Mengapa Como Layak Wakili Italia di Liga Champions Musim Depan?

Como 1907 bisa menjelma sebagai oase bagi Italia di Liga Champions. Bermain menyerang dan andalkan pemain muda adalah anomali ”I Lariani” dibandingkan tim Serie A.

10 Mar 2026 04:24 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Memasuki pekan ke-28 Liga Italia 2025-2026, Como 1907 sudah menduduki peringkat keempat. Posisi yang akan membawa ”I Lariani” berpeluang menjadi duta ke-18 Italia pada kompetisi antarklub Eropa. Di tengah performa buruk raksasa ”Negeri Espreso” di Liga Champions musim ini, Como bisa menghadirkan harapan baru bagi capaian di ajang kontinental terbaik.

Dalam musim ini, Como tercatat sudah dua kali duduk di zona empat besar. Mereka pernah pula menghuni posisi ketiga pada pekan pertama musim ini. Dalam perjalanan musim ini, mereka konsisten berada di zona enam besar.

Target realistis anak asuhan Cesc Fabregas adalah duduk di peringkat keempat. Untuk itu, mereka bersaing langsung menghadapi AS Roma dan Juventus. Duel kontra Roma di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Senin (16/3/2026) pukul 00.00 WIB, adalah kesempatan krusial Como untuk mengekalkan posisi keempat.

Mereka sudah membuktikan mampu menaklukkan Juve dalam dua pertemuan di musim ini. Kemenangan perdana back-to-back atas Juve diciptakan dengan skor 2-0. Mereka mencetak dua gol dan nirbobol kontra ”Si Nyonya Besar”.

Como's Nico Paz, left, and Cagliari's Sebastiano Esposito in action during the Italian Serie A soccer match between Cagliari Calcio and Como in Cagliari, Italy, Saturday March 7, 2026. (Gianluca Zuddas/LaPresse via AP)

Pada 10 pertandingan sisa musim ini, tantangan terberat I Lariani tersisa menghadapi Roma, lalu Inter dan Napoli di bulan April mendatang. Sisa tujuh gim lainnya adalah ujian konsistensi Fabregas untuk menyajikan konsistensi timnya kontra tim-tim di bawah peringkat mereka.

Setidaknya terdapat dua kekuatan utama Como bisa naik kelas dari tim medioker menjadi papan atas di Liga Italia musim ini. Hal itu pula yang merupakan modal mereka untuk menjelma sebagai wajah andalan baru Italia di kancah Liga Champions mulai musim 2026-2027.

Proyek ”calcio europeo”

Como menjalani transformasi signifikan sejak dimiliki oleh Grup Djarum asal Indonesia pada 2019. Menariknya, mereka adalah satu-satunya tim yang diasuh oleh salah satu pemilik. Fabregas adalah pemegang saham minoritas Como bersama sahabatnya kala membela Arsenal, Thierry Henry.

Kolaborasi ”gado-gado” antarbangsa itu menjadi napas Como membangun tim ketika mulai menapaki ambisi lolos ke Serie A pada musim 2023-2024. Hingga akhirnya bisa kembali ke kompetisi kasta tertinggi Italia setelah absen 21 tahun pada musim 2024-2025.

Perjalanan itu membuat Como memiliki struktur tim yang jelas. Dalam dua musim bersaing di Serie A, mereka menggagas proyek ”spanyolisasi” dengan membawa banyak pemain asal ”Negeri Matador”. Hal itu tidak lepas dari kebutuhan taktik dan rencana permainan Fabregas yang sangat terinspirasi tiki-taka khas Barcelona.

Mustahil bagi Fabregas untuk menerapkan sepak bola menyerang dengan bertumpu pada bakat-bakat lokal alias Italia. Tim pun dibangun dari pemain-pemain yang sudah mengenal sepak bola menyerang khas Spanyol, seperti Sergi Roberto, Nico Paz, Maximo Perrone, dan Alberto Moreno.

Juventus players look dejected after Como scored a goal during the Italian Serie A soccer match between Juventus and Como in Turin, Italy, Saturday, Feb. 21, 2026. (Marco Alpozzi/LaPresse via AP)

Paz dan Perrone memang tidak lahir di Spanyol. Tetapi, Paz tumbuh melalui akademi Real Madrid. Perrone pernah merasakan asuhan Pep Guardiola di Manchester City.

Gagasan calcio europeo atau sepak bola Eropa dalam tubuh Como semakin terlihat musim ini. Fabregas, seperti gurunya, Arsene Wenger, tidak memedulikan asal negara pemain ketika mengasuh Arsenal. Tak heran, Arsenal adalah tim dengan kuantitas pemain Inggris terminim setiap musim di bawah kendali Wenger.

Fabregas pun begitu. Dari 24 pemain yang sudah tampil di 28 gim Liga Italia musim ini, Fabregas hanya sekali memasukkan pemain asal Italia. Ia adalah bek Edoardo Goldaniga yang sudah membela Como sejak paruh kedua Serie B 2023-2024.

Pemain yang paling dominan di Como berpaspor Spanyol dengan jumlah enam pemain. Itu masih bisa pula ditambah empat pemain yang sudah pernah berkarier di Spanyol, yaitu Paz, Perrone, Assane Diao, dan Diego Carlos.

Selain itu, Fabregas mengandalkan pemain asal Perancis, misalnya Maxence Caqueret, Lucas Da Cunha, dan Jean Butez yang tak tergantikan di bawah mistar gawang.

Jerman dan Kroasia juga memiliki perwakilan dua pemain andalan di skuad Como musim ini. Duo Jerman adalah Nicolas-Gerrit Kuhn dan Marc-Oliver Kempf, sedangkan dua pemain asal Kroasia adalah Ivan Smolcic dan Martin Baturina.

Napoli's Antonio Vergara, right, and Como's Ivan Smolcic battle for the ball during an Italian Cup quarterfinal soccer match, Tuesday, Feb. 10, 2026, in Naples, Italy. (Alessandro Garofalo/LaPresse via AP)

Keberadaan pemain internasional itu menjadikan identitas Como serupa klub Inggris yang tak kenal batas geografi untuk membangun skuad. Lalu, mereka juga ber-DNA Spanyol dari karakter permainan dan tidak ragu memberikan kesempatan kepada pemain-pemain muda.

I Lariani, tim dengan jumlah pemain di bawah 23 tahun terbanyak, telah bermain lebih dari 20 laga di Serie A musim ini. Terdapat delapan pemain berstatus U-23 yang sudah tampil di sepanjang laga itu. Rerata usia skuad mereka 26,2 tahun, masih lebih muda dari rata-rata 26,6 tahun pemain yang berkarier di Serie A musim ini.

”Como berinvestasi kepada pemain-pemain muda. Walaupun beberapa dari mereka berharga murah, mereka memiliki kualitas dunia,” kata Fabregas seusai timnya menang atas Cagliari, Sabtu (7/3/2026), dilansir Corriere dello Sport.

Permainan penuh inisiatif

Fabio Capello, pelatih legendaris Italia, mengecam kualitas performa tim-tim Italia, terutama Inter Milan dan Napoli, yang berstatus tim terbaik Italia saat ini akibat gagal melangkah ke babak 16 besar Liga Champions 2025-2026. Kata Capello, tim Italia gagal beradaptasi dengan kebutuhan permainan di Eropa yang agresif, menyerang, dan tidak pasif.

”Tim-tim Italia bermain terlalu lambat. Kita butuh tim yang berani menyerang dan tampil dengan penuh inisiatif demi bisa bersaing dengan tim-tim Eropa,” ucap Capello, dilansir La Gazzetta dello Sport, awal Maret lalu.

Kebutuhan permainan penuh inisiatif untuk menekan dan mendominasi permainan itu ada dalam identitas Como musim ini. Catatan 61 persen penguasaan bola per gim dan 87 persen operan akurat per gim merupakan torehan statistik tertinggi di Liga Italia 2025-2026.

Como pun masuk ke dalam empat besar tim dengan koleksi tembakan tepat sasaran tertinggi di Italia berkat 14 tembakan mengarah ke gawang per laga. Mereka mengkreasi tiga peluang per gim dan hanya kalah dari Inter Milan, AC Milan, serta Juventus. Alhasil, jumlah 46 gol Como hanya kalah dari Inter (64 gol) dan Juve (50 gol).

Permainan menyerang Como itu bak anomali di tengah iklim pragmatis tim-tim terbaik Italia saat ini. Meski begitu, I Lariani tidak mengacuhkan pertahanan mereka.

Como's Spanish head coach Cesc Fabregas gestures during the Italian Serie A football match between AC Milan and Como at the San Siro Stadium in Milan, northern Italy, on February 18, 2026. (Photo by Piero CRUCIATTI / AFP)

Como adalah tim dengan performa defensif terbaik di Italia saat ini. Catatan kemasukan 21 gol hanya lebih buruk dari Milan (20 gol). Kemudian, koleksi 13 laga nirbobol juga sekadar di bawah catatan Inter (15 laga nirbobol).

Selain itu, Como bukan tim yang mengandalkan kebintangan pemain. Urusan gol sudah dibagi kepada 14 pemain. Paz pun tidak sendirian sudah mencetak sembilan karena bersanding dengan Anastasios Douvikas.

Sebanyak 11 pemain telah memberikan umpan berbuah gol bagi rekan setimnya. Jesus Rodriguez adalah ”raja” asis sementara Como berkat sumbangan tujuh asis.

Berkat penampilan konsisten dan kolektif itu, Como mampu tampil sesuai ekspektasi—berdasarkan perhitungan supercomputer Opta. Koleksi 51 poin mereka sedikit melebihi 50 expected points (XPTS). Juga, catatan selisih 25 gol melampaui 19,7 expected goals difference (XGD).

Ketika disinggung kans timnya tampil di Liga Champions musim depan, Fabregas enggan sesumbar. ”Kami belum pada capaian itu. Kami memang sudah berada di jalan yang tepat, tetapi masih banyak gim yang akan dijalani. Saya melihat perkembangan dari permainan kami,” ucap Fabregas.

Selain berada di jalur menuju Liga Champions, Como berpeluang pula mengejar trofi mayor perdana dalam 118 tahun usia klub. Mereka bersaing dengan Inter untuk memperebutkan tiket final Coppa Italia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti