Meski gagal mengatasi Australia, Kluivert menyiratkan tetap bermain menyerang kala menjamu Bahrain. Latar belakang pelatih kerap memengaruhi pilihan strateginya.
23 Mar 2025 11:17 WIB · Olahraga
Strategi menekan lawan dengan high press terbukti gagal menaklukkan Australia. Dalam sepak bola, ada kalanya bermain cerdik jauh lebih penting dibandingkan dengan teknik.
Walau gagal, Patrick Kluivert berikrar tetap mempertahankan gaya bermain total football yang identik dengan dominasi penguasaan bola serta tembakan. Pendekatan itu tampaknya masih akan ia terapkan saat timnas Indonesia menjamu Bahrain.
Indonesia di tangan Kluivert telah turut mewarisi darah total football, filosofi bermain yang ditemukan Rinus Michel, lalu disempurnakan Johan Cruyff. Ciri paling kentara pada gaya bermain ini adalah penguasaan bola, menekan lawan sejak membangun serangan, rotasi posisi terus-menerus, dan memperbanyak ancaman terhadap gawang lawan.
Gaya bermain itu diperlihatkan timnas Indonesia sejak awal laga menghadapi Australia. Tercatat dua peluang emas, lewat sundulan Jay Idzes dan penalti Kevin Diks, dihasilkan Indonesia, tetapi belum berbuah gol.
Dominasi tim Garuda dalam penguasaan bola serta jumlah serangan tidak diimbangi dengan transisi bertahan yang baik. Bentuk pertahanan Indonesia kacau sehingga bisa dimanfaatkan Australia untuk mencetak dua gol awal yang kemudian berakhir tragis kekalahan 1-5 bagi Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/41363b514e07669c9e3c6ec11afce516-20250322ron08.jpg)
Seusai laga, Kluivert membela pendekatan bermain ekspansifnya. Ia menilai, anak asuhnya bermain bagus sejak awal dengan mampu menekan Australia. Hasil akhir, kata Kluivert, bisa berbeda andai sundulan Idzes dan penalti Diks masuk.
Meskipun strateginya menuai kritik, Kluivert bergeming. Ia menyatakan akan terus menerapkan gaya menyerang. ”Itulah gaya bermain saya. Sejak awal, kami menguasai permainan. Saya pikir kami bermain lebih baik dari Australia,” ujar Kluivert.
Pendekatan ini tentu berbeda dibandingkan saat timnas Indonesia masih ditangani Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan itu tidak terlalu kaku terhadap pilihan strategi.
Pendekatan Shin cenderung menyesuaikan dengan lawan yang dihadapi Indonesia. Saat Shin mengetahui Australia adalah tim yang sangat terorganisasi dalam bertahan dan berbahaya dalam serangan balik, ia menumpuk banyak pemain di belakang, termasuk saat menghadapi situasi set piece.
Lalu, mengapa Kluivert begitu kukuh bermain menyerang hingga terkesan sangat naif? Untuk mengerti jalan pemikirannya, orang harus mengingat latar belakang Kluivert sebagai penyerang legendaris Belanda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/6f36e608c21b7d1e54b401eb3397b77f-20250322ron02.jpg)
Semasa aktif bermain, dia pernah memperkuat Ajax Amsterdam dan Barcelona. Kedua tim itu bersinggungan dengan gaya total football Cruyff. Sebagaimana Kluivert, Cruyff pun sempat membela kedua tim tersebut.
Selama membela Barca pada rentang 1998 hingga 2004, Kluivert mengoleksi 122 gol dari 257 pertandingan. Jumlah gol itu bisa dikatakan tergolong prolifik untuk seorang penyerang.
Bermain sebagai penyerang, pendekatan itu terbawa hingga saat menjadi pelatih. Para pelatih, umumnya, memilih pendekatan yang paling sering bersinggungan dengan dirinya saat masih aktif bermain.
Dalam kasus Kluivert, yang bertanggung jawab mencetak gol sebagai penyerang, kebiasaan itu mengendap dalam alam pikirannya. Baginya, kebutuhan paling utama bagi tim untuk menang adalah mencetak gol dengan proaktif menyerang.
Padahal, mencetak gol tersedia dalam banyak cara. Beberapa tim memilih menghukum lawan lewat serangan balik, tim lainnya tetap menyerang, tetapi bersabar sambil berusaha merenggangkan garis pertahanan rendah lawan dengan cara memancing pemainnya naik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/12ae3cfa471b194d872df1fbaf6800e7-20250322ron22.jpg)
Keberhasilan Jepang mengalahkan Bahrain juga bersumber pada pemahaman cara mencetak gol yang beragam. Pelatih Jepang Hajime Moriyasu menyadari, bermain terus menekan tidak akan mampu membongkar pertahanan rapat Bahrain.
Untuk itulah, ia menginstruksikan para pemainnya bermain lebih sabar di babak kedua. Gol pemecah kebuntuan Jepang tercipta dari kepiawaian mereka memancing para pemain Bahrain untuk keluar menekan. Caranya, dengan membiarkan Wataru Endo mendapatkan tekanan saat menguasai bola. Strategi ini efektif lantaran Endo adalah gelandang yang kuat atau resisten menghadapi pressing ketat.
Kluivert hanyalah contoh kecil dari sebagian besar pelatih yang masih terbawa dalam memori saat aktif bermain. Manajer Arsenal Mikel Arteta adalah contoh lainnya.
Arteta dulunya merupakan gelandang tengah di Arsenal dan Everton. Musim ini, ia merekrut cukup banyak pemain berposisi gelandang untuk memperkuat timnya. Arteta mendatangkan Mikel Merino dan Raheem Sterling serta mengorbitkan jebolan akademi, Ethan Nwaneri.
Padahal, yang dibutuhkan Arsenal adalah menambah kedalaman di sektor penyerang, khususnya di posisi striker. Nyaris tidak ada penyerang murni yang didatangkan Arsenal musim ini. Merino kemudian terpaksa mengemban tugas itu, sementara Gabriel Jesus dan Kai Havertz cedera.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/d5340eb40168abb52928f69bdbdafd0f-20250322ron06.jpg)
Meski ada hubungan antara latar belakang pelatih saat masih bermain dan pendekatan yang diusung, hal itu tidak selamanya terjadi. Ada beberapa pelatih yang tidak kaku dalam menerapkan strategi sesuai dengan keyakinannya sebagai pemain dulu. Contohnya, antara lain, adalah Simone Inzaghi bersama Inter Milan.
Saat masih aktif bermain, Inzaghi berposisi penyerang tengah. Dengan pengalamannya bermain sebagai penyerang, ia bisa mengarahkan Inter untuk proaktif menekan lawan atau sebaliknya menjadi tim yang amat defensif. Kuncinya adalah Inzaghi mempunyai wawasan dan itu ia pergunakan untuk menganalisis pendekatan terbaik mana yang akan diambil.
Pilihan strategi Inzaghi masih mempertimbangkan lawan yang dihadapi. Jika Inter menghadapi lawan yang memiliki kualitas pemain jauh lebih baik, ia akan kompromistis dengan bermain sabar dan bertahan sembari mencari celah kesalahan lawan. Namun, saat menghadapi lawan yang lebih lemah, Inter memeragakan permainan menekan untuk menang.
Sinyal Kluivert untuk tetap mempertahankan gaya total football sudah diungkapkan bek Indonesia, Calvin Verdonk, saat latihan perdana sepulang dari Australia. Kebutuhan untuk meraih tiga poin semakin memperkuat keyakinan Kluivert bahwa tampil dominan sejak awal, seperti melawan Australia, adalah cara terbaik mencapai tujuan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/fbe829eb8fecf61f128c0c6ad4ac93a6-20250322ron01.jpg)
Saat kalah dari Australia, Indonesia lemah dalam hal mengantisipasi set piece. Padahal, itulah salah satu senjata utama ”Socceroos”. Verdonk melihat Bahrain bukanlah tim yang ahli dalam set piece. Namun, ia dan rekan-rekannya tetap berusaha memperbaiki kelemahan tersebut dalam sesi latihan demi mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Pilihan untuk bermain ekspansif sudah diambil. Mengingat performa tim ”Garuda” yang mampu menahan imbang Bahrain di markasnya pada pertemuan pertama, pendekatan menyerang Kluivert agaknya cukup rasional dimainkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno nanti.
Tentunya pendekatan itu harus diimbangi dengan sejumlah penyempurnaan agar timnas Indonesia tidak kalah konyol hanya karena selubung sepak bola menyerang yang melenakan.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .