Kompas.id Brief

Mengapa Daerah Selatan Jawa Rawan Longsor?

Bencana tanah longsor terjadi dalam waktu berdekatan di dua daerah di Jateng. Peristiwa ini kembali jadi pengingat tentang ancaman longsor di daerah selatan Jawa.

19 Nov 2025 08:00 WIB · Lingkungan

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Oleh Tim Kompas

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

1. Bagaimana kronologi bencana tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara?

2. Berapa jumlah korban tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara?

3. Bagaimana kondisi lokasi tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara?

4. Faktor apa saja yang menyebabkan wilayah selatan Jawa rawan longsor?

Bagaimana kronologi bencana tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara?

copy title

Dalam waktu yang berdekatan, dua wilayah di Jawa Tengah dilanda bencana tanah longsor yang merenggut korban jiwa. Pada Kamis (13/11/2025) sekitar pukul 20.00 WIB, longsor terjadi di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.

Bencana tanah longsor itu terjadi setelah hujan deras turun sejak Kamis siang. Longsoran tanah yang terjadi itu kemudian menerjang sejumlah rumah warga. Korban jiwa akibat bencana tersebut pun tak terhindarkan.

Sementara itu, pada Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 15.30 WIB, terjadi bencana tanah longsor yang menerjang pemukiman di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.

Tim SAR gabungan dan warga Sukarelawan mendatangi lokasi longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (18/11/2025). Akses warga dan relawan menuju titik utama lokasi bencana dibatasi karena pergerakan tanah masih terus terjadi dan berisiko. Longsor yang terjadi pada 16 November 2025 mengakibatkan  2 warga meninggal dunia, sekitar 27 warga masih dalam pencarian, dan sedikitnya 823 jiwa mengungsi . 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Warga Dusun Situkung, Ruswanto (51), menyebut, peristiwa tanah longsor itu terjadi sangat cepat. ”Kejadiannya cepat banget, Mas. Tiba-tiba tanah longsor datang. Saya sedang di luar dekat rumah,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (18/11/2025).

Sesudah mengetahui terjadi tanah longsor, Ruswanto cepat-cepat kembali ke rumah untuk mencari anggota keluarganya. Mereka kemudian menyelamatkan diri ke kawasan hutan di perbukitan, lalu diselamatkan oleh tim SAR dan dibawa ke lokasi pengungsian.

Berapa jumlah korban tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara?

copy title

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, hingga Selasa kemarin, ada 18 korban meninggal dalam bencana longsor itu. Sementara itu, lima orang masih dicari.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Cilacap, Sumbowo, menyebut, penanganan bencana tanah longsor di Desa Cibeunying terus dilakukan. Operasi pencarian korban hilang juga terus dilakukan.

”Memang alat berat dan tim sukarelawan sudah cukup banyak, tetapi menentukan lokasi korban ini ada di mana yang sulit. Anjing pelacak juga kesulitan karena timbunan tanahnya terlalu dalam karena mungkin daya ciumnya tidak sampai ke sana. Kedalaman tanahnya itu 3-4 meter,” ujar Sumbowo.

Pemandangan dari udara lokasi longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (18/11/2025). Akses warga dan relawan menuju titik utama lokasi bencana dibatasi karena pergerakan tanah masih terus terjadi dan berisiko. Longsor yang terjadi pada 16 November 2025 mengakibatkan  2 warga meninggal dunia, sekitar 27 warga masih dalam pencarian, dan sedikitnya 823 jiwa mengungsi . 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Di Banjarnegara, berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Tanah Longsor Kecamatan Pandanarum, total warga yang terdampak bencana itu mencapai 937 orang. Hingga Selasa terdapat 2 korban meninggal, sedangkan 26 orang lainnya berstatus dalam pencarian.

Bencana tanah longsor di Banjarnegara juga mengakibatkan 48 rumah rusak berat. Adapun 134 rumah, 3 warung, dan 2 mushala rusak ringan. Longsoran tanah juga menimbun 800 meter jalan desa dan 670 meter saluran air. Sebanyak 15 ekor sapi dan 125 ekor kambing pun turut terdampak.

Bagaimana kondisi lokasi tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara?

copy title

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan hasil analisis Badan Geologi, area sekitar lokasi longsor di Cilacap berpotensi mengalami gerakan tanah susulan.

Wilayah itu juga disebut masuk zona prakiraan gerakan tanah menengah. Dari data morfologi, lokasi itu berupa perbukitan dengan kemiringan landai-curam. Secara geologi, tanah di area ini merupakan tanah pelapukan tebal, berwarna coklat gembur, lepas, dan jenuh air dengan ketebalan lebih dari 10 meter.

Sementara itu, berdasarkan laporan asesmen kebencanaan, lokasi tanah longsor di Banjarnegara berada dalam kemiringan sedang sampai ekstrem. Di bagian mahkota atau puncak longsoran, kemiringannya 80 derajat. Lokasi di dekatnya berupa persawahan dengan sistem terasering dan satuan-satuan permukiman atau hunian berkelompok.

Warga melihat lokasi terdampak tanah longsor hingga menimbun rumah warga di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025). Bencana tanah longsor yang terjadi pada Kamis (13/11/2025) malam itu menyebabkan 16 rumah tertimbun, tiga orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan 20 lainya masih dalam proses pencarian. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/agr

Kondisi geologi lokasi tanah longsor di Banjarnegara berupa batu pasir, batu lempung, dan breksi andesit. Lapisan tanah ini terbentuk amat lama dari sedimentasi di mana bagian tanah longsor mengalami pelapukan amat tinggi.

Sesuai data geologi Banjarnegara-Pemalang, lokasi tanah longsor itu tidak masuk dalam sesar atau zona patahan aktif. Namun, diketahui ada rekahan atau patahan baru dan terus berkembang. Di musim hujan, rekahan menjadi jenuh air dan rentan bergerak.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara Junaedi mengatakan, retakan atau rekahan tanah di lokasi itu sudah muncul sejak tahun 2017. ”Tetapi, tidak disadari dan tidak dilaporkan oleh masyarakat,” katanya.

Faktor apa saja yang menyebabkan wilayah selatan Jawa rawan longsor?

copy title

Dalam acara Disaster Briefing Upaya Penanganan Longsor Cilacap, Senin (17/11/2025) sore, Abdul Muhari mengatakan, Jateng menjadi salah satu provinsi yang paling sering mengalami longsor dan banjir bandang setelah Jawa Barat.

Jika dilihat dari topografinya, baik Jabar, Jateng, maupun Jawa Timur, rata-rata wilayah yang rawan longsor ada di bagian tengah ke selatan. Di Jabar, ada Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Di Jateng, ada Cilacap, Banjarnegara, dan Kebumen. Sementara di Jatim ada Malang, Batu, dan Trenggalek.

”Kalau dilihat karakteristiknya, tanah di Jabar dan Jateng bagian tengah ke selatan, kan, gembur. Porositisnya besar. Kalau misalnya ada rekahan, tak ada rekahan pun, kalau terkena hujan intensitas tinggi, riskan terjadi longsor. Ada titik saturasinya, kemudian akan membawa lapisan tanah di bagian atas meluncur,” papar Muhari.

Pada hari kelima operasi, tim SAR gabungan mengevakuasi korban longsor yang tertimbun di Dusun Cibuyut, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (17/11/2025).

Guru Besar Bidang Ilmu Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Universitas Brawijaya, Malang, Adi Susilo, mengatakan, Pulau Jawa bagian tengah ke selatan terbentuk dari kapur hasil pengangkatan dari laut. Kapur merupakan endapan dari laut yang kemudian tertimbun lapisan-lapisan tanah.

Lapisan tanah di wilayah itu dahulu terpaku oleh banyak tumbuhan. Akar tumbuhan tembus sampai ke bawah dan menjadi penahan alami. Namun, belakangan ini, banyak tanaman mulai hilang akibat kegiatan manusia. Di sisi lain, kawasan selatan Jawa umumnya berupa perbukitan dengan kemiringan yang cukup terjal. Kondisi itulah yang menyebabkan wilayah ini rawan longsor.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tim Kompas
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto