Akses jalan putus terus ditembus dan alat komunikasi darurat secara bertahap disediakan di lokasi terdampak bencana. Langkah ini untuk mempercepat penanganan.
28 Nov 2025 21:27 WIB · Lingkungan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPBffokus membuka keterisolasian wilayah terdampak bencana di Aceh dan Sumatera Utara. Akses jalan yang putus terus ditembus dan alat komunikasi darurat secara bertahap disediakan.
Pembukaan wilayah terisolasi menjadi prioritas untuk memudahkan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), pendataan korban secara lebih akurat, serta pendistribusian bantuan, seperti bahan makanan, obat-obatan, maupun peralatan pengungsian. Saat ini, warga di sejumlah wilayah terdampak disebut mulai mengeluhkan stok sembako yang menipis dan mengalami gangguan kesehatan.
Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers yang disiarkan kanal @bnpb_indonesia, Jumat (28/11/2025) petang, mengatakan, saat ini, siklon tropis Senyar dan Koto mulai pergi meninggalkan wilayah Indonesia dan bergerak ke Malaysia. Kedua siklon itu merupakan pemicu cuaca ekstrem di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sehingga menyebabkan bencana hidrometeorologi sejak Selasa (25/11/2025).
Dengan berlalunya fenomena alam tersebut, kondisi cuaca di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, berangsur normal. Setidaknya, sejak Kamis (27/11/2025) petang, hujan di tiga provinsi itu berangsur reda. Cuaca di tiga provinsi itu pun sudah lebih cerah sepanjang hari Jumat.
Selain karena faktor alam, perubahan cuaca menjadi lebih bersahabat itu turut dipengaruhi oleh operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan sejak Kamis malam. OMC dilakukan masing-masing dengan menggunakan satu pesawat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BNPB pun menyiapkan satu pesawat cadangan jika diperlukan untuk penebalan operasi tersebut.
OMC itu dimaksudkan untuk mengurangi peluang hujan yang bisa berisiko memperpanjang dampak bencana dan menimbulkan bencana susulan. ”Dengan berhentinya hujan, para petugas gabungan di lapangan bisa melakukan operasi percepatan pembukaan akses transportasi dan telekomunikasi yang masih lumpuh atau putus di sejumlah wilayah terdampak bencana,” kata Suharyanto.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/28/68b72856-d859-41d4-a430-66e61cbf5828_jpg.jpg)
Di Aceh, menurut Suharyanto, akses transportasi di hampir semua dari 17 kabupaten/kotanya masih terganggu. Namun, yang paling parah atau masih terputus adalah akses dari dan menuju Kabupaten Gayo Lues yang berada persis di tengah-tengah wilayah pegunungan Aceh.
Oleh karena itu, Gayo Lues masih terisolasi dari segala bantuan, termasuk bantuan alat atau perangkat komunikasi darurat. Dengan demikian, informasi atau data akurat mengenai korban jiwa maupun terdampak di sana masih sulit didapat.
Selain Gayo Lues, kabupaten/kota lain yang akses transportasinya masih terganggu adalah Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Aceh Barat. Akses transportasi di kabupaten/kota lain belum sepenuhnya pulih, tetapi cenderung membaik.
Akses transportasi itu terputus akibat ada jalan yang masih tergenang banjir, ambles, dan tertutup tanah longsor, serta jembatan ambruk. Adapun akses telekomunikasi lumpuh karena jaringan listrik mati akibat sejumlah menara listrik rusak parah.
Saat ini, BNPB bersama instansi terkait, terutama TNI/Polri dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berusaha membuka akses transportasi yang terputus atau terganggu. Mereka menggunakan alat berat untuk membersihkan material yang menutupi jalan dan membuka akses darurat di sekitar jalan yang ambruk atau terperosok. Untuk perbaikan jembatan ambruk, butuh waktu penanganan lebih lama, termasuk dalam penyediaan jembatan darurat.
”Untuk akses jalan yang putus, kami berusaha membukanya menggunakan alat berat. Kami butuh waktu karena dampak bencana di Aceh baru terjadi atau terjadi lebih belakangan dibandingkan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat,” ujar Suharyanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/a80d1185-a3c8-4ca7-9b12-d9c7767e95a6.jpg)
Di Sumatera Utara, akses transportasi yang masih terputus berada di akses dari dan menuju Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Sibolga, dan akses Tapanuli Selatan-Medan. Penyebabnya karena ada akses jalan yang masih tertutup material longsor dan jembatan ambruk.
Akan tetapi, karena penanganan sudah dilakukan lebih dahulu, akses terputus itu ditargetkan bisa terbuka paling lambat Sabtu (29/11/2025). ”Targetnya, besok (Sabtu), kita usahakan semua akses itu sudah bisa ditembus,” kata Suharyanto.
Untuk Sumatera Barat, kata Suharyanto, memang ada beberapa akses transportasi yang terganggu, meliputi akses dari dan menuju Pasaman, Agam, Bukit Tinggi, Padang Panjang, dan Padang. Kendati demikian, akses itu masih bisa ditembus dengan kendaraan kecil atau berjalan kaki. ”Dibandingkan Aceh dan Sumatera Utara, akses transportasi di Sumatera Barat masih lebih baik,” tuturnya.
Suharyanto menyampaikan, pembukaan akses transportasi sangat penting untuk memperlancar proses penanganan tanggap daurat bencana, khususnya operasi SAR. Saat ini, BNPB mendata, ada 35 korban meninggal dunia, 25 korban hilang, dan delapan luka-luka akibat bencana di Aceh.
Dari informasi yang dihimpun, korban terbesar berasal dari Kabupaten Bener Meriah dengan 11 korban meninggal dan 13 korban hilang, serta Aceh Tengah dengan 15 korban meninggal. Selain itu, 4.846 kepala keluarga (KK) mengungsi yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh.
Di Sumatera Utara, jumlah korban mencapai 116 orang meninggal dan 42 orang hilang. Korban terbesar berasal dari Tapanuli Tengah dengan 47 orang meninggal dan Tapanuli Selatan dengan 32 orang meninggal. Selain itu, sekitar 1.000 KK mengungsi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/cef82c7e-750f-4240-868f-92ac6c5798b9.jpg)
Untuk Sumatera Barat, ada 23 korban meninggal, 12 korban hilang, dan empat luka-luka. Di sisi lain, kurang lebih 3.900 KK mengungsi.
Suharyanto memaparkan, jumlah korban maupun warga yang mengungsi itu diprediksi masih akan terus bertambah seiring terbukanya akses transportasi dan komunikasi di wilayah-wilayah yang masih terisolasi. Paling tidak, kalau akses transportasi sudah terbuka, tim bantuan bisa memberikan dukungan operasi SAR.
Tim bantuan pun bisa memberikan perangkat komunikasi darurat untuk memperlancar proses penyampaian informasi aktual. ”Saat ini, jika pun ada korban maupun warga mengungsi, kita belum dapat data akuratnya karena orang-orang di sana belum bisa menyampaikan informasi tersebut akibat akses komunikasi masih lumpuh,” ujar Suharyanto.
Saat ini, jika pun ada korban maupun warga mengungsi, kita belum dapat data akuratnya karena orang-orang di sana belum bisa menyampaikan informasi tersebut akibat akses komunikasi masih lumpuh.
Sebaliknya, untuk membuka akses telekomunikasi yang lumpuh, BNPB bersama instansi terkait menyediakan perangkat komunikasi darurat dengan memanfaatkan internet Starlink. Setidaknya, sejak Jumat pemerintah memberikan bantuan 28 unit Starlink bersama 28 unit genset ke Aceh dan 17 unit Starlink bersama 17 unit genset ke Sumatera Utara. Starlink itu disebar ke wilayah-wilayah yang masih sangat sulit akses komunikasinya.
Contohnya di Aceh, Starlink sudah terpasang di Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang. Di Sumatera Utara, Starlink dipasang di Tapanuli Raya dan Sibolga. Sumatera Barat tidak mendapatkan bantuan Starlink karena jaringan telekomunikasinya relatif masih normal.
Suharyanto mengatakan, pemerintah memilih Starlink karena lebih praktis untuk dibawa dan dipasang di tempat-tempat darurat. Itu akan sangat membantu proses aktualisasi data jumlah korban jiwa atau terdampak akibat bencana di Aceh dan Sumatera Utara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/8688adda-7ed6-466c-af21-94abf2ad989f.jpg)
Selain itu, keberadaan perangkat komunikasi darurat itu berguna untuk membantu warga menyambung komunikasi dengan sanak keluarga atau kerabat yang sempat terputus. Itu bisa mengurangi keresahan sanak keluarga atau kerabat yang beberapa hari terakhir tidak mengetahui kabar anggota keluarganya yang berada di wilayah terdampak bencana.
”Kami akan terus menambah jumlah perangkat komunikasi darurat. Sebab, jumlah yang ada sekarang sangat terbatas. Satu perangkat maksimal hanya bisa melayani sekitar 100 orang dalam jarak radius kurang lebih 100 meter persegi. Kalau jumlah warga yang terdampak banyak, mereka akan saling rebutan sinyal sehingga sinyal yang ada kurang optimal,” kata Suharyanto.
Selain itu, pembukaan akses transportasi dan komunikasi akan sangat berguna untuk membantu koordinasi dan proses pendistribuan bantuan logistik, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga peralatan pengungsian, antara lain perahu karet, tenda, alas tidur, dan selimut. Bahkan, sejak Jumat pagi, mereka sudah mulai mendistribusikan bantuan logsitik dari Presiden dan kementerian/lembaga terkait.
Bahan makanan, seperti beras dan mi instan sudah disaluran ke wilayah-wilayah terdampak paling parah, terutama di Aceh dan Sumatera Utara. Sejauh ini, jumlah bantuan itu disadari masih belum mencukupi. Namun, seiring terbukanya akses transportasi, bantuan yang diberikan akan terus ditingkatkan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
”Saat ini, ada bantuan yang masih didistribusikan melalui jalur udara sebelum dibawa lewat jalur darat dengan sepeda motor atau jalan kaki. Kalau akses transportasi dan komunikasi sudah terbuka sepenuhnya, kita bisa mendistribuskan bantuan secara lebih besar dan luas,” tutur Suharyanto.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/28/4b68fef4-fe8c-4775-a9ee-5a1cbfb20147_jpg.jpg)
Adapun bantuan sembako dan obat-obatan untuk warga terdampak sudah sangat mendesak. Di Aceh, misalnya, Koordinator Relawan Peduli Bencana Aceh Fachrul Razi menuturkan, banyak warga di kawasan pedalaman yang sudah mengeluhkan kelaparan dan sakit.
Sebab, stok makanan mereka sudah menipis. Di sisi lain, tidak ada warung yang buka. Jika pun ada yang buka, stok yang tersedia sangat terbatas dan harganya sudah melambung tinggi. Akibatnya, untuk mendapatkan stok makanan itu juga harus rebutan.
Kami harap bantuan sembako dan obat-obatan segera disalurkan kepada warga di kawasan pendalaman yang sekarang masih sulit diakses. Jangan sampai ada korban berjatuhan akibat ada yang kelaparan dan sakit pascabencana.
Sementara itu, dalam kondisi mulai kelaparan, tak sedikit warga yang mulai mengeluhkan sakit, seperti demam dan penyakit kulit. Sebab, mereka sudah berhari-hari terpapar lembab akibat terus diguyur hujan dan terperangkap genangan air banjir.
”Kami harap bantuan sembako dan obat-obatan segera disalurkan kepada warga di kawasan pendalaman yang sekarang masih sulit diakses. Jangan sampai ada korban berjatuhan akibat ada yang kelaparan dan sakit pascabencana,” kata Fachrul.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase