AS terus meningkatkan aset militer di sekitar Iran. Serangan itu dapat berdampak buruk bagi kawasan dan global
03 Feb 2026 08:00 WIB · Internasional
AP
1. Bagaimana kondisi di dalam negeri Iran?
2. Apa yang dilakukan AS-Israel di tengah ketegangan dengan Iran?
3. Apakah AS-Iran masih membuka ruang diplomasi?
4. Mengapa serangan AS ke Iran berbahaya?
Iran berada dalam kewaspadaan tinggi menyusul ancaman serangan Amerika Serikat. Perundingan Iran dengan AS terus berjalan untuk meredakan ketegangan meski kedua pihak saling mengancam.
Kantor berita AFP, Minggu (1/2/2026), mengutip Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani yang menyatakan ada kemajuan dalam perundingan dengan AS. Meski demikian, ia memperingatkan AS untuk tidak melancarkan serangan militer ke Iran. ”Tak seperti yang digembar-gemborkan media, pengaturan struktur untuk negosiasi sedang berjalan,” katanya.
Larijani, Sabtu, bertemu dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Dalam keterangan yang dikeluarkan Qatar, pertemuan dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan di kawasan.
Presiden AS Donald Trump membenarkan AS dan Iran tengah berunding. ”(Iran) sedang berbicara dengan kami dan kita akan lihat apakah kita dapat melakukan sesuatu. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi. Armada besar kita menuju ke sana,” kata Trump kepada Fox News.
Meski pembicaraan berlangsung, Trump menambahkan, AS tetap mempertimbangkan ancaman serangan ke Iran. Washington sudah mengerahkan kelompok amada laut penyerang yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Saat ini, kapal induk tersebut sudah berada di lepas pantai Iran.
Petinggi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan Israel menggelar pertemuan tertutup di Pentagon pada Jumat (31/1/2026). Pertemuan digelar di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Sebelumnya, Teheran melontarkan peringatan keras bahwa serangan AS akan memicu perang regional.
Saat ini, Washington terus meningkatkan kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah. Sebagaimana diberitakan, Pemerintah AS mengerahkan kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal-kapal pendukungnya ke Laut Arab.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/01/97306a97-bdf4-46b8-a757-81a668cd5d69.jpg)
Langkah tersebut diambil setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman terhadap Iran. Salah satunya agar Teheran kembali ke meja perundingan soal senjata nuklir. Ancaman itu disampaikan menyusul tindakan keras otoritas Iran terhadap para pengunjuk rasa yang menuntut perbaikan ekonomi negeri itu.
Amerika Serikat dan Iran tetap membuka ruang diplomasi di tengah ancaman serangan dari Presiden Donald Trump. Militer Iran menilai ancaman itu untuk menakut-nakuti. Alih-alih perubahan pemerintahan, serangan ke Iran malah akan memicu perang saudara.
Media Iran, Tasnim, pada Kamis (29/1/2026) mengumumkan komunikasi tak langsung antara AS dan Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, pesan dikirimkan melalui perantara. ”Kalau Washington mau berbicara, pertama-tama harus menghentikan ancaman,” katanya.
Beberapa tahun terakhir, AS-Iran berkomunikasi secara tak langsung lewat perantara. Qatar dan Oman pernah menjalankan peran itu. Pada Rabu, Trump akhirnya mengumumkan armada AS bergerak mendekati Iran. Kalau Iran tak mau berunding, AS akan melancarkan serangan lebih besar dari Operasi Godam Tengah Malam. Operasi pada Juni 2025 itu berupa pengeboman ke sejumlah lokasi di Iran.
Sementara itu, sejak dua pekan lalu telah tersiar kabar AS terus menambah kapal perang dan pesawat tempur mendekati Iran. Kapal Induk USS Abraham Lincoln kini telah berada di Laut Arab dengan didampingi tiga kapal perusak berpeluncur rudal. Selain itu, ada tiga kapal tempur pesisir di sekitar Laut Arab.
Ada tiga alasan yang menjelaskan mengapa intervensi militer ke Iran cenderung berbahaya. Pertama, biaya eskalasinya terlalu tinggi. Secara umum, kajian O’Rouke (2018) menyebut bahwa intervensi militer tidak terlalu disukai karena biayanya, baik itu biaya finansial maupun reputasi, terlalu besar jika dibandingkan dengan opsi tertutup.
Kedua, risiko regional terlalu besar dan implikasinya terhadap pasar energi global terlalu serius. Hal ini terkait dengan signifikansi Selat Hormuz yang dikendalikan Iran sebagai titik sumbat (choke point) penting dalam distribusi minyak global.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/14/c5c50708-f544-4065-be7c-f414cadeee8c.jpg)
Selain itu, temuan dari dataset intervensi tersebut juga menunjukkan bahwa alasan kemanusiaan, mengingat alasan ini yang paling sering dipropagandakan saat ini, menjadi alasan yang paling kurang sering digunakan. Sebaliknya, alasan yang lebih sering dipakai untuk melakukan intervensi adalah kebutuhan untuk menjamin keamanan kolektif atau, dengan kata lain, adanya serangan militer terhadap mitra aliansi AS di kawasan.
Dari penjelasan tersebut, instabilitas di Iran memang tidak dapat dilepaskan dari tekanan eksternal yang terstruktur dan berkepanjangan. Tidak hanya terkait dengan Israel, tekanan tersebut juga berkelindan dengan pertarungan geopolitik global yang lebih rentan dan memiliki konsekuensi struktural yang lebih luas dan panjang. Selama Iran tetap memainkan peran strategis dalam stabilitas pasokan energi China, tekanan AS kemungkinan besar akan terus berlanjut.
Penulis:
Kris MadaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra