Menteri pendidikan boleh berganti, tetapi kemajuan yang sudah dicapai hendaknya dipertahankan atau bahkan ditingkatkan sembari terus membenahi kekurangan. Salah satu aspek yang masih perlu dilanjutkan di tengah pergantian para pengambil kebijakan pendidikan adalah digitalisasi pendidikan.
Namun, teknologi digital hanyalah alat untuk membantu transformasi pendidikan yang lebih baik. Sedangkan tujuan utama tetap untuk membuat pendidikan bermakna, membangun masyarakat, budaya, perdamaian, toleransi, hingga mengatasi kekerasan.
Selain itu, dibutuhkan infrastruktur pendukung yang memadai untuk dapat mengambil manfaat maksimal dari teknologi digital untuk sektor pendidikan. Sayangnya, hal ini yang, di banyak daerah di Indonesia, kondisinya belum menggembirakan.
Beberapa informasi yang akan Anda dapatkan dari artikel ini adalah:
- Mengapa digitalisasi tetap penting diteruskan?
- Digitalisasi pendidikan seperti apa yang sebaiknya diwujudkan?
- Bagaimana kondisi infrastruktur pendukung digitalisasi pendidikan di daerah pelosok?
- Hasil seperti apa yang diharapkan dari digitalisasi pendidikan?
Mengapa digitalisasi pendidikan tetap penting diteruskan?
Teknologi digital dapat menjadi alat dan peluang mewujudkan pendidikan publik yang inklusif dan lebih baik. Integrasi teknologi pendidikan dapat menghasilkan inklusi yang lebih besar, memperluas akses, meningkatkan pemerataan, dan mewujudkan pendidikan yang unggul.
Namun, pemanfaatan teknologi digital di dunia pendidikan memerlukan navigasi dan prinsip-prinsip untuk memandu agar dapat memberikan hasil yang maksimal sambil tetap mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan siswa dan guru.
Beberapa waktu lalu, Director and Representative UNESCO Regional Office di Jakarta Maki Katsuno-Hayashikawa mengakui bahwa teknologi alat yang ampuh. Namun, teknologi saja tidak akan mampu mentransformasikan pendidikan menjadi lebih baik. Transformasi digital perlu melibatkan guru, pembantu sekolah, orangtua, dan masyarakat.
Maki mengatakan, pendidikan publik perlu didukung secara daring serta luring. Teknologi digital dalam pendidikan digunakan untuk melengkapi dan memperkaya layanan pendidikan secara tatap muka di sekolah.
Digitalisasi pendidikan seperti apa yang sebaiknya diwujudkan?
Transformasi digital dunia pendidikan semestinya tetap difokuskan untuk memperkuat interaksi antara manusia. Hal ini disebabkan teknologi digital hanya merupakan alat untuk membantu transformasi pendidikan yang lebih baik, sedangkan tujuan utama tetap untuk membuat pendidikan bermakna, membangun masyarakat, budaya, perdamaian, toleransi, hingga mengatasi kekerasan.
”Tujuan transformasi digital di dunia pendidikan bukan soal teknologinya ataupun menyediakan alat digital canggih bagi siswa. Justru tujuan utamanya untuk membangun manusia lebih bijaksana,” kata Mark West, Gateways Lead UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa), beberapa waktu lalu.
Menurut Mark, UNESCO percaya ada banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama untuk meningkatkan layanan sekolah yang lebih baik guna membekali para pelajar kemampuan dan nilai-nilai hidup yang dibutuhkan untuk masa depan. Oleh karena itu, perlu pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan yang bisa diakses secara terbuka. Dengan saling belajar dan berbagi antarnegara, pendidikan dunia yang inklusif dapat diwujudkan.
Bagaimana kondisi infrastruktur pendukung digitalisasi pendidikan di daerah pelosok?
Salah satu infrastruktur penunjang digitalisasi pendidikan adalah jaringan internet yang andal. Ketiadaan jaringan internet akan menghambat proses pembelajaran di sekolah terutama dalam penerapan kurikulum Merdeka Belajar.
Padahal, kurikulum yang mulai diterapkan pada 2020 itu menekankan penggunaan media pembelajaran yang terhubung pada jaringan internet. Banyak kalangan menganggapnya sebagai lompatan besar dalam dunia pendidikan Indonesia. ”Bagus untuk sekolah yang punya internet, kalau kami di perbatasan?” ujar Robert Marthen Matahine, Kepala SMP Negeri Netamauk, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Tak heran, Kurikulum Merdeka di sekolah itu baru diterapkan pada 2024, atau lima tahun setelah diberlakukan secara nasional. Itu pun belum 100 persen karena berbagai kendala. Banyak sekolah lain di NTT mengalami serupa.
Hasil seperti apa yang diharapkan dari digitalisasi pendidikan?
Transformasi digitalisasi pendidikan dengan memanfaatkan teknologi harus mampu menawarkan pendidikan sesuai kondisi dan kebutuhan peserta didik untuk bekembang. Digitalisasi pendidikan tak sekadar pindah dari satu platform pada platform digital lainnya.
Beberapa waktu lalu, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia Arys Hilman Nugraha mengatakan, digitalisasi pendidikan terkait pembelajaran di sekolah belum menyentuh pola pikir dan mental. Terkait buku pelajaran, misalnya, digitalisasi sebatas membuat buku pelajaran cetak menjadi versi PDF yang lebih mudah distribusi dan aksesnya.
”Kalau hanya PDF, ini kemunduran dari konten di era digital, apalagi menuju Society 5.0. Yang harus diperhatikan untuk aspek digitalisasi, khususnya buku pelajaran, mencakup interaksi. Kita belum sampai ke sana, masih asyik ke desain yang diam atau musik dan suara, tetapi belum kuat interaksinya,” kata Arys.
Digitalisasi pendidikan hendaknya tidak sekadar fokus pada pemenuhan alat teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) dan pembuatan platform, tetapi konten-konten pendukung yang interaktif, yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa masa kini dan masa depan juga jadi hal strategis yang perlu disiapkan.
Menteri pendidikan boleh berganti, tetapi kemajuan yang sudah dicapai hendaknya dipertahankan atau bahkan ditingkatkan sembari terus membenahi kekurangan. Salah satu aspek yang masih perlu dilanjutkan di tengah pergantian para pengambil kebijakan pendidikan adalah digitalisasi pendidikan.
Namun, teknologi digital hanyalah alat untuk membantu transformasi pendidikan yang lebih baik. Sedangkan tujuan utama tetap untuk membuat pendidikan bermakna, membangun masyarakat, budaya, perdamaian, toleransi, hingga mengatasi kekerasan.
Selain itu, dibutuhkan infrastruktur pendukung yang memadai untuk dapat mengambil manfaat maksimal dari teknologi digital untuk sektor pendidikan. Sayangnya, hal ini yang, di banyak daerah di Indonesia, kondisinya belum menggembirakan.
Beberapa informasi yang akan Anda dapatkan dari artikel ini adalah:
- Mengapa digitalisasi tetap penting diteruskan?
- Digitalisasi pendidikan seperti apa yang sebaiknya diwujudkan?
- Bagaimana kondisi infrastruktur pendukung digitalisasi pendidikan di daerah pelosok?
- Hasil seperti apa yang diharapkan dari digitalisasi pendidikan?
Mengapa digitalisasi pendidikan tetap penting diteruskan?
Teknologi digital dapat menjadi alat dan peluang mewujudkan pendidikan publik yang inklusif dan lebih baik. Integrasi teknologi pendidikan dapat menghasilkan inklusi yang lebih besar, memperluas akses, meningkatkan pemerataan, dan mewujudkan pendidikan yang unggul.
Namun, pemanfaatan teknologi digital di dunia pendidikan memerlukan navigasi dan prinsip-prinsip untuk memandu agar dapat memberikan hasil yang maksimal sambil tetap mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan siswa dan guru.
Beberapa waktu lalu, Director and Representative UNESCO Regional Office di Jakarta Maki Katsuno-Hayashikawa mengakui bahwa teknologi alat yang ampuh. Namun, teknologi saja tidak akan mampu mentransformasikan pendidikan menjadi lebih baik. Transformasi digital perlu melibatkan guru, pembantu sekolah, orangtua, dan masyarakat.
Maki mengatakan, pendidikan publik perlu didukung secara daring serta luring. Teknologi digital dalam pendidikan digunakan untuk melengkapi dan memperkaya layanan pendidikan secara tatap muka di sekolah.
Digitalisasi pendidikan seperti apa yang sebaiknya diwujudkan?
Transformasi digital dunia pendidikan semestinya tetap difokuskan untuk memperkuat interaksi antara manusia. Hal ini disebabkan teknologi digital hanya merupakan alat untuk membantu transformasi pendidikan yang lebih baik, sedangkan tujuan utama tetap untuk membuat pendidikan bermakna, membangun masyarakat, budaya, perdamaian, toleransi, hingga mengatasi kekerasan.
”Tujuan transformasi digital di dunia pendidikan bukan soal teknologinya ataupun menyediakan alat digital canggih bagi siswa. Justru tujuan utamanya untuk membangun manusia lebih bijaksana,” kata Mark West, Gateways Lead UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa), beberapa waktu lalu.
Menurut Mark, UNESCO percaya ada banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama untuk meningkatkan layanan sekolah yang lebih baik guna membekali para pelajar kemampuan dan nilai-nilai hidup yang dibutuhkan untuk masa depan. Oleh karena itu, perlu pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan yang bisa diakses secara terbuka. Dengan saling belajar dan berbagi antarnegara, pendidikan dunia yang inklusif dapat diwujudkan.
Bagaimana kondisi infrastruktur pendukung digitalisasi pendidikan di daerah pelosok?
Salah satu infrastruktur penunjang digitalisasi pendidikan adalah jaringan internet yang andal. Ketiadaan jaringan internet akan menghambat proses pembelajaran di sekolah terutama dalam penerapan kurikulum Merdeka Belajar.
Padahal, kurikulum yang mulai diterapkan pada 2020 itu menekankan penggunaan media pembelajaran yang terhubung pada jaringan internet. Banyak kalangan menganggapnya sebagai lompatan besar dalam dunia pendidikan Indonesia. ”Bagus untuk sekolah yang punya internet, kalau kami di perbatasan?” ujar Robert Marthen Matahine, Kepala SMP Negeri Netamauk, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Tak heran, Kurikulum Merdeka di sekolah itu baru diterapkan pada 2024, atau lima tahun setelah diberlakukan secara nasional. Itu pun belum 100 persen karena berbagai kendala. Banyak sekolah lain di NTT mengalami serupa.
Hasil seperti apa yang diharapkan dari digitalisasi pendidikan?
Transformasi digitalisasi pendidikan dengan memanfaatkan teknologi harus mampu menawarkan pendidikan sesuai kondisi dan kebutuhan peserta didik untuk bekembang. Digitalisasi pendidikan tak sekadar pindah dari satu platform pada platform digital lainnya.
Beberapa waktu lalu, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia Arys Hilman Nugraha mengatakan, digitalisasi pendidikan terkait pembelajaran di sekolah belum menyentuh pola pikir dan mental. Terkait buku pelajaran, misalnya, digitalisasi sebatas membuat buku pelajaran cetak menjadi versi PDF yang lebih mudah distribusi dan aksesnya.
”Kalau hanya PDF, ini kemunduran dari konten di era digital, apalagi menuju Society 5.0. Yang harus diperhatikan untuk aspek digitalisasi, khususnya buku pelajaran, mencakup interaksi. Kita belum sampai ke sana, masih asyik ke desain yang diam atau musik dan suara, tetapi belum kuat interaksinya,” kata Arys.
Digitalisasi pendidikan hendaknya tidak sekadar fokus pada pemenuhan alat teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) dan pembuatan platform, tetapi konten-konten pendukung yang interaktif, yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa masa kini dan masa depan juga jadi hal strategis yang perlu disiapkan.