Mengapa Wilayah Jawa Bagian Selatan Mudah Longsor?

Wilayah Jawa selatan sering mengalami tanah longsor. Selain curah hujan tinggi, struktur tanah dan wilayahnya yang berbukit-bukit juga menjadi faktor pendukung.

18 Nov 2025 11:53 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI BPBD CILACAP

Oleh Defri Werdiono

Hingga Selasa (18/11/2025) pagi, masih ada 34 warga yang dilaporkan hilang dalam bencana tanah longsor di Banjarnegara dan Cilacap, Jawa Tengah, yang masih dalam pencarian. Mereka terbagi atas 7 korban di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, dan 27 lainnya di Desa/Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.

Di Cilacap, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan berhasil mengevakuasi 16 korban meninggal dalam empat hari proses pencarian. Cuaca yang sering hujan menjadi kendala bagi tim pencari untuk menemukan dan mengevakuasi korban. Selain kondisi medan longsoran yang relatif besar, panjang bidang luncur longsor di Cilacap juga memanjang sekitar 900 meter dengan beda tinggi 100 meter.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis, Selasa pagi, mengatakan, berdasarkan hasil analisis Badan Geologi, di sekitar lokasi terdampak longsor di Majenang berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

Wilayah itu masuk zona prakiraan gerakan tanah menengah. Berdasarkan data morfologi, lokasi tersebut berupa perbukitan dengan kemiringan landai-curam. Secara geologi, tanah di area ini merupakan tanah pelapukan tebal, berwarna coklat gembur, lepas, dan jenuh air dengan ketebalan lebih dari 10 meter.

Saat memberikan paparan pada Disaster Briefing Upaya Penanganan Longsor Cilacap”, Senin (17/11/2025) sore, Muhari mengatakan bahwa Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang paling sering mengalami longsor dan banjir bandang setelah Jawa Barat.

Jika dilihat dari topografinya, baik Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur rata-rata wilayah yang rawan longsor ada di bagian tengah ke selatan. Di Jawa Barat ada Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Di Jawa Tengah ada Cilacap, Banjarnegara, dan Kebumen. Sementara di Jawa Timur ada Malang, Batu, dan Trenggalek.

Longsor mengubur dua belas rumah di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (14/11/2025).

Di Jawa Tengah, dalam 10 tahun terakhir bencana paling menonjol terjadi pada 2017 dan 2020. Daerah yang paling sering terkena adalah Banjarnegara dan Cilacap dengan korban cukup signifikan. BNPB mencatat, jumlah korban menderita dan mengungsi pada periode 2015-2024 secara berurutan adalah 13.351 jiwa dan 9.641 jiwa.

”Kalau dilihat karakteristiknya, tanah di Jabar dan Jateng bagian tengah ke selatan, kan, gembur. Porositisnya besar. Kalau misalnya ada rekahan, tak ada rekahan pun, kalau terkena hujan intenstitas tinggi, riskan terjadi longsor. Ada titik saturasinya, kemudian akan membawa lapisan tanah di bagian atas meluncur,” ujar Muhari.

Saat dihubungi secara terpisah, Guru Besar Bidang Ilmu Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Universitas Brawijaya Malang Adi Susilo mengatakan, Pulau Jawa bagian tengah ke selatan terbentuk dari kapur hasil pengangkatan dari laut. Kapur merupakan endapan dari laut yang kemudian tertimbun lapisan-lapisan tanah (soil).

Lapisan tanah ini dulunya terpaku oleh banyaknya tumbuhan. Perakaran tumbuhan tembus sampai ke bawah dan menjadi penahan alami. Namun, belakangan ini, perakaran tanaman itu banyak yang mulai hilang akibat kegiatan manusia. Sementara di sisi lain, kawasan selatan Jawa umumnya berupa perbukitan dengan kemiringan yang cukup terjal.

”Mungkin dulu longsor juga terjadi. Namun, saat itu permukiman belum banyak sehingga kurang diketahui publik, tidak terekam semudah seperti saat ini. Dengan kontur tanah yang miring, lalu diterpa hujan dengan intensitas tinggi, ditambah kejenuhan air karena tidak bisa meresap ke bawah, maka berpotensi terjadinya longsor,” katanya.

Lapisan tanah di sisi selatan Jawa ini berbeda dengan sisi utara yang rata-rata terjadi akibat endapan fluvial atau sedimen dari sungai-sungai. Diketahui, banyak sungai bermurara ke pesisir utara Jawa. Sementara di sisi lain, wilayah sisi utara cenderung landai dengan tinggi sekitar 100 meter, lebih rendah dari sisi selatan yang bisa mencapai 500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Longsor mengubur dua belas rumah di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (14/11/2025).

”Sebetulnya sama-sama bahaya, tetapi problemnya beda. Kalau di sisi utara ancamannya banjir rob dan ambles karena eksploitasi air tanah berlebihan, seperti di Semarang dan Jakarta, sedangkan di sisi selatan, ya, itu tadi, longsor,” kata Adi Susilo, yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya itu.

Untuk mengeliminasi dampak, menurut dia, rencana pembangunan rumah dan bangunan di daerah yang berada di bawah bukit agar diperhitungkan atau ditinjau kembali. Dulu, hal-hal semacam ini tidak pernah jadi persoalan lantaran bangunan di bawah bukit belum masif seperti saat ini. Sementara di sisi lain, air hujan tak bisa lagi langsung meresap ke dalam tanah.

Saat memaparkan Disaster Briefing, Muhari juga menyatakan bagaimana memperbaiki bentang alam dan lingkungan yang ada secara signifikan, termasuk soal vegetasi. Namun, hasil reboisasi tidak akan nampak dalam waktu singkat atau 3-5 tahun, tetapi lebih lama, yakni 15-20 tahun.

Sementara itu, dikutip dari laman vsi.esdm.go.id, Badan Geologi memberikan tanggapan terkait longsor di Cilacap bahwa morfologi lokasi terdampak bencana berupa perbukitan struktural bergelombang sedang dengan kemiringan landai curam. Ketinggian lokasi terdampak 22-115 mdpl. Bentuknya seperti perbukitan yang terpotong dengan beda tinggi 50-90 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar 1308-5 Majenang (Kastowo dan Suwarna, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1998), lokasi terdampak bencana terletak pada batas kontak batuan Formasi Tapak (Tpt) dan Formasi Kumbang (Tmpk). Formasi Tapak berada di atas Formasi Kumbang. Kondisi itu dipengaruhi struktur geologi berupa lipatan dan patahan.

Tanah pelapukan terlihat sangat tebal, berwarna coklat, gembur, lepas, dan jenuh air dengan ketebalan lebih dari 10 meter. Struktur geologi secara regional dipengaruhi proses tektonik berupa lipatan, sesar naik, dan sesar geser.

Foto drone lokasi dua hari pascabencana longsor di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (17/11/2025).

Oleh karena itu, merujuk peta prakiraan wilayah gerakan tanah Jateng dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi pada November 2025, daerah bencana di Majenang termasuk ke dalam zona prakiraan terjadinya longsor atau gerakan tanah menengah. Zona yang paling rawan terutama di kawasan yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau lereng yang mengalami gangguan.

Adapun lokasi bencana di Pandanarum berada pada morfologi perbukitan struktural bergelombang sedang dengan kemiringan lereng landai-curam. Beda tinggi lereng berkisar 70–100 meter dengan ketinggian lokasi 450–1.048 mdpl. Morfologi menunjukkan bentuk lereng terpotong dengan beberapa indikasi gerakan tanah lama. 

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan (Condon dkk 1996), lokasi berada pada kontak Formasi Kumbang (Tmpk) dan Formasi Halang (Tmph). Formasi Kumbang berupa lava andesit–basalt, breksi, tuf, breksi batuapung, tuf pasiran, dan sisipan napal. Sedangkan Formasi Halang berupa batupasir tufan, konglomerat, napal, serta batu lempung yang bersifat plastis dan mudah jenuh air.

Struktur geologi di sekitar lokasi berupa sesar mengiri berarah utara-selatan di sebelah barat, dan sesar naik berarah barat laut-tenggara di sebelah utara. Zona lemah struktur ini diduga ikut memengaruhi kestabilan lereng. Batuan dari Formasi Halang diperkirakan menjadi bidang gelincir dari gerakan tanah ini.

Berdasarkan peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah Jateng dari PVMBG Badan Geologi pada bulan November 2025 menyebut, daerah bencana di Pandanarum, Banjarnegara, termasuk zona prakiraan gerakan tanah menengah. Artinya, wilayah ini dapat mengalami kejadian gerakan tanah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing pemotongan jalan, dan pada lereng yang mengalami gangguan.

Gerakan tanah lama dapat aktif kembali dipicu oleh curah hujan tinggi dan atau getaran. Pada umumnya kisaran kemiringan lereng lebih dari 9 derajat, tergantung pada kondisi geologi setempat dan lereng yang dibentuk oleh bahan timbunan.

Situasi pengungsian warga terdampak longsor di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (16/11/2025) malam.

Faktor pengontrol dan pemicu kejadian longsor ini diduga meliputi lereng curam dengan beda tinggi signifikan; material vulkanik yang menumpang di atas batu lempung-napal Formasi Halang yang merupakan bidang gelincir gerakan tanah yang sering terjadi di Banjarnegara; dan tanah pelapukan yang gembur, mudah runtuh, dan jenuh air.

Selain itu, curah hujan tinggi dan berdurasi lama yang meningkatkan tekanan pori, kemungkinan adanya rembesan atau aliran bawah permukaan, dan pemotongan lereng untuk permukiman atau akses jalan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto