Mencermati ”Jurus Mabuk” Donald Trump

Cara Trump melontarkan gagasan dan niatnya sangatlah ”khas”. Jurus yang dipakainya kemungkinan adalah strategi dia untuk menanamkan ”kegalauan” pada lawan dialog

15 Jan 2025 10:00 WIB · Opini

Oleh Redaksi

Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat mitra dan seteru Washington heran. Seusai mengincar Panama, kini ia menghendaki Greenland.

Tak tanggung-tanggung, jika tidak bisa dengan cara lunak, dibeli, Trump siap menggunakan kekuatan militer. Intinya, Trump ingin pulau terbesar di dunia yang terletak di antara Samudra Atlantik dan Samudra Arktik itu ada di bawah kontrol Amerika Serikat.

Minat Trump terhadap Greenland, antara lain, dipicu alasan pertahanan. Seiring menghangatnya suhu Bumi, sebagian es di kawasan itu mencair. Terbukanya perairan itu dari tutupan es membuat jalur pelayaran di wilayah utara Bumi menjadi lebih pendek.

Sebagaimana minat Trump pada Panama, yaitu untuk mencegat ”arus” China, demikian pula di Greenland. Trump ingin pula ”membatasi” ruang gerak China dan Rusia yang ”mengelola” sebagian Lingkar Arktik. Sebagai catatan, sejak Perang Dingin, AS telah memiliki pijakan militer di Greenland. Di wilayah koloni Denmark itu, Washington memiliki pangkalan luar angkasa, tepatnya di Pituffik.

Picture taken on July 5, 2024 shows the Greenland flag in the village of Igaliku in Greenland. The small village is located on the Qaqortoq Peninsula in the area of southern Greenland where the viking Erik the Red's ships arrived more than 1000 years ago. Donald Trump confirmed on January 6, 2024 that his eldest son Don Jr plans to visit Greenland, two weeks after the US president-elect suggested that Washington annex the autonomous Danish territory. (Photo by Ida Marie Odgaard / Ritzau Scanpix / AFP) / Denmark OUT

Washington pun mengikat perjanjian dengan Kopenhagen guna memberikan payung pertahanan untuk Greenland. Alasan geostrategis dan pertahanan itu sekuat alasan ekonomi, yaitu eksplorasi logam tanah jarang yang banyak ditemukan di Greenland. Penguasaan atas sumber daya mineral itu artinya akan menguasai pula materi yang menjadi bahan dasar energi terbarukan dan teknologi canggih lain di masa depan.

Melihat alasan tersebut, minat Trump seolah beralasan. Akan tetapi, bagaimana cara ia melontarkan gagasan dan niatnya sangatlah ”khas” jika tidak bisa disebut ”rada ngawur”. Bagaimana mungkin Trump akan mengerahkan pasukan AS untuk menyerbu wilayah Denmark yang adalah sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Apakah Trump benar-benar akan membawa perpecahan dalam tubuh aliansi pertahanan tersebut?

Banyak pihak yakin, bukan itu sejatinya yang dibidik Trump.

Denmark's Prime Minister Mette Frederiksen and Chairman of Naalakkersuisut in Greenland Mute B Egede hold a press conference in Copenhagen on January 10, 2025, amid the current remarks of the US president-elect. (Photo by Mads Claus Rasmussen / Ritzau Scanpix / AFP) / Denmark OUT

Langkah Trump yang bak gerakan ”Dewa mabuk” itu kemungkinan adalah strategi dia untuk menanamkan ”kegalauan” pada lawan dialog. Trump ingin membuat strateginya menjadi tidak terbaca, memaksa ”lawan” terus menduga-duga hingga memaksa mereka untuk berkompromi. Kerangka strateginya tidak jauh berbeda dari metode ”tarif”.

Situasi ini terlihat ketika Perdana Menteri Greenland Mute B Egede mengatakan siap berdialog dan mulai mencari peluang untuk menjalin kerja sama. Patut diingat, saat ini Greenland juga tengah mewacanakan untuk merdeka dari Denmark.

Tampaknya Trump, dengan jurus mabuknya, telah mengincar ”peluang” dari potensi lepasnya Greenland dari bayang-bayang Denmark. Apa pun dan bagaimanapun cara serta metodenya, bagi Trump, ujungnya adalah ”cuan”.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .