Kompas.id Brief

Mengapa Jalan TB Simatupang Jakarta Jadi Sumber Kemacetan Baru?

Jalan TB Simatupang macet parah akibat proyek konstruksi, minim transportasi publik, dan pertumbuhan kawasan tanpa perencanaan mobilitas terpadu.

23 Agt 2025 17:00 WIB · Metropolitan

Oleh Mukhamad Kurniawan, Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut?

1. Mengapa Jalan TB Simatupang menjadi simbol baru kemacetan Jakarta?

2. Apa dampak proyek konstruksi terhadap kemacetan di Jalan TB Simatupang?

3. Bagaimana sejarah pertumbuhan TB Simatupang menjelaskan kemacetannya saat ini?

4. Mengapa solusi yang ditawarkan pemerintah belum efektif mengatasi kemacetan?

5. Apa strategi jangka panjang yang dibutuhkan untuk mengakhiri kemacetan TB Simatupang?

1. Mengapa Jalan TB Simatupang menjadi simbol baru kemacetan Jakarta?

copy title

Jalan TB Simatupang berubah dari kawasan pinggiran menjadi koridor bisnis strategis tanpa peningkatan kapasitas jalan. Sejak awal 2000-an, jalan ini dipadati gedung perkantoran, apartemen, dan pusat belanja. Pertumbuhan pesat ini tidak diimbangi dengan pelebaran jalan ataupun pembangunan transportasi massal yang memadai.

Mobilitas harian kian padat karena arus kendaraan dari Depok dan Bogor bercampur dengan lalu lintas lokal. Banyak pekerja yang masuk ke area TB Simatupang menggunakan kendaraan pribadi karena minimnya integrasi transportasi umum. Jalan ini pun menjadi titik simpul kemacetan permanen.

Ruko dan restoran di sisi jalan turut menyumbang antrean kendaraan karena akses parkir yang buruk. Persimpangan yang terlalu dekat dan padat memperlambat arus. Semua ini menciptakan ”bottleneck” yang menyiksa pengguna jalan setiap pagi dan sore hari.

Kemacetan di TB Simatupang mencerminkan tata ruang Jakarta yang tumbuh tanpa kendali mobilitas. Ia jadi simbol ironi kota: ekonomi tumbuh, tetapi warganya tak bisa bergerak bebas. Ini bukan sekadar masalah jalan, melainkan alarm untuk perencanaan kota yang lebih terintegrasi.

2. Apa dampak proyek konstruksi terhadap kemacetan di Jalan TB Simatupang?

copy title

Proyek konstruksi menjadi pemicu utama kemacetan akut di TB Simatupang. Saat ini, proyek jalan tol, pipa air limbah, dan jaringan utilitas mengokupansi sebagian badan jalan. Di TB Simatupang, sering kali hanya tersisa satu lajur aktif, membuat lalu lintas tersendat parah.

Pengemudi harus melintasi jalur yang dipersempit oleh pembatas proyek. Sumbatan juga terjadi di off-ramp tol JORR, terutama karena lalu lintas keluar masuk bersilangan dengan lajur proyek. Beberapa persimpangan ditutup sementara, tetapi belum cukup mengurai antrean kendaraan.

Keluhan warga menggambarkan frustrasi akibat proyek yang mangkrak atau tidak dikelola dengan baik. Galian dibiarkan terbuka, jalan rusak, dan penyekat terlalu memakan ruang. Akibatnya, kecepatan kendaraan bisa turun hingga 5 kilometer per jam saat jam sibuk.

Meski proyek ini penting bagi Jakarta, kurangnya koordinasi dan komunikasi justru menciptakan penderitaan harian. TB Simatupang kini bukan hanya titik macet, melainkan wajah nyata dari proyek tanpa mitigasi sosial yang matang.

3. Bagaimana sejarah pertumbuhan TB Simatupang menjelaskan kemacetannya saat ini?

copy title

Pada 1950-an hingga 1980-an, TB Simatupang adalah jalan tenang di pinggiran selatan Jakarta. Jalan ini menghubungkan wilayah Cilandak hingga Pondok Indah, ditujukan sebagai lingkar luar selatan Jakarta. Saat itu, perumahan dan industri ringan menjadi dominan di kawasan ini.

Sejak 1990-an, pembangunan Jalan Lingkar Luar Jakarta (JORR) membuat TB Simatupang semakin strategis. Ia menjadi penghubung vital Jakarta–Depok, lalu menjadi gerbang masuk ke kawasan elite. Mobilitas bertambah, tetapi kendaraan pribadi masih terbatas.

Akan tetapi, pada awal 2000-an, jalan ini berkembang jadi kawasan ”segitiga emas” selatan. Perusahaan besar membangun kantor, apartemen tumbuh, dan mal berdiri. Lonjakan populasi dan aktivitas ekonomi meledak tanpa disertai peningkatan kapasitas jalan atau transportasi publik.

Inilah akar struktural kemacetan TB Simatupang: pertumbuhan ekonomi yang tidak dikawal oleh perencanaan mobilitas. Jalan yang dulu jadi simbol konektivitas kini berubah menjadi penanda stagnasi metropolitan.

4. Mengapa solusi yang ditawarkan pemerintah belum efektif mengatasi kemacetan?

copy title

Upaya pemerintah selama ini cenderung bersifat tambal sulam dan reaktif. Rekayasa lalu lintas seperti contraflow, penutupan persimpangan, atau imbauan beralih ke transportasi umum belum mampu mengatasi akar masalah. Warga masih memilih mobil pribadi karena integrasi transportasi umum belum optimal.

Proyek transportasi, seperti MRT lingkar luar Fatmawati-Kampung Rambutan, masih dalam tahap rencana. Sementara itu, pembangunan berlangsung lambat, dan skema pendanaannya pun belum tuntas. Padahal, jalur ini sangat vital untuk mengurai beban Simatupang.

Alternatif seperti pemanfaatan trotoar, decking jalan, hingga pengurangan area proyek masih terbatas dampaknya. Koordinasi lintas instansi dan komunikasi publik juga dinilai lemah sehingga warga tak diberi cukup informasi atau jalur alternatif yang layak.

Kemacetan pun jadi status quo karena kebijakan tak menyentuh manajemen permintaan lalu lintas secara menyeluruh. Tanpa pembatasan kendaraan pribadi dan perencanaan mobilitas terpadu, upaya pemerintah cenderung gagal menyelesaikan persoalan.

5. Apa strategi jangka panjang yang dibutuhkan untuk mengakhiri kemacetan TB Simatupang?

copy title

Strategi jangka panjang harus menyentuh tiga elemen kunci: pembatasan kendaraan pribadi, peningkatan transportasi umum, dan penataan ruang terpadu. Electronic Road Pricing (ERP) misalnya, bisa menjadi alat kendali lalu lintas yang efektif dan adil.

ERP sudah terbukti di Singapura dan London, tetapi penerapannya di Jakarta tertunda karena faktor politik dan sosial. Padahal, secara teknologi, hukum, dan infrastruktur, Jakarta sudah siap. Kendalanya tinggal kemauan politik dan sosialisasi publik.

Di sisi lain, MRT dan LRT harus segera dikembangkan agar mencakup koridor bisnis padat seperti TB Simatupang. Integrasi moda juga perlu dipercepat. Tidak cukup hanya memperluas rute Transjakarta jika tidak ada koneksi antarmoda yang nyaman dan cepat.

Pemerintah harus berani mengambil keputusan sulit: membatasi IMB tanpa studi mobilitas, menindak kendaraan tanpa garasi, dan mengarahkan pertumbuhan kota berbasis transportasi publik. TB Simatupang tak bisa lagi jadi simbol kegagalan tata kota Jakarta.


Kerabat Kerja

Penulis:

Mukhamad Kurniawan, Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase