PERANG

Diplomasi Senyap Negara-negara demi Perdamaian di Timur Tengah

Tidak mudah mengupayakan negosiasi AS-Iran. Washington punya banyak tuntutan, sedangkan Teheran krisis kepercayaan dan belum punya tokoh yang berwenang.

25 Mar 2026 16:00 WIB · Internasional

AFP/JUSTIN TALLI

Oleh Elsa Emiria Leba

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus berlangsung sengit. Dengan harapan yang belum pupus, negara-negara lain terus bergerak melalui jalur-jalur diplomatik di belakang layar untuk mengupayakan perdamaian.

Sejak awal pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim sedang terlibat pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang. Klaim ini dibantah keras oleh Iran.

Upaya negara-negara mediator agar AS-Iran mau berunding menghadapi banyak rintangan. Washington memiliki banyak tuntutan, khususnya terkait program nuklir dan program rudal balistik Iran.

Sementara Teheran mengalami krisis kepercayaan karena AS sudah dua kali melancarkan serangan selama perundingan berlangsung, termasuk serangan pemicu perang pada 28 Februari 2026. Selain itu, belum jelas siapa yang berwenang untuk bernegosiasi di Iran. Israel sudah berjanji untuk membunuh siapa pun pejabat penting baru Iran.

Beberapa negara terus berupaya agar pembicaraan kedua pihak bisa terwujud. Pakistan menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran.

”Pakistan mendukung upaya yang sedang berlangsung untuk berdialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah, demi perdamaian dan stabilitas di kawasan dan sekitar. Dengan persetujuan AS dan Iran, Pakistan siap menjadi tuan rumah dalam memfasilitasi pembicaraan atas konflik yang sedang berlangsung,” tulis Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di X, Selasa (24/3/2026) malam.

In this handout photograph taken on May 7, 2025 and released by the Pakistan's Prime Minister Office, shows the country's Prime Minister Shehbaz Sharif addressing the special session at the National Assembly in Islamabad. India and Pakistan exchanged heavy artillery fire along their contested frontier on May 7 after New Delhi launched deadly missile strikes on its arch-rival, in the worst violence between the nuclear-armed neighbours in two decades.At least 38 deaths were reported, with Islamabad saying 26 civilians were killed by the Indian strikes and firing along the border, and New Delhi adding at least 12 dead from Pakistani shelling. (Photo by Pakistan's Prime Minister Office / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  Pakistan's Prime Minister Office" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menghadiri pertemuan konsultatif tingkat menteri di Riyadh, Arab Saudi, Kamis (19/3/2026). Para menteri luar negeri dari negara-negara Arab dan Islam bertemu untuk membahas krisis keamanan di kawasan tersebut akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Menurut tiga pejabat Pakistan, satu pejabat Mesir, dan satu diplomat Teluk, AS telah setuju untuk bergabung dalam pembicaraan di Pakistan. Namun, para pejabat Pakistan mengatakan, ”diplomasi senyap” menjadi lebih rumit sejak berita tentang upaya ini bocor. Kementerian Luar Negeri Pakistan, Selasa, meminta media untuk menahan diri dari spekulasi serta menunggu pengumuman resmi mengenai keputusan dan hasilnya.

”Diplomasi dan negosiasi sering kali mengharuskan beberapa hal dilakukan secara hati-hati dan tidak terbuka,” bunyi pernyataan Juru Bicara Kemenlu Pakistan Tahir Andrabi saat ditanya tentang peran Pakistan.

Kemenlu Mesir, Selasa, menyatakan, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty membahas ”potensi negosiasi” antara AS dan Iran dalam panggilan telepon dengan Utusan Khusus Presiden Steve Witkoff, sehari sebelumnya. Abdelatty juga berkoordinasi dengan menlu Turki, Pakistan, Oman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Perancis, dan Siprus.

Sementara Menlu Oman Badr al-Busaidi telah berbicara dengan 18 diplomat dari berbagai negara, termasuk Menlu Iran, Arab Saudi, Mesir, Irak, dan Perancis. Oman merupakan mediator AS-Iran untuk pembicaraan program nuklir Teheran. ”Pembicaraan itu untuk mendukung upaya menahan perang yang sedang berlangsung dan kembali ke diplomasi untuk mengatasi masalah yang belum terselesaikan,” bunyi pernyataan Kemenlu Oman.

Menanti Iran

Negara-negara mediator sedang berupaya untuk meyakinkan Iran. Pejabat Mesir mengatakan, upaya tersebut berpusat pada ”pembangunan kepercayaan” antara AS dan Iran. Israel tidak terlibat. Akan tetapi, sejumlah pejabat tinggi Iran memberi jawaban yang sedikit berbeda antara satu sama lain terkait potensi negosiasi.

Kantor Kemenlu Iran mengonfirmasi, Menlu Abbas Araghchi telah berbicara tentang perang dengan rekan-rekannya di beberapa negara sejak Senin (23/3). Negara-negara itu ialah Azerbaijan, Mesir, Oman, Pakistan, Rusia, Korea Selatan, Turki, dan Turkmenistan.

Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah keras terjadi pembicaraan dengan AS dengan menyebutnya sebagai berita palsu. Selain itu, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Selasa, menyatakan, militer Iran akan membela integritas negara hingga kemenangan penuh, tanpa merinci lebih lanjut.

”Trump, Netanyahu, dan sejenisnya pada dasarnya adalah pembohong dan sifat mereka adalah menciptakan perpecahan. Kita harus berpikir dengan bijak. Sifat mereka adalah menabur perselisihan agar orang tidak memercayai pejabat dan percaya tindakan tertentu telah terjadi, padahal tidak,” ujar Esmail Kowsari, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, menurut kantor berita Fars.

Sembari menanti Iran, negara-negara mediator berupaya agar perang tidak bereskalasi. Pada Senin, Trump menunda serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari sebagai upaya membuka blokade Selat Hormuz. Oleh sebab itu, Teheran pun masih mengurungkan serangan balasan terhadap infrastruktur vital di wilayah, termasuk fasilitas desalinasi untuk air negara-negara Teluk.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menghadiri pertemuan dengan Presiden Rusia di Kremlin di Moskwa, Rusia, Senin (23/6/2025). Foto dibagikan oleh kantor berita Sputnik.
Asap membumbung akibat serangan balasan Iran di kawasan industri Doha, Qatar, Minggu (1/3/2026). Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu (28/2/2026) bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan berskala besar yang bertujuan menggulingkan Republik Islam Iran. Iran langsung membalas serangan ke Israel dan negara-negara yang menampung militer AS.

Negara-negara mediator turut mengupayakan sebuah ”mekanisme” agar Iran mau membuka kembali Selat Hormuz. Iran telah mengizinkan sejumlah kecil kapal melewati selat, tetapi akan terus menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan AS, Israel, atau sekutunya.

Namun, perkembangan terbaru di lapangan bisa mengganjal kesediaan Iran. Ribuan Marinir AS sedang bergerak menuju Teluk. Muncul spekulasi kuat bahwa AS mungkin mencoba merebut Pulau Kharg, wilayah sangat penting bagi jaringan minyak Iran. AS sudah mengebom Pulau Kharg lebih dari sepekan lalu.

”Penundaan serangan AS bisa agar waktunya bertepatan dengan kedatangan Marinir AS di wilayah tersebut, yang diperkirakan pada hari Jumat (27/3). Seperti pada masa lalu, Trump mempersiapkan invasi dan perebutan Pulau Kharg sambil menggunakan negosiasi sebagai kedok,” demikian analisis Soufan Center, lembaga pemikir di New York.

Jika AS mengerahkan pasukan darat, Iran berencana memasang ranjau di Teluk Persia. Strategi ini akan mempersulit serangan amfibi, tetapi juga membahayakan semua pengiriman di daerah tersebut.

Serangan berlanjut

Perang antara AS-Israel dan Iran telah memasuki pekan keempat. Dampak perang telah meluas ke kawasan, bahkan dunia, mengingat Teheran telah menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global. Harga minyak dan gas bergejolak.

Pada Selasa, Iran dan Israel masih saling menyerang. Iran mengerahkan gelombang rudal dan pesawat nirawak (drone) ke Israel serta lokasi-lokasi di seluruh Timur Tengah.

Sebuah rudal dengan hulu ledak 100 kilogram menghantam jalan di pusat Kota Tel Aviv. Ledakan itu menghancurkan jendela sebuah gedung apartemen. Asap mengepul. Empat orang menderita luka ringan, menurut petugas penyelamat.

”Rasanya seperti Anda adalah sasaran empuk, menunggu rudal mengenai Anda, atau seseorang di sebelah Anda,” kata Amir Hasid, warga yang keluar dari tempat perlindungan.

Tampak bangunan yang rusak di lokasi serangan rudal Iran di Tel Aviv, Israel, Selasa (24/3/2026). Iran meluncurkan gelombang baru serangan rudal pada hari yang sama, beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji ada pembicaraan baik untuk mengakhiri perang, meski Teheran membantah adanya dialog.
Petugas pemadam kebakaran Iran dengan bantuan alat berat membersihkan puing-puing dari bangunan permukiman yang hancur akibat serangan Amerika Serikat-Israel di Teheran utara, Teheran, Iran, Senin (23/3/2026). Serangkaian ledakan kuat terdengar di ibu kota tersebut saat perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki pekan keempat. Pada 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya dan memicu konflik yang meluas di Timur Tengah serta mengguncang pasar global.

Serangan Iran ke negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer dan bisnis AS serta Israel berlanjut. Di Kuwait, saluran listrik terkena pecahan peluru pertahanan udara sehingga listrik padam selama beberapa jam. Bahrain masih menerima serangan rudal dan drone. Begitu pula dengan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Israel melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran terhadap ”lokasi produksi” Iran, tanpa memberi informasi lanjut. Ledakan besar terdengar di bagian utara dan pusat kota Teheran. Tidak hanya Iran, militer Israel masih membombardir pinggiran Beirut untuk menghajar Hizbullah, kelompok pendukung Iran di Lebanon.

Wacana tentang potensi negosiasi AS-Iran sedikit membuat pasar tenang. Harga saham sempat kembali naik, sedangkan harga minyak turun. Pada Selasa, kekhawatiran kembali membuat harga minyak mentah Brent sebagai standar internasional naik lagi ke atas 100 dolar AS per barel. Harga minyak telah naik hampir 40 persen sejak perang dimulai. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase