Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Pemicu ketegangan terbaru Turki-AS soal Suriah.
- Pasca-lengsernya Bashar al-Assad, AS mendesak Turki menghentikan serangan di Suriah. Apa yang terjadi?
- Apa akar ketegangan AS-Turki? Mengapa hal ini berulang?
- Ketegangan AS-Turki soal Suriah memuncak pada 2022.
- Tak selalu berlawanan, Turki dan AS pernah saling dukung di Suriah.
- Turki dan AS hanya sebagian kekuatan asing yang memperebutkan Suriah. Siapa saja mereka?
Pemicu cekcok terbaru Turki-AS di Suriah
Ketegangan Turki dan Amerika Serikat soal Suriah beberapa kali terjadi setelah lengsernya Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024. Ketegangan terakhir dipicu oleh komentar presiden terpilih AS Donald Trump.
Pada Senin (16/12/2024), di Mar-a-Lago, Florida, AS, Trump mengatakan, lengsernya Assad merupakan pengambilalihan tak bersahabat oleh Turki. ”Orang-orang yang masuk (ke Suriah) dikendalikan oleh Turki dan itu tidak apa-apa,” katanya.
Saat itu Trump mengatakan, Turki sangat cerdas dengan melakukan pengambilalihan kekuasaan yang tak bersahabat, tanpa menghilangkan banyak nyawa. Ia juga menilai Turki merupakan kunci masa depan Suriah. Sebelumnya, Trump sempat mengatakan konflik di Suriah bukan masalah AS.

Kami tidak akan menyebutnya pengambilalihan kekuasaan karena akan menjadi kesalahan besar untuk menyajikan apa yang telah terjadi di Suriah.
Pada Rabu (18/12/2024) waktu setempat, Turki menyangkal pernyataan presiden terpilih AS Donald Trump itu.
”Kami tidak akan menyebutnya pengambilalihan kekuasaan karena akan menjadi kesalahan besar untuk menyajikan apa yang telah terjadi di Suriah (dengan istilah tersebut),” kata Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, seperti dikutip dari media Al Jazeera.
Menurut Fidan, bagi rakyat Suriah, peristiwa tersebut bukanlah pengambilalihan kekuasaan. ”Saya pikir, jika memang ada pengambilalihan kekuasaan, itu keinginan rakyat Suriah yang sedang mengambil alih sekarang ini,” ujarnya.
Fidan mengatakan, tidak tepat jika menganggap Turki sebagai kekuatan yang akan memerintah Suriah di masa depan. ”Saya pikir itu adalah hal terakhir yang ingin kita lihat terjadi,” ujarnya.
Sebab, kata Fidan, Turki telah mengambil pelajaran besar dari budaya dominasi dalam kondisi Timur Tengah selama ini. Menurut dia, budaya dominasi itu sendiri telah menghancurkan kawasan tersebut.
Pasca-Bashar al-Assad lengser, AS mendesak Turki menghentikan serangan di Suriah. Apa yang terjadi?
Hampir sepekan sejak Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan, sejumlah negara asing terus menyerang Suriah. Israel dan Turki paling gencar.
Sekutu Israel, AS, sejauh ini belum berkomentar soal ulah Israel di Suriah. AS malah mendesak Turki meredakan serangan ke Suriah. Melalui angkatan bersenjatanya ataupun milisi Suriah yang disokong Ankara, Turki terus menyerang Suriah. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mendatangi Ankara untuk membahas isu itu. Ia ditemui Presiden Turki Recep Erdogan.
Kepada Erdogan, Blinken mengakui dinamika Suriah terkait keamanan Turki. AS mencatat keresahan Turki pada Partai Pekerja Kurdi (PKK), organisasi orang Kurdi yang punya milisi. ”Di sisi lain, kita harus berupaya mencegah konflik tambahan di Suriah,” kata Blinken.
Selama perang saudara Suriah, AS menyokong sejumlah kelompok milisi Kurdi di Suriah. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) merupakan milisi Kurdi yang paling disokong AS.
Kepada Erdogan, Blinken menekankan peran penting SDF dalam menghadapi kelompok teror di Suriah. Ia hanya merujuk pada Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Ia tidak merujuk pada Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Ahmed al-Sharaa yang kini jadi pemimpin faktual utama Suriah.
Apa akar ketegangan AS-Turki? Mengapa hal ini berulang?
Pada 2022, perang mulut antara Turki-AS juga terjadi. Perselisihan soal hanya yang sama telah berulang beberapa tahun sebelumnya. Kali ini, penyebabnya adalah rangkaian serangan Ankara pada kubu-kubu pertahanan Kurdi di Irak dan Suriah.
Sejak Minggu (20/11/2022), Turki menyerang berbagai posisi pertahanan Kurdi di Irak dan Suriah. Serangan itu merupakan balasan atas bom bunuh diri di Istanbul dan peluncuran dua roket ke Karkamis. ”Operasi ini dibatasi sebagai operasi udara,” kata Erdogan, Selasa (22/11/2022), di Doha, Qatar.
Pada Senin malam waktu New York atau Selasa pagi WIB, Amerika Serikat (AS) meminta Turki menahan diri. ”Kami mendesak peredaan ketegangan di Suriah untuk melindungi warga sipil dan demi tujuan bersama mengalahkan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah.” Demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Bagi Ankara, sejumlah kelompok Kurdi merupakan kelompok teror. Ankara menyalahkan Partai Pekerja Kurdi (PKK) sebagai dalang peledakan bom di Istanbul beberapa hari lalu. Insiden itu melukai 81 orang dan menewaskan beberapa orang lain.
Sejak 2016, Turki terus menyerbu wilayah Suriah yang dikendalikan Kurdi. Tujuannya antara lain menciptakan zona penyangga di perbatasan Suriah-Turki. Zona itu diharapkan bisa mengurangi potensi serangan dari Suriah ke Turki.
Sementara AS mendukung milisi Kurdi. Milisi Kurdi merupakan sekutu utama AS untuk memerangi Negara Islam Irak Suriah (NIIS). Baik Turki maupun AS tak mau kepentingan mereka soal Kurdi terganggu.
Setelah lengsernya Assad, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken meminta milisi Kurdi tak diganggu dalam upayanya memerangi NIIS. Sebaliknya, Turki juga menginginkan mereka diatasi.
Ketegangan AS-Turki memuncak pada 2022
Pada November 2022, Pemerintah Amerika Serikat kembali mengulang seruannya agar Pemerintah Turki menghentikan serangan udara ke Suriah utara yang menjadi basis kelompok Kurdi.
Serangan udara, yang rencananya akan dilanjutkan dengan serangan darat, akan kontraproduktif terhadap upaya Amerika Serikat dan sekutu Kurdinya, Pasukan Demokratik Suriah, untuk menumpas kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).
Seruan untuk menghentikan serangan ke Suriah utara disampaikan kembali Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin saat melakukan pembicaraan via telepon dengan Menhan Turi Hulusi Akar, Rabu (30/11/2022).
Seruan AS pada Turki untuk menghentikan serangannya ke wilayah Suriah utara adalah yang kedua setelah beberapa pekan lalu Washington juga menyerukan hal yang sama. Washington menganggap, Pasukan Demokratik Suriah (PDF) yang didukung AS memainkan peran kunci dalam operasi militer menumpas NIIS.
Selain itu, militer AS juga menyebut serangan roket yang terjadi pada Sabtu akhir pekan lalu membuat pasukan koalisi pimpinan AS di pangkalan-pangkalan di kota Shaddadeh, timur laut Suriah, menjadi target.
Dalam pandangan Washington, selain membahayakan keselamatan jiwa personel militer AS, serangan udara dan serangan darat Turki membuat kemajuan operasi terhadap kelompok NIIS terhenti dan membawa ketidakstabilan kawasan.
Tak selalu berlawanan, Turki dan AS pernah saling dukung di Idlib, Suriah
Namun, hubungan AS-Turki di Suriah tak selalu hitam dan putih. Di tahun 2020, Turki didukung AS. Keduanya memang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Saat itu, pasukan oposisi Suriah yang didukung oleh militer Turki merebut kota Nairab di Provinsi Idlib, Suriah, Selasa (25/2/2020). Ini merupakan wilayah pertama yang berhasil direbut kembali dari pasukan Pemerintah Suriah di tengah serangan besar-besaran pasukan Damaskus di wilayah Idlib.
”Dengan bantuan teman kami, Turki, kami telah merebut kembali kota strategis Nairab, gerbang menuju Saraqeb, setelah memukul mundur milisi teroris Rusia,” kata Yusef Hamoud, juru bicara milisi Pasukan Nasional yang didukung Turki.
Pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad, dengan dukungan angkatan udara Rusia, mencoba menguasai kembali Nairab, wilayah terakhir di Suriah yang dikuasai pasukan oposisi setelah sembilan tahun berperang. Hampir 1 juta warga Suriah mengungsi akibat perang ini.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengkritik serangan yang didukung Rusia tersebut. Ia mengatakan, Pemerintah Suriah tidak bisa menang, dan Washington sedang bekerja sama dengan Ankara untuk menyelesaikan krisis ini.
Turki telah mengirim ribuan personel militer dan peralatan ke wilayah Suriah untuk mendukung oposisi dalam menghadapi serangan pemerintah.
Sejak Turki mengirimkan pasukannya ke wilayah barat laut Suriah untuk membendung serangan pasukan Pemerintah Suriah, sebanyak 17 personel militer Turki tewas. AS memberikan dukungan atas langkah Turki di Idlib.
”Serangan rezim Pemerintah Suriah hanya akan mempertinggi risiko konflik dengan sekutu NATO kami, Turki. Jawabannya adalah gencatan senjata permanen dan negosiasi yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah Resolusi Dewan Keamanan PBB 2254,” kata Pompeo.
Turki dan AS hanya sebagian kekuatan asing yang memperebutkan Suriah. Siapa saja mereka?
Tak hanya Turki dan AS, negara-negara besar selama berabad-abad bertempur guna mendapatkan pengaruh di wilayah yang kini dikenal sebagai Suriah itu.
Dalam perang saudara di Suriah yang berlangsung selama 13 tahun, Iran, Rusia, dan kelompok Hizbullah dari Lebanon mendukung rezim Assad.
Sementara AS dan Turki mendukung berbagai kelompok oposisi lain yang banyak bermunculan di sana. Adapun Israel mempunyai kepentingan sendiri, yaitu melindungi diri dan dicurigai ingin memperluas wilayah kekuasaan.
Turki memiliki dua kepentingan utama di Suriah, yaitu suku Kurdi dan isu pengungsi. Suriah timur adalah rumah bagi populasi etnis Kurdi yang cukup besar. Kelompok ini dinilai sebagai ancaman karena dianggap bersekutu dengan kelompok separatis Kurdi di kawasan Turki sendiri.
Turki juga menampung hampir 4 juta pengungsi Suriah yang melarikan diri dari penganiayaan rezim Assad. Erdogan ingin mereka keluar dari Turki dan kembali ke Suriah.
Kepentingan utama AS di Suriah sekarang ini adalah agar NIIS tak bangkit lagi. Saat ini NIIS masih bercokol di wilayah timur laut dan tengah Suriah. Pada 2019, Presiden Trump menarik sebagian besar pasukan AS keluar dari Suriah.
Saat ini masih ada sekitar 1.000 anggota pasukan Operasi Khusus AS di Suriah. Mereka bekerja sama erat dan melatih pasukan Kurdi Suriah.
Di sinilah, Turki berbenturan dengan AS. Selama masa transisi ini, AS telah meminta Turki agar milisi Kurdi, SDF (Syrian Democratic Force), tak diganggu dalam memerangi NIIS.
Kepada pejabat Turki selama kunjungan di Ankara pada Kamis dan Jumat pekan lalu, Blinken mengatakan bahwa munculnya kembali NIIS harus dicegah. Untuk itu, SDF tidak boleh terganggu dari perannya dalam mengamankan kamp-kamp yang menampung para pejuang NIIS.
Pejabat delegasi AS mengatakan, para pemimpin Turki sudah setuju. Namun, dalam wawancara dengan televisi Turki, Fidan mengatakan bahwa pemberantasan YPG adalah target strategis Turki dan mendesak para komandan kelompok tersebut untuk meninggalkan Suriah.
Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Pemicu ketegangan terbaru Turki-AS soal Suriah.
- Pasca-lengsernya Bashar al-Assad, AS mendesak Turki menghentikan serangan di Suriah. Apa yang terjadi?
- Apa akar ketegangan AS-Turki? Mengapa hal ini berulang?
- Ketegangan AS-Turki soal Suriah memuncak pada 2022.
- Tak selalu berlawanan, Turki dan AS pernah saling dukung di Suriah.
- Turki dan AS hanya sebagian kekuatan asing yang memperebutkan Suriah. Siapa saja mereka?
Pemicu cekcok terbaru Turki-AS di Suriah
Ketegangan Turki dan Amerika Serikat soal Suriah beberapa kali terjadi setelah lengsernya Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024. Ketegangan terakhir dipicu oleh komentar presiden terpilih AS Donald Trump.
Pada Senin (16/12/2024), di Mar-a-Lago, Florida, AS, Trump mengatakan, lengsernya Assad merupakan pengambilalihan tak bersahabat oleh Turki. ”Orang-orang yang masuk (ke Suriah) dikendalikan oleh Turki dan itu tidak apa-apa,” katanya.
Saat itu Trump mengatakan, Turki sangat cerdas dengan melakukan pengambilalihan kekuasaan yang tak bersahabat, tanpa menghilangkan banyak nyawa. Ia juga menilai Turki merupakan kunci masa depan Suriah. Sebelumnya, Trump sempat mengatakan konflik di Suriah bukan masalah AS.

Kami tidak akan menyebutnya pengambilalihan kekuasaan karena akan menjadi kesalahan besar untuk menyajikan apa yang telah terjadi di Suriah.
Pada Rabu (18/12/2024) waktu setempat, Turki menyangkal pernyataan presiden terpilih AS Donald Trump itu.
”Kami tidak akan menyebutnya pengambilalihan kekuasaan karena akan menjadi kesalahan besar untuk menyajikan apa yang telah terjadi di Suriah (dengan istilah tersebut),” kata Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, seperti dikutip dari media Al Jazeera.
Menurut Fidan, bagi rakyat Suriah, peristiwa tersebut bukanlah pengambilalihan kekuasaan. ”Saya pikir, jika memang ada pengambilalihan kekuasaan, itu keinginan rakyat Suriah yang sedang mengambil alih sekarang ini,” ujarnya.
Fidan mengatakan, tidak tepat jika menganggap Turki sebagai kekuatan yang akan memerintah Suriah di masa depan. ”Saya pikir itu adalah hal terakhir yang ingin kita lihat terjadi,” ujarnya.
Sebab, kata Fidan, Turki telah mengambil pelajaran besar dari budaya dominasi dalam kondisi Timur Tengah selama ini. Menurut dia, budaya dominasi itu sendiri telah menghancurkan kawasan tersebut.
Pasca-Bashar al-Assad lengser, AS mendesak Turki menghentikan serangan di Suriah. Apa yang terjadi?
Hampir sepekan sejak Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan, sejumlah negara asing terus menyerang Suriah. Israel dan Turki paling gencar.
Sekutu Israel, AS, sejauh ini belum berkomentar soal ulah Israel di Suriah. AS malah mendesak Turki meredakan serangan ke Suriah. Melalui angkatan bersenjatanya ataupun milisi Suriah yang disokong Ankara, Turki terus menyerang Suriah. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mendatangi Ankara untuk membahas isu itu. Ia ditemui Presiden Turki Recep Erdogan.
Kepada Erdogan, Blinken mengakui dinamika Suriah terkait keamanan Turki. AS mencatat keresahan Turki pada Partai Pekerja Kurdi (PKK), organisasi orang Kurdi yang punya milisi. ”Di sisi lain, kita harus berupaya mencegah konflik tambahan di Suriah,” kata Blinken.
Selama perang saudara Suriah, AS menyokong sejumlah kelompok milisi Kurdi di Suriah. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) merupakan milisi Kurdi yang paling disokong AS.
Kepada Erdogan, Blinken menekankan peran penting SDF dalam menghadapi kelompok teror di Suriah. Ia hanya merujuk pada Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Ia tidak merujuk pada Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Ahmed al-Sharaa yang kini jadi pemimpin faktual utama Suriah.
Apa akar ketegangan AS-Turki? Mengapa hal ini berulang?
Pada 2022, perang mulut antara Turki-AS juga terjadi. Perselisihan soal hanya yang sama telah berulang beberapa tahun sebelumnya. Kali ini, penyebabnya adalah rangkaian serangan Ankara pada kubu-kubu pertahanan Kurdi di Irak dan Suriah.
Sejak Minggu (20/11/2022), Turki menyerang berbagai posisi pertahanan Kurdi di Irak dan Suriah. Serangan itu merupakan balasan atas bom bunuh diri di Istanbul dan peluncuran dua roket ke Karkamis. ”Operasi ini dibatasi sebagai operasi udara,” kata Erdogan, Selasa (22/11/2022), di Doha, Qatar.
Pada Senin malam waktu New York atau Selasa pagi WIB, Amerika Serikat (AS) meminta Turki menahan diri. ”Kami mendesak peredaan ketegangan di Suriah untuk melindungi warga sipil dan demi tujuan bersama mengalahkan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah.” Demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Bagi Ankara, sejumlah kelompok Kurdi merupakan kelompok teror. Ankara menyalahkan Partai Pekerja Kurdi (PKK) sebagai dalang peledakan bom di Istanbul beberapa hari lalu. Insiden itu melukai 81 orang dan menewaskan beberapa orang lain.
Sejak 2016, Turki terus menyerbu wilayah Suriah yang dikendalikan Kurdi. Tujuannya antara lain menciptakan zona penyangga di perbatasan Suriah-Turki. Zona itu diharapkan bisa mengurangi potensi serangan dari Suriah ke Turki.
Sementara AS mendukung milisi Kurdi. Milisi Kurdi merupakan sekutu utama AS untuk memerangi Negara Islam Irak Suriah (NIIS). Baik Turki maupun AS tak mau kepentingan mereka soal Kurdi terganggu.
Setelah lengsernya Assad, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken meminta milisi Kurdi tak diganggu dalam upayanya memerangi NIIS. Sebaliknya, Turki juga menginginkan mereka diatasi.
Ketegangan AS-Turki memuncak pada 2022
Pada November 2022, Pemerintah Amerika Serikat kembali mengulang seruannya agar Pemerintah Turki menghentikan serangan udara ke Suriah utara yang menjadi basis kelompok Kurdi.
Serangan udara, yang rencananya akan dilanjutkan dengan serangan darat, akan kontraproduktif terhadap upaya Amerika Serikat dan sekutu Kurdinya, Pasukan Demokratik Suriah, untuk menumpas kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).
Seruan untuk menghentikan serangan ke Suriah utara disampaikan kembali Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin saat melakukan pembicaraan via telepon dengan Menhan Turi Hulusi Akar, Rabu (30/11/2022).
Seruan AS pada Turki untuk menghentikan serangannya ke wilayah Suriah utara adalah yang kedua setelah beberapa pekan lalu Washington juga menyerukan hal yang sama. Washington menganggap, Pasukan Demokratik Suriah (PDF) yang didukung AS memainkan peran kunci dalam operasi militer menumpas NIIS.
Selain itu, militer AS juga menyebut serangan roket yang terjadi pada Sabtu akhir pekan lalu membuat pasukan koalisi pimpinan AS di pangkalan-pangkalan di kota Shaddadeh, timur laut Suriah, menjadi target.
Dalam pandangan Washington, selain membahayakan keselamatan jiwa personel militer AS, serangan udara dan serangan darat Turki membuat kemajuan operasi terhadap kelompok NIIS terhenti dan membawa ketidakstabilan kawasan.
Tak selalu berlawanan, Turki dan AS pernah saling dukung di Idlib, Suriah
Namun, hubungan AS-Turki di Suriah tak selalu hitam dan putih. Di tahun 2020, Turki didukung AS. Keduanya memang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Saat itu, pasukan oposisi Suriah yang didukung oleh militer Turki merebut kota Nairab di Provinsi Idlib, Suriah, Selasa (25/2/2020). Ini merupakan wilayah pertama yang berhasil direbut kembali dari pasukan Pemerintah Suriah di tengah serangan besar-besaran pasukan Damaskus di wilayah Idlib.
”Dengan bantuan teman kami, Turki, kami telah merebut kembali kota strategis Nairab, gerbang menuju Saraqeb, setelah memukul mundur milisi teroris Rusia,” kata Yusef Hamoud, juru bicara milisi Pasukan Nasional yang didukung Turki.
Pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad, dengan dukungan angkatan udara Rusia, mencoba menguasai kembali Nairab, wilayah terakhir di Suriah yang dikuasai pasukan oposisi setelah sembilan tahun berperang. Hampir 1 juta warga Suriah mengungsi akibat perang ini.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengkritik serangan yang didukung Rusia tersebut. Ia mengatakan, Pemerintah Suriah tidak bisa menang, dan Washington sedang bekerja sama dengan Ankara untuk menyelesaikan krisis ini.
Turki telah mengirim ribuan personel militer dan peralatan ke wilayah Suriah untuk mendukung oposisi dalam menghadapi serangan pemerintah.
Sejak Turki mengirimkan pasukannya ke wilayah barat laut Suriah untuk membendung serangan pasukan Pemerintah Suriah, sebanyak 17 personel militer Turki tewas. AS memberikan dukungan atas langkah Turki di Idlib.
”Serangan rezim Pemerintah Suriah hanya akan mempertinggi risiko konflik dengan sekutu NATO kami, Turki. Jawabannya adalah gencatan senjata permanen dan negosiasi yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah Resolusi Dewan Keamanan PBB 2254,” kata Pompeo.
Turki dan AS hanya sebagian kekuatan asing yang memperebutkan Suriah. Siapa saja mereka?
Tak hanya Turki dan AS, negara-negara besar selama berabad-abad bertempur guna mendapatkan pengaruh di wilayah yang kini dikenal sebagai Suriah itu.
Dalam perang saudara di Suriah yang berlangsung selama 13 tahun, Iran, Rusia, dan kelompok Hizbullah dari Lebanon mendukung rezim Assad.
Sementara AS dan Turki mendukung berbagai kelompok oposisi lain yang banyak bermunculan di sana. Adapun Israel mempunyai kepentingan sendiri, yaitu melindungi diri dan dicurigai ingin memperluas wilayah kekuasaan.
Turki memiliki dua kepentingan utama di Suriah, yaitu suku Kurdi dan isu pengungsi. Suriah timur adalah rumah bagi populasi etnis Kurdi yang cukup besar. Kelompok ini dinilai sebagai ancaman karena dianggap bersekutu dengan kelompok separatis Kurdi di kawasan Turki sendiri.
Turki juga menampung hampir 4 juta pengungsi Suriah yang melarikan diri dari penganiayaan rezim Assad. Erdogan ingin mereka keluar dari Turki dan kembali ke Suriah.
Kepentingan utama AS di Suriah sekarang ini adalah agar NIIS tak bangkit lagi. Saat ini NIIS masih bercokol di wilayah timur laut dan tengah Suriah. Pada 2019, Presiden Trump menarik sebagian besar pasukan AS keluar dari Suriah.
Saat ini masih ada sekitar 1.000 anggota pasukan Operasi Khusus AS di Suriah. Mereka bekerja sama erat dan melatih pasukan Kurdi Suriah.
Di sinilah, Turki berbenturan dengan AS. Selama masa transisi ini, AS telah meminta Turki agar milisi Kurdi, SDF (Syrian Democratic Force), tak diganggu dalam memerangi NIIS.
Kepada pejabat Turki selama kunjungan di Ankara pada Kamis dan Jumat pekan lalu, Blinken mengatakan bahwa munculnya kembali NIIS harus dicegah. Untuk itu, SDF tidak boleh terganggu dari perannya dalam mengamankan kamp-kamp yang menampung para pejuang NIIS.
Pejabat delegasi AS mengatakan, para pemimpin Turki sudah setuju. Namun, dalam wawancara dengan televisi Turki, Fidan mengatakan bahwa pemberantasan YPG adalah target strategis Turki dan mendesak para komandan kelompok tersebut untuk meninggalkan Suriah.