Kompas.id Brief

Mengapa Konflik di Jalur Gaza Tak Kunjung Berhenti?

Israel meningkatkan serangan ke Jalur Gaza. Setiap lokasi yang digempur lantas diduduki. Ini cara untuk menguasai Gaza dan pelan-pelan memaksa penduduknya keluar.

19 Mei 2025 08:00 WIB · Internasional

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana situasi di Gaza saat ini?
  2. Apakah tragedi Nakba mungkin berulang?
  3. Mengapa Israel terus menyerang Gaza?
  4. Apakah gencatan senjata mungkin dicapai?
  5. Bagaimana sikap dunia internasional menghadapi konflik di Gaza?

Bagaimana situasi di Gaza saat ini?

copy title

Setelah gencatan senjata antara Hamas dan Israel berakhir pada Maret 2025, Israel meningkatkan serangan ke Jalur Gaza. Dalam beberapa hari terakhir, Israel terus melancarkan serangan mematikan ke sejumlah wilayah di Gaza.

Laporan terbaru pada Minggu (18/5/2025) menyebutkan, serangan terbaru Israel dalam 24 jam terakhir menewaskan setidaknya 150 orang. Pada Jumat (16/5/2025), militer Israel (Tzahal) meluncurkan operasi besar-besaran di Gaza bernama Operasi Kereta Gideon. Tzahal bermaksud menduduki setiap lokasi di Gaza yang sudah diserbu. Dengan cara ini, Israel akan menduduki Gaza dan memaksa penduduknya keluar dari wilayah itu.

Tank-tank Israel terlihat, antara lain, di Beit Lahia sampai Al-Salateen. Sisa rumah dan tenda-tenda digilas tank dan aneka panser Israel. Selain itu, Israel ingin menghancurkan Hamas. Serangan Israel juga bertujuan menekan Hamas untuk membebaskan 23 sandera yang tersisa dan menghancurkan kelompok itu.

Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan, serangan Israel sejak gencatan senjata berakhir telah menewaskan lebih dari 3.000 orang. Bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza juga sejak tiga bulan terakhir terhenti.

Akibat blokade Israel itu, warga tidak lagi memiliki cukup makanan, air bersih, bahan bakar, dan berbagai barang kebutuhan hidup. Para pengamat mengatakan, warga Gaza sebanyak 2 juta orang akan kelaparan jika blokade tidak dicabut.

Apakah tragedi Nakba mungkin berulang?

copy title

Serangan besar-besaran dan blokade bantuan kemanusiaan membuat Jalur Gaza menjadi wilayah yang sangat berbahaya. Hujan bom membuat sebagian besar Gaza tidak dapat dihuni. Pada saat yang sama, sekitar 2 juta penduduk Gaza harus berjejalan di wilayah ”aman” yang kian menyempit.

Pejabat Direktur Eksekutif Human Rights Watch Federico Borello mengatakan, blokade Israel telah melampaui taktik militer dan menjadi alat pemusnahan. Jutaan warga Gaza seolah menghadapi Nakba kedua. Bayang-bayang sejarah kelam pengusiran warga Palestina dari Gaza semakin nyata.

A picture taken from a position at the Israeli border with the Gaza Strip shows the destruction due to Israeli bombardment in the besieged Palestinian territory on May 18, 2025. Gaza's civil defence agency said Israeli air strikes on May 18 killed at least 33 people, more than half of them children, a day after Israel announced an expanded military campaign. (Photo by Menahem KAHANA / AFP)

Pada 15 Mei 1948, sedikitnya 750.000 warga Palestina diusir paksa oleh kelompok paramiliter Israel selama pembentukan negara Israel. Gempuran Israel kali ini juga mencerminkan pola serangan yang tidak ditujukan pada target militer, tetapi secara sistematis menghancurkan tatanan sosial Gaza.

Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan kembali visi radikalnya untuk masa depan Gaza. Ia menyarankan AS mengambil alih kendali Gaza dan membangun kembali Gaza sebagai resor wisata. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, pemerintahnya sedang berupaya mencari negara ketiga untuk menampung penduduk Gaza.

Mengapa Israel terus menyerang Gaza?

copy title

Israel mengabaikan tekanan internasional, bahkan sekutu-sekutunya, untuk menghentikan serangan ke Gaza. Kala Trump berkunjung ke Timur Tengah pada 13-16 Mei 2025, serangan Israel di Gaza tetap membabi buta.

Hamas mengatakan, serangan Israel yang terus berlanjut mengindikasikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ingin meningkatkan agresi dan pembantaian warga sipil untuk melemahkan gencatan senjata. Selama ini, Israel menyalahkan Hamas atas perang yang terus berlanjut.

Israel ingin memusnahkan Hamas, dan mensyaratkan hal itu untuk menghentikan perang. Perang Hamas-Israel dipicu serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Israel membalas dengan menggempur Gaza habis-habisan hingga saat ini. Setidaknya 52.900 orang di Gaza tewas akibat gempuran Israel.

Hamas juga telah merilis sandera Israel-Amerika bernama Edan Alexander, Senin (12/5/2025), sebagai niat baik untuk menghentikan pertempuran. Namun, Israel mengabaikan pembebasan itu dan tetap melancarkan serangan mematikan ke Gaza.

Apakah gencatan senjata mungkin dicapai?

copy title

Di tengah serangan besar-besaran Israel, pembicaraan gencatan senjata tak langsung antara Hamas dan Israel dimulai di Doha, Qatar, Sabtu (17/5/2025).

Taher Al-Nono, penasihat Hamas, kepada Reuters mengatakan, putaran baru perundingan dengan Israel membahas semua isu tanpa prasyarat. ”Delegasi Hamas menegaskan posisinya untuk penghentian perang, pertukaran tahanan, penarikan Israel dari Gaza, dan pendistribusian kembali bantuan kemanusiaan,” katanya.

Backdropped by damaged buildings from Israeli army bombardment, Palestinians walk in the port of Gaza City, Saturday, May 17, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Sementara Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan, negosiasi fokus untuk membebaskan sandera. Menurut dia, perundingan dimulai tanpa persetujuan Israel untuk gencatan senjata atau pencabutan blokade bantuan.

Sejumlah upaya dan perundingan gencatan senjata gagal sejak tahap 1 gencatan senjata berakhir pada Maret 2025. Seharusnya, berdasarkan kesepakatan awal kedua pihak, gencatan senjata tahap 2 dilaksanakan segera setelah tahap 1 berakhir.

Bagaimana sikap dunia internasional menghadapi konflik di Gaza?

copy title

Konflik di Gaza menjadi perhatian utama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab di Baghdad, Irak, Sabtu (17/5/2025). Presiden Irak Abdul Latif Rashid mengecam keras agresi Israel yang sedang berlangsung di Gaza. Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi menyebut tindakan Israel adalah ”kejahatan sistematis” untuk memusnahkan warga Palestina.

KTT Liga Arab ini mendukung keputusan Liga Arab sebelumnya mengenai rekonstruksi Gaza yang menentang usulan Trump. Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani mengumumkan, Irak akan berupaya mendirikan dana Arab untuk rekonstruksi Gaza. 

Sementara PBB menolak bergabung dengan badan bantuan AS untuk Gaza. PBB sudah siap membagikan 160.000 peti bantuan kemanusiaan di Gaza. Masalahnya, militer Israel terus mengepung Gaza dan menutup akses bagi bantuan kemanusiaan sejak Maret 2025.

Bahkan, Trump pun berkomentar, banyak warga Gaza mengalami kelaparan. Adapun Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebut blokade bantuan kemanusiaan bagi Gaza yang dilakukan Israel sebagai hal memalukan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari