Hal-hal yang dapat dipelajari dari artikel ini:
1. Bagaimana kondisi IHSG saat ini?
2. Apa saja sentimen yang belakangan ini memengaruhi kinerja IHSG?
3. Bagaimana dampak penurunan harga saham Rp 1 terhadap kinerja IHSG?
4. Apakah aturan dan penerapan short selling memengaruhi psikologi pasar?
5. Apa faktor eksternal dan sentimen lain yang memengaruhi kondisi pasar?
Bagaimana kondisi IHSG saat ini?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (2/10/2026) pagi ini bergerak fluktuatif dan cenderung melemah. Pada pembukaan perdagangan, IHSG masih berada di zona hijau dengan titik tertinggi di level 6.044,26. Setelahnya, IHSG terus bergerak menurun ke zona merah hingga sempat menyentuh titik 5.979,98.
Sebelumnya, pada Kamis (1/10/2026), IHSG juga sempat turun menyentuh level psikologis 5.900. Seiring dengan pergantian menteri (reshuffle) Kabinet Merah Putih yang dilakukan pada Kamis sore, IHSG pada akhirnya ditutup turun 1,02 persen atau 61,64 poin ke level 6.009,50. Sepanjang hari itu, investor asing terpantau melakukan aksi penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 241,86 miliar di seluruh pasar.
Apa saja sentimen yang belakangan ini memengaruhi kinerja IHSG?
Ada beberapa kebijakan yang dalam beberapa hari terakhir memengaruhi kondisi pasar. Pertama adalah penurunan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerapkan kebijakan ini untuk mengembalikan fungsi likuiditas pasar dan memfasilitasi exit strategy bagi investor yang sahamnya selama ini ”nyangkut” di harga minimum Rp 50, atau sering dikenal dengan saham gocap, yang biasanya sulit dijual.
Selain itu, ada pula perdagangan efek dengan skema intraday short selling yang berlaku mulai Kamis (1/10/2026). Pada tahap awal, BEI menetapkan lima saham konstituen indeks LQ45 yang dapat diperdagangkan melalui skema ini dengan kriteria ketat, yaitu PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Short selling merupakan mekanisme penjualan saham yang dipinjam dari AB terdaftar oleh pedagang. Pedagang melakukan penjualan saat harga saham dinilai tinggi, kemudian melakukan pembelian kembali (short covering) saat harga saham turun secara intraday atau pada akhir hari perdagangan yang sama untuk meraup keuntungan dari selisih harga tersebut.
Bagaimana dampak penurunan harga saham Rp 1 terhadap kinerja IHSG?
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengakui bahwa kebijakan bursa mengubah harga minimum saham dari Rp 50 ke Rp 1 berdampak pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan. Pada hari implementasi kebijakan tersebut, Senin (28/9/2026), indeks komposit saham RI melemah 1,51 persen ke level 6.147.
Pada hari pertama kebijakan itu, ada enam saham yang menyentuh ARB (auto rejection bawah). Ada pula setidaknya 26 saham yang harganya sebelumnya stagnan di batas Rp 50, lantas menurun hingga 8 persen-14 persen. Salah satu saham yang mengalami penurunan harga akibat aturan ini adalah saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Setelah tertahan di harga Rp 50 sejak 5 Mei 2026, saham GOTO mengalami ARB dengan penurunan 14 persen ke harga Rp 43.
BEI mengakui akan ada pergerakan harga pada saham-saham yang sebelumnya tidak likuid. Ini menjadi pertanda bahwa investor saat ini tengah menyesuaikan atau mencari nilai saham yang sesuai dengan kondisi fundamental saham terkait.
Apakah aturan dan penerapan short selling memengaruhi psikologi pasar?
Ada kekhawatiran bahwa short selling di tengah permintaan pasar yang lemah akan memperberat tekanan terhadap IHSG serta menekan harga saham-saham yang ditunjuk. Akan tetapi, kekhawatiran tersebut dinilai tidak akan terjadi otomatis.
Dampak terhadap harga saham sangat bergantung pada rasio nilai short selling terhadap likuiditas, free float, serta kedalaman buku pesanan (order book) setiap emiten.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, apabila tekanan short selling kemudian diikuti dengan aksi short covering, itu justru dapat menciptakan tekanan beli dan mendorong harga kembali naik.
Apa faktor eksternal dan sentimen lain yang memengaruhi kondisi pasar?
Selain terdampak oleh sejumlah skema dan kebijakan yang diterapkan regulator dan BEI, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi kondisi pasar. Salah satunya, pada Kamis (1/10/2026), Presiden Prabowo Subianto merombak kembali Kabinet Merah Putih untuk ketujuh kalinya. Lewat reshuffle itu, jumlah menteri dan wakil menteri bertambah.
Ada beberapa posisi kementerian bidang ekonomi yang ikut berubah, seperti kursi Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang dipegang oleh politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad Hari Wibowo.
Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia kini merangkap jabatan menjadi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang merupakan nomenklatur baru. Kementerian Keuangan juga mendapat tambahan dua menteri, yaitu Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman.
Seiring dengan pergantian menteri (reshuffle) Kabinet Merah Putih yang dilakukan pada Kamis sore itu, IHSG pada perdagangan Kamis ditutup turun 1,02 persen atau 61,64 poin ke level 6.009,50.
Hal-hal yang dapat dipelajari dari artikel ini:
1. Bagaimana kondisi IHSG saat ini?
2. Apa saja sentimen yang belakangan ini memengaruhi kinerja IHSG?
3. Bagaimana dampak penurunan harga saham Rp 1 terhadap kinerja IHSG?
4. Apakah aturan dan penerapan short selling memengaruhi psikologi pasar?
5. Apa faktor eksternal dan sentimen lain yang memengaruhi kondisi pasar?
Bagaimana kondisi IHSG saat ini?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (2/10/2026) pagi ini bergerak fluktuatif dan cenderung melemah. Pada pembukaan perdagangan, IHSG masih berada di zona hijau dengan titik tertinggi di level 6.044,26. Setelahnya, IHSG terus bergerak menurun ke zona merah hingga sempat menyentuh titik 5.979,98.
Sebelumnya, pada Kamis (1/10/2026), IHSG juga sempat turun menyentuh level psikologis 5.900. Seiring dengan pergantian menteri (reshuffle) Kabinet Merah Putih yang dilakukan pada Kamis sore, IHSG pada akhirnya ditutup turun 1,02 persen atau 61,64 poin ke level 6.009,50. Sepanjang hari itu, investor asing terpantau melakukan aksi penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 241,86 miliar di seluruh pasar.
Apa saja sentimen yang belakangan ini memengaruhi kinerja IHSG?
Ada beberapa kebijakan yang dalam beberapa hari terakhir memengaruhi kondisi pasar. Pertama adalah penurunan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerapkan kebijakan ini untuk mengembalikan fungsi likuiditas pasar dan memfasilitasi exit strategy bagi investor yang sahamnya selama ini ”nyangkut” di harga minimum Rp 50, atau sering dikenal dengan saham gocap, yang biasanya sulit dijual.
Selain itu, ada pula perdagangan efek dengan skema intraday short selling yang berlaku mulai Kamis (1/10/2026). Pada tahap awal, BEI menetapkan lima saham konstituen indeks LQ45 yang dapat diperdagangkan melalui skema ini dengan kriteria ketat, yaitu PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Short selling merupakan mekanisme penjualan saham yang dipinjam dari AB terdaftar oleh pedagang. Pedagang melakukan penjualan saat harga saham dinilai tinggi, kemudian melakukan pembelian kembali (short covering) saat harga saham turun secara intraday atau pada akhir hari perdagangan yang sama untuk meraup keuntungan dari selisih harga tersebut.
Bagaimana dampak penurunan harga saham Rp 1 terhadap kinerja IHSG?
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengakui bahwa kebijakan bursa mengubah harga minimum saham dari Rp 50 ke Rp 1 berdampak pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan. Pada hari implementasi kebijakan tersebut, Senin (28/9/2026), indeks komposit saham RI melemah 1,51 persen ke level 6.147.
Pada hari pertama kebijakan itu, ada enam saham yang menyentuh ARB (auto rejection bawah). Ada pula setidaknya 26 saham yang harganya sebelumnya stagnan di batas Rp 50, lantas menurun hingga 8 persen-14 persen. Salah satu saham yang mengalami penurunan harga akibat aturan ini adalah saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Setelah tertahan di harga Rp 50 sejak 5 Mei 2026, saham GOTO mengalami ARB dengan penurunan 14 persen ke harga Rp 43.
BEI mengakui akan ada pergerakan harga pada saham-saham yang sebelumnya tidak likuid. Ini menjadi pertanda bahwa investor saat ini tengah menyesuaikan atau mencari nilai saham yang sesuai dengan kondisi fundamental saham terkait.
Apakah aturan dan penerapan short selling memengaruhi psikologi pasar?
Ada kekhawatiran bahwa short selling di tengah permintaan pasar yang lemah akan memperberat tekanan terhadap IHSG serta menekan harga saham-saham yang ditunjuk. Akan tetapi, kekhawatiran tersebut dinilai tidak akan terjadi otomatis.
Dampak terhadap harga saham sangat bergantung pada rasio nilai short selling terhadap likuiditas, free float, serta kedalaman buku pesanan (order book) setiap emiten.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, apabila tekanan short selling kemudian diikuti dengan aksi short covering, itu justru dapat menciptakan tekanan beli dan mendorong harga kembali naik.
Apa faktor eksternal dan sentimen lain yang memengaruhi kondisi pasar?
Selain terdampak oleh sejumlah skema dan kebijakan yang diterapkan regulator dan BEI, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi kondisi pasar. Salah satunya, pada Kamis (1/10/2026), Presiden Prabowo Subianto merombak kembali Kabinet Merah Putih untuk ketujuh kalinya. Lewat reshuffle itu, jumlah menteri dan wakil menteri bertambah.
Ada beberapa posisi kementerian bidang ekonomi yang ikut berubah, seperti kursi Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang dipegang oleh politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad Hari Wibowo.
Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia kini merangkap jabatan menjadi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang merupakan nomenklatur baru. Kementerian Keuangan juga mendapat tambahan dua menteri, yaitu Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman.
Seiring dengan pergantian menteri (reshuffle) Kabinet Merah Putih yang dilakukan pada Kamis sore itu, IHSG pada perdagangan Kamis ditutup turun 1,02 persen atau 61,64 poin ke level 6.009,50.