Kedisiplinan Salah dalam bertahan banyak dikritik usai kekalahan Liverpool dari Chelsea. Menariknya, kelemahan itu bukanlah kendala terbesar Salah sejak awal musim ini.
07 Okt 2025 07:13 WIB · Olahraga
Pencarian kambing hitam di pertahanan Liverpool seolah tidak pernah berhenti. Setelah bek sayap Trent Alexander-Arnold disebut sebagai titik lemah dalam bertahan selama bertahun-tahun, kini giliran penyerang sayap Mohamed Salah yang mewarisi label negatif tersebut.
Penempatan posisi Salah, saat Liverpool tanpa penguasaan bola, terekspos dalam kekalahan 1-2 dari Chelsea di Stadion Stamford Bridge, Minggu (5/10/2025). Saksinya adalah bek sayap Chelsea, Marc Cucurella, yang paling diuntungkan dengan kebingungan Salah dalam bertahan.
Sudah tidak mundur membantu pertahanan, Salah juga kurang agresif menutup ruang ketika Liverpool tampil dengan blok tinggi. ”Kami tahu Salah selalu siaga untuk menyerang balik. Jadi, kami berlatih memanfaatkan ruang itu (di sisi Salah). Itu bekerja dan kami menang,” kata Cucurella.
Ada satu kesamaan dari sepasang gol Chelsea. Salah selalu kehilangan Cucurella yang selalu mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Liverpool. Akibatnya, para pemain ”Si Merah” sering kalah jumlah di sisi sayap, baik dalam situasi satu versus dua maupun dua versus tiga.
Satu minggu sebelumnya, saat kalah lewat gol Crystal Palace di pengujung laga, Manajer Liverpool Arne Slot mengkritik salah satu pemainnya. Dia berkata, ada pemain yang ingin langsung menyerang balik saat ancaman lawan belum berakhir. Pemain itu diduga adalah pemain sayap Cody Gakpo.
Kepekaan bertahan yang rendah itu diulang oleh Salah. Dalam skema gol pertama Chelsea, Salah sempat berada sejajar dengan Cucurella. Lalu, dia tertinggal belasan meter dari Cucurella dalam beberapa detik. Situasi dua lawan satu tercipta di sisi kanan Liverpool. Struktur pertahanan berantakan itu berakhir dengan kecolongan gol dari gelandang Moises Caicedo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/07/64d8e4c4a131faa7a5d2391fa274fcd2-Salah.png)
Salah tertinggal karena langsung mengambil ancang-ancang maju, sementara Cucurella bergerak ke arah sebaliknya. Bola memang sempat berada dalam kerumunan pemain Chelsea dan Liverpool. Namun, Caicedo bisa mengontrol bola dengan baik. Pergerakan Salah tampak terburu-buru dan jauh dari kata disiplin.
Pada gol kedua Chelsea, Salah bahkan kehilangan Cucurella sebanyak dua kali. Setelah membiarkan sang bek sayap menerima umpan sebelum garis tengah lapangan, Salah sempat mengejar dan menutup ruang. Namun, Cucurella terbebas lagi di separuh lapangan Liverpool. Adapun Cucurella memberikan asis untuk gol kemenangan ”Si Biru” di akhir serangan itu.
Slot berkata, tidak mengganti Salah karena mengincar kemenangan di kandang Chelsea. ”Saya sudah memikirkan semua kemungkinan pergantian pemain, tetapi Anda tidak bisa menarik Salah ketika membutuhkan gol. Anda harus membiarkannya tetap di lapangan,” ujarnya.
Salah memang terekspos dalam kekalahan itu, tetapi apakah sang pemain 33 patut disalahkan? Itu menjadi perdebatan. Sebab, Salah sebenarnya juga diberikan kebebasan untuk tidak terlalu terlibat dalam bertahan sejak musim lalu. Tugas utamanya adalah menghukum lawan dengan serangan balik.
Masalahnya, Liverpool kehilangan banyak pemain pekerja keras yang bisa menutup celah di pertahanan. Para penyerang seperti Luis Diaz, Darwin Nunez, ataupun Diogo Jota tidak ada lagi musim ini. Mereka digantikan pemain ofensif yang kurang efisien dan belum klop saat tanpa penguasaan bola, yaitu Alexander Isak dan Florian Wirtz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/07/6f1c301594af254a555840652c5f6851-Britain_Soccer_Premier_League_42_.jpg)
Strategi Slot turut berperan dalam kekalahan itu. Dia ingin untuk menutup serangan Chelsea lewat area tengah. Caranya menjaga satu lawan satu duet gelandang Chelsea, Enzo Fernandez dan Caicedo. Hal itu membuat gelandang Dominik Szoboszlai dan Ryan Gravenberch tidak optimal menutup ruang yang ditinggalkan Salah.
Salah membocorkan peran barunya pada akhir musim lalu. ”Sekarang, saya tidak perlu bertahan terlalu banyak. Saya berkata kepadanya (Slot), ’Selama Anda mengistirahatkan saya saat bertahan, saya akan memberikan kontribusi lebih di lini serang,’” katanya.
”Si Raja Mesir”, julukan Salah, membuktikan ucapan itu pada musim lalu. Dia mengantar Liverpool menjadi juara dengan kontribusi 29 gol dan 18 asis. Salah menunjukkan efisiensi tingkat tinggi di lini serang. Masalahnya, performa tersebut belum terlihat sejak awal musim ini.
Salah baru menghasilkan dua gol dan dua asis dalam tujuh pertandingan liga. Angka tersebut jauh dari proyeksi untuk mengulang capaian musim lalu. Hanya satu gol yang dihasilkan lewat permainan terbuka. Satu gol lagi berasal dari hadiah penalti dalam pertandingan versus Burnley.
Kualitas serangan Salah dipertanyakan di Stamford Bridge. Dia memiliki cukup banyak kesempatan untuk menghukum lawan dalam transisi. Namun, dia sering keliru dalam mengambil keputusan. Saat semestinya mengumpan ke pemain lain, dia justru menembak. Begitu juga sebaliknya. Penyelesaian akhir Salah juga tidak sebaik biasanya.
Penurunan ancaman itu juga terlihat dalam statistik ekspektasi gol (xG) dan ekspektasi asis (xA). Menurut data Sky Sports, untuk pertama kali sejak musim 2018-2019, Salah berada di luar peringkat 10 besar dalam catatan xG (ke-29) dan xA (ke-14). Adapun dia memuncaki dua metriks itu di musim lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/79b2fa3c-1257-445e-b7c7-2a33f44a80c0_jpg.jpg)
Realitas di lapangan dan statistik tersebut memperlihatkan masalah utama Liverpool. Alih-alih fokus dengan kekurangan Salah di pertahanan, mereka lebih baik mencari cara untuk mengembalikan performa terbaik sang pemain dalam serangan. Sebab, Salah merupakan seorang penyerang dan bukan bek.
Di bawah asuhan Slot, Liverpool juga dikenal sebagai tim yang sangat ofensif. Oleh karena itu, sulit melihat Si Merah mempertahankan juara liga tanpa kontribusi signifikan dari penyerang terbaik mereka.
(AP/Reuters)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan