Mengapa Harga Emas Mencapai Rekor Tertinggi?

Relatif stabilnya permintaan terhadap logam mulia membuat harga komoditas emas terus merangkak naik. Bahkan, kini harganya tembus mencapai rekor tertinggi.

04 Okt 2025 11:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Antonius Purwanto

Relatif stabilnya permintaan terhadap logam mulia membuat harga komoditas emas terus merangkak naik. Bahkan, harganya tembus mencapai rekor tertinggi meskipun dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Emas telah menjadi investasi yang kian populer di masyarakat baik sebagai aset maupun sebagai instrumen jangka panjang. Emas dianggap relatif aman, terutama di tengah ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik.

Di level global, harga emas juga melonjak ke rekor tertinggi di tahun 2025. Harganya melampaui 3.800 dollar AS per ons, meningkat sebesar 45 persen sejak tahun lalu.  Investor dan pengamat pasar di seluruh dunia sedang mencermati perkembangan harga emas tersebut. Meski emas selalu menjadi aset safe haven atau aset lindung nilai, tetapi tahun ini peningkatannya tampak sangat kuat.

Sementara di Indonesia, instrumen investasi dalam bentuk logam mulia, khususnya emas, juga mencuri perhatian publik sepanjang tahun 2025 ini. Pasalnya, harga emas Antam, yang sering dijadikan patokan di Indonesia, saat ini berada di titik tertinggi sepanjang masa atau all-time high, mencapai Rp 2.237.000 per gram pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Lonjakan itu memicu pertanyaan besar: apa yang sedang terjadi pada ekonomi global dan domestik sehingga mendorong harga emas setinggi itu? Apa saja faktor pendorongnya dan bagaimana perkiraan atau prediksi harga emas pada tahun mendatang?

Pedagang emas perhiasan sedang menata koleksi logam mulianya di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa (9/9/2025).  Harga emas batangan keluaran Antam pada Selasa kembali mencetak rekor tertinggi, yaitu Rp 2.086.000 per gram. Harga ini lebih tinggi Rp 26.000 per gram dari hari sebelumnya.

09-09-2025
Kompas/Totok Wijayanto (TOK)

Seberapa besar harga emas telah naik?

Secara umum, perkembangan harga emas global cenderung meningkat dalam jangka panjang meskipun sering mengalami fluktuasi dalam jangka pendek. Emas dianggap sebagai aset safe haven yang permintaannya akan naik saat ada ketidakpastian ekonomi atau geopolitik.

Di tingkat glolbal, sejak beberapa tahun belakangan, harga emas terus melonjak secara konsisten. Selama periode 2020 hingga September 2025, harga emas sudah naik sebanyak lebih dari dua kali lipat atau 113,3 persen. Dari yang awalnya 1.773 dollar AS per ons menjadi lebih dari 3.000 dollar AS. Bahkan, mengutip Trading Economics, harga emas mencapai rekor tertinggi di angka 3.898,2 dollar AS per ons pada Kamis (2/10/2025). Nominal ini menjadi lonjakan harga emas terbesar dalam 14 tahun terakhir.

Sejalan dengan tren global, melansir dari laman Logam Mulia (Antam), harga emas di Indonesia tercatat naik tajam selama periode 2020-2025. Di awal tahun 2020, harga emas per gram masih di bawah Rp 900.000. Namun, memasuki awal Oktober 2025, nilainya sudah menyentuh kisaran Rp 2,237 juta per gram. Level harga itu sekaligus menjadi harga emas Antam tertinggi dalam sejarah yang tercatat sejauh ini (all time high/ATH).

Harga emas Antam ini merupakan yang termahal sepanjang masa setelah sebelumnya pecah rekor di level Rp 2.234.000 per gram pada Selasa (30/9/2025). Pada saat yang sama, harga beli kembali oleh Antam alias buyback price juga naik Rp 3.000, menembus Rp 2.084.000 per gram.

Lonjakan harga emas Antam tersebut memperbarui rekor termahal sepanjang masa pada hari Rabu (1/10/2025), didorong oleh reli harga emas di pasar dunia.

Infografik-Perkembangan Harga Emas Tahun 2025

Mengapa emas begitu diminati dan harganya melejit?

Jawaban singkatnya adalah emas bertindak sebagai tempat berlindung dan penyimpan nilai, peran yang telah dimainkannya selama ribuan tahun, sejak kerajaan Lydia mulai memproduksi koin emas pada abad keenam sebelum masehi.

Untuk Indonesia, sejak puluhan tahun lalu, masyarakat sudah mengenal investasi melalui emas. Alasannya sederhana, apabila disimpan dalam bentuk uang kertas, kemungkinan besar akan terpakai untuk kebutuhan sehari-hari, seperti belanja harian atau jajan anak. Namun, jika disimpan dalam bentuk perhiasan emas, sudah pasti akan lebih sulit untuk membelanjakannya.

Selain sebagai aset lindung nilai, kenaikan harga emas tentu bukan sekadar angka, melainkan representasi dari kondisi global, yakni inflasi, pelemahan dollar AS, hingga ketegangan geopolitik. Di balik geliat transaksi emas tersebut, ada sinyal bahaya yang sedang terjadi, yakni tanda adanya ketidakpastian ekonomi baik global maupun domestik di Indonesia.

Lonjakan atau kenaikan tajam harga emas tersebut sering kali mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi. Sebab, harga emas yang tinggi merupakan cerminan dari upaya para investor untuk mengamankan nilai aset mereka saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan risiko geopolitk global. Kondisi ini bisa mendorong investor beralih ke emas sebagai aset safe haven, sehingga membuat supply logam mulia itu semakin terbatas yang secara otomatis membuat harganya menjadi tinggi.

Di tingkat global, ekonomi dunia saat ini dipandang sedang “tidak baik-baik saja” karena banyaknya konflik bersenjata berkepanjangan di area Timur Tengah antara Israel dengan Palestina, serta di Eropa antara Rusia dengan Ukraina yang didukung Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

Ketegangan geopolitik juga menambah ketidakpastian. Konflik dan meningkatnya ketegangan antarnegara telah menciptakan volatilitas di pasar global. Investor sering beralih ke emas selama masa-masa seperti itu karena dianggap sebagai aset yang stabil dan andal. Reputasi emas yang telah lama dikenal sebagai investasi safe haven membuatnya sangat menarik ketika risiko politik dan ekonomi meningkat.

Kemudian, kondisi ekonomi dan politik di AS yang kerap menjadi poros perdagangan dunia juga sedang tidak stabil karena politik dalam negeri hingga sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga bank sentral Negeri Paman Sam, Federal Reserve alias The Fed. Suku bunga yang lebih rendah membuat emas lebih menarik karena tidak menghasilkan bunga, sehingga mendorong investor individu maupun institusi membeli.

Infografik-Tren Kenaikan Harga Emas Antam di Indonesia 2019-2025

Selain itu, bank-bank sentral dan lembaga-lembaga besar juga meningkatkan cadangan emas mereka. Negara-negara seperti China dan Rusia secara aktif membeli emas untuk mendiversifikasi aset mereka, sementara dana dan produk emas yang diperdagangkan di bursa (ETF) mencatat rekor arus masuk. Permintaan institusional ini semakin mendorong reli harga.

Bahkan, investor ritel pun turut berkontribusi terhadap lonjakan ini. Dana lindung nilai (hedge fund) telah menambah posisi beli (long position) di emas berjangka, sementara pembeli harian termotivasi oleh rasa takut ketinggalan. Kombinasi permintaan global, institusional, dan individu telah menciptakan lingkungan ideal bagi emas untuk mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya tahun ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Pada saat ekonomi Indonesia tidak baik-baik saja dan kelas menengah ikut terganggu, konsumsi emas justru kian meningkat dengan alasan nilai emas cenderung relatif stabil dan naik. Salah satu caranya masyarakat membeli emas adalah dengan jumlah gram kecil atau yang dianggap lebih terjangkau. Hal ini yang membuat masyarakat berbondong-bondong membeli emas.

Harga emas juga terkerek imbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pelemahan nilai tukar ini membuat harga-harga lainnya cenderung meningkat, terutama komoditas impor sehingga turun memberikan andil terhadap kenaikan inflasi. Di saat yang sama, tren inflasi turut mendorong masyarakat semakin tinggi permintaannya terhadap emas sebagai lindung nilai terhadap kenaikan harga.

 Artinya, saat rupiah melemah terhadap dollar AS, harga emas di Indonesia akan naik bahkan ketika nilai logam mulia dunia sedang tak mengalami perubahan. Apalagi jika harga emas global terus mengalami kenaikan seperti sekarang ini, membuat harga emas domestik menjadi sangat tinggi. Kombinasi dollar yang melemah dan kekhawatiran inflasi ini merupakan pendorong kuat bagi momentum kenaikan emas di tahun ini.

Bagaimana prediksi harga emas pada tahun depan?

Sejumlah perusahaan keuangan dan bank memperkirakan harga emas masih akan terus meningkat atau cenderung stabil hingga beberapa bulan ke depan hingga pertengahan tahun depan.

Mengutip dari laman Economic Times, perusahaan keuangan di Amerika Serikat, JPMorgan Chase memperkirakan emas akan menutup tahun 2025 mendekati 3.675 dollar AS, sebelum naik di atas 4.000 dollar AS pada 2026. Deutsche Bank memperkirakan yang sama, memproyeksikan emas pada 3.700 dollar AS pada akhir tahun ini dan mencapai angka 4.000 dollar AS pada tahun depan.

Sementara itu, perusahaan jasa keuangan Morgan Stanley memprediksi memprediksi harga emas berkisar sekitar 3.800 dolar AS pada akhir 2025, sementara OCBC Bank menetapkan 3.900 dollar AS pada akhir 2025 dan 4.100 dollar AS pada pertengahan 2026.

Di sisi lain, perusahaan bank investasi dan jasa keuangan, Goldman Sachs, memperkirakan angka yang lebih besar lagi. Mereka mengatakan harga emas bisa naik sebesar 5.000 dollar AS dalam beberapa bulan ke depan, tergantung laju pelonggaran moneter dan permintaan global.

Pedagang menunjukkan koleksi emas batangannya di salah satu toko emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa(22/4/2025). Harga emas Antam pada Selasa mencetak rekor tertinggi dan tembus di atas Rp 2 juta per gram, yaitu tepatnya Rp 2.016.000 atau naik Rp 36.000 dari hari sebelumnya.

Seperti dikutip dari laman Goldman Sachs Research, proyeksi harga emas mereka didorong oleh permintaan struktural yang kuat dari bank sentral dan pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve AS yang mendukung permintaan Exchange Traded Fund atau ETF untuk emas. ETF merupakan reksa dana dalam bentuk Kontrak Investasi Kolektif yang diperdagangkan di Bursa Efek.

Sejumlah prediksi di atas menunjukkan bahwa harga emas kemungkinan akan stabil di angka 3.700 dollar AS hingga 3.900 dollar AS per ons menjelang akhir 2025. Kemudian pada pertengahan 2026, sebagian besar bank memperkirakan harga logam mulia tersebut akan menembus angka 4.000 dollar AS per ons. Jika prediksi itu terjadi, maka hal ini akan menandai tonggak baru dalam sejarah harga emas.

Haruskan berinvestasi emas sekarang?

Emas menjadi salah satu komoditas berharga dan banyak diperdagangkan di pasar global. Hal ini tak pelak membuatnya semakin tangguh, dijadikan sebagai pilihan investasi karena stabilitas dan kemampuannya dalam mempertahankan nilai di tengah inflasi.

Emas sendiri dikenal pula sebagai aset safe haven yang mampu memberi perlindungan nilai di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti. Investasi emas dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik fisik berupa emas batangan dan perhiasan, maupun secara digital melalui aplikasi atau platform online.

Selain itu, emas dapat menjadi bagian penting dari strategi investasi yang terdiversifikasi, terutama di masa-masa yang penuh ketidakpastian seperti saat ini. Nilainya telah meningkat tajam tahun ini, yang dapat menyebabkan volatilitas jangka pendek.

Pelayanan di butik Logam Mulia Graha Dipta PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, Pulogadung, Jakarta, Jumat (26/9/2025). Harga emas produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. atau yang dikenal dengan emas Antam Logam Mulia (LM) naik pada perdagangan Jumat (26/9/2025). Harga emas batangan bersertifikat di laman resmi Logam Mulia PT Aneka Tambang naik Rp 4.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.171.000 per gram menjadi Rp 2.175.000 per gram. Adapun harga pembelian kembali (buyback) oleh Logam Mulia juga naik Rp 4.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.018.000 per gram menjadi Rp 2.022.000 per gram. Hal ini memicu masyarakat untuk menjual logam mulianya.


Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Bagi investor konservatif, emas tergolong aman dan memiliki fluktuasi harga yang rendah. Sementara bagi investor agresif, emas sangat sesuai menjadi penyeimbang portofolio sebagai aset safe haven.

Namun demikian, menurut teori valuasi dari Aswath Damodaran, emas termasuk ke dalam kelompok komoditas yang mudah untuk dihargai tetapi lebih sulit divaluasi dibandingkan aset keuangan seperti saham. Harga emas dipengaruhi berbagai hal, termasuk persediaan dan permintaan emas dunia. Lalu, untuk harga jual-beli di Indonesia tentu terpengaruh pula oleh fluktuasi nilai tukar rupiah dan dollar AS.

Para investor perlu mempertimbangkan tujuan, toleransi risiko, dan horizon waktu mereka. Bahkan, alokasi kecil untuk emas dapat membantu menyeimbangkan portofilio. Sementara bagi banyak orang, logam mulia seperti emas tetap menjadi lindung nilai terhadap ketidakpastian fluktuasi mata uang, dan inflasi. Karena itu, memahami tren pasar dan faktor permintaan dapat membantu membuat keputusan yang lebih tepat.  (Litbang Kompas)


Kerabat Kerja

Penulis:

Antonius Purwanto
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan