengembangan talenta dalam berbagai bidang di negeri ini masih menghadapi beragam tantangan dalam pengembangan karier belajar ataupun karier bekerja. Ancaman brain drain pun muncul dan sempat mencuat tagar #kaburajadulu,

Direktur Center for Young Scientist (CYS) Monika Raharti yang dihubungi dari Jakarta, Senin (26/5/2025), merasakan betul sulitnya untuk bisa mengajak banyak pihak mendukung pengembangan para talenta muda Indonesia. Melalui CYS, Monika dan tim mengasah bakat para peneliti belia untuk mampu mengembangkan cara berpikir ilmiah lewat riset dan inovasi di bidang STEM maupun sosial humaniora.

”Mungkin karena penyelenggaranya bukan pemerintah ya, untuk apresiasi para juara di tingkat nasional dan internasional belum ada. Padahal, peneliti belia ini potensial untuk mendukung kemajuan bangsa di masa depan lewat kemampuan riset dan inovasi dalam berbagai bidang kehidupan,” kata Monika.

Menurut Monika, kompetisi peneliti belia ini diminati di tingkat internasional. Ada harapan bagi talenta Indonesia yang berprestasi setidaknya bisa mendapatkan hadiah, seperti dana penelitian/pendidikan/publikasi di jurnal penelitian internasional. Termasuk juga beasiswa penuh/sebagian untuk studi lanjut.

 ”Yang lolos seleksi internasional, harapan kami bisa dibantu biaya keberangkatannya ke lomba internasional. Selama ini biaya pribadi sehingga terbatas juara nasional yang kuat finansialnya saja yang bisa berangkat,” tutur Monika.

Lomba peneliti belia di Indonesia menggandeng sejumlah perguruan tinggi/universitas sebagai penyelenggara di tingkat provinsi. Monika mengapresiasi beberapa universitas yang memberikan beasiswa atau bantuan dana untuk kuliah, antara lain Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, dan Indonesia International Institute of Life Sciences.

”Kalau dari perusahaan tidak ada yang signifikan memberikan apresiasi kepada pemenang, hanya produk untuk semua peserta saja,” kata Monika yang telah mendaftarkan lomba yang didukung CYS dalam SIMT.

Demi memberi manfaat optimal dari keikutsertaan di ajang lomba peneliti belia, kata Monika, CYS mengikuti kurasi lomba untuk masuk dalam SIMT yang diadakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Kurasi lomba ini agar sertifikat peserta lomba diakui saat mendaftar sekolah sebagai siswa baru, mendaftar kuliah jalur prestasi atau lainnya, hingga mendaftar beasiswa pemerintah.

Berjuang sendiri

Penghargaan yang masih minim pada talenta muda bidang fisika diakui pendiri dan pengajar Yayasan Sinergi Mencerdaskan Tunas Negeri (Simetri) Hendra Kwee. Yayasan Simetri mendukung pelajar Indonesia untuk ikut berkompetisi di ajang Olimpiade Fisika Asia atau Asian Physics Olympiad (APhO) dan meraih berbagai prestasi di Asia dan internasional. Bahkan, Hendra Kwee terpilih menjadi Presiden APhO.

”Untuk APhO belum kami proses untuk masuk dalam daftar lomba yang dikurasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Jika melihat dari pengalaman selama ini, misalnya tahun lalu, lomba yang dari kementerian sendiri pun kadang tidak mendapat prioritas,” kata Hendra.

Quote

Penyelenggara lomba mencari keuntungan cukup signifikan dari penyelenggaraan lomba.

Para talenta muda yang sudah mengharumkan nama bangsa di dunia pun masih sulit untuk mendapatkan apresiasi untuk keberlanjutan belajar di tempat terbaik. Hendra menyebutkan pada tahun lalu, satu siswa yang dibimbing Yayasan Simetri, Muhammad Arif Khalfani Ismail (SMA Fatih Bilingual School, Banda Aceh), sebenarnya sudah mendapat admission dari Stanford University, Amerika Serikat.

Namun, siswa tersebut tidak mendapat Beasiswa Indonesia Maju (beasiswa pemerintah untuk siswa berprestasi). Padahal, Arif dapat medali perunggu di ajang APhO 2024 di Malaysia dan medali perunggu di International Physics Olympiad (IPhO) 2023 di Tokyo, Jepang.

”Akhirnya dia tetap berangkat, tetapi dengan biaya dari keluarga besarnya,” kata Hendra.

Ada juga siswa lain, Ahmad Nafi Ramadhan (SMA Al Kahfi, Kabupaten Bogor), yang mendapat perlakuan serupa. Dia mendapat perunggu di APhO 2024 di Malaysia dan Honorable Mention di IPhO 2023 di Tokyo Jepang. Nafi mendapat admission dari National University of Singapore, tetapi tidak mendapat penawaran Beasiswa Indonesia Maju. Padahal, kedua siswa berprestasi tersebut sudah berproses di BIM sejak awal.

Menurut Hendra, dukungan Yayasan Simetri untuk mendorong prestasi siswa dalam fisika di ajang APhO tidak menarik biaya apa pun dari peserta. ”Biaya kami carikan dari sponsor dan dana internal Yayasan Simetri. Terus terang, kami cukup lelah dengan sisi akademik, jadi tidak punya energi untuk mengurus administrasi kurasi,” kata Hendra.

Menurut Hendra, sebenarnya dari pihak kampus mampu mengidentifikasi lomba-lomba yang berkualitas. Adapun kurasi di Kemendikdasmen dinilai Hendra sepertinya menjadi sama rata saja, tidak ada pembedaan lomba tersebut berkualitas atau tidak.

”Yang penting ada dari pihak penyelenggara bersedia berlelah-lelah menyiapkan dokumen administrasi. Apalagi sebagian dari lomba-lomba tersebut sebenarnya ada yang komersial. Penyelenggara lomba mencari keuntungan cukup signifikan dari penyelenggaraan lomba,” kata Hendra.

Saat webinar ”Sosialisasi Kurasi dan SIMT bagi Penyedia Beasiswa: Mengoptimalkan Pemanfaatan Hasil Kurasi dan SIMT”, Kamis (22/5/2025), Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Mariman Darto mengatakan, adanya SIMT untuk membangun ekosistem manajemen talenta nasional dengan mengajak kolaborasi banyak pihak dengan semangat partisipasi semesta.

Suasana Retrospekt! Job Fair. Anak muda mencari peliuang kariri di bidang digital. BAnyak perusahaan butuh talenta digital.KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU (ELN)16-03-2019

SIMT merupakan pangkalan data talenta nasional berisi informasi prestasi peserta didik yang bersumber dari ajang-ajang yang diselenggarakan oleh Puspresnas dan hasil kurasi. Kurasi merupakan proses mengidentifikasi, menilai, menyimpulkan, dan memberikan pengakuan resmi oleh kementerian kepada suatu ajang talenta dan prestasi talenta peserta didik.

Informasi para talenta dengan pencapaiannya ini diharapkan dapat digunakan para penyedia beasiswa untuk berkolaborasi dalam mengembangkan talenta-talenta di Indonesia. Salah satunya dengan pemanfaatan hasil kurasi dan SIMT. Masyarakat dapat mengecek para talenta di laman https://simt.kemdikbud.go.id/ dan laman kurasi melalui https://kurasi-pusatprestasinasional.kemdikbud.go.id/.

”Kami mengajak para talenta ini didukung masyarakat, terutama untuk mitra yang memiliki program beasiswa,” kata Mariman.

Mengajak penyedia beasiswa

Sementara itu, Kepala Puspresnas Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan, para talenta Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengembangan karier belajar ataupun karier bekerja. Bahkan, ada yang memiliki keterbatasan finansial untuk bisa melanjutkan studi.

Oleh karena itu, Puspresnas membangun data informasi talenta (talent pool) melalui SIMT. ”Talent pool ini dapat membantu para penyedia beasiswa untuk bisa melihat, mempertimbangkan, dan menilai potensi agar mendapat kesempatan mengajukan beasiswa yang disediakan oleh para penyedia beasiswa,” ujar Irene.

Adapun manfaat kurasi bagi penyedia beasiswa untuk mempersingkat waktu proses seleksi beasiswa meningkatkan akurasi penilaian prestasi talenta pemohon beasiswa dan membantu tingkat efektivitas dan efisiensi proses seleksi beasiswa.

Infografik Sebaran Jebolan Olimpiade Fisika Indonesia - Brain Drain

Agung Eko Budiwaspada, dosen dari Institut Teknologi Bandung, menyampaikan, pemberian beasiswa diutamakan terhadap akses, pemerataan, pengembangan, pemberdayaan dan prestasi serta harus dilaksanakan dengan tepat guna.

”Maka, kurasi menjadi sebuah proses untuk memastikan prestasi para peserta didik dari yang lebih tinggi sampai yang terendah. Selain itu, melalui kurasi sebagai kunci identifikasi talenta unggul dan penghargaan peran masyarakat, sebagai instrumen identifikasi talenta, dan sebagai acuan untuk merekognisi serta mengapresiasi peran masyarakat,” kata Agung.

Rina Fatimah dari Forum Beasiswa Indonesia yang merupakan wadah komunikasi Jaringan Beasiswa Indonesia (Non-Profit) yang terdiri dari lembaga penyedia, penyalur, penggerak, dan penerima beasiswa di Indonesia berharap melalui sosialisasi ini para penyedia beasiswa dapat memahami serta memanfaatkan SIMT dan Kurasi.

”Mudah-mudahan terkait SIMT dan Kurasi ini bisa menjadi alat yang digunakan penyedia beasiswa dalam proses beasiswa karena informasi di SIMT ini telah terkurasi, maka sudah dipastikan valid. Tentunya menambahkan kemudahan bagi kami dalam rekrutmen dan proses lainnya,” ujar Rina.

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .