Hal yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:
- Bagaimana sejarah emas hingga jadi pilihan investasi yang populer?
- Apa yang membuat harga komoditas emas terus merangkak naik?
- Seperti apa potensi investasi dan bisnis emas di Indonesia?
- Sejauh mana minat masyarakat untuk berinvestasi emas digital?
- Seperti apa risiko investasi emas?
Bagaimana sejarah emas hingga jadi pilihan investasi yang populer?
Emas dikenal di Nusantara sejak zaman prasejarah. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa emas telah digunakan masyarakat Indonesia kuno untuk berbagai keperluan, termasuk perhiasan dan ritual.
Pada zaman modern, industri pertambangan emas Indonesia mulai berkembang pada masa kolonialisme Belanda. Pada masa ini, eksplorasi dan penambangan emas dilakukan secara lebih sistematis. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sektor pertambangan emas mengalami nasionalisasi dan pengelolaan tambang-tambang emas diserahkan kepada perusahaan negara, PT Aneka Tambang (Antam).
Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, industri pertambangan emas di Indonesia makin berkembang pesat. Banyak perusahaan tambang internasional yang masuk dan melakukan eksplorasi di beberapa daerah. Tambang Grasberg di Papua, yang dikelola Freeport-McMoRan, menjadi salah satu tambang emas terbesar di dunia.
Pada tahun 1970-an, emas sebagai logam mulia atau aset berharga mulai populer di masyarakat. Terlebih, ketika krisis minyak dan pemberlakuan kebijakan moneter Amerika Serikat yang berdampak terhadap inflasi sehingga mendorong sebagian masyarakat kian tertarik untuk berinvestasi emas.
Apa yang membuat harga emas terus merangkak naik?
Meski emas menjadi aset safe haven atau aset lindung nilai, tahun ini peningkatannya tampak sangat kuat. Di level global, harga emas melonjak ke rekor tertinggi di tahun 2025. Harganya melampaui 3.800 dollar AS per ons, meningkat sebesar 45 persen sejak tahun lalu.
Sejalan dengan tren global, harga emas di Indonesia juga tercatat naik tajam selama periode 2020-2025. Di awal tahun 2020, harga emas per gram masih di bawah Rp 900.000. Namun, memasuki awal Oktober 2025, nilainya sudah menyentuh kisaran Rp 2,237 juta per gram, Kamis (2/10/2025). Level harga itu sekaligus menjadi harga emas Antam tertinggi dalam sejarah yang tercatat sejauh ini.
Melejitnya harga emas tersebut tidak dapat dilepaskan dari emas yang bertindak sebagai tempat berlindung dan penyimpan nilai selama ribuan tahun. Masyarakat sudah mengenal investasi melalui emas.
Alasannya sederhana, apabila disimpan dalam bentuk uang kertas, kemungkinan besar akan terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, jika disimpan dalam bentuk perhiasan emas, sudah pasti akan lebih sulit untuk membelanjakannya.
Meski demikian, lonjakan atau kenaikan tajam harga emas tersebut dapat pula mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi. Sebab, harga emas yang tinggi merupakan cerminan dari upaya para investor untuk mengamankan nilai aset mereka saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan risiko geopolitik global.
Kondisi ini bisa mendorong investor beralih ke emas sebagai aset safe haven sehingga membuat supply logam mulia itu semakin terbatas yang secara otomatis membuat harganya menjadi tinggi.
Seperti apa potensi investasi dan bisnis emas di Indonesia?
Emas menjadi salah satu investasi yang populer di Indonesia lantaran dianggap sebagai investasi yang aman dan menjanjikan karena nilainya yang cenderung naik. Dalam jangka pendek, harga emas memang bergerak fluktuatif. Namun, dalam jangka panjang, nilai emas cenderung bergerak naik. Kenaikan harga emas umumnya di atas rata-rata inflasi. Karena itu, menabung emas sangat cocok untuk investasi jangka panjang.
Di samping itu, keuntungan investasi emas adalah likuiditas yang tinggi. Emas sangat mudah dikonversikan dalam bentuk uang tunai ketimbang instrumen investasi lainnya. Di sisi lain, pasar emas sangat besar dan mudah diakses sehingga emas dapat diperjualbelikan dengan mudah, bahkan ketika kondisi pasar lain sedang sulit. Investasi emas juga berfungsi sebagai diversifikasi portofolio investasi. Nilai emas cenderung naik ketika investasi lain menurun.
Pasar emas di Indonesia juga dinilai cukup kompetitif, dengan banyaknya pelaku usaha yang menawarkan produk emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun logam mulia. Berdasarkan laporan Jakpat yang berjudul ”Indonesia Investment Trends” (2024), aset fisik seperti perhiasan dan logam mulia nyatanya menjadi yang utama diminati para calon investor. Perhiasan menjadi pilihan investasi yang paling diminati oleh 67 persen responden. Selanjutnya, diikuti investasi logam mulia atau tabungan emas sebesar 66 persen.
Sejauh mana minat masyarakat untuk berinvestasi emas digital?
Di tengah popularitas emas, ekosistem emas digital berpotensi tumbuh menjadi alternatif tabungan dan investasi masyarakat. Emas digital adalah bentuk investasi dan kepemilikan emas yang diperdagangkan secara elektronik melalui aplikasi atau platform daring (online), tanpa harus memiliki emas fisik secara langsung.
Investor dapat membeli emas dalam bentuk saldo atau nominal gram di akun digital, dan nilai emas tersebut setara dengan jumlah emas murni yang dimiliki, yang kemudian dapat dicairkan menjadi emas fisik jika diinginkan.
Namun, produk emas digital tersebut tampaknya belum menjadi pilihan bagi banyak keluarga di Indonesia. Ekosistem emas digital belum diketahui publik secara luas.
Jajak pendapat Kompas pada Maret 2023 merekam, 49,7 persen responden memiliki investasi atau tabungan. Separuh lebih dari proporsi tersebut menyebut memiliki emas yang disimpan untuk tujuan investasi. Sayangnya, baru 1 persen responden yang memiliki produk emas digital. Karakter pemilik emas digital juga tersegmentasi pada responden muda berusia 24-39 tahun yang berasal dari kota dengan status ekonomi menengah.
Belum populernya investasi emas digital dipengaruhi oleh beberapa penyebab. Alasan pertama diungkapkan 13,5 persen responden yang menyebut tidak dapat memiliki fisik emas secara langsung. Alasan ini tidak dapat dimungkiri mengingat karakter masyarakat Indonesia yang cenderung memilih emas perhiasan.
Alasan kedua bersifat ekonomi. Sebanyak 12,9 persen responden menganggap harga jual ataupun beli produk emas digital tidak kompetitif. Adapun 7,5 persen responden menyoal adanya biaya administrasi dan pengelolaan yang besar. Terakhir, alasan ketiga adalah belum adanya jaminan keamanan.
Seperti apa risiko investasi emas?
Investasi emas sering kali dianggap sebagai pelindung nilai yang andal saat menghadapi gejolak ekonomi. Namun, di balik kilaunya yang menggiurkan, emas tetap menyimpan berbagai risiko yang perlu dipahami.
Salah satu risiko dalam investasi emas adalah volatilitas harga. Meski secara historis cenderung meningkat dalam jangka panjang, harga emas dapat berubah drastis dalam jangka pendek akibat berbagai faktor, mulai dari perubahan suku bunga global, nilai tukar mata uang, ketidakpastian geopolitik, inflasi, hingga kebijakan bank sentral.
Berbeda dari saham atau properti yang bisa memberi dividen atau sewa bulanan, emas bisa dibilang sebagai aset diam. Artinya, investor hanya bisa mendapatkan keuntungan jika harga emas naik dan berhasil dijual di harga lebih tinggi dari saat pembelian. Hal ini menjadikan emas kurang ideal bagi mereka yang mencari penghasilan rutin dari investasi.
Kendati emas dikenal sebagai aset likuid, dalam situasi pasar yang tidak stabil, menjual emas dengan harga optimal bisa menjadi tantangan tersendiri. Emas dalam bentuk perhiasan atau koin bisa memerlukan waktu lebih lama untuk dijual dibanding emas batangan murni. Selain itu, ada kemungkinan harus menjual dengan harga di bawah pasar jika membutuhkan dana cepat.
Karena harga emas cenderung fluktuatif dalam jangka pendek, instrumen ini lebih cocok untuk tujuan jangka menengah hingga panjang. Jika berencana menyimpan dana hanya dalam hitungan bulan, investasi emas bisa jadi bukan pilihan terbaik karena potensi kerugian dari perubahan harga yang cepat. (LITBANG KOMPAS)
Hal yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:
- Bagaimana sejarah emas hingga jadi pilihan investasi yang populer?
- Apa yang membuat harga komoditas emas terus merangkak naik?
- Seperti apa potensi investasi dan bisnis emas di Indonesia?
- Sejauh mana minat masyarakat untuk berinvestasi emas digital?
- Seperti apa risiko investasi emas?
Bagaimana sejarah emas hingga jadi pilihan investasi yang populer?
Emas dikenal di Nusantara sejak zaman prasejarah. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa emas telah digunakan masyarakat Indonesia kuno untuk berbagai keperluan, termasuk perhiasan dan ritual.
Pada zaman modern, industri pertambangan emas Indonesia mulai berkembang pada masa kolonialisme Belanda. Pada masa ini, eksplorasi dan penambangan emas dilakukan secara lebih sistematis. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sektor pertambangan emas mengalami nasionalisasi dan pengelolaan tambang-tambang emas diserahkan kepada perusahaan negara, PT Aneka Tambang (Antam).
Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, industri pertambangan emas di Indonesia makin berkembang pesat. Banyak perusahaan tambang internasional yang masuk dan melakukan eksplorasi di beberapa daerah. Tambang Grasberg di Papua, yang dikelola Freeport-McMoRan, menjadi salah satu tambang emas terbesar di dunia.
Pada tahun 1970-an, emas sebagai logam mulia atau aset berharga mulai populer di masyarakat. Terlebih, ketika krisis minyak dan pemberlakuan kebijakan moneter Amerika Serikat yang berdampak terhadap inflasi sehingga mendorong sebagian masyarakat kian tertarik untuk berinvestasi emas.
Apa yang membuat harga emas terus merangkak naik?
Meski emas menjadi aset safe haven atau aset lindung nilai, tahun ini peningkatannya tampak sangat kuat. Di level global, harga emas melonjak ke rekor tertinggi di tahun 2025. Harganya melampaui 3.800 dollar AS per ons, meningkat sebesar 45 persen sejak tahun lalu.
Sejalan dengan tren global, harga emas di Indonesia juga tercatat naik tajam selama periode 2020-2025. Di awal tahun 2020, harga emas per gram masih di bawah Rp 900.000. Namun, memasuki awal Oktober 2025, nilainya sudah menyentuh kisaran Rp 2,237 juta per gram, Kamis (2/10/2025). Level harga itu sekaligus menjadi harga emas Antam tertinggi dalam sejarah yang tercatat sejauh ini.
Melejitnya harga emas tersebut tidak dapat dilepaskan dari emas yang bertindak sebagai tempat berlindung dan penyimpan nilai selama ribuan tahun. Masyarakat sudah mengenal investasi melalui emas.
Alasannya sederhana, apabila disimpan dalam bentuk uang kertas, kemungkinan besar akan terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, jika disimpan dalam bentuk perhiasan emas, sudah pasti akan lebih sulit untuk membelanjakannya.
Meski demikian, lonjakan atau kenaikan tajam harga emas tersebut dapat pula mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi. Sebab, harga emas yang tinggi merupakan cerminan dari upaya para investor untuk mengamankan nilai aset mereka saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan risiko geopolitik global.
Kondisi ini bisa mendorong investor beralih ke emas sebagai aset safe haven sehingga membuat supply logam mulia itu semakin terbatas yang secara otomatis membuat harganya menjadi tinggi.
Seperti apa potensi investasi dan bisnis emas di Indonesia?
Emas menjadi salah satu investasi yang populer di Indonesia lantaran dianggap sebagai investasi yang aman dan menjanjikan karena nilainya yang cenderung naik. Dalam jangka pendek, harga emas memang bergerak fluktuatif. Namun, dalam jangka panjang, nilai emas cenderung bergerak naik. Kenaikan harga emas umumnya di atas rata-rata inflasi. Karena itu, menabung emas sangat cocok untuk investasi jangka panjang.
Di samping itu, keuntungan investasi emas adalah likuiditas yang tinggi. Emas sangat mudah dikonversikan dalam bentuk uang tunai ketimbang instrumen investasi lainnya. Di sisi lain, pasar emas sangat besar dan mudah diakses sehingga emas dapat diperjualbelikan dengan mudah, bahkan ketika kondisi pasar lain sedang sulit. Investasi emas juga berfungsi sebagai diversifikasi portofolio investasi. Nilai emas cenderung naik ketika investasi lain menurun.
Pasar emas di Indonesia juga dinilai cukup kompetitif, dengan banyaknya pelaku usaha yang menawarkan produk emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun logam mulia. Berdasarkan laporan Jakpat yang berjudul ”Indonesia Investment Trends” (2024), aset fisik seperti perhiasan dan logam mulia nyatanya menjadi yang utama diminati para calon investor. Perhiasan menjadi pilihan investasi yang paling diminati oleh 67 persen responden. Selanjutnya, diikuti investasi logam mulia atau tabungan emas sebesar 66 persen.
Sejauh mana minat masyarakat untuk berinvestasi emas digital?
Di tengah popularitas emas, ekosistem emas digital berpotensi tumbuh menjadi alternatif tabungan dan investasi masyarakat. Emas digital adalah bentuk investasi dan kepemilikan emas yang diperdagangkan secara elektronik melalui aplikasi atau platform daring (online), tanpa harus memiliki emas fisik secara langsung.
Investor dapat membeli emas dalam bentuk saldo atau nominal gram di akun digital, dan nilai emas tersebut setara dengan jumlah emas murni yang dimiliki, yang kemudian dapat dicairkan menjadi emas fisik jika diinginkan.
Namun, produk emas digital tersebut tampaknya belum menjadi pilihan bagi banyak keluarga di Indonesia. Ekosistem emas digital belum diketahui publik secara luas.
Jajak pendapat Kompas pada Maret 2023 merekam, 49,7 persen responden memiliki investasi atau tabungan. Separuh lebih dari proporsi tersebut menyebut memiliki emas yang disimpan untuk tujuan investasi. Sayangnya, baru 1 persen responden yang memiliki produk emas digital. Karakter pemilik emas digital juga tersegmentasi pada responden muda berusia 24-39 tahun yang berasal dari kota dengan status ekonomi menengah.
Belum populernya investasi emas digital dipengaruhi oleh beberapa penyebab. Alasan pertama diungkapkan 13,5 persen responden yang menyebut tidak dapat memiliki fisik emas secara langsung. Alasan ini tidak dapat dimungkiri mengingat karakter masyarakat Indonesia yang cenderung memilih emas perhiasan.
Alasan kedua bersifat ekonomi. Sebanyak 12,9 persen responden menganggap harga jual ataupun beli produk emas digital tidak kompetitif. Adapun 7,5 persen responden menyoal adanya biaya administrasi dan pengelolaan yang besar. Terakhir, alasan ketiga adalah belum adanya jaminan keamanan.
Seperti apa risiko investasi emas?
Investasi emas sering kali dianggap sebagai pelindung nilai yang andal saat menghadapi gejolak ekonomi. Namun, di balik kilaunya yang menggiurkan, emas tetap menyimpan berbagai risiko yang perlu dipahami.
Salah satu risiko dalam investasi emas adalah volatilitas harga. Meski secara historis cenderung meningkat dalam jangka panjang, harga emas dapat berubah drastis dalam jangka pendek akibat berbagai faktor, mulai dari perubahan suku bunga global, nilai tukar mata uang, ketidakpastian geopolitik, inflasi, hingga kebijakan bank sentral.
Berbeda dari saham atau properti yang bisa memberi dividen atau sewa bulanan, emas bisa dibilang sebagai aset diam. Artinya, investor hanya bisa mendapatkan keuntungan jika harga emas naik dan berhasil dijual di harga lebih tinggi dari saat pembelian. Hal ini menjadikan emas kurang ideal bagi mereka yang mencari penghasilan rutin dari investasi.
Kendati emas dikenal sebagai aset likuid, dalam situasi pasar yang tidak stabil, menjual emas dengan harga optimal bisa menjadi tantangan tersendiri. Emas dalam bentuk perhiasan atau koin bisa memerlukan waktu lebih lama untuk dijual dibanding emas batangan murni. Selain itu, ada kemungkinan harus menjual dengan harga di bawah pasar jika membutuhkan dana cepat.
Karena harga emas cenderung fluktuatif dalam jangka pendek, instrumen ini lebih cocok untuk tujuan jangka menengah hingga panjang. Jika berencana menyimpan dana hanya dalam hitungan bulan, investasi emas bisa jadi bukan pilihan terbaik karena potensi kerugian dari perubahan harga yang cepat. (LITBANG KOMPAS)