Cara Trump melontarkan gagasan dan niatnya sangatlah ”khas”. Jurus yang dipakainya kemungkinan adalah strategi dia untuk menanamkan ”kegalauan” pada lawan dialog
15 Jan 2025 10:00 WIB · Opini
Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat mitra dan seteru Washington heran. Seusai mengincar Panama, kini ia menghendaki Greenland.
Tak tanggung-tanggung, jika tidak bisa dengan cara lunak, dibeli, Trump siap menggunakan kekuatan militer. Intinya, Trump ingin pulau terbesar di dunia yang terletak di antara Samudra Atlantik dan Samudra Arktik itu ada di bawah kontrol Amerika Serikat.
Minat Trump terhadap Greenland, antara lain, dipicu alasan pertahanan. Seiring menghangatnya suhu Bumi, sebagian es di kawasan itu mencair. Terbukanya perairan itu dari tutupan es membuat jalur pelayaran di wilayah utara Bumi menjadi lebih pendek.
Sebagaimana minat Trump pada Panama, yaitu untuk mencegat ”arus” China, demikian pula di Greenland. Trump ingin pula ”membatasi” ruang gerak China dan Rusia yang ”mengelola” sebagian Lingkar Arktik. Sebagai catatan, sejak Perang Dingin, AS telah memiliki pijakan militer di Greenland. Di wilayah koloni Denmark itu, Washington memiliki pangkalan luar angkasa, tepatnya di Pituffik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/14/7eb7387ebd363b6fb9f22b7929349be5-000_36T97ZX.jpg)
Washington pun mengikat perjanjian dengan Kopenhagen guna memberikan payung pertahanan untuk Greenland. Alasan geostrategis dan pertahanan itu sekuat alasan ekonomi, yaitu eksplorasi logam tanah jarang yang banyak ditemukan di Greenland. Penguasaan atas sumber daya mineral itu artinya akan menguasai pula materi yang menjadi bahan dasar energi terbarukan dan teknologi canggih lain di masa depan.
Melihat alasan tersebut, minat Trump seolah beralasan. Akan tetapi, bagaimana cara ia melontarkan gagasan dan niatnya sangatlah ”khas” jika tidak bisa disebut ”rada ngawur”. Bagaimana mungkin Trump akan mengerahkan pasukan AS untuk menyerbu wilayah Denmark yang adalah sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Apakah Trump benar-benar akan membawa perpecahan dalam tubuh aliansi pertahanan tersebut?
Banyak pihak yakin, bukan itu sejatinya yang dibidik Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/13/38ccefb7d3717e4a9054b71cb7591393-DENMARK_GREENLAND_US_POLITICS_DIPLOMACY_126649846.jpg)
Langkah Trump yang bak gerakan ”Dewa mabuk” itu kemungkinan adalah strategi dia untuk menanamkan ”kegalauan” pada lawan dialog. Trump ingin membuat strateginya menjadi tidak terbaca, memaksa ”lawan” terus menduga-duga hingga memaksa mereka untuk berkompromi. Kerangka strateginya tidak jauh berbeda dari metode ”tarif”.
Situasi ini terlihat ketika Perdana Menteri Greenland Mute B Egede mengatakan siap berdialog dan mulai mencari peluang untuk menjalin kerja sama. Patut diingat, saat ini Greenland juga tengah mewacanakan untuk merdeka dari Denmark.
Tampaknya Trump, dengan jurus mabuknya, telah mengincar ”peluang” dari potensi lepasnya Greenland dari bayang-bayang Denmark. Apa pun dan bagaimanapun cara serta metodenya, bagi Trump, ujungnya adalah ”cuan”.
Penulis:
RedaksiEditor:
Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .