Kompas.id Brief

Mengapa Bali Bisa Diterjang Banjir Besar?

Hingga Kamis (11/9/2025), 14 orang tewas akibat diterjang banjir besar di Bali. Banjir juga merusak infrastruktur dasar di berbagai titik. Mengapa ini bisa terjadi?

12 Sep 2025 08:00 WIB · Lingkungan

Oleh Redaksi

Apa yang Bisa Anda pelajari dari artikel ini?

1. Bagaimana kondisi terkini di Bali setelah diterjang banjir sejak Selasa (9/9/2025)?

2. Mengapa banjir besar bisa terjadi di Bali?

3. Bagaimana upaya pemerintah mengatasi dampak banjir di Bali?

4. Daerah mana lagi yang harus mewaspadai banjir besar selain Bali dan NTT?

1. Bagaimana kondisi terkini di Bali setelah diterjang banjir sejak Selasa (9/9/2025)?

copy title

Bali diterjang banjir besar sejak Rabu (10/9/2025). Hingga Kamis (11/9/2025), jumlah korban tewas akibat banjir menjadi 14 orang. Selain itu, masih ada dua orang yang belum ditemukan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali I Wayan Suryawan mengatakan, ada 5 tambahan korban jiwa dari sebelumnya 9 orang tewas. Empat orang di antaranya korban yang sebelumnya dinyatakan hilang dan satu korban tewas lainnya tambahan dari Kabupaten Gianyar.

Mengacu pada data terbaru yang diterima BPBD Bali, hingga Kamis siang, ada 210 peristiwa bencana di beberapa wilayah di Bali. Untuk banjir ada 144 titik. Dari jumlah itu, terbanyak adalah di Denpasar sebanyak 81 titik, Gianyar 14 titik, Badung 12 titik, Tabanan 10 titik, Jembrana 23 titik, dan Karangasem 4 titik.

Selain itu, ada tanah longsor di 27 titik. Titik tanah longsor terbanyak berada di Karangasem dengan 12 titik, diikuti Tabanan 7 titik, Gianyar 5 titik, serta Klungkung dan Badung masing-masing 2 titik dan 1 titik.

Selain menimbulkan korban jiwa, banjir di Bali mengakibatkan dua jembatan putus atau rusak di Gianyar dan Karangasem. Adapun bangunan yang rusak akibat banjir sebanyak 474 unit. Bangunan yang rusak itu umumnya berupa kios dan ruko pedagang di pasar yang terdampak.

Menurut Suryawan, total kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan oleh terendamnya 96 ruko di Jalan Sulawesi dan Pasar Kumbasari mencapai Rp 25,5 miliar. Adapun jumlah pengungsi akibat banjir mencapai 562 orang. Rinciannya, 235 orang di Denpasar dan tersebar di enam lokasi, serta 327 orang di Jembrana yang tersebar di lima lokasi.

Selain banjir dan tanah longsor, BPBD Bali juga mencatat ada pohon tumbang, jalan rusak, dan bangunan jebol yang tersebar di Karangasem, Badung, Gianyar, dan Denpasar.

Selain Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga diterjang banjir, terutama di Kabupaten Nagekeo. Sebanyak empat orang tewas akibat banjir di Nageko. Selain itu, empat orang lainnya masih belum ditemukan.

2. Mengapa banjir besar bisa terjadi di Bali?

copy title

Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan, bulan Agustus dan September seharusnya menjadi puncak musim kemarau di sebagian besar NTT dan Bali.

Secara regional, hujan lebat yang memicu banjir ini dipicu oleh aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby. Hal ini memicu hujan lebat yang cukup merata di Bali hingga Nusa Tenggara dan Kalimantan barat daya.

Curah hujan di Stasiun Klimatologi Bali pada 9 hingga 10 September mencapai 385 mm per hari, menjadi yang tertinggi di Indonesia pada hari itu. ”Curah hujan ekstrem di Bali ini merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah di wilayah ini,” kata Siswanto.

Beberapa studi menyebut dampak Gelombang Ekuatorial Rossby terhadap cuaca adalah sering memicu pertumbuhan awan konvektif yang intens yang menimbulkan hujan lebat dan cuaca ekstrem, termasuk yang baru-baru ini terjadi di Bali dan NTB, menyebabkan banjir dan angin kencang. Masalahnya, fenomena ini terjadi di puncak musim kemarau, yang seharusnya tidak mendukung terjadinya hujan ekstrem.

Direktur Eksekutif Walhi Bali Made Krisna Dinata mengatakan, banjir bandang terutama dengan kerusakan di daerah aliran Sungai (DAS) Badung di Denpasar dan Badung merupakan akibat dari salah urus kebijakan tata kelola lingkungan hidup.

Catatan Walhi Bali, kurun 2018-2023, degradasi lahan menjadi bangunan di setiap daerah di Denpasar dan Badung sampai 6 persen. Di Denpasar, lahan untuk hidrologi alami yang beralih fungsi seluas 785 hektar (ha). Di Badung mencakup 1.099 ha, Gianyar 128 ha, dan Tabanan 2.676 ha.

Dengan beralih menjadi bangunan, lahan tidak punya lagi kekuatan untuk menampung air hujan. Apalagi, 9-10 September 2025, hujan turun dengan intensitas ekstrem di Denpasar. Di sisi lain, perubahan fungsi lahan diperparah dengan okupansi bantaran atau sempadan sehingga Sungai Badung menyempit.

Pada 2000-2020, pembangunan hotel, vila, cottage, dan penginapan sudah dua kali lipat. Di satu sisi, ini berkah untuk melayani para pelancong dan turis domestik serta mancanegara. Namun, di sisi lain, ada dampak buruknya pada lingkungan, hidrologi, dan kemampuan alami menghadapi bencana hidrometeorologi.

3. Bagaimana upaya pemerintah mengatasi dampak banjir di Bali?

copy title

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, selain mencari korban, tim juga membersihkan material sisa-sisa banjir. Pembersihan dilakukan dengan peralatan ringan sampai alat berat.

BNPB juga sudah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam beberapa hari ini, diperkirakan curah hujan akibat fenomena gelombang Rossby dan Kelvin sudah tidak terjadi di Bali. Gelombang itu bergeser ke arah barat.

”Jadi yang harus kita intervensi adalah sekarang justru Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Kami juga sudah berkoordinasi dengan kepala daerah di tiga provinsi itu untuk siap siaga dan melaksanakan operasi modifikasi cuaca,” katanya.

Suharyanto mengatakan, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan kementerian atau lembaga lain akan membantu warga mengatasi kerugian yang mereka derita akibat banjir. BNPB memberikan bantuan yang diperlukan masyarakat dan pemerintah daerah.

”BNPB memberikan bantuan kebutuhan dasar, peralatan penanggulangan bencana, seperti pompa dan genset. Selain itu, rumah masyarakat yang mengalami kerusakan akan diganti,” ujarnya.

Di Nagekeo, hingga Kamis (11/9/2025) petang, pencarian korban hilang masih dilakukan petugas dan warga setempat. Korban diduga berada di bawah tumpukan material banjir berupa lumpur, batu, dan kayu. Selain ekskavator, pencarian dilakukan dengan alat seadanya.

Sebelumnya, empat korban tewas berhasil dievakuasi dan dimakamkan petugas gabungan. Mereka adalah Agustinus Lena, Remigius Sopi Bela, Maria Kondriana Nua, dan Francelina Meli Goa. Adapun warga yang masih dicari adalah Mariano Tom Busa Jago, Achiles Agustinus Busa Jago, Sebastiana Soo, dan Desiderius Geraldi Jo.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nagekeo Agustinus Pone melaporkan, korban terbanyak ada di Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo. Banjir terjadi akibat luapan Sungai Teodhae. Di Sawu, tiga orang tewas dan empat lainnya masih hilang.

Menurut Agustinus, bantuan makanan bagi para korban terus disalurkan. Kebutuhan mendesak, seperti obat-obatan, perlengkapan medis, tenda, terpal, dan tempat penampungan air, juga diberikan.

Akibat banjir, warga di Nagekeo kesulitan air bersih. Untuk sementara, warga mendapatkan air bersih dari wilayah terdekat.

4. Daerah mana lagi yang harus mewaspadai banjir besar selain Bali dan NTT?

copy title

Setelah banjir melanda Nusa Tenggara Timur dan Bali, kawasan Indonesia bagian barat, termasuk Jawa dan Sumatera, juga perlu mewaspadai potensi hujan lebat. Gelombang Ekuatorial Rossby dan Madden Julian Oscillation tengah aktif, selain itu juga muncul bibit siklon tropis di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah III Cahyo Nugroho mengatakan, bencana banjir di beberapa tempat di wilayah Bali pada Selasa (9/9/2025) malam disebabkan oleh akumulasi curah hujan harian berada dalam kategori lebat atau di atas 50 milimeter (mm) per hari hingga kategori ekstrem atau di atas 150 mm per hari.

Data BMKG menunjukkan, curah hujan di Stasiun Klimatologi Bali pada 9-10 September 2025 mencapai 385,5 mm, merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah di kawasan ini. Sementara curah hujan di Stasiun Geofisika Denpasar mencapai 188,4 mm dan Stasiun Meteorologi I Gusti Ngurah Rai 98,7 mm.

Menurut Cahyo, potensi hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Bali.

Sementara itu, peneliti iklim BMKG, Siswanto, mengatakan, gelombang Rossby bergerak dari timur ke wilayah barat sepanjang sekitar Katulistiwa dengan kecepatan relatif lambat, sekitar 5-10 meter per detik. ”Jadi, setelah memicu hujan lebat di NTT lalu Bali, kalau melihat pergerakan Rossby, diprediksi pada 9-15 September Pulau Jawa berpotensi terdampak kelembaban udara tinggi dan hujan,” katanya.

Selain Gelombang Ekuatorial Rossby, juga ada potensi kombinasi gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) yang juga aktif bergerak, dengan pola pergerakan dari barat ke timur. Sebagaimana Rossby, MJO juga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.

Analisis cuaca harian yang dirilis BMKG menunjukkan, posisi MJO pada 8 September terpantau pada fase 2 (Samudra Hindia) yang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan secara umum di wilayah Indonesia. Secara spasial, MJO ini berada di Samudra Hindia barat Sumatera hingga barat daya Banten, Nias, Sumatera bagian tengah hingga selatan, Selat Sunda dan Banten, yang berpotensi meningkatkan intensitas hujan di wilayah tersebut.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra