Saat terjadi ledakan usaha rintisan (start up) di Indonesia pada 2010-2020, tenaga unggul jebolan berbagai universitas ternama memilih pulang ke Tanah Air.
05 Des 2024 07:00 WIB · Editorial
Talenta unggul Indonesia tidak leluasa mengembangkan potensinya di Tanah Air. Mereka memilih tempat nyaman. Tidak perlu saling menyalahkan, segera dibenahi.
Agen-agen pencari bakat lembaga pendidikan Singapura memberi mereka tawaran beasiswa. Paket beasiswa ini salah satunya diberikan dengan skema wajib bekerja di negeri itu setelah lulus kuliah. Orang-orang yang mendapat tawaran, antara lain jebolan olimpiade sains internasional. Mereka yang menerima tawaran itu dapat mengakses pendidikan berkualitas secara gratis dan bekerja di perusahaan Singapura dengan gaji tinggi.
Situasi ini bisa memicu brain drain, hijrahnya manusia unggul Indonesia ke luar negeri. Sebagai salah satu parameter, berdasarkan catatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, selama 2019-2023, jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang pindah menjadi warga Singapura hampir 1.000 orang per tahun. Tahun ini saja hingga Oktober 2024, ada 978 orang yang melepas status WNI menjadi warga Singapura (Kompas, 2/12/2024).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/07/cc85b7bf6a02099b6dc07e6555cea526-Rizal.jpg)
Tidak ada yang aneh dengan fenomena ini. Mereka yang berotak cerdas berusaha mendapatkan tempat yang nyaman bagi mereka berkarya. Keluhan soal fasilitas dan tempat berkarya yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan yang didapat telah menjadi masalah klasik dan belum juga tertangani dengan sistematis. Kelindan dengan masalah politik, korupsi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain membuat mereka makin tidak tertarik berkarya di dalam negeri.
Tak selamanya Tanah Air tak menarik talenta unggul. Apabila di Tanah Air ada tempat tersebut, tentu mereka akan berlomba-lomba berkarya di dalam negeri. Kita tentu ingat ketika terjadi ledakan usaha rintisan (start up) di Indonesia pada tahun 2010-2020, tenaga unggul jebolan berbagai universitas ternama dunia memilih pulang ke Indonesia dan berkarya di beberapa perusahaan.
Kini berbagai pihak perlu memberi dan menambah daya tarik agar mereka mau bekerja kembali di dalam negeri. Ruang-ruang riset perlu dikembangkan pemerintah dan swasta agar mereka ikut dalam membangun negeri. Insentif perlu diberikan sehingga mereka tidak sulit menanggung biaya hidup.
Kita tentu cemas apabila masalah ini tidak ditangani karena mulai terlihat beberapa keluarga tidak lagi menyekolahkan anaknya untuk studi sarjana di beberapa perguruan tinggi di Tanah Air. Mereka yang berlatar belakang keluarga menengah pun langsung mencari studi di luar negeri dengan impian kelak akan bekerja di luar negeri begitu lulus. Apabila fenomena ini berkembang, sumber daya manusia yang masuk di perguruan tinggi di dalam negeri mengalami penurunan kualitas. Mereka ini kelak yang akan mengisi sejumlah posisi di pemerintahan dan swasta.
Kerja sama pemerintah dan swasta sepertinya menjadi jalan singkat membangun fasilitas dan juga ruang yang memiliki daya tarik bagi talenta unggul agar tetap berada di Tanah Air. Kita tidak perlu saling menyalahkan, apalagi menyalahkan negara lain, dengan kasus ini. Saatnya bangkit mengurus talenta unggul anak-anak Indonesia.
Penulis:
Andreas MaryotoEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari