Mengapa Dunia Takut pada ”Drone” Iran? Kisah di Balik Kekuatan Shahed-136

Iran terus mengembangkan pesawat nirawak yang mematikan. Salah satunya ialah Shahed-136 yang menggentarkan dunia.

15 Jun 2025 09:09 WIB · Internasional

Oleh M Toto Suryaningtyas

Dalam dunia militer modern yang dipenuhi sistem canggih dan mahal, kemunculan Shahed-136 justru mematahkan banyak asumsi klasik tentang keunggulan teknologi. Pesawat nirawak atau drone buatan Iran ini menjadi simbol baru efektivitas militer era modern: murah, sederhana, dan mematikan. Dalam waktu singkat, Shahed-136 menjelma dari perangkat tak dikenal menjadi senjata favorit dalam konflik berdarah di berbagai penjuru dunia, dari Ukraina hingga Israel.

Shahed-136 adalah drone kamikaze atau drone bunuh diri yang dirancang untuk sekali jalan, tanpa pulang. Begitu diluncurkan, ia akan melayang di udara mencari sasaran hingga akhirnya menukik dan meledak bersama hulu ledaknya. Ditenagai mesin bensin 2-tak sederhana dan baling-baling kayu, drone ini memang terlihat biasa dan tanpa roda pendarat, tanpa desain aerodinamis futuristik, bahkan tanpa rudder. Tapi, justru itulah kekuatannya: sederhana, murah, dan efektif.

Harga per unitnya sekitar 20.000 dollar AS, sangat jauh lebih murah dibandingkan dengan drone Barat seperti MQ-9 Reaper milik AS yang harganya bisa mencapai puluhan juta dollar. Biaya low budget ini memungkinkan produksi massal dan penggunaan dalam strategi swarm attack alias serangan berkerumun yang sulit ditangkal.

Keberhasilan Shahed-136 membuat dua negara adidaya, Rusia dan China, berlomba-lomba membuat tiruannya. Rusia menyebut versinya, yakni drone Geran-2, yang mulai digunakan sejak perang Ukraina memanas tahun 2022. Sementara itu, China meluncurkan varian bernama Sunflower 200, dengan spesifikasi yang hampir identik dengan Shahed-136.

Drone ini bukan hanya simbol aliansi militer baru antara Iran-Rusia-China, melainkan juga mencerminkan pergeseran paradigma senjata modern: dari high-tech ke smart-cheap. Ukraina pun tak tinggal diam. Mereka bertekad membuat versi domestik Shahed-136 guna menyeimbangkan kekuatan drone dalam menghadapi gempuran Rusia.

Drone serang Syahid buatan Iran diluncurkan Rusia ke arah Kota Kyiv, Ukraina, (17/10/2022). (AP/Efrem Lukatsky) FILE - An Iranian Shahed exploding drone launched by Russia flies through the sky seconds before it struck buildings in Kyiv, Ukraine, on Oct. 17, 2022. (AP Photo/Efrem Lukatsky, File) *** Local Caption *** Drone serang Syahid buatan Iran diluncurkan Rusia ke arah Kota Kyiv, Ukraina, (17/10/2022). (AP/Efrem Lukatsky)

Ketangguhan drone Shahed-136 dalam medan perang

Shahed-136 telah digunakan dalam ribuan misi oleh militer Rusia. Laporan Angkatan Bersenjata Ukraina menunjukkan, lebih dari 4.600 unit telah diluncurkan dari 2022 hingga awal 2024. Catatan ini dikumpulkan dari drone yang berhasil mencapai wilayah Ukrana. Dalam satu gelombang serangan, Rusia bisa meluncurkan hingga 130 unit sekaligus sebagai strategi yang bertujuan membingungkan sistem pertahanan udara Ukraina.

Meski desainnya sederhana, daya jelajahnya luar biasa: mencapai 2.000 km, dengan waktu terbang hingga 12 jam. Drone ini dapat terbang rendah di ketinggian 20-30 meter untuk menghindari radar, tetapi juga mampu melesat di ketinggian 5,2 km apabila diperlukan. Serangan dari ketinggian rendah membuatnya sulit dideteksi sekaligus sulit ditembak secara manual. Dengan hulu ledak 20–40 kg, Shahed-136 mampu merusak infrastruktur penting seperti pusat energi dan markas militer.

Meski berasal dari Iran yang dibatasi sanksi internasional, Shahed-136 memanfaatkan komponen dari sejumlah negara. Investigasi Ukraina mengungkap bahwa versi Rusia dari drone ini berisi 55 komponen buatan AS serta suku cadang dari China, Swiss, dan Jepang. Bahkan, mesin utamanya adalah turunan dari Limbach L550E buatan Jerman, yang ditiru oleh pabrikan Iran dan China.

Ironisnya, teknologi lawan justru memperkuat drone ini. Dalam konteks geopolitik, hal ini menunjukkan bagaimana pasar gelap komponen elektronik dan kreativitas rekayasa bisa mengatasi embargo teknologi.

Shahed-136 dikenal dengan desain segitiga khas delta wing yang disebut mirip layang-layang besar. Wajahnya tanpa antena, tanpa kamera canggih, dan tampak seperti potongan pipa aluminium bersayap. Namun, kesan ”murahan” itulah yang menjadikannya unggul: ringan, ringkas, sulit dilacak radar, dan mudah diproduksi.

Analis militer membandingkan Shahed-136 dengan senapan AK-47: tidak canggih, tapi sangat efektif. Filosofinya sama: bisa dibuat di banyak tempat, bisa digunakan oleh siapa saja, dan mampu membunuh.

Infografik ”Drone” Iran Shahed 136

Reaksi dunia dan ketakutan global

Shahed-136 telah menyerang kota-kota besar Ukraina. Dan, dalam konteks konflik Israel-Palestina, drone ini juga digunakan oleh milisi yang didukung Iran seperti Hamas dan Hizbullah. Serangan dengan Shahed-136 menyebarkan ketakutan tak hanya karena kerusakan fisik, tetapi juga dampak psikologis: drone ini bisa datang kapan saja, tanpa bisa dideteksi lebih awal.

Di media sosial beredar banyak video serangan drone ini. Salah satu video dari helikopter Ukraina memperlihatkan Shahed-136 terbang rendah dengan suara khas seperti mesin pemotong rumput, lalu dijatuhkan dengan senapan mesin. Tapi, insiden semacam itu sangat jarang, justru mayoritas serangan Shahed-136 berhasil mengenai sasaran.

Meski ampuh, Shahed-136 bukan tanpa celah. Ukraina kini mengembangkan sistem pertahanan konvensional seperti meriam antiserangan udara manual dan kendaraan bersenjata ringan. Dengan bantuan senjata dari negara Barat seperti Flakpanzer Gepard dari Jerman, efektivitas drone Iran ini mulai mendapat tantangan.

Namun, adaptasi Iran dan sekutunya berjalan cepat. Versi lebih canggih dengan kemampuan jamming radar dan bahan bodi lebih stealth mulai bermunculan. Bahkan, sistem navigasi satelitnya kini berbasis GLONASS Rusia, menjadikannya mandiri dari sistem GPS Barat.

Kisah sukses Shahed-136 adalah cerita tentang bagaimana efisiensi mengalahkan kompleksitas. Ia tidak secanggih Reaper atau Predator, tapi justru itulah intinya: bisa diproduksi massal, dijalankan tanpa infrastruktur mahal, dan tetap menimbulkan efek strategis di medan tempur.

Bagi Iran, drone ini adalah simbol kemandirian dan kecerdikan. Bagi dunia, ia adalah pengingat bahwa perang modern tak selalu dimenangi oleh teknologi paling mahal, tetapi oleh senjata yang paling efisien, mematikan, dan sulit dilawan. Inilah yang menjadi ketakutan dunia pada drone Iran. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

M Toto Suryaningtyas
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto