MANAMA, MINGGU — Ledakan terdengar di Iran dan negara-negara tetangganya sepanjang Sabtu malam sampai Minggu dini hari. Amerika Serikat mengakui menyerang sejumlah lokasi di Iran. Sementara Iran belum berkomentar atas ledakan di Bahrain dan Kuwait.
Dalam pernyataan pada Sabtu (27/6/2026) sore waktu Florida atau Minggu pagi WIB, Komando Tengah (CENTCOM) AS membenarkan menyerang 10 lokasi di Iran. Serangan pada Sabtu itu melanjutkan serangan pada Jumat.
CENTCOM mengumumkan, Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan itu. Serangan tersebut membalas penembakan terhadap tanker MT Kiku pada Sabtu subuh. Kapal berbendera Panama itu disebut mengangkut dua juta barel minyak.
”Pesawat militer AS menargetkan infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau. Transit kapal komersial melalui Selat Hormuz terus berlanjut. Pasukan AS tetap waspada, mematikan, dan siap,” demikian pernyataan CENTCOM.
Media-media Iran melaporkan, ledakan terdengar di Sirik dan Qeshm. Wilayah Iran yang dekat dengan Selat Hormuz itu rutin jadi sasaran serangan AS dalam beberapa bulan terakhir.
Lembaga penyiaran Iran, IRIB, melaporkan serangan AS juga menyasar Bandar-e Lengeh di Provinsi Hormozgan. Serangan ke sana terpantau selepas laporan ledakan di Qeshm dan Sirik.
Kepada FoxNews, pejabat pertahanan AS yang tak mau identitasnya diungkap membenarkan bahwa Sirik dan Qeshm berulang kali diserang AS. Sebab, kedua lokasi itu jadi pangkalan operasi garis depan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan militer Iran, Arthesh. IRGC dan Artesh terus mengalokasikan sumber daya ke kedua lokasi itu.
Tak lama dari pernyataan CENTCOM AS, IRGC membenarkan ada pembalasan ke pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait. Pelabuhan Salman di Bahrain menjadi kantor pusat Armada kelima AS. Sementara Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait jadi salah satu basis operasi AS di kawasan. Berulang kali Iran menyerang dua lokasi itu.
AS mau memaksa negara di kawasan dan menggunakan kekuatan untuk memaksa Iran demi mengubah status quo soal pelayaran di Selat Hormuz.
Otoritas Bahrain dan Kuwait membenarkan, rudal dan pesawat nirawak dicegat sepanjang Minggu dini hari. Warga diminta masuk ke tempat-tempat perlindungan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Peringatan bahaya serangan udara terus meraung di berbagai penjuru Bahrain dan Kuwait.
Siklus saling serang terjadi selepas Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berkunjung ke Timur Tengah. Rubio mencoba meyakinkan negara-negara di kawasan bahwa AS siap menjaga keamanan mereka. Tak sampai sepekan setelah Rubio meninggalkan Manama, Bahrain kembali jadi sasaran pembalasan Iran.
Alasan serangan
IRGC tak menampik menembak kapal-kapal di Selat Hormuz. Alasannya, penembakan itu bagian dari penegakan Kesepakatan Islamabad. Kesepakatan damai AS-Iran itu ditandatangani perwakilan Teheran-Washington atas fasilitasi Pakistan dan Qatar.
Menurut IRGC, perjanjian itu memberi Iran hak mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz. Oleh karena itu, setiap pelayaran di selat tersebut harus mendapat persetujuan dari Iran.
IRGC menuding AS dan sekutunya melanggar kesepakatan itu lewat pelayaran ratusan kapal yang keluar dari Selat Hormuz melalui sisi Oman. Bersama Organisasi Pelayaran Internasional (IMO) dan sejumlah pihak lain, Oman mengatur pelayaran lebih dari 100 kapal keluar dari Teluk Persia.
Peneliti pada Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, mengatakan, AS-Iran sama-sama berusaha mendorong versi masing-masing soal pelayaran di Selat Hormuz. ”Teheran meyakini AS melanggar isi kesepakatan lewat koridor berbeda dari yang ditetapkan Iran,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Iran sedang berunding dengan Oman dan sejumlah pihak lain soal koridor pelayaran di Selat Hormuz. ”Akan tetapi, AS mau memaksa negara di kawasan dan menggunakan kekuatan untuk memaksa Iran demi mengubah status quo soal pelayaran di Selat Hormuz,” lanjutnya.
Washington mau mengembalikan keadaan sebelum AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Kala itu, pelayaran di Selat Hormuz sepenuhnya terbuka. Untuk menekan AS-Israel menyerang Iran dengan menggunakan pangkalan-pangkalan di kawasan, Iran pun menutup Selat Hormuz.
Pelayaran global ingin menghindari berurusan dengan Iran karena takut sanksi AS di masa depan.
Kesepakatan di Pakistan dan dilanjutkan di Swiss akhirnya bisa membuka lagi selat itu. Walakin, banyak pihak ragu untuk kembali berlayar di selat tersebut.
”Oleh karena itu, kita melihat kedua pihak saling memamerkan kekuatan terkait aset strategis Iran. Ini sangat signifikan karena meninggalkan pengaruh strategis tersebut dapat menimbulkan risiko eksistensial bagi negara itu,” ujarnya.
Iran, lanjutnya, menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar untuk memaksa AS menghentikan serangan di masa mendatang. Teheran telah berulang kali menyatakan hanya menginginkan kesepakatan yang akan menghentikan permusuhan secara permanen.
Hal itu berarti AS berhenti bersiap menyerang Iran kapan saja dan mencabut sanksi-sanksi kepada Iran. Sebaliknya, kata Aslani, AS tak mau ada perubahan atas status quo sebelum serangan 28 Februari 2026.
Pemimpin lembaga konsultansi risiko maritim Marisk, Dimitris Maniatis, mengatakan pemangku kepentingan pelayaran kebingungan. Kalau mengikuti rute yang diusulkan Oman, dan berarti disokong AS, kapal berisiko diserang Iran. Sebaliknya, kalau mengikuti rute yang ditetapkan Iran, berbagai pihak terkait kapal bisa disanksi AS.
”Pelayaran global ingin menghindari berurusan dengan Iran karena takut sanksi AS di masa depan. Orang-orang sangat cemas ke Pemerintah AS sekarang. Mereka (Pemerintah AS) telah mengumumkan segala pembayaran biaya tol (untuk melintasi Selat Hormuz) bisa menjadi alasan sanksi AS,” ujarnya kepada CNN.
Lembaga kajian AS, Institute for the Study of War (ISW), menyatakan bahwa Teheran berusaha menegakkan skema pelayaran versi Teheran. AS berusaha mencegah hal itu terjadi.
”Serangan Iran terhadap Bahrain mungkin juga merupakan bagian dari upaya Iran yang berkelanjutan untuk memaksa negara-negara Teluk menerima kendali Iran atas selat tersebut dan mencegah mereka mendukung upaya AS untuk melemahkan kendali Iran,” demikian pernyataan ISW.
(AP/AFP)
MANAMA, MINGGU — Ledakan terdengar di Iran dan negara-negara tetangganya sepanjang Sabtu malam sampai Minggu dini hari. Amerika Serikat mengakui menyerang sejumlah lokasi di Iran. Sementara Iran belum berkomentar atas ledakan di Bahrain dan Kuwait.
Dalam pernyataan pada Sabtu (27/6/2026) sore waktu Florida atau Minggu pagi WIB, Komando Tengah (CENTCOM) AS membenarkan menyerang 10 lokasi di Iran. Serangan pada Sabtu itu melanjutkan serangan pada Jumat.
Serial Artikel
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum AS-Israel Serang Iran
Harga minyak mentah turun, harga BBM tetap tinggi sampai setidaknya Agustus nanti. Pasokan belum lancar, AS-Iran masih saling serang.
CENTCOM mengumumkan, Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan itu. Serangan tersebut membalas penembakan terhadap tanker MT Kiku pada Sabtu subuh. Kapal berbendera Panama itu disebut mengangkut dua juta barel minyak.
”Pesawat militer AS menargetkan infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau. Transit kapal komersial melalui Selat Hormuz terus berlanjut. Pasukan AS tetap waspada, mematikan, dan siap,” demikian pernyataan CENTCOM.
Media-media Iran melaporkan, ledakan terdengar di Sirik dan Qeshm. Wilayah Iran yang dekat dengan Selat Hormuz itu rutin jadi sasaran serangan AS dalam beberapa bulan terakhir.
Lembaga penyiaran Iran, IRIB, melaporkan serangan AS juga menyasar Bandar-e Lengeh di Provinsi Hormozgan. Serangan ke sana terpantau selepas laporan ledakan di Qeshm dan Sirik.
Kepada FoxNews, pejabat pertahanan AS yang tak mau identitasnya diungkap membenarkan bahwa Sirik dan Qeshm berulang kali diserang AS. Sebab, kedua lokasi itu jadi pangkalan operasi garis depan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan militer Iran, Arthesh. IRGC dan Artesh terus mengalokasikan sumber daya ke kedua lokasi itu.
Tak lama dari pernyataan CENTCOM AS, IRGC membenarkan ada pembalasan ke pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait. Pelabuhan Salman di Bahrain menjadi kantor pusat Armada kelima AS. Sementara Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait jadi salah satu basis operasi AS di kawasan. Berulang kali Iran menyerang dua lokasi itu.
AS mau memaksa negara di kawasan dan menggunakan kekuatan untuk memaksa Iran demi mengubah status quo soal pelayaran di Selat Hormuz.
Otoritas Bahrain dan Kuwait membenarkan, rudal dan pesawat nirawak dicegat sepanjang Minggu dini hari. Warga diminta masuk ke tempat-tempat perlindungan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Peringatan bahaya serangan udara terus meraung di berbagai penjuru Bahrain dan Kuwait.
Siklus saling serang terjadi selepas Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berkunjung ke Timur Tengah. Rubio mencoba meyakinkan negara-negara di kawasan bahwa AS siap menjaga keamanan mereka. Tak sampai sepekan setelah Rubio meninggalkan Manama, Bahrain kembali jadi sasaran pembalasan Iran.
Serial Artikel
Apa Untungnya Jadi Negara Juru Damai?
Oman, Pakistan, dan Qatar menjadi juru damai perang Iran-AS. Di balik peran itu, mereka mengejar keamanan energi, jalur dagang, dan pamor diplomatik.
IRGC tak menampik menembak kapal-kapal di Selat Hormuz. Alasannya, penembakan itu bagian dari penegakan Kesepakatan Islamabad. Kesepakatan damai AS-Iran itu ditandatangani perwakilan Teheran-Washington atas fasilitasi Pakistan dan Qatar.
Menurut IRGC, perjanjian itu memberi Iran hak mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz. Oleh karena itu, setiap pelayaran di selat tersebut harus mendapat persetujuan dari Iran.
IRGC menuding AS dan sekutunya melanggar kesepakatan itu lewat pelayaran ratusan kapal yang keluar dari Selat Hormuz melalui sisi Oman. Bersama Organisasi Pelayaran Internasional (IMO) dan sejumlah pihak lain, Oman mengatur pelayaran lebih dari 100 kapal keluar dari Teluk Persia.
Peneliti pada Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, mengatakan, AS-Iran sama-sama berusaha mendorong versi masing-masing soal pelayaran di Selat Hormuz. ”Teheran meyakini AS melanggar isi kesepakatan lewat koridor berbeda dari yang ditetapkan Iran,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Iran sedang berunding dengan Oman dan sejumlah pihak lain soal koridor pelayaran di Selat Hormuz. ”Akan tetapi, AS mau memaksa negara di kawasan dan menggunakan kekuatan untuk memaksa Iran demi mengubah status quo soal pelayaran di Selat Hormuz,” lanjutnya.
Washington mau mengembalikan keadaan sebelum AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Kala itu, pelayaran di Selat Hormuz sepenuhnya terbuka. Untuk menekan AS-Israel menyerang Iran dengan menggunakan pangkalan-pangkalan di kawasan, Iran pun menutup Selat Hormuz.
Pelayaran global ingin menghindari berurusan dengan Iran karena takut sanksi AS di masa depan.
Kesepakatan di Pakistan dan dilanjutkan di Swiss akhirnya bisa membuka lagi selat itu. Walakin, banyak pihak ragu untuk kembali berlayar di selat tersebut.
”Oleh karena itu, kita melihat kedua pihak saling memamerkan kekuatan terkait aset strategis Iran. Ini sangat signifikan karena meninggalkan pengaruh strategis tersebut dapat menimbulkan risiko eksistensial bagi negara itu,” ujarnya.
Serial Artikel
Kongres Melawan Trump lewat Resolusi Perang Iran
Kongres AS meloloskan resolusi simbolik untuk menghentikan perang Iran. Langkah itu menjadi teguran politik bagi Trump. Perang Iran gerus dukungan publik ke Trump.
Iran, lanjutnya, menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar untuk memaksa AS menghentikan serangan di masa mendatang. Teheran telah berulang kali menyatakan hanya menginginkan kesepakatan yang akan menghentikan permusuhan secara permanen.
Hal itu berarti AS berhenti bersiap menyerang Iran kapan saja dan mencabut sanksi-sanksi kepada Iran. Sebaliknya, kata Aslani, AS tak mau ada perubahan atas status quo sebelum serangan 28 Februari 2026.
Pemimpin lembaga konsultansi risiko maritim Marisk, Dimitris Maniatis, mengatakan pemangku kepentingan pelayaran kebingungan. Kalau mengikuti rute yang diusulkan Oman, dan berarti disokong AS, kapal berisiko diserang Iran. Sebaliknya, kalau mengikuti rute yang ditetapkan Iran, berbagai pihak terkait kapal bisa disanksi AS.
”Pelayaran global ingin menghindari berurusan dengan Iran karena takut sanksi AS di masa depan. Orang-orang sangat cemas ke Pemerintah AS sekarang. Mereka (Pemerintah AS) telah mengumumkan segala pembayaran biaya tol (untuk melintasi Selat Hormuz) bisa menjadi alasan sanksi AS,” ujarnya kepada CNN.
Lembaga kajian AS, Institute for the Study of War (ISW), menyatakan bahwa Teheran berusaha menegakkan skema pelayaran versi Teheran. AS berusaha mencegah hal itu terjadi.
”Serangan Iran terhadap Bahrain mungkin juga merupakan bagian dari upaya Iran yang berkelanjutan untuk memaksa negara-negara Teluk menerima kendali Iran atas selat tersebut dan mencegah mereka mendukung upaya AS untuk melemahkan kendali Iran,” demikian pernyataan ISW.